
Bryan dan Felix kemudian melanjutkan obrolan mereka tentang kemajuan dan permasalahan dari beberapa perusahaan yang ada. Felix sebenarnya ingin menanyakan tentang informasi yang didapat oleh Vian. Tetapi untuk sekarang rasanya kurang etis, lagian Felix tau bagaimana Bryan. Bryan akan percaya kalau ada bukti yang tidak bisa dibantahkan oleh siapapun.
"Jadi gimana cara supaya target mengaku kalau dia memang sudah menggelapkan dana perusahaan?" uajr Felix yang terlihat sedang malas berpikir. Fekix menyerahkan semuanya kepada Bryan. Dia hanya akan ikut aturan main dari Bryan saja.
"Tampilkan saja semua gaji terus berpa seharusnya uang lembur dan semua semuanya. Biar mereka melihat berapa seharusnya mereka mendapatkan uang tambahan di luar gaji" jawab Bryan dengan santai sambil menutup laporan dan menaruh kembali ke atas meja kopi yang ada di kamar.
"Gue rasa dia tidak bermain sendiri Bryan." Felix memberikan pendapatnya tentang permasalahan penggelapan dana perusahaan.
"Gue setuju dengan apa yang loe katakan. Gue yakin kalau dia tidak bermain sendirian. Cuma siapa yang mau kita tuduh. Loe ada orang orangnya?" tanya Bryan yang tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Felix sebentar ini.
"Seperti yang sudah sudah saja. Satu yang terbuka maka yang lain akan menurut aja lagi. Nggak akan susah itu mencari taunya" jawab Felix
"Oke. Jam berapa besok ke perusahaan?" tanya Bryan.
Jadwal semuanya memang di atur oleh Felix. Bryan hanya tinggal ikuti saja jadwal yang sudah di susun
"Eeeeeee bentar bentar. Tadi saat penerbangan loe kemana?" tanya Bryan yang ingat dia tidak satu pesawat dengan Felix.
"Yang bawa loe ke sini itu gue" jawab Felix dengan santai
"Jadi loe pilotnya?"
"Bukannya Ryan?" ujar Bryan yang sangat ingat kalau pilot hari itu adalah Ryan.
"Ya memang Ryan. Gue co pilotnya" jawab Felix lagi dengan santai.
"Ooooo pantesan gue nggak nampak co pilot pas turun ternyata loe, co pilotnya." Kata Bryan lagi yang sudah paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Jangan loe katakan kalau yang jadi sopir tadi juga loe" Lanjut Bryan yang ingat bagaimana gaya sopir yang berbicara dengan suara berat sehingga Bryan tidak bisa mengenali sopirnya itu.
"Itu gue juga" jawab Felix dengan santainya.
"Nait banget ya loe ngerjain gue sampai sebegitunya" Protes Bryan kepada Felix yang benar benar mengerjai Bryan seharian ini.
"Gimana nggak harus gue kerjain loe. Asal kerja selalu dicampuri urusan pribadi. Loe udah nggak fokus sama kerjaan elo lagi. Makanya gue main kabur aja. Supaya loe tau dan bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan pekerjaan" jawab Felix.
"Udah jangan ceramahi gue dengan hal itu lagi. Gue udah di ceramahi Julian setu setengah jam lamanya. Makanya gue nelpon elo yang berkali kali nggak loe angkat" jawab Bryan yang sudah tidak bisa lagi menahan telinganya untuk mau mendengarkan ceramah yang diberikan oleh Felix kepada dirinya.
"Hahaha hahaha haha. Jadi loe di ceramahi sama Julian?" tawa Felix langsung meledak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Ya. Gara gara loe" kata Bryan dengan ketus.
"Gue ke kamar dulu. Besok jam setengah tujuh kita sarapan. Kemudian jam tujuh berangkat. Setengah delapan langsung eksekusi" Kata Felix menjelaskan rincian kegiatan untuk besok.
"Gila loe mulai dari pagi. Gue mau chat Julian dulu" protes Bryan yang kesal agendanya dimulai dari pagi.
Felix sudah memegang kartu As Bryan, sehingga dia bisa menjamin Bryan akan mulai serius ke depannya.
"Ya ya ya ya. Loe sedang berada di tampuk durian" Kata Bryan kesal dengan Felix.
"Haha haha haha. Gue balik dulu. Silahkan chat Julian bro sekarang" Kata Felix.
Felix sengaja mengatakan hal itu karena dia melihat jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas malam. Julian pasti sudah tidur karena besok dia harus masuk kerja pagi
"Kurng ajar loe" kata Bryan.
__ADS_1
Felix sambil bersiul pergi meninggalkan Bryan yang sedang kesal sendiri dengan apa yang telah dilakukan oleh Felix kepada dirinya. Tetapi Bryan tidak bisa melakukan apa apa lagi. Bryan hanya bisa mengikuti aturan mainnya saja lagi. Dia tidak mau Julian marah marah karena dirinya yang tidak bisa memisahkan antara urusan pribadi dengan urusan perusahaan.
MANSION UTAMA WITAMA
"Mana papi dan mami, maid?" ujar Tania yang tidak melihat keberadaan Papi dan Maminya di ruang makan.
"Tuan dan Nyonya besar tadi keluar Nona muda. Katanya ada undangan makan malam dengan kolega bisnis" ujar kepala pelayan memberitahukan kemana perginya Tuan dan Nyonya besar Witama
"Oh begitu, terimakasih bik" ujar tania dengan sopan.
Tania dan Bryan memang selalu diajarkan untuk sopan dan hormat kepada siapapun oleh Nyonya besar Witama, sekalipun itu dengan pelayan yang bekerja di mansion mereka.
"Nona muda mau makan sekarang?" tanya kepala pelayan.
"Boleh. Siapin aja maid makanannya" kata Tania.
Tania mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat sedang mengirim pesan chat dengan seseorang. Sedangkan para maid terlihat sibuk menaruh menu makan malam yang sudah di siapkan. Tania yang melihat begitu banyaknya makanN yang dihidangkan hanya bisa geleng geleng kepala saja. Dia tidak tau bagaimana harus menghabiskan makanan sebanyak itu. Hampir separo meja penuh oleh makanan yang terlihat sangat lezat semuanya
"Waduh gimana mau makannya ini. Saya sekarang sendiri tidak berempat" ujar tania yang kaget melihat begitu banyak makanan yang ada di depan matanya saat ini.
"Kami tidak tau kalau Nyonya dan Tuan besar mau keluar Nona muda, sehingga kami memasak seperti biasanya" jawab kepala pelayan.
"Hem baiklah kalau begitu. Silahkan kalian makan semua ini. Saya hanya mau makan mie goreng saja sekarang. Tolong buatkan antar ke kamar" ujar tania yang kehilangan selera makannya.
Tania memang paling tidak suka kalau makan sendirian saat makan malam. Sehingga saat itu terjadi maka dia akan meminta pelayan membuat makanan yang simpel saja dan bisa di bawanya ke kamar untuk dimakan sendirian.
"Siap Nona muda" ujar kepala pelayan.
__ADS_1
Tania kemudian berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan kembali ke kamar. Tania akan menunggu nasi gorengnya di kamar. Dia tidak akan makan menu makan malam yang sebanyak itu sendirian.
Para pelayan kemudian merapikan kembali meja makan. mereka membawa semua menu makanan yang sudah mereka masak dari sore kembali ke bagian belakang. mereka semua akan makan makanan yang seharusnya di makan oleh keluarga Witama. Tetapi karena Nona tania tidak suka makan sendirian, membuat merek pada akhirnya harus menghabiskan semua makanan yang lezat lezat itu.