
"Vian" panggil Julian saat baru sampai di parkiran kampus.
"Loe ada jadwal ngajar lagi?" tanya Vian.
"Yap. Gue ada jam kuliah dua sks. Loe mau kemana?" tanya Julian.
"Nggak ada kemana mana. Gue duduk di depan kelas loe ya. Sambil nunggu loe selesai ngajar"
"Emang loe nggak ada kuliah?" tanya Julian yang heran dengan apa yang dilakukan oleh Vian akhir akhir ini. Semenjak Julian menyelesaikan perkuliahannya, Vian menjadi malas dan seakan akan juga sudah selesai kuliah.
"Nggak. Gue free hari ini" jawab Vian.
"Perasaan ya Vian, selesai gue kuliah. Loe sepertinya juga selesai kuliah. Kok bisa gitu ya?" tanya Julian saat mereka sudah sampai di depan kelas tempat Julian akan mengajar dua sks pagi ini.
"Perasaan loe aja itu. Menurut gue, gue biasa aja. Nggak ada yang berubah" tolak Vian yang tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.
"Gue masih tetap kuliah" ujar Vian.
'Gila ne nona muda, dia perhatikan ternyata kegiatan gue sehari hari' ujar Vian dalam hatinya saat mendengar pertanyaan dari Julian.
"Ye bokis loe" ujar Julian sambil menimpuk pundak Vian dengan buku yang lumayan tebal itu.
"Sakit tau" Vian protes dengan apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya.
"Makanya jangan asal ngomong jadi orang. Ini ngomong kayak kompor meledak aja."
"Beneran Julian. Gue masih tetap kuliah" ujar Vian yang masih mempertahankan jawaban yang diberikan oleh dirinya tadi.
"Serah loe deh Vian. Mau kuliah mau nggak. Tapi yang jelas, gue sekarang mau ngajar" kata Julian dengan santainya.
Beberapa orang mahasiswa dan mahasiswi Julian mulai masuk ke dalam ruangan perkuliahan. Julian masih duduk di luar di temani oleh Vian. Julian setengah kesal dengan apa yang dilakukan oleh Vian. Tetapi dia tidak tau harus mulai dari mana untuk menyadarkan Vian, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan.
Julian masuk ke dalam kelas. Dia akan mengajar mata kuliah bisnis untuk dua sks atau sembilan puluh menit ke depan. Sedangkan Vian asik dengan ponsel dan laptopnya. Dia mengurus sebuah bisnis yang akan menjadi tempat dia berpegang saat dirinya sudah tidak bekerja dengan keluarga Witama lagi.
Julian benar benar menikmati apa yang dijalaninya selama ini. Dia benar benar bercita cita menjadi seorang dosen. Tetapi bisnis juga merupakan minatnya.
__ADS_1
"Baiklah rekan rekan sekalian, perkuliahan hari ini kita cukupkan sampai di sini. Sampai berjumpa minggu depan. Jangan lupa makalahnya di bawa" ujar Julian menutup perkuliahannya hari ini.
Semua mahasiswa berjalan keluar meninggalkan ruang kuliah. Mereka semua sangat senang kuliah dengan Julian. Julian memakai beragam metode dalam melaksanakan proses pembelajaran. Mulai dari memakai metode diskusi sampai dengan metode bermain peran, satu metode yang dihindari oleh Julian adalah metode ceramah, Julian sama sekali tidak suka dengan metode mengajar seperti itu.
"Hay, masih betah aja loe di sini" ujar Julian saat dirinya sudah duduk di sebelah Vian.
Vian yang serius dari tadi memperhatikan grafik laporan keuangan perusahaannya menatap tidak percaya ke arah Julian yang sekarang sudah duduk dengan indah di sebelah Vian. Dia tidak menyadari kalau Julian sudah berada di sebelahnya. Vian yang gugup langsung menutup laptop miliknya itu. Julian memperhatikan semua gerak gerik Vian yang gugup.
"Santai saja" lanjut Julian sambil tersenyum.
Julian bersikap seperti tidak tau kalau Vian menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Julian tidak ingin ikut campur dalam kehidupan Vian. Bagi Julian kalau Vian cerita maka dia akan mendengarkan, tapi kalau tidak, maka Julian berprinsip itu adalah suatu hal yang sifatnya pribadi.
"Kita supermarket yuk" ajak Julian.
"Mau ngapain?"
"Kan belum jam kerja?" Vian heran dengan ajakan Julian yang sangat cepat untuk menuju swalayan.
"Gue mau keluar dari sana. Gue mau fokus mencari pekerjaan di perusahaan" ujar Julian menyampaikan ide yang ada di otaknya itu.
"Asisten dosen nggak lagi. Tapi sebelum gue mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang sesuai dengan bidang gue, maka gue akan tetap menjadi asisten dosen dulu" jawab Julian menjelaskan apa yang akan dilakukannya ke depan. Rencana rencana yang akan dikerjakannya.
"Oh baiklah" ujar Vian menyerah.
"Loe nggak perlu pusing, tenang aja. Pola pikir gue memang kayak gini." kata Julian yang paham kalau Vian pasti pusing dengan apa yang ada dalam pikiran Julian saat ini.
"Sekarang mari kita ke swalayan"
Kedua sahabat itu, padahal sebenarnya majikan dan pengawal, berjalan menuju parkiran tempat motor Vian di parkir. Mereka berdua akan keluar dari pekerjaan menjadi karyawan di swalayan itu.
"Gue masuk dulu ya" ujar Julian.
Vian mengangguk. Vian juga akan mengundurkan diri hari ini. Dia tidak mungkin masih tetap bekerja di swalayan sedangkan Julian atau Nona mudanya itu tidak lagi bekerja di swalayan tersebut. Tetapi bedanya, kalau Julian harus menemui manager untuk mengundurkan diri. Sedangkan Vian sama sekali tidak perlu. Vian tinggal angkat kaki dari swalayan itu
'Sepertinya gue harus ngomong sama Tuan muda tentang permasalahan ini' kata Vian dalam hatinya.
__ADS_1
'Siapa lagi yang bisa mengikuti Nona muda di kampus ya?'
'Ini bener bener menjadi sebuah masalah baru lagi' lanjut Vian berkutat dengan pemikirannya sendiri.
"Vian, gue pulang duluan ya" ujar Julian saat dirinya sudah berdiri di depan Vian.
Vian langsung saja berdiri dari posisi duduknya itu.
"Sama ajalah. Gue antar ke rumah" jawab Vian yang tidak mungkin membiarkan Nona mudanya pulang sendirian ke rumah, walaupun ada Felix yang setia menjaga Julian dari kejauhan.
"Emang loe nggak masuk kerja?" tanya Julian kaget saat mendengar Vian yang juga tidak akan bekerja hari ini.
"Males gue." jawab Vian dengan santainya.
"Jangan katakan kalau loe juga mau keluar dari sini?" tebak Julian.
"Nggak lah. Mau makan apa gue kalau keluar dari sini" jawab Vian dengan santai.
"Vian Vian. Loe salah nipu orang Vian"
"Bukan orang seperti gue yang bisa loe tipu" ujar Julian berkata sambil berjalan dengan santai.
Vian yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian, hanya bisa terbengong saja. Dia tidak menyangka kalau Julian bisa berkata seperti itu.
"Julian tunggu gue" teriak Vian yang baru tersadar kalau Julian sudah lumayan menjauh dari dirinya.
Julian tetap berjalan dengan sangat santai. Dia sama sekali tidak mau menunggu Vian. Vian menjadi semakin cemas.
'Apa Julian sudah tau sesuatu ya?' tebak Vian dalam pikirannya.
'Tidak biasanya dia bersikap seperti ini' lanjut Vian lagi.
Vian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat menghubungi seseorang. Vian tidak ingin semuanya terbongkar sebelum waktunya.
'Bisa bisa gue di dendeng Tuan Muda nanti ini' lanjut Vian.
__ADS_1
Vian berusaha mengejar Julian. Tetapi sayangnya, saat Vian sampai di depan swalayan, Vian melihat Julian sudah pergi naik taksi online.