
"Julian, loe amankan dengan Bryan?" tanya Vian saat mereka sedang menikmati makan siang di kantin perusahaan.
"Aman. Emangnya ada apa? Kenapa loe nanyak kayak gitu ke gue?" Julian balik bertanya kepada Vian.
Julian heran kenapa Vian bisa bertanya hal yang semacam itu kepada dirinya. Dia tidak mengerti dengan maksud atau tujuan dari Vian bertanya kepada dia.
"Karena tadi Kevin ngirim pesan chat ke gue" kata Vian mencoba memancing informasi dari Julian dengan mengatakan kalau Kevin mengirim dia pesan chat.
"Apa kata Kevin?" ucap Julian yang penasaran dengan isi pesan chat dari Kevin. Pastinya Kevin membahas tentang Bryan. Kalau tidak maka, tidak akan mungkin Vian bertanya tentang Bryan sekarang.
"Kevin cuma tanyak, loe dalam kondisi baik baik saja. Itu aja" jawab Vian.
"Terus loe jawab apa?" Julian semakin kepo dengan apa yang dikatakan oleh Vian dan Kevin terutama tentang Bryan.
"Gue jawab loe baik baik aja. Ternyata Kevin ngomong kalau Bryan tidak sedang dalam keadaan baik baik saja" lanjut Vian sengaja melihat reaksi dari Julian seperti apa.
"Maksud loe dia sedang tidak dalam keadaan baik baik saja gimana?" tanya Julian lagi yang kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini.
"Ya, dia sedang marah marah di perusahaan. Semua pekerjaan salah. Makanya Kevin nanyak ke gue, loe gimana di sini" kata Vian menjelaskan kepada Julian tentang pesan chat goib yang dikirim Kevin
Julian kemudian menceritakan apa yang terjadi semalam saat Kevin dan Vian sudah pulang ke rumah mereka masing masing. Julian tidak menutupi satupun cerita kepada Vian. Termasuk dengan Bryan masak sarapan pagi tadi.
"Jadi, dia ngapain marah marah di perusahaan ya?" tanya Vian sambil mengetuk ngetuk jidatnya dengan jari telunjuk.
"Karena kecapen kerja kali" jawab Julian membantu menjawab pertanyaan dari Vian untuk dirinya sendiri.
"Bisa jadi" jawab Vian lagi.
"Udah malas bahas Bryan. Cegukan pulak orang tu nanti, karena diomongin" ucap Julian yang malas membahas suaminya dengan orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri.
Julian dan Vian menikmati menu makan siang yang mereka pesan. Mereka makan sambil mengobrol ringan, mulai dari gosip yang ada di ruangan mereka sampai hal hal yang tidak penting mereka bahas semuanya. Julian dan Vian sangat menikmati obrolan saat jam makan siang. Sebenarnya tadi pagi mereka sudah makan sarapan yang dibuat oleh Bryan, rasa dari sarapan yang dibuat oleh Bryan luar biasa enaknya, apalagi kalau disangkut pautkan dengan Bryan yang merupakan seoarang CEO, maka rasa masakan itu akan naik berkali kali lipat.
"Boleh saya duduk di sini?" ujar seorang wanita yang sepertinya karyawan baru di perusahaan.
Julian dan Vian baru kali ini melihat karyawan itu. Selama ini mereka tidak pernah melihat karyawan wanita itu makan siang di kantin.
"Oh silahkan duduk" jawab Julian mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sebelah dirinya.
"Kalian berdua sudah selesai makannya?" tanya karyawan wanita tersebut dengan ramah sekali.
"Barusan saja siap" jawab Vian.
Keheningan tercipta di antara mereka bertiga. Vian sudah memakai sikap waspada nya. Karyawan baru yang duduk di sebelah Julian patut di waspadai. Vian tidak mau terjadi sesuatu terhadap nyonya mudanya itu.
__ADS_1
'Seharusnya gue nyuruh tu orang duduk di sebelah gue. Bukan Julian yang menjawab pertanyaannya tadi' kata Vian dalam hati dan pikirannya.
Julian melihat waktu istirahat masih ada tiga puluh menit lagi. Mau balik ke ruangan secepatnya takut bosan, sedangkan duduk di sini, hanya diam saja membuat Julian semakin malas. Julian meraba saku celana, dia tidak menemukan ponselnya di sana.
"Ada apa Julian? Seperti ada yang kehilangan?" tanya Vian saat melihat Julian gelisah duduk di kursinya.
"Ponsel gue" kata Julian lagi menyebutkan apa yang dicarinya dan tidak bertemu.
Karyawan wanita yang duduk di sebelah Julian langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.
"Kamu menuduh saya mengambil ponsel kamu ha?" teriak karyawan wanita itu dengan nada tinggi. Dia tidak Terima di tuduh sebagai pencuri ponsel Julian.
"Siapa yang nuduh kamu, saya cuma menjawab pertanyaan dari Vian. Saya tidak pernah menuduh siapapun. Ada saya menyebut nama kamu tadi? Saya rasa tidak ada, kamu saja yang merasa" jawab Julian yang tidak terima dirinya dikatakan menuduh karyawan itu telah mengambil ponsel miliknya.
"Hay dengar, wanita ini sudah menuduh saya sebagai pencuri ponsel miliknya. Padahal saya tidak mencuri. Dia sudah menuduh saya" lanjut karyawan wanita itu semakin memprovokasi orang orang untuk melihat ke arah Julian.
Julian semakin bingung dibuatnya. Dia benar benar tidak menuduh wanita itu yang mengambil ponsel miliknya.
"Loe nuduh sahabat gue tanpa bukti. Kapan Julian nuduh loe mengambil ponsel miliknya?" kata Vian yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya.
"Tadi dia ngomong ponsel gue nggak ada. Jelas jelas yang duduk di sebelah dia gue, tentu maksudnya adalah gue yang ngambil" balas karyawan wanita itu dengan gaya centilnya.
"Ais cantik cantik menuduh orang yang tidak tidak" kata seorang karyawan yang termakan isu provokasi yang dibuat oleh karyawan baru itu.
Julian dan Vian saling memandang satu dengan yang lainnya, Julian memang tidak ada menuduh wanita itu. Tetapi ntah permainan apa yang sedang dimainkan oleh karyawan wanita tersebut.
'Gue akan lihat permainan elo. Apa yang akan loe lakuka selanjutnya' kata Vian dalam hatinya.
'Loe jangan harap bisa lepas dari gue setelah apa yang loe lakuin' kali ini Julian yang berkata dalam hatinya. Julian benar benar marah sekarang, dia sudah di tuduh yang tidak tidak.
Seorang manager yang kebetulan baru masuk mendengar keributan yang terjadi di kantin karyawan itu. Dia kemudian berjalan menuju tempat duduk yang menjadi sumber keributan di siang hari itu saat jam makan siang semua karyawan.
"Ada apa ini? Kenapa ribut ribut. Kalian tau kan ini ruang makan, bukan ring tinju" kata Manager sambil melihat ke arah tiga orang karyawan wanita yang meributkan sesuatu yang tidak penting itu. Sesuatu yang hanya dibuat buat oleh karyawan wanita yang menumpang duduk di sebelah Julian.
"Dia sudah menuduh saya mencuri ponselnya Pak" kata karyawan wanita itu melaporkan apa yang terjadi menurut versinya kepada manager. Sambil jari tangannya menunjuk ke arah Julian.
Julian dan Vian kaget mendengar apa yang dilaporkan oleh karyawan wanita baru itu. Mereka berdua saling memandang satu dengan yang lainnya.
"Permainan masuk babak baru" kata Julian kepada Vian.
"Ya. mari nikmati" jawab Vian lagi sambil tersenyum ke arah Julian.
Julian mengalihkan pandangannya kepada manager yang sekarang sudah berdiri di hadapan mereka bertiga.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak menuduh dia mencuri. Sama sekali tidak. Tidak satupun dari perkataan saya yang menuduh dia mengambil ponsel saya" kata Julian berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada manager itu.
"Alah pas ada manager aja loe nggak ngaku. Tadi loe nuduh nuduh gue" kata karyawan itu semakin menuduh Julian. Cara karyawan itu menuduh Julian benar benar sangat bagus actingnya.
"Bapak percaya sama saya kan pak" kata wanita itu lagi dengan suara manja kepada manager. Suara yang semakin dibuat buat supaya terlihat kalau dia memang sebagi korban di sini.
Julian memperhatikan dengan seksama manager tersebut. Dia ingin melihat apa yang akan diucapkan oleh manager itu setelah diperlakukan oleh karyawan yang satu itu dengan gaya centil tidak masuk di akal tersebut.
Manager masih saja diam. Dia tidak tau harus percaya kepada siapa. Apakah dia harus percaya kepada Julian atau kepada karyawan wanita itu.
"Manager kalau tidak percaya saya, silahkan tanya sama semua karyawan yang ada di sini" lanjut karyawan wanita itu masih memprovokasi manager untuk memberikan tindakan kepada Julian.
"Benar manager, wanita yang itu sudah menuduh wanita ini" kata salah seorang karyawan sambil menunjuk Julian bergantian dengan karyawan yang sudah menuduh Julian tadi.
Manager kembali terdiam dia harus mengambil tindakan yang adil se adil adilnya. Dia tidak boleh gegabah menentukan keputusan dalam masalah ini.
"Kalian berdua ikut saya ke ruangan manager HRD. Saya tidak bisa memutuskan siapa yang salah dan benar antara kalian berdua" ujar manager tersebut mengambil jalan tengah dengan membawa Julian dan karyawan baru menuju ruangan HRD.
"Tapi saya tidak salah" kata Julian sekali lagi dengan tegas.
"Kalau loe nggak salah, kenapa takut ke ruangan HRD" kata karyawan baru itu menantang Julian untuk bertemu di ruang HRD.
"Oke, kalau memang itu mau kalian. Kita akan bertemu di ruang HRD saja" jawab Julian yang sudah naik emosinya, tetapi Julian masih berusaha untuk menahan emosi itu supaya tidak meledak.
"Gue ikut Julian" kata Vian.
"Alah ngapain loe ikut terus. Kayak anak ayam yang ikut induknya saja terus" kata karyawan baru yang sudah mencari lawan kepada Vian.
"Tutup mulut loe dan jangan banyak bacot. Gue pastikan loe akan menerima akibat setelah apa yang loe lakuin sekarang" kata Vian mengancam karyawan wanita itu dengan berbisik.
"Loe ngancem gue? Aw gue takut" jawab wanita tersebut dengan gaya yang benar benar memuakkan saat dilihat oleh Julian dan Vian.
"Terserah loe. Gue nggak takut" balik wanita itu sambil menatap Vian dengan tatapan yang meremehkan Vian.
"Oke kita lihat saja nanti" jawab Vian dengan santainya.
Vian kemudian berjalan mengikuti Julian dari belakang. Sedangkan karyawan wanita yang luar biasa perangainya itu sudah berjalan di belakang manager.
"Loe ngapain di belakang gue?" tanya Julian saat melihat Vian berjalan di belakangnya.
"Bentar gue ada urusan" jawab Vian.
Vian terlihat mengeluarkan ponsel miliknya. Dia seperti sedang mengetik sesuatu di sana. Suatu hal yang sangat penting. Wajah Vian menunjukkan kalau dirinya sedang sangat serius dan tidak bisa diganggu
__ADS_1