
"Ais loe kayak tau banget aja. Pacaran aja nggak pernah malah pakai ngajarin gue pula lagi tuh. Ada ada aja, itu namanya loe sok tau tapi nggak tau" jawab Bryan dan menggeleng gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Kevin sebentar ini.
"Loe kayak yang udah pengalaman aja. Kita bertiga sama bray belum pernah menjalin hubungan serius. Tapi kalau hanya sekedar haha hihi udah sering. Saking seringnya malahan membuat kita menjadi sangat bosan. Bayangin aja sama loe sampai bener bener bosan kita menghadapi kerasnya hubungan haha hihi" lanjut Bryan mengingat bagaimana wanita wanita di luar sana yang selalu mengejar ngejar Bryan karena hubungan satu malam yang bahkan tidak terjadi apapun. Bagi Bryan wanita wanita itu hanya untuk menemani dirinya duduk duduk di bar sambil menghabiskan rasa capeknya sudah bekerja seharian.
"Gue hubungan serius memang nggak pernah tapi kalau masalah untuk bisa menjadi romantis, loe jangan salah ya, sumber gue luar biasa banyaknya. Loe nggak akan tau berapa banyak sumbernya." jawab Kevin lagi yang tidak mau mengalah dengan jawaban yang diberikan oleh Bryan.
"Makanya nonton film romantis biar loe bisa belajar bagaimana caranya supaya loe bisa menjadi orang yang romantis. ini nggak muka kayak kanebo kering terus aja. Mana bisa menbujuk wanita yang sedang marah. Nengok mukankering loe aja semua wanita pada kabur. Mereka tidak kuat membayangkan harus berhadapan dengan loe" kata Kevin memberikan ajaran dan masukan dari mana Bryan bisa belajar tentang cara untuk menjadi romantis. Serta sedikit mengata ngatai Bryan untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi.
Bryan yang mendengar salah satu sumber yang menurut Kevin sangat bagus, membuat dirinya menjadi termenung cukup lama sekali. Bryan tidak menyangka kalau Kevin akan mengajarkan hal itu kepada dirinya. Hal yang tidak akan pernah dilakukan oleh Bryan.
"Nonton film? Loe kira gue nggak ada kesibukan lain sehingga harus nonton film? Ada ada aja loe. Nggak sanggup gue untuk nonton film" jawab Bryan yang langsung menolak anjuran dari Kevin untuk menonton film supaya dirinya bisa belajar cara menjadi romantis yang baik.
"Sekali sekali tak apalah. Kan nggak tiap hari. Lagian juga untuk belajar, bukan untuk apa apa." Kevin masih mencoba peruntungannya untuk membuat Bryan mau menonton. Suatu kebiasaan yang tidak pernah dilakukan oleh Bryan selama ini.
"Ogah gue. Selain hal yang satu itu mungkin masih akan gue pertimbangkan untuk melakukannya. Tapi kalau harus nonton, gue beneran nggak mau" jawab Bryan masih tetap dengan pendiriannya
"Oke. Kita akan ke toko buku besok" ujar Kevin mencoba alternatif yang lain. Alternatif sumber belajar menjadi romantis bagi Bryan untuk menghadapi Julian yang sedang merajuk dan akan dibujuk dengan cara cara romantis tersebut.
"Ngapain lagi?" Bryan tidak paham dengan ajakan Kevin untuk pergi ke toko buku.
"Paa hubungannya belajar cara romantis dengan toko buku. Loe ngasal aja ngasih ide" lanjut Bryan yang masih tidak paham dengan ide yang ada di kepala Kevin saat ini.
"Beli buku yang di dalamnya diajarkan cara romantislah, loe di ajak nonton film romantis nggak mau, ya udah terpaksa loe harus baca buku yang di dalamnya ada hal hal romantis yang masih bisa untuk loe lakuin. Paham" kata Kevin menjelaskan tujuan mereka datang ke toko buku untuk apa dan mengapa.
"Oke. Masih bisa gue pertimbangkan kalau untuk membaca buku" ujar Bryan.
Bryan sudah memiliki ide dalam kepalanya sendiri, dia mau ke toko buku untuk membeli buku, tetapi tidak untuk membaca buku itu. Dia akan meminta Kevin untuk membaca buku itu dan memberikan resume nya kepada Bryan. Jadi Bryan tinggal eksekusi saja resume yang sudah diberikan oleh Bryan kepada dirinya.
"Gue udah ngebaca maksud dan tujuan elo kenapa mau ke toko buku. Gue akan pastikan memberikan resume itu untuk loe lakuin" kata Kevin yang sudah bisa menebak apa buang ada di dalam kepala Bryan sekarang ini.
__ADS_1
"Haha haha haha" Bryan tertawa puas mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin kepada dirinya. Kevin sudah mengetahui isi otak dan juga rencana Bryan.
"Vian, loe tolong panggil Bryan dan Kevin untuk masuk ya. Gue mau bersih bersih bentar" ujar Julian saat sudah selesai menyiapkan menu makan malam yang akan mereka nikmati bersama sama.
"Sip" jawab Vian
Vian kemudian berjalan menuju ruang tamu rumah kontrakan Bryan dan Julian. Rumah yang sudah dianggap oleh Vian seperti rumahnya sendiri, saking seringnya Vian berada di sana.
"Tuan muda makan malam sudah siap" kata Vian yang datang untuk memanggil Bryan dan Kevin ke ruang tamu.
"Nyonya muda mana?" tanya Bryan lagi.
Bryan agak sedih karena yang memanggil dirinya keluar bukanlah Julian melainkan Vian. Bagi Bryan hal ini merupakan bukti nyata kalau Julian masih marah kepada dirinya sekarang ini.
"Nyonya muda sedang mandi tuan muda, makanya saya yang memanggil tuan muda ke sini" jawab Vian menjelaskan dimana keberadaan Julian sekarang.
"Oh baiklah" jawab Bryan yang bisa sedikit bernapas lega. Dalam bayangan Bryan, Julian masih marah tetapi ternyata Julian sedang pergi membersihkan badannya setelah seharian beraktifitas di luar rumah.
Bryan dan Kevin duduk di kursi mereka masing masing. Begitu juga dengan Vian. Sedangkan Julian terlihat masih di dalam kamar untuk berkemas kemas.
Julian yang telah selesai berkemas kemas berjalan keluar dari dalam kamar, Julian menuju meja makan. Dia akan ikut makan malam dengan semua orang yang sudah ada di sana.
Julian mengambilkan nasi dan juga lauk untuk Bryan. Bryan tersenyum bahagia dengan perlakuan Julian kepada dirinya. Tetapi reaksi yang diberikan oleh Julia tetap sama, dia masih tanpa reaksi apapun. Wajah Julian masih datar selatan papan triplek.
"Vian, loe nggak nolong gue untuk mengambilkan makanan?" tanya Kevin sambil tersenyum menggoda Vian.
"Loe punya tangan kan ya?" tanya Vian kembali kepada Kevin.
"Ada dua" jawab Kevin dengan santainya.
__ADS_1
"Nggak sakit kan?" tanya balik Vian.
"Nggak sehat" jawab Kevin masih tanpa ekspresi yang bagaimana bagaimana nya.
"Loe pakai aja tangan loe sendiri untuk mengambil makanan itu. Ngapain harus gue" ujar Vian.
"Pelit loe" kata Kevin lagi.
Vian tidak menjawab perkataan dari Kevin. Vian sudah selesai mengisi piringnya dengan makanan yang di hidangkan di atas meja makan. Kevin akhirnya mengisi piringnya sendiri dengan makanan yang diinginkannya.
Julian dan Bryan yang melihat keributan itu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka sama sekali tidak bisa berkomentar apapun lagi.
"Sudah sudah, saya sudah lapar" kata Bryan menghentikan keributan yang terjadi di meja makan itu.
Mereka berempat kemudian berdoa sebelum menikmati makan malam yang dibuat oleh Julian. Mereka makan degan sangat lahap. Makanan yang dihidangkan di atas meja makan langsung lenyap seketika. Masakan Julian benar benar enak sekali. Tidak ada yang bisa memungkiri rasa masakan buatan Julian.
"Julian, kalau kamu buka usaha rumah makan, saya jamin akan laris manis" kata Kevin memuji rasa masakan Julian dengan gaya khasnya.
"Ogah. Nanti kamu dan Felix akan datang terus setiap hari" jawab Julian.
"Tenang, datang pun kami tiap hari, kami akan bayar, nggak akan gratis" jawab Kevin
"Yakin nggak akan gratis?" tanya Julian lagi.
"Haha haha haha. Nggak yakin. Kalau awal bulan aku dan Felix pasti akan bayar, tapi kalau akhir bulan kas bon dulu ya" ujar Kevin pada akhirnya mengakui apa yang akan dilakukannya kalau Julian membuka rumah makan.
"Nah itu susahnya. Modal gue jadi ilang karena tiap hari di kas bon" ujar Julian.
Bryan melihat perubahan hati Julian saat berbicara dengan Kevin. Saat dengan Kevin, Julian memberikan respon yang baik. Sedangkan dengan dirinya, Julian tidak memberikan respon sebaik itu. Benar benar sebuah dilema yang harus dilalui oleh Bryan akan perubahan sikap seorang Julian.
__ADS_1
'Kamu jahat sama aku sayang. Dengan Kevin kamu bisa ngomong baik baik. Dengan aku kamu sewot' kata Bryan dalam hati dan pikirannya.