Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #37


__ADS_3

Bryan yang masih terlelap tidur merasa sedikit terganggu oleh cahaya lampu yang sudah terang di dalam kamar mereka berdua. Bryan membuka matanya dengan perlahan, dia harus menyesuaikan terlebih dahulu antara cahaya lampu dengan matanya. Saat itulah dia melihat sesosok wanita dengan gampangnya memakai pakaian dalam di depan Bryan.


"Ehem" Bryan sengaja memberikan kode kapada Julian yang dengan gaya santainya memakai pakaian dalam di depan Bryan.


Julian yang mendengar kode dari Bryan langsung kaget dan langsung bergegas memakai gaun yang sudah disiapkan nya. Bryan mendadak bangun dan langsung berdiri dari posisi tidurnya.


"Jangan pakai gaun itu sayang" ujar Bryan.


Julian kaget mendengar teriakan dari Bryan. Dia tidak jadi mengancing buah baju yang sudah dipakainya itu.


"Kalau nggak pakai ini mau pakai apa lagi Bryan. Ini aja nyewa juga" jawab Julian sambil memajukan bibirnya yang indah itu.


"Kan nggak mungkin pakai kemeja sama rok yang biasa aku pake ke kampus" lanjut Julian.


"Tunggu di sini sebentar. Nggak sampe tiga menit" jawab Bryan lagi.


Julian mengangguk, dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Bryan ke depannya. Dia saja masih pusing dengan keinginan Bryan.


Bryan berjalan cepat keluar dari dalam kamar. Dia mengambil paper bag yang ada di atas kursi. Semalam dia tidak sempat memberikan kepada Julian karena hari yang sudah larut malam. Apalagi kemaren mereka mengobrol tentang rencana Julian setelah menerima ijazah kuliahnya itu.


"Sayang pakai ini aja ya" ujar Bryan sambil memberikan paper bag yang ada di tangannya kepada Julian.


Julian menatap lama kantong paper bag itu. Dia sedikit ragu untuk mengambilnya dari tangan Bryan.


"Ini aku beli saat diskon. Jadi, kamu jangan marah ke aku dan mengira belinya mahal." kata Bryan yang paham arti tatapan mata dari seorang Julian kepada dirinya.


Julian masih tidak bergeming. Dia masih belum mengambil paper bag itu dari tangan Bryan.


"Kalau kamu tidak percaya dengan omongan aku, kamu bisa lihat di dalamnya masih ada bill aku membelinya" ujar Bryan meyakinkan Julian kalau dia memang membeli gaun itu dengan harga yang murah.

__ADS_1


Julian masih dengan sikap awalnya. Dia sama sekali tidak menyentuh paper bag itu. Bryan sudah geram sendiri melihat tingkah Julian yang masih saja diam tidak bergerak itu.


Bryan mengeluarkan sendiri struk pembayaran gaun yang dibelinya. Dia menyerahkan struk itu kepada Julian. Julian melihat dan membacanya, ternyata memang benar, Bryan membeli pakaian itu dengan harga yang murah, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dirinya.


"Jadi apa kamu mau memakainya?" tanya Bryan yang sedikit kehilangan kesabarannya dengan sikap Julian pagi ini.


Julian menganggukkan kepalanya, dia meraih paper bag tersebut. Julian mengeluarkan gaun dari dalam paper bag itu. Dia kemudian melihat gaun yang dibelikan oleh Bryan. Julian menatap tidak percaya ke arah gaun yang ada di tangannya itu. Gaun yang sangat cantik sekali. Gaun yang terlalu indah untuk dipakainya saat ini.


"Ini beneran segini harganya?" tanya Julian.


Julian berkali kali memastikan harga baju yang dipakainya itu memang sesuai dengan yang tertera di struk pembayaran yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.


"Ya memang segitu. Tapi udah aku katakan berapa persen diskonnya. Itukan baju keluaran beberapa tahun yang lewat. Bukan desain baru" jawab Bryan menjelaskan panjang lebar kepada Julian. Bryan tidak mau Julian menjadi sangat curiga dengan dirinya dan mencari tau harga sebenarnya baju tersebut.


"Kamu yakin?" tanya Julian kembali.


"Apa kamu sudah mulai meragukan aku?" balik Bryan bertanya sambil melihat ke arah Julian dengan tatapan tidak suka dirinya dicurigai.


"Maaf sekali lagi maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu" ujar Julian. Dia benar benar tidak menyangka kalau akan berdampak buruk dari apa yang dikatakannya tadi.


"Sudah jangan pikirkan. Sana ganti bajunya. Aku mandi dulu"


Bryan keluar meninggalkan Julian yang akan berganti pakaian. Bryan sebenarnya tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Julian tadi. Bryan hanya mau menguji pengetahuan Julian atas pakaian dan gaun gaun yang dikeluarkan oleh butik. Ternyata ya begitu.


"Aku akan cari tau siapa kamu sayang. Aku yakin kamu bukanlah kamu yang sekarang" ujar Bryan sambil menatap kembali ke arah kamar.


Julian memakai gaun yang dibelikan oleh Bryan. Julian sangat senang sekali mendapatkan gaun yang indah itu untuk wisudanya. Kebahagiaan Julian akan semakin bertambah kalau Bryan bisa hadir dalam acara wisuda nanti.


"Sayang, aku pakai kemeja yang kamu belikan kemaren itu aja ya" ujar Bryan.

__ADS_1


"Sip. Aku ambilkan sebentar" jawab Julian.


Julian mengambilkan kemeja yang dikatakan oleh Bryan. Kemeja yang menjadi hadiah ucapan terimakasih dari Julian untuk Bryan.


Tok tok tok tok. Terdengar pintu depan rumah di ketuk seseorang dari luar. Bryan memandang Julian. Julian juga sama. Mereka berdua saling mengangkat bahu tidak tau siapa yang datang sepagi ini.


Julian yang sudah selesai memakai pakaiannya berjalan keluar dari dalam kamar untuk membukakan pintu rumah.


"Eh Vian. Tumben pagi ke sini?" tanya Julian dengan sangat ramah.


Vian sebenarnya sudah siap dengan drama baru permintaan maafnya. Tetapi karena sambutan Julian tidak seperti yang dibayangkan oleh Vian, membuat Vian membatalkan niatnya untuk melanjutkan dramanya itu.


"Gue mau bantu loe siap siap untuk acara wisuda" kata Vian memberitahukan kepada Julian apa maksud kedatangannya ke rumah Julian sepagi itu.


"Wow kebetulan sekali. Gue nggak bisa makeup. Apa loe bisa bantu gue?" tanya Julian lagi yang sama sekali tidak bisa bermakeup untuk acara acara formal seperti acara wisudanya itu.


"Oke itu mah gampang. Serahkan ke gue" kata Vian dengan sangat bersemangat. Vian sangat senang diminta bantu oleh Julian untuk merias dirinya.


"Makasih Vian. Satu lagi, maafkan gue atas sikap gue kemaren" ujar Julian dengan nada menyesal.


"Udah santai aja. Lagian gue juga yang salah kok ya" balas Vian


Vian sangat senang ternyata kejadian kemaren bukan seperti yang ada di dalam bayangannya dan juga tidak sesuai dengan kesimpulannya. Ternyata Julian tidak memiliki pemikiran apa apa tentang Vian


"Ayok masuk. Loe harus bantu gue" ujar Julian.


Julian menarik tangan Vian untuk masuk ke dalam kamar. Sedangkan Bryan yang sudah tau siapa yang datang sekarang sudah berada di meja makan. Vian sempat menyapa Tuan mudanya itu dengan bahasa isyarat. Bryan juga membalas sedikit.


"Vian, alat makeup gue hanya ada ini saja. Apa ini cukup?"

__ADS_1


Vian melihat semua perlengkapan makeup Julian. Sebenarnya untuk acara formal masih sedikit agak kurang, tetapi karena wajah Julian sudah sangat cantik. Maka peralatan tempur yang sedikit ini saja sudah menjamun kecantikan Julian nantinya


__ADS_2