Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #63


__ADS_3

'Jaga nyonya muda' kata Bryan memberikan perintah kepada Vian.


Setelah menanyakan bagaimana keadaan Julian kepada Vian. Bryan sudah mulai sedikit tenang, walaupun rasa bersalah itu masih ada. Tetapi Bryan tidak mungkin menjelaskan semua kejadian yang ada kepada Julian. Dia hanya bisa mencari alasan yang paling masuk akal yang akan diberikan kepada Julian nantinya.


Bryan kembali membaca dua buah laporan yang ada di depannya saat ini. Dua laporan yang isinya sangat jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ntah yang mana yang benar, itu yang membuat Bryan tidak tau.


Kevin sudah kembali dari membeli menu makan siang yang letak restorannya lumayan jauh dari perusahaan. Dia benar benar lelah karena berkendara sejauh itu. Dia tidak pernah membayangkan akan membeli makan siang ke ujung dunia.


"Mana Felix nya Bryan?" tanya Kevin yang tidak melihat ada Felix di dalam ruang kerja Bryan. Padahal tadi Felix mengatakan aka datang dalam waktu tiga puluh menit lagi


"Belum datang sampe sekarang. Ntah kemana dia" jawab Bryan yang terlihat semakin kusut saja dibandingkan pagi tadi.


"Gue telpon tadi katanya tiga puluh menit lagi dia sampe. Kok sampai sekarang belum sampe juga" kata Kevin yang nggak tau kemana keberadaan Felix hari ini.


"Ntahlah Kevin. Capek gue sekarang. Nggak satu satu yang harus gue pikirin" kata Bryan. Bryan menggusar rambutnya dengan jari jari panjangnya itu. Dia terlihat sangat gelisah sekarang. Dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa apa.


"Gue bener bener lelah" kata Bryan mengulang sekali lagi pernyataan berupa keputusasaan seorang Bryan terhadap apa yang sedang dialaminya.


Kevin melihat ke arah sahabatnya itu. Bryan benar benar dalam kondisi yang tidak baik baik saja. Dia terlihat sangat lelah sekali sekarang. Kevin sebagai sahabat baiknya tidak pernah melihat wajah Bryan yang seperti ini selama ini. Bryan yang mereka kenal selama ini adalah sesosok pria yang tanggung dan pekerja keras serta pebisnis sukses.


"Maafkan gue Bryan." kata Kevin dengan nada lemah. Nada suara menyesal sangat terlihat jelas dari cara bicara Kevin.


Bryan menatap ke arah sahabatnya itu. Dia tidak menyangka kalau keadaannya seperti sekarang ini akan membuat Kevin meminta maaf kepada dirinya. Padahal sahabatnya itu telah menolong dirinya dan juga perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah keluar dari ancaman kebangkrutan.


"Kenapa loe minta maaf ke gue?" tanya Bryan heran kenapa tiba tiba Kevin meminta maaf kepada dirinya.


"Ya, karena laporan dari orang gue membuat loe seperti sekarang ini." jawab Kevin sambil melihat ke atas loteng ruang kerja Bryan.


"Jujur nyesal gue telah memberitahukan hal itu ke elo. Kalau gue tau akan menjadi seperti ini" lanjut Kevin yang masih tidak melihat ke arah Bryan.


"Jujur gue nggak tega nengok wajah elo seperti sekarang. Gue tau bagaimana perjuangan elo untuk membangun perusahaan itu dari nol." lanjut Kevin.

__ADS_1


"Tapi maksud gue baik ternyata membuat loe seperti ini. Asli nyesel gue Bryan. Nggak pernah gue yang se menyesal ini. Tapi mau bagaimana lagi"


"Kalau bisa gue menarik mundur kejadian yang sudah terjadi, mau gue tarik mundur" lanjut Kevin lagi sambil menatap ke arah Bryan sebentar saja. Kevin memang benar benar menyesal. Gara gara dokumen laporannya membuat Bryan menjadi seperti sekarang.


Bryan mendengar semua yang dikatakan oleh Kevin. Bryan tidak sekalipun memotong perkataan dari Kevin. Bryan ingin mendengar semua yang menjadi penyebab Kevin menjadi terdiam seribu bahasa.


"Kevin, loe nggak boleh merasa kalau loe bersalah di sini. Gue nggak ada nyalahin elo. Malahan gue sangat senang dan berterimakasih banget karena loe sudah ngasih tau semuanya ke gue" kata Bryan.


Bryan membetulkan posisi duduknya. Dia memilih untuk melihat Kevin daripada sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia harus menerangkan kepada sahabatnya yang memang sangat sensitif kalau membahas masalah perusahaan. Apalagi sampai membuat Bryan menjadi termenung seperti sekarang.


"Bryan gimana gue nggak merasa bersalah. Gara gara laporan itu semua pekerjaan loe hari ini menjadi terbengkalai. Tidak satupun pekerjaan loe yang berhasil loe selesaikan" bantah Kevin sambil melihat sebentar ke arah Bryan.


"Kalau gue tidak beri tahu loe tentang masalah ini tentu loe nggak akan galau dan juga kepikiran hal tidak guna itu" kata Kevin yang tetap berpikiran kalau laporan dari dirinya menjadi penyebab Bryan menjadi diam.


"Kevin, loe sekarang denger gue ya." kata Bryan.


Kevin melihat ke arah Bryan. Ternyata wajah Bryan sekarang sudah berubah menjadi wajah penuh keseriusan. Sepertinya Bryan mengajak Kevin untuk berbicara dengan serius.


"Gue berharap loe nggak lagi menyalahkan diri elo sendiri karena permasalahan ini. Gue bener bener berterimakasih karena loe sudah membuka semuanya" lanjut Bryan berupaya membuat Kevin keluar dari rasa bersalahnya saat ini.


Kevin melihat kesungguhan dari ucapan Bryan melalui tatapan mata Bryan yang tidak bisa menipu itu. Bryan mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikirannya.


"Serius loe nggak emosi ke gue dan orang gue itu, setelah loe menerima laporan tadi?" tanya Kevin sekali lagi. Kevin butuh diyakinkan oleh Bryan.


"Ya gue tidak marah. Malahan gue sangat mengucapkan terimakasih kepada loe" lanjut Bryan lagi.


Inilah salah satu hal yang membuat Bryan tidak mau memberikan kerja yang berlebih kepada Kevin. Kevin tidak seperti Felix. Mereka berdua sangat jauh bertolak belakang satu dengan yang lainnya.


Felix orangnya tidak akan memikirkan hal yang tidak penting. Felix hanya akan serius bekerja saja. Sedangkan Kevin, saat ada masalah yang dia rasa sumbernya dari dia, akan membuat Kevin menjadi seperti sekarang ini. Walaupun Bryan atau Felix sudah mengatakan berkali kali kalau dia tidak bersalah, tetapi menurut Kevin dia tetap bersalah.


"Loe serius?" tanya Kevin lagi

__ADS_1


"Ya sangat serius. Berkat loe perusahaan yang gue bangun terlepas dari kebangkrutan. Gue akan urus masalah perusahaan itu. Loe tenang saja." kata Bryan meyakinkan Kevin kalau dirinya sangat berterimakasih kepada sahabat baiknya itu.


"Sekarang loe ubah sifat loe yang seperti ini. Sudah berapa kali gue dan Felix katakan ke loe untuk mengubah sikap loe yang nggak masuk akal ini" lanjut Bryan mulai menasehati Kevin sahabatnya itu untuk mengubah sifatnya yang jelek itu.


"Loe tau sendirikan ya, dunia ini tidak akan selesai kalau setiap ada masalah loe merasa kalau masalah itu datangnya dari loe. Padahal bukan, masalah itu sudah ada dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk terbuka." kata Bryan mencoba menjelaskan untuk ke sekian kalinya kepada Kevin tentang sikap dan sifat buruknya itu.


"Kalau loe seperti ini terus, gue yakin kalau loe tidak akan bisa melepaskan diri loe dari bayang bayang merasa bersalah" lanjut Bryan lagi.


"Apa loe bisa untuk berubah Kevin?" tanya Bryan memastikan keinginan dan tekad Kevin untuk berubah.


Kevin melihat ke arah Bryan. Kevin sadar kalau ini bukan kali pertama Bryan dan Felix menasehati nya karena sifat jeleknya itu. Ini sudah untuk yang kesekian kalinya.


"Gue akan usahakan untuk bisa berubah. Tapi memang sangat sulit. Itu adalah trauma gue yang paling berat yang tidak bisa gue lupakan dengan mudahnya" kata Kevin yang pada akhirnya mengakui penyebab kenapa dirinya tidak bisa mengubah sikap jeleknya itu.


"Trauma?" tanya Bryan kembali.


"Ya trauma. Tapi nggak usah kita bahas sekarang. Sekarang yang terpenting bagaimana cara menyelamatkan dulu perusahaan yang di Francais" kata Kevin menolak untuk menceritakan trauma nya kepada Bryan saat ini.


"Oke" jawab Bryan lagi.


"gue akan menunggu kapan loe siap untuk menceritakan trauma loe ke gue dan Felix. kami pasti akan bantu loe untuk terlepas dari trauma itu. Bagaimanapun kita sudah bersahabat dan juga sudah seperti keluarga sendiri. Jadi tidak ada yang perlu kita rahasiakan satu dengan yang lainnya" lanjut Bryan memberikan pesan kepada Kevin


"siap Bryan. Saat gue siap berbagi semuanya. Maka gue akan panggil loe dan Felix untuk menceritakan semua yang terjadi" jawab Kevin dengan penuh keyakinan.


Bryan dan Kevin kemudian mengobrol masalah yang lain sambil menunggu kedatangan Felix. Felix yang keberadaannya ntah dimana. Katanya perjalanan tiga puluh menit lagi. Tetapi sudah sekian kali tiga puluh menit, Felix masih belum datang juga.


"Tuan muda dimana?" tanya Felix kepada resepsionis yang masih berada di balik meja kerjanya.


"Masih di ruangan Tuan Felix" jawab resepsionis.


"Terimakasih. Sudah sore silahkan kalian pulang. Katakan sama satpam dan juga office boy untuk tidak mengunci semua pintu" ujar Felix memberikan perintah kepada resepsionis yang sampai jam segini masih berada di perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2