
'keteguhan dan kemandirian kakak ipar tidak perlu diragukan lagi. Kakak ipar sangat cocok bersanding dengan Bryan. Tidak ada lagi yang bisa menyaingi kakak ipar' ujar Tania dalam hatinya.
'dia sangat layak menjadi menantu saya. Kemandiriannya dan ketegasan nya sangat sangat bagus' kata Tuan witama dalam hatinya.
'Saya akan berusaha untuk tetap menjadikan kamu sebagai menantu saya. Itu janji saya. Urusan dengan keluarga Demitri akan saya pikirkan belakangan' kata Tuan besar Witama dalam hatinya.
Tuan Witama sudah terpesona dengan cara berpikir dan juga prinsip dari seorang Julian. Sehingga dia siap untuk menerima resiko apapun dari keluarga Demitri nantinya.
"Maaf Tuan, apa saya salah berkata? Kalau iya maaf Tuan. Tetapi saya memang tidak suka membagi masalah kehidupan pribadi saya dengan orang lain, kalau Tuan tersinggung karena itu, saya minta maaf" kata Julian yang sedikit merasa tidak enak hati karena Tuan besar Witama langsung terdiam saat dia mengatakan hal tadi dengan terus terang kepada Tuan Witama.
"Tidak Julian, sama sekali tidak. Kita memang harus memegang prinsip dalam hidup kita. Kalau tidak suka katakan tidak. Jangan hanya karena memikirkan perasaan orang lain, membuat kita mengingkari sendiri prinsip yang sudah kita tanamkan sejak dulu" jawab Tuan Witama dengan sangat bijak menyikapi permintaan maaf dari Julian sebentar ini.
Tuan witama sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Tuan witama menerima semua itu dengan senang hati. Dia sama sekali tidak marah. Malahan Tuan witama sangat senang karena Julian memiliki pendirian dan sikap yang sangat tegas.
"Terimakasih Tuan" jawab Julian.
Mereka berempat kemudian asik mengobrol seputar hal hal bisnis. Julian pertamanya mengira kalau Tania tidak akan bisa mengimbangi pembicaraan mereka karena dia seorang dokter, ternyata anggapan dari Julian sama sekali tidak berlaku, Tania sangat paham dengan dunia bisnis, dia mengimbangi pembicaraan antara Tuan Witama, Julian dan Vian.
"Wow Tania. Kamu pintar sekali. Aku tadi mengira kalau kamu tidak akan bisa nyambung dengan pembicaraan bisnis. Ternyata kamu nyambung sekali. Kamu dokter yang sangat hebat" puji Julian kepada adik iparnya yang ternyata sangat mengerti seluk beluk dunia bisnis.
Lima orang pelayanan masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut. Mereka berlima menghidangkan makanan yang sudah di pesan oleh Tuan Witama.
"Jadi, aku kan punya kakak laki laki satu dan Papi. Mereka berdua berkerja di dunia bisnis. Nah obrolan mereka berdua bisnis dan bisnis terus saja. Ya udah aku akhirnya sedikit banyaknya juga paham dengan dunia bisnis. Dunia yang menurut aku banyak trik dan intrik nya" ujar Tania menjelaskan dari mana dirinya bisa belajar dan mengerti tentang bisnis sehingga dia bisa lues untuk bercerita dengan orang orang yang bergerak di dalam dunia bisnis dan perusahaan.
"Oh jadi otodidak ya?" tanya Julian.
"Ya bisa dikatakan begitu, karena untuk yang secara formal belum pernah" jawab Tania
Tuan Witama yang melihat pembicaraan antara Julian dan Tania yang semakin hangat akan terjadi lebih lama lagi. Sedangkan makanan suda ada di depan mereka saat ini.
__ADS_1
"Hem bagaimana kalau kita makan dulu setelah itu baru mengobrol lagi?"
Tuan besar Witama memberikan pilihan kepada Julian dan Tania. Obrolan mereka seperti tidak ada habis habisnya dari tadi. Sedangkan Vian tidak terlalu banyak membuka mulutnya. Dia lebih banyak diam sejak tadi.
"Bener itu Papi. Aku udah lapar sekali" jawab Tania yang sudah tidak sabaran lagi akan memindahkan makanan yang sudah di pesannya ke dalam perut yang lapar itu.
Tuan Witama mengambil makanan untuk dirinya. Setelah itu dilanjutkan oleh Tania (walaupun tadi Tania dan Julian sudah saling menyuruh untuk duluan, dan akhirnya Tania mengalah, dia mengambil makanan setelah Tuan witama), setelah Tania dilanjutkan oleh Julian dan terakhir adalah Vian.
Mereka berempat makan dengan penuh tata krama atau table meneer. Semua penuh aturan, mulai dari cara makan sampai menggunakan peralatan makan yang sangat banyak jenisnya di hadapan mereka masing masing.
Tania dan Vian melihat bagaimana Julian memakai semua peralatan makan sesuai dengan fungsinya. Julian sama sekali tidak ragu dan grogi untuk memakai peralatan makan tersebut. Mulai dari sendok, garpu sampai dengan pisau, semua dipakai oleh Julian sesuai dengan peruntukannya masing masing.
Tuan besar Witama juga memperhatikan cara makan Julian. Cara makan Julian tidak sama dengan orang orang kebanyakan. Cara makan Julian seperti orang orang terhormat yang dari kecil sudah diajarkan table meneer oleh orang tua mereka, atau bahkan diberikan les khusus untuk latihan table meneer itu sendiri.
'Kenapa dia seperti orang yang terlatih sekali ya. Saya tidak yakin kalau dia dari kalangan biasa saja' ujar Tuan Witama melihat bagaimana luwesnya Julian memaka semua peralatan makan yang ada di atas meja makan itu.
Julian menyelesaikan suapan terakhirnya. Dia menelungkupkan sendok di atas piringnya yang kotor itu.
"Selesai, kalian bertiga mau kemana setelah ini?" tanya Tuan besar kepada ketiga perempuan yang berada di depannya itu
"Kalau saya rencananya mau langsung pulang Tuan. Sudah terlalu malam sekali" kata Julian menjawab pertanyaan dari Tuan Witama.
"Naik apa?" tanya Tuan Witama.
"Kalau kamu tidak ada kendaraan Tania bisa mengantarkan" ujar Tuan Witama lagi.
"Dengan Vian, Tuan." jawab Julian.
"Oh oke kalau begitu" jawab Tua Witama.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang Tania?" tanya Tuan Witama kepada anak perempuannya itu.
"oke Papi" jawab Tania.
Tuan Witama berjalan keluar untuk yang pertama, setelah itu baru diikuti oleh yang lainnya dari belakang.
"Tania, kita berpisah di sini oke. Kapan kapan kita bertemu lagi" ujar Julian saat mereka sudah berada di luar restoran mewah itu.
"Tuan Witama, saya ucapkan terimakasih banyak, senang bertemu dan berkenalan dengan Anda" ujar Julian kali ini kepada Tuan Witama.
Julian mengucapkan hal itu sambil menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat kepada Tuan Witama.
"Terimakasih Julian, senang berkenalan dengan kamu dan Vian. Kapan kapan ke rumah kami saja main" balas Tuan Witama.
Julian dan Vian kemudian pergi dari hadapan Tania dan Tuan Witama. Mereka berdua sebenarnya masih akan berada di mall itu. Tetapi mereka tidak ingin diikuti oleh Tuan Witama. Makanya tadi Julian beralasa untuk pulang karena sudah larut malam.
"gila bener Tuan besar itu. pengawalnya tiga. apa dia nggak risih ya?" ujar Julian kepada Vian saat mereka sudah jauh dari Tania dan Tuan Witama.
"tu buktinya nggak risih." Jawab Vian dengan santai.
"kalau gue jadi Tuan besar itu, udah mabok kali. satu aja punya udah seteres apalagi kalau tiga" lanjut Julian mengomentari pengawal Tuan Witama.
Vian menyimak apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. 'Julian pernah punya pengawal? atau dia tau siapa gue?' kata Vian dalam hatinya.
"kita langsung pulang aja Vian. gue capek. pengen tidur" kata Julian yang sudah tidak minat untuk melanjutkan jalan jalannya di mall.
"sip" jawab Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian.
vian sebenarnya sudah sangat capek berkeliling mall. sekarang yang ada di mata dan pikiran Vian adalah kasur lengkap dengan bantalnya.
__ADS_1