
"Gimana, kamu bisa datang atau tidak?" tanya Julian tidak sabaran mendengar jawaban dari Bryan. Julian sangat berharap sekali Bryan mau datang untuk menghadiri wisudanya itu. Bryan adalah satu satunya keluarga yang dimiliki oleh Julian saat ini. Kalau Bryan tidak datang, maka sudah bisa dipastikan kalau Julian akan wisuda seorang diri saja. Paling hanya ditemani oleh Vian sahabatnya itu.
'Ya Tuhan, semoga Bryan mau datang. Aku nggak butuh yang lain datang. Cukup Bryan saja yang datang maka akan membuat aku bahagia. Semua rasa letih selama aku berjuang, akan langsung sirna saat melihat kehadiran suami aku di acara wisuda itu' Julian memanjatkan doa kepada Tuhan akan pengharapannya kali ini.
"Ya, aku pasti akan datang. Sidang terbuka saja aku datang, apa lagi wisuda" ujar Bryan dengan nada penuh keyakinan.
Bryan akan memastikan dirinya datang saat acara wisuda Julian. Hari wisuda Julian merupakan hari yang penting bagi Julian, sehingga bagaimanapun juga Bryan pasti akan datang. Bryan tidak akan mungkin tidak menghadiri hari bahagia Julian itu.
"Makasi, awas kalau nipu" ujar Julian memberikan penekanan dan sedikit ancaman kepada Bryan.
"Emang kalau nipu, kenapa?" tanya Bryan yang penasaran dengan kelanjutan dari apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.
"Kalau nipu, maka siap siap ajalah. Semua yang udah direncanakan akan langsung jadi batal. Batal tal tal tal tal" jawab Julian dengan nada tegas.
"Wow aku takut" balas Bryan sambil menggigit kuku kukunya seperti seorang pria yang kewanita wanitaan dan hal itu saja membuat Bryan merinding sendiri.
Plak. Sebuah pukulan mendarat di pundak Julian. Bryan menatap Julian dengan tatapan protes. Bryan tidak Terima di pukul mendadak oleh Julian.
"Main pukul aja" ujar Bryan mengajukan protesnya kepada Julian. Bryan tidak terima Julian main langsung pukul aja dirinya.
"Geli tau. Aku paling geli nengok orang kayak gitu, makanya dengan spontan aku langsung mukul kamu. Bukan maksud aku mau main langsung pukul saja. Tetapi ya karena kamu juga, makanya aku langsung pukul." ujar Julian sambil memonyongkan bibirnya ke arah Bryan.
Cup. Bryan tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Sedangkan Julian menjadi sangat kaget saat dirinya mendapatkan perlakuan main langsung cium yang dilakukan oleh Bryan kepada dirinya.
"Main langsung nyosor aja" Julian mengajukan protes kerasnya karena kelakuan Bryan yang aneh dan luar biasa ajaib itu.
"Bikin gemes aja tu mulut. Makanya langsung dicium" jawab Bryan dengan santai. Bryan berhasil membalas langsung apa yang dilakukan oleh Julian kepada dirinya. Dia tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada.
Bryan baru sadar kalau Julian sekarang sangat rapi sekali. Biasanya Julian masih tetap rapi, tapi ntah kenapa dalam pikiran Bryan saat sekarang ini, Julian sangat berbeda dari pada biasanya.
"Ngapain nengok kayak gitu kali?" Julian penasaran dengan cara melihat Bryan kepada dirinya. Sangat jarang sekali Bryan menatap Julian seperti itu.
__ADS_1
"Ada yang aneh?" tanya Julian sekali lagi.
Bryan masih terus menatap Julian. Dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Julian. Tatapan mata Bryan itu membuat Julian semakin grogi dan tidak tau harus berbuat apa apa.
"Bryan, jangan bikin aku jadi salah tingkah gini. Ada apa? Kenapa nengok aku sampai sebegitunya" Julian kembali bertanya kepada Bryan. Julian sampai setengah kesal melihat kelakuan Bryan kali ini.
Bryan mengusap wajahnya. Dia kembali menstabilkan pandangannya dari Julian. Dia tidak mau Julian menjadi salah sangka dan menduga duga dengan dugaan negatif. Kebiasaan wanita kan seperti itu, saat dirinya di tatap seorang pria dengan tatapan lama, apalagi itu suaminya sendiri, maka sudah bisa dibayangkan kalau wanita itu akan menduga duga dengan dugaan negatif.
"Kenapa kamu rapi sekali pagi ini?" ungkap Bryan sambil melihat kembali ke wajah Julian.
"Hah? Bukannya aku memang rapi terus saat keluar rumah" jawab Julian dengan sangat kaget. Dia tidak menyangka kalau hal itu yang ada didalam pikiran Bryan saat ini.
"Nggak sayang beda. Beda sekali dengan biasanya" ujar Bryan menekankan sekali lagi, kalau apa yang dilihatnya sangat berbeda dengan yang dilihat atau dirasakan oleh Julian saat ini.
"Perasaan aku nggak ada bedanya. Sama saja sama seperti hari hari biasanya" Julian tetap dengan pendiriannya. Dia sama sekali tidak merasa kalau dirinya berbeda hari ini.
"Beda. Kamu luar biasa cantik hari ini" jawab Bryan yang tetap dengan pendiriannya mengatakan kalau Julian berbeda dari hari biasanya.
"Yah kalau cantik mah udah dari kemaren kemaren. Kamu kemana aja selama ini. Masak baru sadar kalau aku cantik." jawab Julian dengan gaya khasnya. Dia mengibaskan rambutnya yang sudah di kepang separo.
"Haha haha haha. Mana ada kencan. Yang ada pergi ngajar" jawab Julian dengan santainya.
"Eh tunggu. Ngajar gimana? Apa kamu ngambil job pekerjaan lain?" tanya Bryan yang kaget saat mendengar kalau Julian yang ingin pergi mengajar.
Julian terdiam, dia memang belum mengatakan apapun kepada Bryan. Dia hanya bisa duduk dan termenung cukup lama.
"Julian" panggil Bryan. Bryan menggenggam tangan Julian. Dia menatap Julian dengan tatapan penuh cinta.
"Aku takut kamu marah" ujar Julian.
Julian menundukkan kepalanya dalam dalam. Dia tidak sanggup menatap wajah Bryan. Dia takut kalau Bryan marah karena dirinya tidak mengatakan kalau dia menambah pekerjaannya.
__ADS_1
"Aku nggak akan marah sayang. Ngapain harus marah. Aku tau kalau kamu sudah terbiasa beraktifitas dari pagi" jawab Bryan yang nggak mau kalau Julian salah sangka kepada dirinya.
"Tapi, yang aku cemaskan itu, aku takut kamu kecapekan. Hanya itu saja" lanjut Bryan.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini. Barulah Julian berani mengangkat kepalanya untuk melihat Bryan. Ternyata Bryan tersenyum kepada Julian. Wajah Bryan tidak sesuai dengan yang ada di dalam pikiran Julian. Wajah marah Bryan ternyata yang tampil adalah wajah Bryan yang tersenyum.
"Makasih sayang" ujar Julian.
Bryan kaget saat mendengar Julian memanggil dia dengan kata sayang.
"Bisa diulang sayang?" tanya Bryan yang berharap Julian mau mengulang lagi apa yang dikatakannya sebentar ini.
"Makasih" ulang Julian sambil tersenyum.
"Bukan yang itu sayang" kata Bryan dengan kesal.
"Kan memang kata terimakasih yang aku katakan" bela Julian.
"Jangan pura pura tidak mengerti, Julian"
"Memang tidak mengerti Bryan" balas Julian sambil tersenyum.
"Ah capek. Yuk jalan" Bryan merajuk kepada Julian. Dia setengah kesal dengan Julian. Julian berhasil memainkan perasaan Bryan.
"Haha haha haha dilarang ngambek sayang"
"Sayang"
"Sayang"
"Sayang" ujar Julian berkali kali mengulang memakai kata sayang kepada Bryan.
__ADS_1
"Haha haha haha. Bahagianya" ujar Bryan sambil memeluk Julian.
Sepasang kekasih itu kemudian berjalan keluar dari dalam rumah mereka. Mereka akan melakukan aktivitas sendiri sendiri.