Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #83


__ADS_3

Vian, sini" panggil Julian saat mereka ke kantin perusahaan tidak berdua. Julian sudah duduk di sebuah kursi yang menghadap ke taman perusahaan. Sebuah landskap yang paling disukai oleh Julian.


Tadi Vian kebelet mau ke kamar kecil terlebih dahulu, makanya Julian ke kantin terlebih dahulu untuk memesan makanan yang akan mereka makan saat jam makan siang kali ini. Sedangkan Vian akan menyusul setelah dirinya menyelesaikan hasrat yang sudah tidak bisa lagi di tahan.


Vian duduk di kursi tepat di depan Julian. "Loe udah pesan makanan untuk gue kan ya?" tanya Vian memastikan kalau makanan untuk dirinya juga sudah di pesan oleh Julian.


"Sudah aman itu. Makanan yang sudah biasa loe makan juga yang gue pesan." kata Julian meyakinkan Vian kalau makanan untuk nya sudah dipesankan oleh Julian.


"Oh ya ngomong ngomong loe kemana kemaren? Gue udah ke rumah loe siang siang bareng Felix, tapi rumah kalian berdua dalam keadaan terkunci" ucap Vian memberitahukan kepada Julian kalau dirinya sempat ke rumah Julian kemaren siang.


"Hehe hehe. Sorry, gue diajak Bryan jalan jalan ke kebun teh. Kami berangkat dari pagi. Lagian loe mau datang nggak ngomong dari malam. Coba kalau ngomong kan bisa kami ajak untuk ikut ke kebun teh" jawab Julian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Julian tidak tau kalau Vian akan datang ke rumahnya.


"Ais ogah gue kalau harus jadi nyamuk saat loe berdua kencan" tolak Vian akan ide cemerlang yang diberikan Julian kepada dirinya.


"Mana tau loe mau, jadi gue nggak perlu nepukin nyamuk lagikan ya. Cukup loe aja yang nepukin nyamuknya" balas Julian tidak mau kalah dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


Saat itulah seorang pelayan datang mengantarkan makanan pesanan Julian tadi. Pelayan menaruh dua porsi ayam geprek lengkap dengan nasi serta dua gelas lemon tea.


"Bang kentang goreng satu porsi, nuget satu porsi" kata Vian menambahkan pesanan mereka.


"Laper buk" ujar Julian menyindir Vian


"Ya. Gue nggak makan malam. Lupa, ketiduran dari sore bablas sampe malem" jawab Vian sambil tersenyum geli, mengingat betapa malasnya dia semalam untuk bangun dan makan malam.


"Hem salah loe sendiri" kata Julian menanggapi kemalasan sahabatnya itu.


Mereka berdua kemudian menikmati menu makan siang. Julian dan Vian memiliki kebiasaan yang sangat bagus. Mereka tidak akan mengobrol sepanjang mereka sedang menikmati makanan apapun, sehingga hal itu menjadi kebiasaan baik bagi mereka berdua.


"Vian, kemaren saat gue sedang jalan jalan itu, gue ketemu seorang cewek. Cantik, ramah sekali malahan nilai plusnya lagi dia seorang dokter" ujar Julian mulai menceritakan pertemuan dirinya dengan Tania.


"Maksud loe? Bisa diceritakan lebih jelas lagi?" ujar Vian yang sedikit susah mencerna apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


Julian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Tania. Julian sama sekali tidak ada menutupi cerita apapun. Dia menceritakan semuanya kepada Vian.

__ADS_1


"Jadi namanya Tania, dokter?" tanya Vian kembali.


"Ya namanya Tania. Emang kenal?" tanya balik Julian yang heran karena Vian menanyakan kembali kepada dirinya tentang Tania kembali.


"Nggak." jawab Vian dengan santainya.


"Kirain kenal" ujar Julian lagi.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tok tok tok tok tok. Pintu ruang kerja Bryan di ketuk dari luar oleh seseorang. Bryan hari ini memang tidak ada janji bisnis dengan siapapun, makanya dia meminta Felix untuk kembali ke perusahaan cabang yang dikelola oleh Felix. Tapi maupun tidak ada pembicaraan bisnis, Bryan memiliki satu pembicaraan yang lebih penting lagi dari pada pembicaraan perihal bisnis. Bryan tau kalau orang itu pasti yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya seperti itu.


Bryan menekan tombol yang ada di bawah meja kerjanya. Pintu ruangan itu langsung terbuka dengan sendirinya. Ternyata orang yang ada di dalam bayangan Bryan sudah berdiri sambil menenteng bekal makanan.


Tania yang memakai dress warna baby pink dilengkapi sepatu kets warna putih, serta tidak lupa pula dengan jas dokternya yang terbawa oleh Tania saat turun dari mobil sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Bryan.


"Hay pagi sekali. Apa tidak kerja?" tanya Bryan kepada adiknya yang paling disayanginya itu.


"Ada yang lebih penting yang harus aku tau" jawab Tania sambil duduk di sofa tamu yang ada di ruang kerja Bryan tersebut.


Bryan sebenarnya sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Tania kepada dirinya. Tetapi Bryan sengaja untuk menggoda Tania.


"Hay bro, jangan pura pura tidak tau ya, untuk apa aku datang" jawab Tania sambil membesarkan matanya kepada Bryan.


"Haha haha haha. Jangan marah marah nanti cepat tua. Jodoh aja belum ketemu" Bryan kembali menggoda adiknya itu.


"Ya lah yang mentang mentang udah ketemu jodohnya" jawab Tania membalas ledekan dari Bryan kakak laki lakinya itu.


"Oh iya dong. Makanya gue cepat nikah supaya gue bisa ledekin loe terus" kata Bryan lagi.


Bryan benar benar puas bisa meledek Tania, adiknya itu. Tania setiap di ledek oleh Bryan selalu akan membalas dengan gayanya sendiri. Sehingga hal itu membuat Bryan menjadi senang menggoda Tania.


"Bisa nggak sih Kak, dalam sehari aja nggak goda gue dengan perkataan abstrak dari loe" kata Tania dengan nada memohon.

__ADS_1


"Hay udah berapa lama gue nggak ngeledek dan menggoda kamu. Makanya sekarang pengen dipuas puasin dulu untuk ngeledek loe" kata Bryan sambil menatap ke arah adiknya tersebut.


Tania menatap cemberut ke arah Bryan. Dia benar benar kesal karena Bryan tidak mau di ajak kompromi sama sekali.


"Kak, kali ini aja. Gue pengen ngomong serius sama loe. Setelah omongan ini selesai, loe boleh puas puasin ngeledek gue" kata Tania berusaha mengajak Bryan untuk berbicara secara serius.


"Oke oke. Gue akan berusaha untuk berbicara serius dengan loe" kata Bryan sambil melihat lurus ke Tania.


"Gimana awal mula loe bisa bertemu dengan Julian?" tanya Tania.


"Gue nggak butuh jawaban panjang lebar. Cukup satu kalimat saja" kata Tania menjelaskan kepada Bryan.


"Oke. Gue bertemu dengan Julian, saat gue kabur dari mansion" kata Bryan menjawab pertanyaan dari Julian. Bryan memang menjawab satu kalimat saja.


"Berapa lama pacaran?" tanya Tania lagi.


"Nah itu dia. Nggak sempat pacaran sama sekali. Aku dengan dia menikah pada malam itu juga" jawab Bryan dengan santainya.


"Kawin karena ketangkep?" kata Tania yang isi otaknya sudah kemana mana.


"Hay tolong ya, itu pikiran jangan kemana mana. Kakak loe ni masih normal. Nggak ada pikiran mau berbuat seperti itu" kata Bryan sambil menjitak kepala Tania.


"Sakit tau Kak" protes Tania.


"Salah sendiri" jawab Bryan.


"Jadi kenapa kakak dengan tiba tiba menikah?" tanya Tania lagi.


"Jadi malam itu udah larut banget. Nah di kira orang kami siap ngapa ngapain. Eeee mereka langsung main nikahin aja. Mau protes tapi nggak bisa protes, ya udah pasrah aja" kata Bryan lagi


"Nah bonusnya gue dapet cewek yang bener bener baik" lanjut Bryan memuji istrinya itu.


"Dari mana tau baiknya?" tanya Tania semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Bryan.

__ADS_1


Saat itulah seorang pria tampan masuk ke dalam ruang kerja Bryan. Pria tampan itu adalah Felix. Felix ada urusan dengan Bryan. Urusan yang sangat mendadak sekali yang tidak bisa diundur lagi.


__ADS_2