Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #18


__ADS_3

"Apa kamu sudah menceritakan berita bahagia kamu ini ke suami kamu, Julian?" ucap Vina saat mereka berdua sudah duduk di sebuah kafe yang baru saja buka seminggu yang lalu.


Kafe yang cukup ramah bagi saku mahasiswa. Hal ini di sebebkan karena harga makanan di kafe itu tidak semahal kafe kafe yang ada di daerah tersebut. Sehingga kafe itu menjadi sangat ramai semenjak baru buka. Semua sudut kafe di huni oleh mahasiswa. Apalagi kafe itu menyedikan wifi gratis untuk semua pengunjung.


"Belum Vin. Gue sedang nggak ada pulsa untuk nelpon." jawab Julian sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu.


"Paket data dong. Kalau nggak juga ada, di sini kan ada wifi" jawab Vina sambil geleng geleng kepala.


Nona mudanya sampai tidak ada paket. Jangankan untuk paket, membeli counter untuk menjual pulsa saja nona muda ini pasti mampu. Julian tetap diam saja. Dia sudah punya rencana sendiri di dalam kepala cantiknya sebagai tandail terimakasih karena suami yang baik dan ganteng itu sudah membantunya semalaman.


"Lihat senyum kamu, aku jadi punya firasat sendiri kalau kami pasti akan memberikan kejuta kepada suami kamu"


"Benerkan tebakan aku?"


Vina menebak apa yang ada di dalam pikiran Julian dengan sangat mudah. Julian terkadang masih seperti buku yang terbuka lebar, sehingga siapa saja bisa dengan mudah membaca apa yang ada di dalam pikiran Julian. Apalagi orang seperti Vina, bagi Vina itu adalah pekerjaan yang sangat mudah bagi dirinya untuk membaca apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran Julian.


"Sedikit memikirkan iya. Tapi belum jelas juga mau ngapain" jawab Julian dengan sangat jujur.


"Kamu kasih aja apa yang belum pernah kamu kasih sama suami kamu" Vina memberikan usulan sebuah hadiah kepada Julian.


"Maksudnya?"


"Kalau hadiahnya mahal, gue nggak ada uang" Julian berkata sambil menatap nanar. Dia sebenarnya ingin membelikan sebuah kemeja untuk dipakai suaminya bekerja. Tetapi dia takut uangnya tidak cukup untuk membeli kemeja itu.


"Emang udah ada di dalam pikiran loe mau beli apa?" tanya Vina penasaran.


Julian mengangguk, "takut uang gue nggak cukup"


"Siap makan siang, nanti kita ke tempat loe mau cari hadiah itu"


"Loe pakai aja uang gue dulu. Nanti saat loe udah punya uang lagi, loe boleh kembalikan uang gue" Vina memberikan solusi atas kepanikan Julian akan kekurangan uangnya untuk membeli hadiah sebagai ucapan terimakasih kepada Bryan.

__ADS_1


"Serius?" Raut wajah Julian berubah menjadi gembira saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vina kepada dirinya. Akhirnya Julian memiliki peluang untuk membelikan hadiah sebagai ucapan terimakasih kepada suaminya.


"Apa gue terlihat sedang bercanda?" tanya balik Vina kepada sahabat sekaligus nona mudanya itu.


"Sama sekali tidak. Gue bersyukur banget punya sahabat seperti elo. Semoga kita nggak pernah terpisah" ujar Julian dengan perkataan yang sangat tulus.


"Gue juga berharap seperti itu. Apapun keadaan kita berdua. Kita akan tetap menjadi sahabat"


Julian memberikan kelingkingnya ke hadapan Vina. Vina menautkan kelingking dirinya dengan kelingking Julian.


"Berjanji untuk bersahabat selamanya" ucap Julian dan Vina bersamaan.


Apa yang dilakukan oleh Julian dan Vina menjadi perhatian dari Felix yang duduk tidak berapa jauh dari tempat duduk Julian dan Vina. Dulu sebelum Felix bertemu dengan Julian, Felix masih bisa duduk agak dekat dengan Julian dan Vina. Tetapi sekarang tidak mungkin lagi.


Seorang pelayanan datang menghidangkan makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh Julian dan Vina.


"Mari makan" kata Vina


"Makasih atas makan siangnya" balas Julian sambil tersenyum.


"Vin ponsel kamu berbunyi" Julian berkata sambil menunjuk ponsel milik Vina yang tadi sempat menyala sedikit menandakan kalau ada pesan masuk.


Vina melihat ponselnya. Dia membaca sebuah pesan yang dikirim oleh seseorang. Selesai membaca pesan itu, Vina melihat ke arah yang ditunjukkan oleh isi pesan tersebut. Vina melihat seorang wanita muda yang terlihat seperti seorang model sedang duduk menatap ke luar kafe. Wanita yang duduk dengan gaya pongahnya.


Julian ikut ikutan melihat kemana arah mata Vina memandang. Tetapi, Julian sama sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh yang ada di dalam kafe tersebut.


"Apa yang kau lihat Vin?" Akhirnya Julian menanyakan juga apa yang membuat dirinya penasaran.


"Tu" ujar Vina menunjuk kemana pandangannya selama ini.


Julian melihat arah tunjuk Vina. Julian langsung melihat wanita cantik Nan anggun yang sedang duduk di sebuah kursi dan melihat ke arah luar cafe.

__ADS_1


"Kamu kenal dia?" tanya Julian penasaran.


Vina menggeleng.


"Terus, kenapa dari tadi kamu mandangin dia terus?" Julian kembali bertanya.


Inilah salah satu yang membuat Vina malas bercerita kepada Julian. Julian akan terus bertanya sampai dirinya menemukan jawaban yang ingin diketahuinya dan dirasa sudah memuaskan keingintahuan nya.


"Dia cakep" jawab Vina sekenanya.


"Hem kirain loe kenal sama dia."


"Hahaha hahaha, nggak kali"


'Cepat makan dan pergi dari sini' bunyi pesan chat selanjutnya.


"Julian, kita makan cepat ya. Terus kita langsung ke mall untuk cari hadiah yang mau kamu kasih" kata Vina yang tidak tau harus pakai pengantar apa kepada Julian.


"Kamu mau kemana?" tanya Julian yang tidak mengerti kenapa Vina tiba tiba mengajak dirinya untuk cepat cepat menghabiskan makanan yang mereka berdua pesan.


"Nggak kenapa kenapa. Aku juga ada yang mau dibeli di mall itu. kamu sama tau ajalah gimana ribetnya mencari hadiah. kita akan memutari mall besar itu" jawab Vina dengan memberikan jawaban yang logis dan masuk diakal.


"Oke" Julian main setuju setuju aja dengan apa yang dikatakan oleh Vina kepada dirinya.


"gue juga harus cepat sampai rumah. Gue udah tiga kali nggak masak makan malam. Gue takut nanti ta tiba Bryan bangkrut karena harus beli makan malam di luar setiap hari" lanjut Julian yang berniat memasak menu makan malam spesial untuk suami terbaiknya itu.


Vina yang mendengar kata kata Bryan akan bangkrut karena membeli menu makan malam selama tiga hari berturut turut hanya bisa tersenyum saja. Walaupun untuk setiap hari membeli menu makan malam, Bryan tidak akan bangkrut.


"tumben kamu nggak masak masak? Kenapa?" tanya Vina yang nggak menyangka kalau Julian juga bisa tidak memasak


"Noh" Julian menunjuk tugas akhirnya.

__ADS_1


"Pantesan"


Julian dan Vina kemudian menikmati makan siang mereka dengan cepat. Mereka harus segera pergi dari tempat itu, sebelum wanita yang dilihat oleh Vina tadi menyadari kehadiran Vina di sana. Kalau hanya Vina saja tidak apa apa. Tetapi ini ada Julian.


__ADS_2