Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #87


__ADS_3

"Oh ya Felix tadi loe ngomong ada masalah serius yang mau loe bahas dengan gue. Kalau gue boleh tau, masalah apa itu?" tanya Bryan yang baru ingat dengan maksud dan tujuan Felix datang ke perusahaan tanpa di undang atau diminta oleh Bryan.


"Huft loe, baru tanya sekarang, tadi kemana aja?" tanya Felix yang sedikit marah dengan Bryan karena sama sekali tidak menggubris kedatangannya dari pagi tadi.


"Sorry tadi ada Tania. Loe tau sendirikan bagaimana sifatnya. Kalau gue nggak fokus melayani dia, maka sudah bisa gue pastikan dia akan mengamuk dan nggak akan bisa di ajak kerjasama lagi" kata Bryan menerangkan kenapa dirinya mengacuhkan kedatangan Bryan dari tadi.


Felix mengangguk, dia juga sangat tau bagaimana sifat dan sikap Tania yang harus dinomor satukan saat dirinya perlu dengan seseorang.


"Jadi, apa yang terjadi Felix?" tanya Bryan kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.


"Begini Bryan, perusahaan kita yang di daerah Jog sepertinya akan mengalami ke bangkrutan. Kalau bisa kamu datang ke sana untuk menyelesaikan permasalahan itu" kata Felix meminta Bryan untuk datang ke anak perusahaan yang hampir bangkrut tersebut.


Bryan yang mendengar berita tidak mengenakkan itu menjadi kaget luar biasa. Anak perusahaan mereka yang di daerah jog adalah anak perusahaan yang sangat kuat dan menjadi salah satu penopang perusahaan utama.


"Kenapa bisa hal itu bisa terjadi?" tanya Bryan dengan nada kalut.


"Dengar bunyinya kasus hampir sama dengan perusahaan di Francais. Ada tikus yang mulai berani bermain dengan loe" kata Felix memberikan laporan yang baru saja diterimanya tetapi belum ada pembuktian.


"Buktinya apa sudah ada?" lanjut Bryan bertanya kepada Felix.


Felix menggeleng. "Maaf Bryan, untuk bukti gue sama sekali belum menemukan, gur masih mencoba untuk mencari bukti bukti yang lainnya" jawab Felix dengan jujur.


"Jadi, pada intinya harus gue yang ke sana untuk menyelesaikan permasalahan itu?" kata Bryan.


"Sepertinya memang harus loe yang ke sana. Mau tidak mau, suka tidak suka" jawab Felix dengan penuh keyakinan meminta Bryan untuk pergi ke perusahaan mereka yang di daerah Jog.


Bryan terdiam. "Gue tidak. Bisa memutuskan berangkat atau tidak sekarang." kata Bryan akhirnya menjawab perkataan dari Felix.


"Tapi Bryan, ini sudah luar biasa urgentnya. Gimanapun loe harus berangkat. Nggak bisa tidak" jawab Felix yang tidak ingin Bryan ragu untuk berangkat ke kota Jog.

__ADS_1


"Nanti" jawab Bryan.


Bryan sudah tidak bisa di tawar lagi kalau dia sudah berbicara dengan satu kata saja berarti Bryan sudah marah dan sudah tidak bisa lagi di berikan penawaran apapun oleh Felix. Jadi Felix memutuskan untuk diam saja.


"Baiklah terserah loe aja. Gue nggak akan ikut campur lagi. Loe mau datang oke, nggak juga oke" jawab Felix yang sudah memutuskan untuk diam dan tidak akan berbicara apapun lagi.


"Gue permisi" kata Felix kesal dengan sikap Bryan.


Felix berdiri dari kursinya. Dia berjalan keluar dari dalam ruang kerja Bryan. Felix sudah tidak bisa lagi bersama sama dengan Bryan sekarang. Dia harus menjaga jarak sebelum emosinya naik satu tingkat lebih tinggi dan membuat pertumpahan darah di antara dua sahabat itu.


Bryan melihat kepergian sahabatnya yang sedang dalam keadaan marah. Walaupun Felix tidak mengatakan dia marah kepada Bryan, tetapi sebagai sahabat yang sudah sangat lama mengenal Felix, maka Bryan sudah bisa memutuskan kalau Felix dalam keadaan marah sekarang. Felix tidak pernah meninggalkan Bryan dalam keadaan apapun, walaupun dalam keadaan marah sekalipun. Sekarang sepertinya Felix sudah sangat marah luar biasa.


"Biarkan dia tenang terlebih dahulu. Nanti akan gue hubungi lagi" ujar Bryan yang nggak akan menggubris kemarahan Felix untuk saat ini.


Bryan melihat jam tangan mewahnya yang sudah menunjuk angka empat.


"Jemlut Julian saja lagi" kata Bryan memutuskan.


Bryan mengambil kunci motor. Dia sudah kembali memakai pakaian yang dipakainya dari rumah. Bryan sudah kembali terlihat seperti seorang karyawan biasa, bukan seperti CEO perusahaan ternama di ibu kota.


Beberapa orang karyawan yang memang tidak mengenal wajah CEO mereka hanya mengangguk dengan ramah kepada Bryan. Bryan juga membalas anggukan mereka, walaupun dengan ekspresi yang keberatan, tetapi karena mereka sudah sopan, maka Bryan memutuskan untuk sopan juga kepada semua karyawan yang menyapa dirinya.


"Mari jemput istri tercinta." kata Bryan yang tidak kalah semangatnya mau menjemput Julian ke tempat kerjanya.


Bryan menghidupkan motor yang dibelinya karena Julian hanya ingin memiliki motor saja saat ini, karena faktor keuangan mereka.


Bryan mengemudikan motornya menuju perusahaan tempat Julian bekerja. Salah satu perusahaan yang menjadi kompatriot perusahaan Witama. Tetapi walaupun dua perusahaan itu bersaing, tetapi mereka bersaing secara sehat, tidak ada yang berani bermain kotor atau menyakiti salah satu pihak dengan cara yang tidak baik.


"Pulang yuk Julian" ajak Vian yang sudah tidak sabaran lagi ingin bertemu dengan Papi dan Maminya.

__ADS_1


"Okeh. Gue juga udah siap. Loe mau langsung ke bandara!" tanya Julian sambil mereka berjalan meninggalkan ruangan kerja mereka.


"Yup, langsung ke bandara saja. Kawan gue itu udah nunggu di sana" jawab Vian lagi sambil melihat ke arah kerumunan para karyawati yang sedang terlihat sibuk melihat ke arah luar.


"Apa yang mereka lihat?" tanya Julian yang heran tumben tumben nya para karyawan wanita berkumpul di depan pintu masuk perusahaan.


"Ada apa?" tanya Julian penasaran kepada salah satu karyawan wanita yang ada di sana.


"Itu ada pria tampan duduk di atas motor" ujar karyawan wanita tanpa melihat ke arah Julian dan Vian.


Julian dan Vian ikut ikutan seperti semua karyawan wanita yang ada di sana. Saat Julian melihat siapa yang merek lihat, dia langsung cemberut. Vian melihat ekspresi dari Julian.


"Haha haha haha haha, kamu cemburu?" tanya Vian kepada Julian.


"Cemburu sih nggak, tapi males aja. Kenapa mereka harus melihat punya gue sebegitunya" jawab Julian setengah kesal dengan apa yang dilakukan oleh karyawan karyawan wanita tersebut.


"Mana bisa loe marah sama mereka. Bagaimanapun juga mereka berhak lah menikmati pemandangan indah itu" jawab Vian dengan sengaja menggoda Julian.


Julian semakin memberengut. Dia mempercepat langkahnya menuju Bryan. Suami tampannya itu.


Julian tanpa babibu dan tedeng aling aling, mengambil helm miliknya dari atas motor Vian. Dia meminta Bryan untuk membantunya memasangkan helm. Setelah itu Julian naik ke atas motor dan langsung memeluk Bryan


Bryan melihat ke arah Vian. Bryan meminta penjelasan kepada pengawal istrinya itu.


"Ada yang cemburu. Suaminya di pelototi oleh karyawan wanita yang ada di dalam sana" ujar Vian menjawab pertanyaan terselubung dari Bryan.


"Udah ah. Ayok sayang pulang" kata Julian dengan sewot nya


Bryan masih tidak beranjak dari posisinya. Dia masih menatap lurus ke arah Julian.

__ADS_1


"Sayang pulang" kata Julian sekali lagi dengan tegasnya.


Bryan tersenyum. Cup. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir indah Julian. Julian memegang bibirnya. Dia sangat bahagia di kecup Bryan di depan banyak orang. Padahal sebelumnya dia malu kalau menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Tapi kali ini beda. Julian harus melakukannya.


__ADS_2