
Bryan membuka matanya dengan perlahan lahan. Dia bangun sangat pagi sekali. Bryan baru tidur empat jam. Dia tadi malam setelah pulang dari kamar Felix, membuat presentasi untuk di tampilkan di perusahaan saat meeting hari ini.
"Huah. Tidur bener bener puas. Kalau nggak ingat harus kerja, gue akan milih tidur sampe siang kayak kemaren Nggak akan bangun pagi pagi begini. Bener bener nikmat ne kasur. Kalau saja Julian tau siapa gue sebenarnya udah gue bawa ne kasur pulang ke rumah" ujar Bryan saat bangun dari tidurnya. Bryan langsung bisa konek saat dia sudah bangun sendiri tidak dibangunkan oleh orang lain.
Bryan bangun terlalu pagi kali ini karena alarm yang di aturnya lebih cepat satu jam daripada jadwal dia harus bangun. Sehingga hal itu membuat Bryan tidak akan terlambat selesai bersiap siap untuk berangkat ke perusahaan bersama dengan Felix.
"ponsel gue mana ya. perasaan semaleman nggak ada chat dari Julian. Paa Julian lupa sama gue ya?" Ujar Bryan yang memang tidak ada menerima pesan chat dari Julian semenjak sore. Julian hanya mengabarkan kalau dirinya berangkat ke mall dengan Vian. Setelah itu Julian tidak ada lagi mengirim pesan kepada Bryan.
Bryan meraih ponsel miliknya yang di chargernya dari semalam. Dia melihat ada satu pesan dari Tania. Sedangkan di ponsel yang biasa berkirim chat dengan Julian tidak ada pesan chat yang masuk ke dalam ponsel itu.
Bryan membuka pesan suara itu. Ternyata itu adalah rekaman dari apa yang dibicarakan oleh Tania, Julian dan Vian tentang perceraian. Bryan menyimak apa yang mereka bicarakan bertiga. Rasa rindu Bryan terobati saat mendengar rekaman suara Julian di pagi hari itu.
"Ada ada aja yang ditanya tu anak ke Julian" ujar Bryan mengomentari masalah yang ditanyakan oleh Tania kepada Julian.
"Tapi syukur juga Tania nanyak hal itu ke Julian, aku jadi tau apa penyebab yang akan membuat Julian tidak akan memaafkan aku" lanjut Bryan yang akhirnya tau manfaat dari pertanyaan yang diajukan oleh Tania kepada Julian.
"Tu anak bertanya pasti ada maksudnya terus. Ternyata ini maksudnya. Tania Tania. Loe memang adik gue yang aneh. Pertanyaan pertanyaan dari loe membuat orang orang menjadi tidak tau harus menjawab apa. Tetapi pertanyaan dari loe jarang yang meleset sehingga semua orang paham mau menjawab apa." komentar Bryan selanjutnya saat menyadari apa yang telah dilakukan oleh Tania kepada Julian. Pertanyaan menjebak yang sangat berguna untuk Bryan ke depannya.
Bryan mengulang sampai tiga kali rekaman suara yang dikirim oleh Tania kepada dirinya. Julian harus menghafal apa apa saja yang dijadikan oleh Julian sebagai pandangannya dalam berumah tangga.
"Julian paling pantang di selingkuhi" ujar Bryan mengatakan pantangan pertama seorang Julian.
"Julian tidak akan memaafkan orang yang mengecewakan dirinya, termasuk berbohong" ujar Bryan menekankan suaranya saat kata berbohong diucapkannya.
"mampuslah" ujar Bryan dengan suara lemah
"gue udah berbohong. harus bagaimana lagi ini. apa yang harus gue lakuin supaya gue tidak dimarahi oleh Julian. Gue nggak mau dibenci Julian" kata Bryan yang panik sendiri saat mengulang ulang apa pantangan dari seorang Julian.
Ekspresi Bryan berubah menjadi murung, dia pertamanya sudah bahagia karena berhasil bangun lebih pagi dibandingkan Felix. ternyata kebahagiaannya itu hanya sementara saja, setelah mendengar apa yng dikatakan oleh Julian melalui rekaman yang dikirim oleh Tania, membuat kebahagiaan seorang Bryan lebyap dalam seketika. Bryan sudah kembali bersedih saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya seorang Julian saat mengetahui siapa dia sebenarnya
Bryan cukup lama terdiam. dia tidak tau harus melakukan apa lagi saat ini. Dirinya berasa di sebuah jurang, apabila dia terpeleset sedikit saja, maka dia akan berpindah ke tempat lain. Bryan tidak mau itu terjadi dalam hidupnya.
"sekarang tidak saatnya memikirkan hal ini. Sekarang fokus ke perusahaan dulu" kata Bryan yang otaknya sekarang memang akan dikhususkan untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Bukan masalh keluarg yang belum terjadi itu.
Bryan kemudian mengambil handuk yang ada di mesin penghangat. Dia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Tetapi belum sampai Bryan di depan pintu kamar mandi, ponsel yang biasanya digunakan untuk menghubungi Julian bercahaya menandakan ada panggilan ke ponsel itu
"Hallo sayang. Aku baru saja mau nelpon kamu" ujar Bryan saat mengangkat panggilan dari Julian
Padahal Bryan sama sekali belum ada niat untuk menghubungi Julian. Tetapi karena Julian sudah menghubungi dirinya, makanya Bryan mengatakan hal itu kepada Julian. Bryan berharap Julian merasa senang saat dirinya mengatakan hal itu kepada Julian.
"Lah tumben kamu udah bangun sayang? Biasanya jam segini masih tidur." tanya Julian lagi lagi yang heran dengan tingkah laku Bryan pagi ini.
"Biasanya kamu bangun telat. Atau nggak sebelum aku nelpon kamu belum akan bangun sayang" lanjut Julian.
Bryan mengkerutkan keningnya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.
__ADS_1
"Kok kamu ngomong aku telat sayang?" tanya Bryan yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.
Bryan sudah berpikiran negatif kepada Felix. Bryan sudah menuduh Felix yang melapor kepada Julian kalau dia kemaren telat bangun dan membuat agenda kegiatan ke perusahaan kemaren semuanya batal.
"Kan udah aku katakan tadi sayang alasannya. Kamu nggak nyimak atau bagaimana" jawab Julian lagi.
"Kan tadi udah aka katakan, kalau nggak aku yang nelpon kamu belum bangun sayang. Ini aja aku sengaja telat satu jam nelpon kamu, eeeeee ternyata kamu sudah bangun" kata Julian menjelaskan apa maksud dari perkataan dirinya sebentar ini.
Bryan mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Apa yang dikatakan oleh Julian memang ada benarnya juga. Di memang akan bangun biasanya kalU telah dibangunkan oleh Julian. Tapi kali ini berbeda karena ada alasan di balik semua hal itu.
"Hahaha hahaha sengaja sayang, supaya aku lebih dahulu siap dari pada Felix" ujar Bryan menjawab keterangan dari Julian kenapa dirinya bisa bangun terlalu pagi sekarang ini.
"hah? jadi motivasinya hanya itu sayang?" Tanya Julian yang kaget mendengar motivasi dari Bryan kenapa dirinya bisa bangun terlalu pagi hari ini. Tidak menunggu panggilan telpon dari Julian.
"hehehe hehehe hehe. Kamu tau Felix kan sayang" jawab Bryan yang sebenarnya malu kepada Julian karena motivasinya bangun cepat adalah Felix
"Kalau begitu sana cepat mandi sayang. Kamu harus lebih dahulu siap dari pada Felix. Biar jadi juara satu" kata Julian sambil tersenyum geli mendengar alasan Bryan bangun lebih cepat dari pada biasanya.
Julian tidak bisa membayangkan bagaimana kesalnya Bryan saat alarm ponselnya berdering. Julian bisa membayangkan hal itu, karena pernah waktu itu, Julian menyaksikan sendiri bagaimana emosinya Bryan saat alarm ponsel mereka berdering.
"Haha haha emangnya anak sekolah pakai juara satu segala" jawab Bryan lagi
"mana tau kan ya ada hadiahnya" ujar Julian lagi.
"sayang ada yang lupa aku tanya. kamu kenapa nggak chat aku semalam?" tanya Bryan yang penasaran kepana dirinya tidak di chat oleh Julian semalaman
"hem oke lah kalau begitu. nanti saat jam makan siang, atau pas kamu udah pulang aja ceritanya." kata Bryan yang setuju dengan usulan dari Julian tadi.
Bryan akan lupa waktu kalau sudah berbicara dengan Julian istrinya itu. Ini saja mereka sudah saling berbicara selama setengah jam. Padahal kalau Bryan langsung mandi tadi dia sudah tinggal pakai pakaian saja. Sedangkan sampai sekarang Bryan masih belum ngapa ngapain.
"Sayang ini sudah setengah jam. Kamu mandi sana, nanti keduluan Felix lagi. Terus Felix nya marah marah lagi seperti waktu hari kamu berangkat itu" ujar Julian memberikan nasehat kepada Bryan.
"Bener sayang. Aku mandi dulu, nanti ngamuk pula anak itu" ujar Bryan yang baru ingat kalau dirinya belum mandi dan belum siap siap.
"Pokoknya kamu utang cerita ke aku sayang tentang apa yang kamu lakukan kemaren sampai sampai tidak mengirim pesan chat ke aku suami kamu" kata Bryan menekankan sekali lagi kepada Julian kalau Julian harus menceritakan apa yang terjadi kemaren kepada dirinya.
"Iya iya aku akan cerita nanti ke kamu. tenang saja. nggak usah pake marah marah kayak gitu. capek tau capek" jawab Julian lagi.
"ye mana ada capek. udah aku mandi dulu ya" jawab Bryan lagi.
"Sana sana. Aku berangkat kerja dulu." ujar Julian yang sudah mau berangkat dengan Vian ke perusahaan.
"Loh kok cepat betul? Ada meeting?" tanya Bryan uang kaget mendengar Julian sudah mau berangkat ke kantor saja. Padahal masih terlalu pagi untuk berangkat kerja.
"Sayang, aku belum sarapan. Tadi nggak sempat masak dengan Vian. Kami berdua telat bangun. Makanya ini mau sarapan di luar dulu. Kamu mandi sana gih. Nanti Felix emosi loh" ujar Julian memberitahukan alasan kenapa dirinya harus berangkat pagi pagi ke perusahaan.
__ADS_1
"Oh gitu. Oke oke. Hati hati di jalan sayang. Aku mencintaimu" ujar Bryan.
"Aku mencintaimu juga sayangku" jawab Julian lagi.
Bryan kembali menaruh ponselnya di atas meja yang ada di tepi tempat tidur. Setelah itu dirinya masuk ke kamar mandi untuk bersih bersih. Bryan harus gerak cepat, dia tidak boleh keduluan Felix lagi.
Sedangkan Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan hanya bisa geleng geleng kepalanya saja. Tuan mudanya itu sangat berbeda sekali saat berhadapan dengan Julian. tuan mudanya sama sekali tidak berani melawan istrinya itu. bagi Bryan Julian adalah segala galanya. pusat kehidupannya, makanya perbedaan sangat terlihat saat Bryan berbicara dengan Julian.
Saat Bryan mandi itulah pintu kamar di ketok seseorang. Bryan yang sedang mandi sama sekali tidak mendengar bunyi ketukan pintu kamarnya itu. Dia mandi sambil bernyanyi keras keras, mengeluarkan suara indahnya yang sudah lama tidak dikeluarkan di tempat karoke. Biasanya Bryan, Felix dan Kevin sekali dia minggu mendatangi tempat karoke untuk bernyanyi. Semenjak Bryan menikah dengan Julian, mereka tidak pernah lagi pergi ke tempat karoke.
"capek banget gue ngetuk ne pintu tapi sama sekali nggak ada sahutan dari dalam. Tega banget ne orang" ujar general manager sengah kesal saat mengetuk pintu kamar tuan muda itu
"katanya nyuruh dibangunin, pas udah dibangunin nggak nyahut nyahut. emang bener bener lah ne tuan muda. bikin kesal di pagi hari saja" lanjut general manager mengumpat di depan pintu kamar Bryan.
"Ketok pintu kamar sebelah ajalah. mana tau belum bangun juga kan ya" ujar general manager berkata sendirian saking keaalnya dengan Bryan.
Manager yang sudah lelah mengetuk pintu kamar Bryan pada akhirnya memilih untuk mengetuk pintu kamar sebelahnya yaitu kamar Felix.
Felix yang sedang memakai pakaiannya mendengar pintu kamar yang diketuk. Langsung memiliki pemikiran kalau Bryan sudah siap untuk berangkat. Sedangkan dirinya masih beraiap siap.
"Gila tu orang udah siap aja. tumben pagi hener biasanya siang. hebat mantap" komentar Felix saat mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.
Felix kemudian berjalan untuk membukakan pintu kamar. Hati dan pikirannya masih bertanya-tanya siapa manusia yang mengetuk pintu kamarnya itu. Padahal dia tidak meminta siapa siapa untuk membangunkannya.
"Loh ngapain ke kamar saya, yang minta dibangunkan bukannya Bryan? Kenapa saya yang dibangunkan" ujar Felix protes kepada general manager yang ternyata mengetuk pintu kamar Felix dari tadi.
"Udah capek ngetuk pintu kamar Tuan Muda dari tadi, tapi nggak ada sahutan sama sekali. Makanya saya kemari" ujar General Manager memberitahukan kepada Felix apa alasan dirinya mengetuk pintu kamar Felix.
"Haha haha haha palingan mandi" jawab Felix lagi.
"Iya kalau mandi. Kalau masih tidur gimana? Bisa bisa saya jadi gelandangan karena tidak sukses membangunkan Tuan Muda pagi ini" ujar general manager yang bak makan buah simalakama untuk saat ini.
"Haha haha haha. Ya udah sana ketuk lagi sampai Tuan Muda nyahut." Felix memberikan dorongan dan masukan kepada general manager untuk kembali mengetuk pintu kamar Bryan.
"Hah serius harus di ulang lagi sampai nyahut?" tanya general manager yang kaget mendengar usulan dari Felix.
"Ya harus gitu. Atau kamu mau berakhir jadi gelandangan? Belum nikahkan?" lanjut Felix yang kembali menakut nakuti general manager yang sudah takut itu.
"Percaya sama aku saja. Aku tau bagaimana sikap dan sifat Tuan Muda kalau sudah emosi. Dia akan melakukan hal yang paling kejam kepada orang yang telah mengecewakan dirinya."
"Apalagi kamu kan sudah diberikan pesan untuk membangunkan Tuan Muda sampai bangun. Jadi sana bangunkan lagi mau kamu kena marah Tuan muda." ujar Felix yang kembali meminta General Manager untuk membangunkan Bryan kembali.
"Tuan muda kalau sudah marah mengerikan. Sangat mengerikan" ujar Felix kembali menakut nakuti general manager.
" Huft nyesel gue masuk sini. Mending nggak tadi lagi"
__ADS_1
"Makin seteres masuk kamar sini" Ujar general manager mengumpat sambil meninggalkan kamar Felix.
"Haha haha haha haha." Felix tertawa ngakak mendengar umpatan dari general manager