
"Menurut saya Julian tidak takut itu karena dia sudah terbiasa hidup keras selama ini. Jadi apapun itu Julian tidak memikirkannya lagi. Makanya Julian dengan berani melawan Mami" kata Bryan.
"Gue sangat mengenal Julian. Julian tidak tipe wanita yang suka mengganggu orang lain. Apalagi ini adalah wanita yang lebih tua. Gue sangat yakin, Julian tidak mengancam Mami" lanjut Bryan yang kesal mendengar apa yang dikatakan oleh karyawan dan juga sahabatnya itu.
Ketiga bawahannya itu menjadi terdiam. Mereka antara percaya dengan Vian dan percaya dengan Bryan. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa apa karena Bryan yakin kalau Julian keadaan kehidupan nya memang seperti yang ditampilkan nya sekarang. Bukan seperti apa yang dikatakan oleh Vian tadi.
Suasana hening tercipta di antara mereka berempat. Tiba tiba Bryan teringat sesuatu suatu hal yang harus ditanyakan nya kepada Vian. Hal yang sangat penting untuk kebaikan perusahaannya ke depan. Walaupun cara ini curang tetapi untuk perbaikan ke depan tidak masalah. Selagi Bryan tidak mencaplok ide dari perusahaan orang lain.
"Bagaimana hari pertama kerja di sana Vian?" tanya Bryan yang penasaran dengan keadaan perusahaan VJ Grub, perusahaan yang sangat menjaga rahasia siapa pemilik perusahaan itu.
Vian kaget mendengar pertanyaan dari Bryan. Vian tidak menyangka kalau Bryan akan bertanya tentang hal itu kepada dirinya.
"Dari segi apa Tuan Muda?" tanya Vian.
"Apa yang loe anggap baik untuk bisa di terapkan di perusahaan kita" jawab Bryan yang tidak memberikan batasan apapun buat Vian untuk menceritakan apa yang dirasakannya selama bekerja di perusahaan VJ Grub.
"Kalau bisa untuk dikatakan, perusahaan itu sangat keren sekali. Luar biasa keren. Baik dari tampilan perusahaan maupun orang orang yang bekerja di sana" kata Vian mulai bercerita tentang apa yang dilihatnya di sana selama dua hari ini.
Bryan, Felix dan Kevin menyimak apa yang akan dikatakan oleh Vian. Mereka bertiga langsung penasaran dengan cerita Vian yang di awalnya saja sudah memuji perusahaan baru yang langsung keren dan terkenal tersebut.
"Bangunan mereka setiap lantainya mencerminkan bagian atau divisi apa yang bekerja di sana. Walaupun tidak sebesar ini tetapi setip sudutnya sangat rapi sekali." lanjut Vian lagi.
"Semua pekerja dibuat senyaman mungkin untuk bekerja dengan dukungan sarana dan prasarana yang sudah modern. Kita tidak perlu ke pantry untuk membuat minuman. Tinggal pergi ke dekat lift maka akan menemukan alat pembuat minuman. Mau minuman apapun ada di sana." lanjut Vian lagi
"jangan cemas akan kerapian nya. Luar biasa rapi dan bersih. Nggak nemu satupun sampah atau setetes air di meja untuk minuman itu."
"mereka juga menaruh buah potong di dalam almari pendingin, penuh full oleh buah buah import. Setiap lantai ada itu. Pokoknya kesejahteraan karyawan benar benar diperhatikan oleh mereka" kata Vian menambahkan penilaiannya terhadap perusahaan itu.
Vian terdiam sejenak, dia melihat ekspresi dari tiga pimpinan utama Witama Grub. Ekpresi dari ketiga orang itu hanya menggambarkan ekspresi orang menyimak saja dan tidak ada yang tersinggung saat mendengar cerita dari Vian. Vian memutuskan untuk lanjut menceritakan pengalaman yang diterimanya saat menginjakkan kaki di VJ Grub.
" Paling kerennya itu, perbedaan antara pimpinan dan karyawan tidak ada. Mereka sama saja. Tidak ada hal hal yang aneh terjadi di sana" kata Vian mencoba memancing pertanyaan dari tiga orang yang berada di depannya itu.
"Maksudnya?" Kevin bertanya. Dia penasaran dengan maksud Vian perbedaan tidak terlalu nampak jelas antara pimpinan dan karyawan di sana.
"Ya, contoh aja manager divisi kami, saat kami melapor kami akan bekerja di sana, manager itu yang duluan menyapa kami dan memperkenalkan dirinya." kata Vian menjelaskan maksud dari perkataannya tadi.
__ADS_1
"Terus, dia juga yang mengantarkan kami ke meja tempat kami bekerja" lanjut Vian.
"Kerenkan. Maaf ini ya, kita kan membandingkan. Ambil yang baik buang yang jelek." kata Vian yang tidak ingin ada yang tersinggung dengan ucapannya.
"Kalau di perusahaan kita baik perusahaan utama atau cabang. Semua manager sombong. Tidak ada yang mau menyapa karyawan, mereka menganggap dir mereka sangat penting. Padahal kalau tidak ada karyawan, ya mereka nggak akan di sini dong, tidak akan menerima gaji dong. Kalau di sana tidak, mereka saling senyum satu dengan yang lainnya walaupun tidak kenal" lanjut Vian lagi.
"Pelayanan di sana bener bener prima. Tidak ditemukan di perusahaan manapun" lanjut Vian dengan sangat yakin sekali mengatakan hal itu di depan tiga pemimpin perusahaan Witama Grub.
Bryan melihat ke arah Felix dan Kevin. Mereka mangganggukkan kepala menyetujui apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini. Kejadian di perusahaan Witama Grub memang itu, manager terlihat sombong di depan karyawan.
"Bahkan saat kami mau wawancara saja, resepsionist mereka sangat sopan sekali. Mereka menerangkan semuanya sambil tersenyum." lanjut Vian.
"Beda banget dengan perusahaan Witama Grub. Saya sendiri mengalami, saat saya di tarik untuk kembali bekerja di sini. Pas bertanya ke resepsionis depan. Songongnya minta ampun." kata Vian menceritakan berdasarkan pengalaman pribadinya.
"Jadi, pada intinya, kita harus memperbaiki sistem sikap para manager dan karyawan. Kita tidak butuh orang sombong, yang kita butuhkan orang mau bekerja" lanjut Vian lagi.
Bryan mengangguk angguk. Dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vian sekarang ini. Perubahan harus segera dilakukan di perusahaannya kalau tetap ingin menjadikan perusahaan Witama Grub sebagai perusahaan yang bonafit.
" Gue setuju dengan yang dikatakan Vian. Kita harus merombak sistem yang jelek ini. Kita akan kalah lawan VJ Grub kalau masih tetap dengan gaya kita yang sekarang" Bryan sudah memutuskan langkah apa yang akan diambilnya.
"Oke sip" kata Kevin yang sama sekali tidak akan membantah apa yang dikatakan oleh Bryan.
Kevin langsung mengeksekusi perintah dari Bryan. Jari jarinya menari di atas tablet canggihnya itu. Dia mengetik surat undangan untuk rapat para manager. Dalam sekejap surat itu telah selesai. Kevin sudah mengirimkan file surat kepada semua nomor ponsel para manager.
"Satu pertanyaan lagi Vian. Ini sifatnya pribadi. Apa Julian di ganggu orang bekerja di sana?" tanya Bryan yang tadi sempat merasaka kalau ada orang yang mengganggu Julian bekerja.
"Maaf Tuan Muda kenapa bertanya seperti itu?" tanya Vian yang heran kenapa Tuan mudanya bisa merasakan hal itu.
"Tadi saat jam pulang kerja karyawan. Saya merasakan sedikit aneh. Seperti seseorang sedang berusaha mengusik milik saya" kata Bryan dengan jujur menceritakan apa yang sempat dirasakannya tadi.
Via terdiam, dia tidak tau mau mengatakan hal apa kepada Tuan mudanya itu. Vian tidak ingin managernya yang ramah dan baik itu menerima konsekuensi dari perbuatannya yang sempat ingin mengganggu Julian, istri dari pemilik perusahaan Witama Grub.
"Vian kenapa diam? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Julian?" tanya Bryan yang merasa cemas saat melihat Vian yang terdiam.
"Oh maaf Tuan muda. Tidak ada terjadi apa apa di sana. Nyonya muda sudah mengatakan kepada semua orang kalau dirinya sudah memiliki suami" kata Vian.
__ADS_1
Vian ingin membuat Tuan mudanya itu tidak memiliki pemikiran yang aneh aneh. Sempat vian menceritakan apa yang terjadi dengan sebenarnya, maka sudah bisa dipastikan akan ada tambahan pengawal yang dikirim untuk bekerja di perusahaan VJ Grub. Vian tidak ingin itu terjadi.
"Baiklah Vian. Saya harap kamu jujur sama saya tadi" kata Bryan sambil menatap mata Vian.
Vian balik menatap ke mata Bryan. Dia tidak mau Bryan mencurigainya. Bisa berbahaya nantinya.
"Jujur Tuan Muda. Lagian saya pasti akan menjaga Nyonya muda dengan sangat baik" lanjut Vian meyakinkan Bryan kalau dirinya pasti akan menjaga Julian dengan sepenuh hatinya.
Bryan melihat jam tangan mewahnya, ternyata sudah pukul delapan malam. Dia mengeluarkan ponselnya, ternyata Julian sudah menghubunginya berkali kali. Ponsel Bryan yang dalam mode hening membuat Bryan tidak tau kalau istrinya sudah menghubunginya berkali kali.
"Kita pulang sekarang." "Loe anter gue pulang Felix" Bryan memberikan perintahnya kepada Felix untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
"Siap" kata Felix.
Mereka semua bergerak meninggalkan perusahaan Witama Grub. Mereka akan menuju rumah masing masing.
"Kapan loe akan bawa Julian ke mansion utama Bryan?" tanya Felix saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju rumah Julian.
Bryan terdiam, dia mensugar rambutnya dengan jari jarinya yang panjang. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada Felix.
"Itulah, semakin suram gue bawa Julian pulang ke mansion. Apalagi dengan kasus yang kemaren. Sudah bisa dipastikan Mami sangat marah sekali kepada Julian" kata Bryan yang sangat paham bagaimana sikap dan sifat Mami nya itu.
"Apalagi tadi dalam video terlihat jelas kalau Vian membalas apa yang dilakukan oleh Mami." lanjut Bryan.
"Loe tau sendirikan bagaimana Mami? Mami tidak suka ditentang oleh siapapun. Apalagi oleh orang yang tidak dikenalnya" lanjut Bryan menambahkan.
"Hal ini semakin membuat gue pusing bagaimana cara membawa Julian pulang ke mansion utama" nada suara Bryan seperti orang yang dalam tekanan besar.
"Apa loe ada masukan?" tanya Bryan yang berharap Felix memiliki sebuah ide dalam kepalanya.
"Maaf Bryan, gue nggak ada ide sama sekali. Apapun yang akan kita lakukan Nyonya besar tidak akan menerimanya. Keras kepala Nyonya besar luar biasa" jawab Felix.
"Gue jalani ajalah lagi seperti sekarang ini" kata Bryan.
Felix menatap ke arah Bryan. "Berarti loe nggak akan pulang ke mansion utama?" tanya Felix kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan.
__ADS_1
"Bisa jadi. Gue malas bahas" kata Bryan menutup pembicaraan mereka berdua