Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #38


__ADS_3

"Vian, alat makeup gue hanya ada ini saja. Apa ini cukup? Atau masih kurang? " kata Julian sambil memperlihatkan alat makeup yang dimilikinya.


Vian melihat semua perlengkapan makeup Julian. Sebenarnya untuk acara formal masih sedikit agak kurang, tetapi karena wajah Julian sudah sangat cantik. Maka peralatan tempur yang sedikit ini saja sudah menjamin kecantikan Julian nantinya.


"Gue rasa udah lebih dari cukup" jawab Vian.


Julian duduk di sebuah kursi yang tadi diambilkan Bryan dari dapur. Vian memulai pekerjaannya. Vian sangat senang sekali bisa ikut serta dalam acara wisuda maguster nona mudanya itu.


"Loe nggak boleh buka mata loe sampai gue ngomong selesai" ujar Vian membuat perjanjian dengan Julian sebelum memulai pekerjaannya.


"Paham kan loe" lanjut Vian lagi.


"Ya gue paham. Gue nggak akan buka mata gue sampai loe mengatakan selesai. Gue janji" jawab Julian yang sudah tidak sabaran lagi. Julian tidak ingin terlambat sampai di kampusnya.


Vian mulai melakukan pekerjaannya. Vian melakukan pekerjaannya dengan sangat hati hati. Vian akan membuat Julian menjadi pusat perhatian seluruh manusia yang hadir di acara wisuda mahasiswa magister. Vian melakukan pekerjaannya selama satu jam lebih. Vian juga merapikan rambut Julian. Vian menganggur modern rambut Julian.


Vian menatap cermin berkali kali. Dia harus memastikan kalau makeup Julian tidak terlalu mencolok. Setelah yakin dengan hasil pekerjaannya barulah Vian mengatakan sesuatu kepada Julian.


"Oke selesai Julian" kata Vian dengan semangat.


"Silahkan buka mata kamu Julian" ujar Vian selanjutnya.


Julian membuka matanya yang dari tadi di suruh Vian untuk di tutup selama Vian meng make over wajahnya itu.


Julian terpana melihat dirinya sendiri di kaca meja rias itu. Julian terdiam cukup lama sekali. Dia tidak menyangka kalau wajahnya bisa seperti itu. Julian benar benar kaget saat melihat siapa orang yang ada di dalam cermin tersebut.


"Hay kenapa diam saja?" kata Vian kepada Julian yang dari tadi hanya diam saja.


"Apa kamu tidak suka dengan hasil make up nya?" lanjut Vian lagi.


Vian sangat cemas saat melihat reaksi yang diberikan oleh Julian saat Julian melihat hasil pekerjaan Vian.


Julian mengedip ngedipkan mata indahnya itu. Julian benar benar tidak menyangka kalau orang yang di dalam kaca itu adalah pantulan dari dirinya.


"Apa yang di sana itu gue?" tanya Julian dengan polosnya kepada Vian.


"Ya itu loe. Siapa lagi? Nggak mungkin gue juga kan" jawab Vian meyakinkan Julian kalau yang di dalam kaca itu adalah Julian bukan siapa siapa.

__ADS_1


"Cantiknya" kata Julian dengan polos memuji kecantikannya sendiri


"Haha haha haha haha, ya kamu memang cantik"


'Hampir saja copot jantung gue' kata Vian dalam hatinya.


"Aku yakin, kamu merupakan wisudawan tercantik hari ini. Tidak akan ada lagi wisudawan yang lebih cantik dari kamu" kata Vian melanjutkan pujiannya kepada Julian.


"Yakin?" tanya Julian sambil menyipitkan matanya ke arah Vian.


"Sangat yakin, kalau nggak percaya tanya aja sama Bryan" ujar Vian lagi.


Julian dan Vian berjalan keluar dari dalam kamar. Mereka berdua tidak melihat Bryan di area dapur dan tengah rumah.


"Kemana dia ya? Apa dia ke kantor?" ujar Julian.


Nada sedih tergambar jelas dari apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini. Tiba tiba terdengar suara orang mengobrol dari bagian depan rumah.


"Sepertinya mereka di depan?" kata Vian lagi.


Julian mengangguk, kesedihan yang mendadak datang tadi hilang lenyap dari dalam diri JulianJulian saat mendengar suara Bryan yang mengobrol di luar.


Julian mengangguk setuju, dia tau kalau Vian akan menjadikan dirinya sebagai kejutan untuk Bryan.


Vian membuka pintu dengan sangat pelan. Tiga orang laki laki tampan yang berada di teras rumah langsung terdiam saat mendengar pintu rumah yang dibuka dari dalam. Ketiga laki laki itu dengan kompak melihat ke arah pintu.


"Yah kok loe yang keluar Vian" ujar Kevin menyuarakan kekagetannya saat melihat Vian yang berjalan keluar dari dalam rumah


"Jadi loe ngarepin siapa yang keluar?" tanya Vian dengan membesarkan bola matanya.


Kevin yang mendapatkan tatapan maut dari Vian hanya bisa menunduk. Sedangkan Bryan dan Felix yang melihat reaksi Kevin saat ditatap tajam Vian hanya bisa menahan tawa mereka yang hampir meledak itu.


"Mana istri saya Vian?" tanya Bryan dengan dingin.


Julian yang mendengar Bryan menanyakan dirinya, berjalan dengan anggunnya keluar dari dalam rumah. Dia berjalan dengan pelan, Julian seakan akan menguji kesabaran Bryan untuk melihat dirinya.


"Sayang" panggil Julian saat dirinya sudah berada di depan pintu.

__ADS_1


Ketiga pria itu menatap tidak berkedip ke arah Julian. Julian luar biasa cantik hari ini. Julian terlihat sangat sempurna, aura kecantikannya keluar semua. Siapapun yang melihat Julian untuk pertama kalinya, tidak akan tau bagaimana kehidupan yang sangat berat dilalui oleh Julian selama ini. Julian benar benar seperti seorang putri yang turun dari langit ke tujuh. Seorang putri yang memang diperuntukkan untuk Bryan.


"Sayang, kamu kah itu?" tanya Bryan dengan nada yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi.


Bryan benar benar terpesona dengan kecantikan seorang Julian.


"Ya ini aku sayang. Siapa lagi" kata Julian meyakinkan Bryan kalau memang dirinya yang berdiri di hadapan Bryan.


"Kamu cantik sekali" puji Bryan yang sudah sadar dari keterpanaannya saat melihat Julian yang berdiri di depan dirinya saat ini.


"Makasi sayang" jawab Julian sambil tersenyum.


"Oh ya, kalian berdua kan belum ada foto pernikahan yang pakai pakaian kayak gini. Gimana kalau kita foto sekarang saja?" kali ini Felix memberi saran yang sangat luar biasa kepada Julian dan Bryan.


"Setuju. Kamu gimana sayang?" tanya Bryan kepada Julian. Bryan menyerahkan semuanya kepada Julian. Kalau Julian mau dan Oke untuk fhoto seperti yang disarankan oleh Felix, maka dirinya juga akan setuju. Tetapi kalau Julian tidak setuju, maka dia juga tidak akan mau.


"Aku setuju" jawab Julian dengan semangat.


Julian sudah lama menginginkan hal itu. Dia juga ingin ada foto dirinya dan Bryan terpampang di dinding rumah. Akhirnya hari ini keinginan dari Julian terkabul juga.


"Tapi dimana kita mau fhoto?" tanya Julian.


Satu hal yang dikhawatirkan oleh Julian adalah mereka akan pergi ke studio foto untuk mengabadikan foto mereka berdua. Kalau sampai itu terjadi maka sudah bisa dipastikan pengambilan foto akan gagal, hal ini disebabkan keuangan Julian yang sudah menipis, hanya tinggal untuk kehidupan mereka dua minggu ke depan.


"Kamu nggak perlu khawatir dengan biayanya sayang" kata Bryan berbisik di telinga Julian.


"Julian yang akan ngambil gambarnya gue. Kita fhoto di sini saja" kali ini Felix yang menjawab keragu raguan di wajah Julian yang terlihat sangat jelas itu.


"Oh Oke" wajah Julian kembali bersinar saat mendengar kalau mereka akan melakukan sesi foto berdua hanya di rumah saja tidak di studio foto.


"Gue rasa di sini bagus tempatnya" kata Kevin saat mereka berada di taman samping rumah.


Julian memang sudah sejak lama menyulap tanah kosong samping rumah itu menjadi tempat tanaman hias.


Bryan dan Julian mengambil beberapa fhoto di sana. Setelah itu mereka juga ber fhoto di tengah jalan yang sepi.


"Oke cukup" ujar Felix.

__ADS_1


Felix merasa semua foto hasil jepretannya sudah cukup untuk kawasan fhoto di rumah. Mereka akan melanjutkan agenda fhoto bersama saat berada di kampus.


__ADS_2