Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #15


__ADS_3

"Papi" ujar Nyonya besar Witama saat dirinya baru saja membuka pintu ruang kerja suaminya itu.


"Ada apa sih mi, datang datang main panggil kayak gitu" jawab Tuan Witama yang protes dengan apa yang dilakukan oleh istrinya tersebut.


"Nggak bisa lihat Papi sedang ngapain?" lanjut Tuan Witama yang sedikit kesal dengan ulah istrinya.


"Maaf Papi, tapi ini sangat penting sekali untuk Mami katakan kepada Papi" kaya Mami dengan sangat bersemangat dan menggebu gebu sekali.


Papi menutup dokumen yang sedang dibacanya itu. Papi juga penasaran dengan berita apa yang dibawa oleh Mami saat dirinya baru dari luar mansion.


"Tadi saat Mami ke toko buku, Mami melihat Bryan dengan Felix dan Kevin" kata Mami menyampaikan berita apa yang akan dikatakannya kepada Papi.


"Huft"


Papi menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia sudah meluangkan waktunya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Mami. Ternyata yang dikatakan Mami adalah hal yang sudah biasa terjadi.


"Kenapa menghembuskan nafas dengan kesal?" tanya Mami yang heran dengan tanggapan yang diberikan oleh Papi terhadap cerita yang disampaikan Mami sebentar ini.


"Kalau Bryan dengan mereka berdua sudah biasa Mami. Nggak ada yang aneh" kata Papi memberikan alasan kenapa Papi memberikan reaksi yang tidak sesuai dengan harapan Mami.


"Kalau itu Mami juga tau Papi."


Papi menatap ke arah Mami meminta penjelasan dari apa yang dikatakan oleh Mami sebentar ini.


"Jadi maksud Mami apa?" tanya Papi.


"Makanya jangan bikin reaksi yang gimana gimana dulu dari cerita orang" Mami menjawab perkataan Papi dengan nada kesal.


Mami sangat tidak suka melihat orang yang memberikan tanggapan dan reaksi sebelum mendengar penjelasan Mami yang komplit.


"Is is is is. Jangan ngambek gitu istri cantikku. Nanti kecantikannya hilang. Mau tidak cantik lagi" Papi berusaha mengembalikan mood Mami yang suda rusak itu.


Papi tidak ingin gara gara huft nya tadi, dia akan tidur di luar kamar malam ini, apalagi malam ini adalah malam jumat. Jadwal papi untuk enak enak dengan Mami.


"Pandai membujuk" jawab Mami sambil mengerucutkan mulutnya.


Mami kadung kesal dengan tingkah Papi.

__ADS_1


"Jadi maksud Mami bagaimana?" ulang Papi bertanya.


"Maksudnya gini Papi. Kalau Bryan masih main dengan Felix dan Kevin tentu dia masih tinggal di mansion mereka berdua. Bisa jadi tidurnya seminggu di rumah Felix seminggu di rumah Kevin" jawab Mami.


"Jadi?????" tanya Papi yang masih kurang paham.


"Jadi, Mami tidak perlu pusing lagi memikirkan anak laki laki Mami itu tidur di mana, setelah Mami cek apartemen yang bersih seperti tidak ada yang menempati" kata Mami menjelaskan kepada suaminya itu.


"Mami, Mami. Bryan itu tidak anak kecil lagi. Jadi, Mami nggak perlu mencemaskan dirinya seperti itu. Bryan pasti akan baik baik saja di luar sana. Apalagi dia masih masuk kantor" kata Papi yang heran dengan sikap istrinya itu. Mami dari dulu, sangat cemas terhadap Bryan, berbeda dengan kakak dan adik Bryan.


"Papi nggak tau aja gimana rasanya jadi ibu"


.........................................................


"Jadi, apa semua buku yang kamu butuhkan sudah dapat?" tanya Bryan saat dirinya dan Julian sedang duduk di teras rumah kontrakan mereka berdua.


"Sudah. Sekarang aku mau baca dan mencatat bagian bagian yang akan aku masukkan dalam tugas akhir" kata Julian.


"Tunggu sini bentar ya. Aku mau ambil buku catatan dulu"


Bryan mengangguk, sedangkan Julian masuk ke dalam kamar. Dia mengambil alat tulisnya.


Julian mengangguk. "Kamu kalau ngantuk, tidur duluan aja. Aku nggak apa apa sendirian di sini" kata Julian sambil tersenyum menjawab pertanyaan Bryan yang bernada kaget itu.


"Kan bisa besok besok sayang" lanjut Bryan yang masih tidak ingin, Julian melanjutkan pekerjaannya. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, sudah saatnya Julian untuk beristirahat.


"Nggak bisa gitu" jawab Julian.


"Kenapa nggak bisa?" tanya Bryan kembali.


"Aku nggak mungkin minjam buku Felix lama lama. Segan aku sayang. Apalagi aku sangat tau kalau ini adalah buku buku mahal dan termasuk susah di cari untuk saat ini" Julian membeberkan kepada Bryan kenapa dirinya harus membaca semua buku itu dalam waktu secepatnya.


Bryan tidak terima dengan alasan yang diberikan oleh Julian kepada dirinya. Dia kemudian menghubungi Felix.


"Hallo Bryan, ada apa?" tanya Felix yang sebelumnya sudah mendapatkan pesan dari Bryan, kalau Bryan akan menghubungi Felix.


"Kenapa harus telpon Felix sih" Julian mengajukan protesnya kepada Bryan.

__ADS_1


"Biar kamu bisa denger langsung apa yang dikatakan oleh Felix kepada aku" jawab Bryan dengan santainya.


Julian hanya bisa geleng geleng kepala saja. Suaminya ini memang sangat keras kepala dan selalu mengutamakan apa yang ada di dalam pikurannya baru mempertimbangkan apa yang sedang dipikirkan oleh orang lain.


"Felix. Buku yang di pinjam Julian tadi, apa harus di kembalikan secepatnya?" tanya Bryan langsung saja tanpa pengantar kepada Felix.


"Tidak, Julian bisa pakai sampai kapanpun. Aku sudah hafal isi buku itu, jadi tidak perlu dipulangkan cepat cepat" jawab Felix.


"Makasi Felix"


Bryan langsung menutup panggilan telponnya saat misinya sudah selesai.


"Nah sudah denger sendirikan apa yang dikatakan oleh Felix"


"Buku bisa dikembalikan kapan saja. Bahkan tidak dikembalikan pun tidak apa apa"


Julian menatap ke arah Bryan.


"Jadi, sekarang lebih baik istirahat karena besok kamu akan kuliah dan bekerja juga. Jadi, manfaatkan waktu yang ada untuk mengisi ulang tenaga kamu"


"Atau kamu mau saatnya kamu belum tua tapi badan kamu sudah tua?"


"Mau seperti itu?" Bryan mengomel panjang lebar kepada Julian.


Julian menatap Bryan dengan tatapan melongo alias tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Bryan bisa berbicara panjang lebar selebar lebarnya, sehingga membuat Julian menjadi kaget dan memiliki rasa tidak percaya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan tadi.


"Tapi..... " jawab Julian yang masih ingin mencoba peruntungannya sekali lagi.


"Nggak ada tapi tapi dan tapi"


"Kamu mau berdosa karena sudah melawan suami kamu sendiri?" kata Bryan mengeluarkan ancaman yang memang pastinya akan membuat Julian menjadi takut sekali.


Julian menggeleng.


"Nah gitu baru keren" jawab Bryan.


Bryan berdiri dan mengecup pipi Julian. Julian yang kaget memegang pipinya yang ememrah karena dicium secara tiba tiba oleh Bryan.

__ADS_1


Bryan yang melihat ekspresi kaget Julian, menjadi luar biasa sangat bahagianya. Dia tidak menyangka bisa menggoda istrinya itu. Tapi yang lebih membuat Bryan bahagia adalah, dia berhasil membuat Julian tersemu saat dirinya mengecup pipi istrinya itu


__ADS_2