Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #40


__ADS_3

Julian menatap kaget ke arah rekannya itu. Tetapi dia kemudian mengubah kembali raut wajahnya. Dia tidak ingin rekan rekannya bertanya kenapa raut wajahnya bisa berubah seperti itu. Rekan rekan wisudawan Julian, sama sekali tidak memperdulikan Julian, mereka masih asik melihat ke arah masuknya empat orang yang benar benar memiliki kharisma sendiri saat masuk berjalan ke dalam ruang wisuda.


"Semoga aja dia ke sini bukan pergi melihat wisuda kekasihnya. Tetapi pergi wisuda adiknya" lanjut wisudawan yang lainnya.


"Ya gue setuju. Kalau dia ke sini melihat wisuda kekasihnya maka sudah bisa dipastikan kita akan mati lemas bersama" sambut rekan yang lainnya.


"Eh mana tau dia ke sini melihat wisuda istrinya. Bagaimana?" Julian sengaja memancing rekan rekannya yang lain dengan pertanyaan yang sedikit mengarah arah itu.


"Menurut gue dia belum menikah" sambar salah seorang wisudawan.


Julian hanya bisa menyabarkan hatinya saja. Dia tidak mungkin berteriak di depan semua wisudawan dengan teriakan.


'Dia milik gue, awas kalau kalian ganggu'


Pandangan pandangan itu akhirnya hilang juga saat Bryan dan ketiga pengawalnya sudah duduk di posisi mereka masing masing. Beberapa orang yang berada di podium berusaha untuk menyapa Bryan. Tetapi Bryan hanya diam saja, Bryan sama sekali tidak memberikan respon apapun kepada orang orang yang berusaha menyapanya itu.


Pembawa acara wisuda sudah mulai mengeluarkan suara indahnya. Pembawa acara membacakan susunan acara wisuda kali ini. Selesai membacakan susunan acara, para anggota senat, tamu undangan dan juga rektor kampus masuk ke dalam ruangan wisuda. Mereka berjalan dengan sangat khidmat sekali. Semua mata tertuju hanya kepada mereka yang mulai berjalan masuk ke dalam ruangan wisuda.


Rektor dan para anggota senat sekaligus gur besar sudah duduk di atas podium. Tetapi masih ada satu bangku yang masih kosong di atas podium itu.


"Huft kenapa semua yang namanya tamu undangan itu datangnya selalu telat. Tengok tuh masih ada satu bangku yang kosong" ujar seorang wisudawan yang sudah merasakan kepanasan.


"Sabar, namanya juga tamu. Kayak nggak tau aja" tegur seorang wisudawan lainnya.


Julian yang memang bukan tipe orang yang ambil pusing karena suatu kejadian, hanya tersenyum saja mendengar omelan dari rekan rekannya itu.


'Salah mereka sendiri, siapa suruh wisuda kayak jadi pengantin. Makanya jadi panas' ujar Julian dalam hatinya.


Sebenarnya Julian juga kesal, tetapi dia berusaha membuat dirinya menjadi nyaman supaya tidak membuat suhu tubuhnya menjadi meningkat.


Seorang pria berbadan tegap dan di sampingnya ada seorang asisten yang berjalan tepat di belakangnya berjalan masuk ke dalam gedung wisuda.

__ADS_1


"Kepada semua tamu undangan dan wisudawan diminta untuk berdiri" ujar pembawa acara.


Semua orang di dalam ruangan itu tanpa terkecuali berdiri dari posisi duduk mereka masing masing. Mereka memberikan tepuk tangan yang meriah untuk orang yang sedang berjalan masuk ke dalam gedung tersebut.


Bryan menatap tidak percaya ke arah orang yang hadir di tengah tengah acara wisuda Julian.


"Kenapa Papi bisa di sini?" tanya Bryan kepada Felix.


"Seharusnya yang hadir adalah tuan muda. Tetapi tuan muda menolak untuk menghadirinya bukan?" tanya balik Felix.


Bryan mengangguk dia memang menolak untuk menghadiri acara wisuda di kampus Julian.


"Makanya Tuan besar yang hadir. Karena seperti yang Tuan Muda ketahui, perusahaan kita merupakan mitra kerja dan juga pemberi beasiswa terbanyak untuk kampus ini" ujar Felix.


"Semoga saja dia tidak sadar ada saya disini. Kalau sampai Papi sadar, maka bisa selesai saya" kata Bryan.


Bryan membetulkan letak kacamatanya. Dia juga mengubah gaya potongan sisiran rambutnya. Dia tidak ingin ayahnya mengetahui kalau dirinya ada di sana. Bisa bisa nanti terjadi sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi di sini ada Julian. Bryan tidak mau Julian mengetahui jati dirinya dan menjadi marah kepada dia.


"Kamu harus bisa memastikan kalau saya tidak akan ketahuan berada di sini" perintah Bryan kepada Felix.


Kevin dan Vian mulai pindah tempat duduk. Mereka menyebar karena tidak ingin menjadi pusat perhatian saat Tuan besar Witama memberikan kata sambutan.


Acara wisuda pun di mulai. Semua rangkaian acara formal sudah berjalan. Termasuk juga dengan kata sambutan dari Tuan besar Witama. Julian sempat memperhatikan Tuan besar Witama saat memberikan kata sambutan.


'Aku kok seperti famikiar sekali dengan wajah orang yang di depan itu ya?' kata Julian dalam hatinya.


'Tapi di mana pernah ketemu ya?' lanjut Julian lagi sibuk dengan pemikirannya.


Julian kemudian terlihat mengetik sebuah pesan chat.


'Vian, gue kok familiar banget ya dengan wajah bapak bapak yang ngasih kata sambutan itu?' bunyi pesan chat dari Julian kepada Vian.

__ADS_1


Vian yang membaca menjadi kaget luar biasa. Tetapi dia berusaha mengendalikan dirinya. Jangan sampai Julian memiliki arah pemikiran kepada Tuan Muda mereka.


'Tuan itu sempat sekali datang ke swalayan kita' bunyi pesan chat balasan yang dikirimkan oleh Vian kepada Julian.


'Oh pantesan rasa rasa kenak sama bapak itu' balas Julian lagi.


'Nggak usah dipikirkan. Kamu fokus saja dengan kata sambutan yang akan kamu sampaikan nanti' balas Vian berusaha mengalihkan apa yang ada dalam pikiran Julian saat ini.


'Yah loe ingetin lagi. Gue udah berusaha untuk lupa' balas Julian.


'Haha haha haha. Mana ada bisa lupa. Semangat Julian' Vian memberikan semangat kepada sahabat baiknya itu. Sebuah semangat yang memang sangat dibutuhkan oleh Julian untuk saat ini.


Tibalah saatnya Julian memberikan kata sambutan mewakili semua wisudawan magister tahun ini.


Julian berjalan dengan santai dan percaya dirinya ke podium kehormatan. Julian berdiri di posisinya dengan baik. Dia kemudian menyampaikan isi pidato ucapan terimakasih nya itu. Julian sama sekali tidak membawa teks. Semua rangkaian kalimat yang dikeluarkannya dari mulut, murni adalah apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Wisudawan pertama, menyelesaikan perkuliahan magister hanya dalam waktu tiga semester, dan indek prestasi komulatuf empat koma nol nol" ujar pembawa acara mulai memanggil satu persatu para wisudawan yang akan naik ke atas panggung kehormatan.


"Julian" ujar pembawa acara.


Julian memang tidak mencantumkan nama keluarganya saat dia mendaftar untuk wisuda.


Julian yang mendengar namanya dipanggil untuk wisudawan pertama berjalan menuju panggung kehormatan. Dia menerima medali dan juga ijazah kelulusannya. Julian berhenti sejenak di ujung tangga. Dia melihat ke arah keluarga para wisudawan. Julian bisa melihat Bryan yang duduk bersebelahan dengan Felix. Julian tersenyum ke arah Bryan. Sebuah senyuman kebanggaan karena bisa menjadi wisudawa termuda dari segi usia dan tercepat dari segi waktu perkuliahan.


Tepat sebelum jam makan siang, semua rangkaian acara wisuda itu berakhir. Julian sudah kembali bersama Bryan dan ketiga pengawalnya. Mereka melakukan sesi foto bersama di kampus Julian. Mereka sama sekali tidak memperdulikan orang orang yang milihat mereka sibuk dengan pengambilan fhoto itu.


"Ayok pulang" ujar Julian mengajak mereka semua untuk ke rumah.


"Bagaimana kalau kita ke restoran dulu sayang, makan siang sekaligus perayaan wisuda kamu?" ujar Bryan memberikan masukan kepada Julian.


"Kita makan di rumah saja sayang. Aku sudah menyiapkan semuanya" jawab Julian.

__ADS_1


"Hem oke. Kalau kamu yang sudah menyiapkan maka aku setuju banget. Masakan kamu sangat enak" kata Bryan dengan semangat.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil Kevin. Kevin mengemudikan mobil menuju rumah Bryan dan Julian kembali. Mereka akan merayakan hari wisuda Julian di rumah saja sesuai dengan permintaan Julian


__ADS_2