Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #28


__ADS_3

Bryan sedang dalam situasi rapat penting dengan para manager dan dewan direksi perusahaan Witama. Beberapa kali dia terlihat melihat ke jam tangan mewahnya itu. Bryan terlihat sangat cemas. Sepanjang meeting yang sedang berjalan itu, Bryan selalu saja gelisah. Bryan sama sekali tidak terlihat konsentrasi dalam melakukan meeting itu. Bryan selalu saa gelisah. Dia benar benar susah untuk memusatkan pikirannya.


Kevin yang berada di sebelah Bryan bisa merasakan kegelisahan dari Tuan mudanya itu. Kevin juga tau penyebab kegelisahan dari Tuan mudanya tersebut. Sehingga Kevin memutuskan untuk membantu Bryan keluar dari dalam ruang meeting ini.


"Maaf Tuan Muda, sepertinya rapat ini harus kita tunda ke hari besok karena Tuan Muda masih harus memenuhi satu undangan acara lagi" kata Kevin yang berusaha melepaskan Bryan dari meeting perusahaan itu.


"Baiklah meeting lanjutan akan diagendakan dulu oleh Kevin. Terimakasih atas waktu dan kehadiran saudara semua" ucap Bryan yang paham dengan apa yang dikatakan oleh Kevin kepada dirinya untuk saat ini.


Semua dewan direksi dan para manager, keluar dari dalam ruang meeting. Mereka semua kembali menuju ruang kerja masing masing.


"Thanks Kevin. Kalau nggak loe bantu, gue nggak tau jam berapa meeting itu akan berakhir" kata Bryan mengucapkan terimakasih nya kepada Kevin karena sudah membantu dirinya terlepas dari meeting yang tidak tau kapan akan selesai.


"Gue tukar pakaian dulu" lanjut Bryan sambil berjalan ke dalam ruang kerjanya kembali. Bryan akan menukar pakaiannya menjadi, pakaian yang tadi pagi di pakainya dari rumah menuju perusahaan.


"Kevin, kita berangkat sekarang ke kampus Julian." kata Bryan saat dirinya sudah berada di depan meja kerja Kevin.


Bryan sudah kembali seperti tadi. Tidak ada lagi jas mahal, celana mahal dan juga jam tangan mahal serta sepatu kulit mahal seperti yang dipakainya saat dirinya sampai di perusahaan. Semua penampilan Bryan sudah seperti yang pagi tadi di lihat oleh Julian saat Bryan pamit untuk pergi bekerja. Satu satunya kemeja termurah yang dipakai oleh Bryan adalah kemeja yang dibelikan oleh Julian sebagai hadiah karena telah membantu Julian dalam menyelesaikan tugas akhirnya itu.


"Emang Nona muda jam berapa mulai sidang terbukanya?" tanya Kevin yang nggak tau jadwal Julian akan melakukan sidang terbuka untuk disertasinya itu.


"Jam empat. Sekarang sudah jam empat kurang seperempat. Gue nggak mau telat datang" kata Bryan sambil melihat jam dinding yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Oke. Gue akan pastikan elo akan datang tepat waktu" jawab Kevin.


"Serahkan aja ke gue. Gue akan jamin elo sampai di kampus Nona muda saat Nona muda akan berjalan menuju podium untuk melakukan sidang terbuka" Kevin kembali meyakinkan Bryan, kalau dia pasti akan mengantarkan Bryan tepat waktu ke kampus Julian.


Bryan dan Kevin berjalan dengan sangat bergegas sekali menuju bestman perusahaan. Kevin memang di sana terus memarkir mobilnya. Lift dari ruangan Bryan memang bisa mengantarkan mereka ke lantai bestman.


Kevin melajukan mobilnya dalam kecepatan di atas seratus kilo meter per jam. Sebuah kecepatan yang biasa saja untuk mobil sport keluaran terbaru. Apalagi pilihan Kevin adalah jalan tikus yang jarang orang lewat di sana, apalagi dengan kecepatan setinggi itu, kalau di jalan biasa, maka sudah bisa dipastikan kalau Kevin akan mendapatkan sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya, sedangkan di jalan yang sekarang, mau berapapun kecepatan yang dipacu oleh Kevin, maka tidak akan ada yang berani marah kepada Kevin. Dengan memilih jalan tikus itu, akan membuat Kevin bisa mengantarkan Bryan tepat waktu di kampus Julian.


"Dari mana loe bisa sampai tau jalan jalan kayak gini?" tanya Bryan saat melihat ke jalan seperti apa Kevin membawanya.


"Itu gunanya kawan yang hobby blusukan" jawab Kevin asal comot jawaban saja.


"Nah benerkan sampe tepat waktu" ujar Kevin sambil melihat jam tangannya yang dimana di jam itu terlihat jarum jam masih menunjuk angka empat tepat.


"Makasi bro. Gue turun dulu" kata Bryan sambil membuka pintu mobil Kevin.


"Gue tunggu di parkiran depan. Selesai semua kegiatan Julian, loe tinggal jalan ke parkiran."


"Siap Kevin. Terimakasih banyak. Maaf sudah membuang buang waktu loe" kata Bryan dengan nada tulus kali ini.


"Biasa aja jangan lebay. Gue nggak akan mungkin biarin loe naik angkutan umum" balas Kevin.

__ADS_1


Bryn kemudian berjalan dengan santai ke gedung pascasarjana tempat Julian akan mengadakan sidang terbuka. Bryan sudah memasang masker dan juga kacamata, sehingga orang orang di sana tidak akan mengenalinya sebagai seorang Bryan Witama dan juga salah seorang donatur tetap kalau ada event event yang diadakan kampus dan sekaligus memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang membutuhkan.


Bryan berjalan dengan sangat santai. Beberapa mahasiswa yang menghadiri sidang terbuka disertasi Julian hanya menganggap orang yang terakhir masuk itu adalah mahasiswa biasa yang telat menghadiri kegiatan tersebut.


Bryan melihat sebuah bangku kosong di sampang seorang wanita. Bryan kemudian duduk di sana dengan santainya, dengan gaya khasnya yang terlihat seperti seorang mahasiswa yang menghadiri suatu kegiatan.


Vian yang sedang melihat sesuatu di ponselnya langsung kaget saat mendengar ada seseorang mendehem di sebelahnya


"Ngga usah stalking stalking segala. Dia tu di parkiran. Nanti kamu pulang dengan Julian. Maka akan ketemu dengan dia" ujar Bryan dengan nada dingin.


Wajah cantik Vian berubah menjadi merah seperti kepiting rebus saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan menangkap basah dirinya saat mencari tau dimana keberadaan Kevin sekarang ini.


"Maaf Tuan Muda" ujar Vian dengan gugup dan penuh penyesalan karena sudah dengan sangat berani sekali melakukan stalking terhadap Kevin.


"Tidak masalah" jawab Bryan.


Vian mulai salah tingkah. Dia tidak menyangka kalau Tuan mudanya akan duduk tepat di bangku sebelah dia. Lebih parahnya lagi tadi Vian sudah bertanya kepada Julian tentang apakah Bryan datang atau tidak. Tetapi ternyata jawaban yang diberikan Julian berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Tuan Muda Witama itu.


Bryan melihat Julian yang sudah berdiri di podium untuk memaparkan tentang isi dari disertasi yang dibuatnya. Julian terlihat sangat siap sekali. Julian menatap wajah wajah yang ada di hadapannya. Mulai dari wajah dosen pembimbing, dosen penguji sampai dengan mahasiswa mahasiswi yang hadir dalam sidang terbuka disertasi tersebut.


'Ternyata dia tidak datang' kata Julian dalam hatinya saat melihat tidak ada Bryan di antara semua orang yang hadir untuk menyaksikan sidang terbuka disertasinya itu.

__ADS_1


__ADS_2