
"Sayang, besok kita bergi jalan ya. Rasanya udah terlalu lama kita tidak kemana mana. Kita berdua sibuk dengan pekerjaan saja setiap hari. Sampai sampai lupa untuk menghibur diri kita sendiri. Bagaimana kamu setuju tidak, kalau besok kita pergi jalan jalan" kata Bryan saat sedang duduk duduk dengan Julian di teras depan rumah saat mereka selesai makan malam.
Suatu kegiatan yang wajib mereka lakukan setiap malam minggu. Terkadang mereka di temani Felix dan Vian serta Kevin. Tetapi semenjak Kevin tidak tinggal di negara itu lagi, Felix dan Vian pun jarang terlihat berada di rumah Bryan dan Julian.
"Emangnya kita mau kemana jalan jalan?" tanya Julian yang semangat saat mendengar kata jalan jalan.
"Pantai gimana? Udah lama kita nggak ke pantai. Jadi pantai termasuk pilihan yang bagus juga untuk destinasi jalan jalan besok" Bryan mengatakan tujuan tempat mereka akan pergi jalan jalan.
"Yah jangan pantai lah sayang. Panas panas gini ke pantai. Nggak mau aku. Bagaimana kalau kita pergi jalan jalannya ke kebun teh aja. Sejuk mana aku ke sana juga belum pernah lagi. Jadi aku rasa jalan jalan kita kali ini lebih cocoknya ke pantai" jawab Julian yang tiba tiba ingin jalan jalan ke kebun teh. Julian memberikan semua alasan yang dirasa masuk akal kepada Bryan.
"Oke kebun teh. Kita berangkat jam tujuh ya dari rumah" lanjut Bryan membahas jadwal keberangkatan mereka menuju kebun teh.
"Bawa bekal makanan atau kita beli saja di sana apa yang kita mau?" tanya Julian menawarkan alternatif untuk masalah bekal makanan yang akan mereka makan di kebun teh.
"Maunya gimana?" tanya balik Bryan.
"Kalau bisa nggak bawa bekal. Nggak mampu rasanya untuk bangun pagi lagi. Sekali sekali bangun jam enam. Menikmati liburan. Lagian sekali kalinya jalan jalan masak pake bawa bekal nasi dari rumah. Nggak asik banget" jawab Julian sambil mengangkat alisnya memberikan kode kepada Bryan supaya setuju dengan ide dari dirinya.
"Gimana?" tanya Julian yang sebenarnya mau untuk masak tetapi sekali sekali mereka jalan keluar masak masih bawa bekal dari rumah.
"Beli aja nanti. Lagian di kebun teh itu lebih enak makan makanan yang panas panas" kata Bryan yang setuju dengan usulan Julian untuk membeli saja makanan dari luar dari pada dia harus masak makanan sebelum berangkat ke kebun teh.
"Nah di situ point pentingnya. Makan yang panas panas" kata Julian lagi sambil tersenyum.
"ya yang panas panas" balas Bryan sambil geleng geleng kepala melihat tingkah lucu istrinya itu.
"Kita naik motor kan perginya?" tanya Julian dengan semangat.
"Sepertinya nggak" jawab Bryan langsung saja tanpa berpikir panjang sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Julian kepada dirinya
"Kenapa nggak?" protes Julian yang sudah membayangkan bagaimana asiknya dia pergi jalan jalan pake motor dengan Bryan.
__ADS_1
"Pokok ya nggak aja. Nggak ada komentar lanjutan" jawab Bryan yang sudah memutuskan kalau mereka tidak akan pergi ke kebun teh dengan motor.
"Yah nggak asik. Terus mau pergi pake apa? Jalan kaki?" komentar Julian yang rasanya lebih menginginkan untuk pergi memakai motor dari pada mobil.
"Kita pakai mobil Kevin. Kebun teh itu jauh dari rumah kita sayang. Jadi nggak mungkin pake motor. Belum hujan lagi. Jadi lebih aman naik mobil Kevin" jawab Bryan lagi memberitahukan dengan kendaraan apa mereka akan pergi ke kebun teh yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka.
"Oh ya denger nama Kevin baru ingat. Tu anak kemana ya sayang. Lama banget rasanya nggak nengok wajah dia" tanya Julian yang tiba tiba ingat dengan Kevin salah satu sahabat dari Julian.
"Oh dia pindah kerja sayang. Makanya mobilnya di pinjamkan ke kita" jawab Bryan yang tidak berani menatap mata Julian saat mengatakan hal itu.
"Hah pindah? Kemana? Jauh?" brondongan pertanyaan diajukan oleh Julian kepada Bryan.
"Wow itu pertanyaan dari intel atau dari orang biasa aja sayang?" komplen Bryan kepada Julian yang memberikan pertanyaan terlalu banyak kepada dirinya.
"Haha haha haha. Pertanyaan lah itu. Cuma sedikit lebih banyak dari pada biasanya."
"Oke aku jawab satu satu ya sayang" kata Bryan sambil geleng geleng kepala karena pertanyaan dari Julian yang sangat banyak sekali.
"Jawaban pertama, Kevin pindah dari minggu kemaren. Pertanyaan kedua jauh sekali. Pertanyaan ketiga ke negara Francais" kata Bryan menjawab pertanyaan dari Julian yang sangat banyak sekali.
"Pantesan kenapa?" Bryan mulai kepo dengan maksud perkataan dari Julian yang memiliki ujung itu.
"Pantesan Vian sering bengong sekarang. Ternyata kekasihnya pergi jauh sekali" komen Julian dengan santainya.
"Emang Vian ada hati ke Kevin?" tanya Bryan yang mulai kepo dengan jawaban yang diberikan oleh Julian kepada dirinya.
"Yah kalau nggak ada rasa nggak akan mungkin dia bengong bengong kayak orang kesambet sesuatu gitu" komen Julian lagi.
Julian dalam beberapa hari ini memang memperhatikan Vian. Vian lebih sering bermenung selama ini. Vian seperti kehilangan gairah hidupnya. Ternyata penyebabnya adalah pindahnya Kevin ke negara luar, sehingga membuat mereka tidak bisa bertemu satu dengan yang lainnya.
"Tapi mereka berdua seperti kucing dengan anjing" kata Bryan yang sedang membayangkan bagaimana Vian dan Kevin bertemu yang akan selalu ribut, tidak pernah akur.
__ADS_1
"Yang namanya rasa ya kita nggak pernah tau datangnya kapan sayang. Seperti kita berdua ini. Mukanya saling tidak kenal terus menikah dan sekarang saling ketergantungan satu dengan yang lainnya" Julian menjelaskan kepada Bryan bagaimana rumitnya sebuah hubungan.
"Bener juga ya sayang. Sepertinya keputusan memindahkan Kevin ke negara Francais sedikit salah. Harusnya Felix dipindahkan" kata Bryan tanpa sadar sudah berkomentar yang salah di depan Julian.
"Emang kamu ikut andil memindahkan Kevin ke negara nun jauh di sana?" selidik Julian sambil menatap ke mata Bryan.
Bryan mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Julian. Bryan tidak sanggup menatap mata indah milik Julian.
"Bener kan kamu pasti ikut campur" ujar Julian sekali lagi.
"Parah ini main asal tuduh saja. Mana ada aku bisa ikut campur mempengaruhi keputusan orang orang yang di atas sana. Emang aku siapa" kata Bryan membela dirinya kalau dia tidak ikut campur dalam urusan pemindahan Kevin ke luar negeri.
"Terus kenapa ngomong kayak gitu tadi" tanya Julian yang masih belum puas akan jawaban yang diberikan Bryan kepada dirinya.
"Nggak ada asal ngomong aja. Tidur yuk udah malam" ajak Bryan yang tidak ingin melanjutkan obrolan yang dirasanya akan membuat dirinya berada dalam suatu jebakan yang tidak akan berujung.
"Yeeeee nggak asik banget. Masak sedang ngobrol ngajak tidur" tolak Julian yang nggak suka di ajak tidur oleh Bryan saat dirinya sedang mengobrol yang dirasanya penting dengan Bryan.
"Ngapain ngomongin orang. Itu namanya ghibah. Jadi mending tidur, besok tapi mau pergi jalan jalan." elak Bryan dengan memberikan alasan yang dirasa oleh Julian masuk di akal.
"Ya ya ya ya. Setuju. Mari kita tidur. Lagian aku juga nggak tau apakah Vian beneran suka sama Kevin atau tidak" jawab Julian yang akhirnya ikut ajakan Bryan untuk tidur.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Sayang udah siap belum?" teriak Bryan dari arah ruang tamu ke arah kamar.
"Bentar sayang, dikit lagi" jawab Julian yang masih melanjutkan sedikit lagi riasan nya.
"Kamu tanpa makeup saja sudah cantik sayang. Jadi nggak usah dandan lagi" balas Bryan masih dari ruang tamu.
Julian sama sekali tidak menyahut teriakan dari Bryan. Julian tetap konsentrasi dengan setiap riasan yang sedang dibubuhkannua di wajah cantiknya itu. Julian melakukan semuanya dengan sangat hati hati.
__ADS_1
"Selesai" kata Julian.
Julian menatap ke arah wajahnya. Dia tersenyum dan merasa puas dengan riasan nya hari itu. Julian terlihat sangat cantik sekali. Dia memang sangat jarang memakai riasan full, tapi karena kali ini dia akan jalan berdua dengan Bryan, maka Julian harus tampil maksimal. Dia tidak mau kalah saing dengan Bryan yang tampan dan ganteng itu.