Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #73


__ADS_3

Vian yang melihat Julian sudah berjalan, mulai mengikuti Julian dari belakang. Sedangkan karyawan wanita yang luar biasa perangainya itu sudah berjalan di belakang manager. Karyawan wanita itu terlihat berbicara kepada manager personalia, tetapi manager sama sekali tidak memberikan tanggapan apa apa kepada karyawan wanita tersebut.


"Loe ngapain jalan di belakang gue? Kayak ajudan dan asisten pribadi gue aja" tanya Julian saat melihat Vian berjalan di belakangnya, apalagi Vian sedang sibuk main ponselnya seperti seorang asisten yang sedang mengkonfirmasi kerja dari atasannya.


"Kan gue memang asisten loe" ujar Vian keceplosan. Vian sama sekali tidak mengerem mulutnya untuk mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan oleh dirinya itu.


"Maksud loe apaan? Asisten asisten segala. Gue rekan kerja loe sekaligus sahabat loe, bukan asisten loe. Asiten,emangnya gue CEO atau Nyonya Nyonya berduit yang kemana mana pake asisten. Seperti Nyonya yang kemaren dulu ribut dengan gue itu" ujar Julian meluruskan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya sebentar ini. Julian memang meluruskan, tapi luar biasa panjangnya sehingga lumayan sulit juga bagi Vian untuk mengurai nya menjadi sebuah catatan Nan ringkas.


"Hehe hehe hehe, maaf maaf, gue sedang tidak konsentrasi. Makanya gue asal jawab aja perkataan loe tadi" jawab Vian lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keceplosan nya tadi hampir membuat sebuah masalah baru yang harus diselesaikannya saat ini.


"Ye lah yang sedang tidak berkonsentrasi" kata Julian yang malas membahas lebih lanjut perkara kata asisten.


"Loe ngapain sibuk banget kayaknya?" tanya Julian kembali saat melihat Vian yang sibuk dengan ponsel miliknya.


"Bentar gue ada urusan. Urusan yang tidak bisa ditunda lagi yang harus gue selesaikan sekarang" jawab Vian tanpa melihat kearah Julian


Vian terlihat sedang memegang ponsel miliknya. Dia seperti sedang mengetik sesuatu di sana. Suatu hal yang sangat penting. Wajah Vian menunjukkan kalau dirinya sedang sangat serius dan tidak bisa diganggu. Julian pun memutuskan untuk tidak mengganggu Vian dulu. Julian membiarkan Vian sibuk dengan urusannya saat ini.


'Jadi gimana Nyonya muda?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix setelah Vian menceritakan semua kejadian yang menimpa Julian tadi di ruang makan.


'Sekarang belum tau keputusannya. Ini sedang jalan ke ruang manager HRD. Semoga aja nggak terjadi apa apa di saja' balas Vian kepada Felix.


'Monitor terus' perintah Felix kepada Vian.


'Siap' balas Vian dengan satu kata saja.


Mereka berempat akhirnya sampai di depan pintu ruangan manager HRD. Mereka akan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kalian berdua silahkan masuk. Sedangkan kamu tunggu di sini saja" kata manager memberikan perintahnya kepada Julian, Vian dan karyawan wanita yang mencari masalah dengan Julian tadi


"Saya juga masuk Pak. Saya kan berada di ruangan itu juga tadi. Kenapa saya tidak diajak untuk masuk" tolak Vian dengan keras kepalanya. Vian tidak ingin ketinggalan satu berita pun dari Nyonya mudanya itu. Apalagi kalau didalam terjadi sesuatu terhadap Julian, bisa habis dirinya dibuat oleh Bryan, Felix dan Kevin.


"Tidak bisa. Kamu tetap duduk di sini, atau kembali bekerja keruangan kamu" jawab manager tersebut tidak kalah kerasnya dengan Vian.


"Saya ada di sana saat kejadian. Jadi, saya harus masuk. Saya tidak akan berada di sini, apalagi di ruang kerja saya" kata Vian yang sudah semakin emosi saat mendengar penolakan dari manager personalia tersebut.


"Saya bilang tidak ya tidak. Tidak ada bantahan apapun" balas manager semakin emosi. Manager terpancing emosinya gara gara Vian yang juga emosi. Mereka berdua saling beradu pandang satu dengan yang lainnya.


Vian terlihat masih ingin beradu argumen dengan manager tersebut. Tetapi di tahan oleh Julian. Julian menggeleng meminta Vian untuk diam dan tidak meneruskan perdebatan yang tidak penting tersebut.


"Oke oke oke" kata Vian lagi yang tentunya pasti akan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Vian pasti tidak akan membantah sedikitpun apa yang diminta oleh Julian kepada dirinya.


Manager, Julian dan karyawan wanita masuk ke dalam ruangan manager HRD. Ternyata di dalam ruangan, manager HRD sudah berada di sana dan sudah menunggu mereka dari tadi.

__ADS_1


"Silahkan duduk" ujar manager HRD dengan sangat ramah.


Mereka bertiga kemudian duduk di sofa yang ada di ruang kerja manager HRD itu. Julian duduk bersisian dengan karyawan wanita yang cari masalah dengan dirinya. Sedangkan Manager personalia duduk di sebelah manager HRD.


"Bisa jelaskan kepada saya apa yang terjadi?" tanya manager HRD yang merupakan seorang wanita dengan penampilan yang luar biasa. Penampilan dari seseorang wanita karier yang sukses dan bijaksana.


Karyawan wanita yang cari ribut dengan Julian langsung saja berbicara. Dia tidak mau Julian yang duluan bercerita sehingga membuat manager HRD lebih percaya kepada Julian dari pada ke dirinya.


Manager mendengar apa yang dikatakan oleh karyawan wanita itu. Manager mengangguk anggukkan kepala saat karyawan wanita itu sedang berbicara. Karyawan wanita yang melihat bagaimana reaksi dari manager HRD semakin yakin kalau manager sudah mempercayai cerita versi dirinya.


"Begitu ceritanya manager" kata Karyawan wanita saat sudah selesai menceritakan apa yang terjadi menurut versi dirinya.


"Oh Oke. Saya Terima, cerita versi kamu. Julian silahkan ceritakan bagaimana cerita menurut versi kamu" kata manager yang sekarang mempersilahkan Julian untuk bercerita menurut versi dirinya.


Julian kemudian menceritakan tentang kejadian yang terjadi tadi di ruang makan menurut versi dirinya. Dia bercerita dengan santai tanpa terlihat unsur unsur berlebihan di sana. Berbeda dengan apa yang diceritakan oleh karyawan wanita itu.


"Segitu saja Julian?" tanya manager HRD kepada Julian saat Julian menyelesaikan ceritanya.


"Ya, kejadiannya memang seperti itu. Tidak ada yang harus saya lebih lebihkan dan saya kurangi" jawab Julian dengan santainya mengomentari apa yang ditanyakan oleh manager kepada Julian.


Manager HRD terdiam. Dia menatap Julian dengan sangat seksama. Mata manager HRD tidak lepas dari memandang seorang Julian. Julian sedikit merasa risih dengan pandangan lekat manager HRD kepada dirinya. Julian paling tidak suka di tatap seperti itu oleh siapapun. Kecuali oleh Bryan suami yang paling dicintainya.


'Kenapa saya seperti sudah biasa menatap wajah cantik yang berada di depan saya ini sekarang? Apa saya mengenalnya?' kata manager HRD dalam hati dan pikirannya. Dia masih menatap lekat ke wajah Julian.


'Ah mungkin hanya tanggapan saya saja karena sudah terlalu lama tidak melihat dia dan mendengar keadaannya sekarang' kata manager HRD berusaha menolak dengan halus apa yang ada di dalam pikirannya saat ini


"Jadi bagaimana manager, siapa yang akan diberikan ganjaran atas keributan yang terjadi di ruang makan?" tanya manager yang membawa Julian dan karyawan wanita itu ke ruangan manager HRD.


Manager HRD terdiam. Dia sudah mendapatkan keputusan yang paling tepat sekarang ini. Dia tinggal mengeksekusi saja keputusan itu.


"Julian, kamu bisa tunggu di luar saja. Saya mau berbicara dengan karyawan ini" kata manager HRD kepada Julian sambil sedikit memberikan senyumannya.


"Baik bu" jawab Julian tampa bertanya kenapa dirinya diminta keluar dari ruangan itu, sedangkan karyawan wanita tersebut masih berada di dalam ruangan.


Julian kemudian berjalan ke luar dari dalam ruangan. Dia akan menunggu keputusannya di ambil di luar saja.


"Udah selesai?" tanya Vian saat melihat Julian sudah keluar dari dalam ruangan HRD.


"Tapi wanita sialan itu kemana dia? kenapa dia tidak keluar juga?" tanya Vian yang semakin panjang dan semakin banyak.


Julian tidak langsung menjawab pertanyaan dari Vian. Dia memilih untuk duduk di sebelah Vian sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian tadi.


"Kenapa diam aja Julian. Jawab pertanyaan gue." kata Vian dengan berusaha menahan emosinya.

__ADS_1


Vian emosi bukan karena Julian, melainkan karena Felix dan Kevin yang terus saja merongrong dirinya dengan isi pesan chat yang sama sejak mereka tau kalau Julian sedang dalam posisi bermasalah seperti sekarang ini.


"Belum selesai." jawab Julian


"Terus kenapa loe keluar?" tanya Vian lagi


Julian kemudian menceritakan kepada Vian, apa saja yang dilakukannya di dalam ruang kerja manager HRD. Mulai dari manager HRD meminta mereka bercerita, sampai dengan manager HRD meminta dirinya untuk keluar dan menunggu di ruang tunggu.


"Nah itu dia ceritanya, makanya gue duduk di sini sekarang" ujar Julian memberitahukan kepada Vian, kenapa dirinya bisa duduk di dekat Vian sekarang ini.


"Hem semoga aja tu manager bijak dan bisa menemukan siapa yang salah sebenarnya" kata Vian.


Mereka berdua sama sama terdiam sekarang. Julian dan Vian sibuk dengan pikiran mereka masing masing saat ini.


"Julian masuk" panggil seorang karyawan bagian HRD meminta Julian untuk masuk ke dalam ruangan HRD.


"Gue ke dalam dulu ya. Loe harus doakan gue selamat" ujar Julian meminta Vian ikut mendoakan dirinya.


"Aman" jawab Vian lagi.


Julian kemudian masuk kembali ke dalam ruangan HRD. Dia sekarang sudah duduk di sofa tempat dirinya tadi duduk. Julian sedikit melihat ke arah karyawan wanita yang sekarang sudah tidak seceria tadi. Karyawan wanita itu menundukkan kepalanya dalam dalam. Seperti sedang menyesali sesuatu.


'Apa yang terjadi tadi?' tanya Julian dalam hatinya saat melihat bagaimana keadaan karyawan wanita itu. Keadaannya berbanding terbalik dengan yang sebelum Julian keluar dari dalam ruangan HRD.


"Julian, saya sudah mengambil keputusan. Saya sudah tau semua cerita yang sebenarnya" kata manager HRD mulai membuka pembicaraan tersebut.


"Saya sudah bertanya langsung kepada, siapa nama anda tadi? Maaf saya lupa" kata manager HRD menanyakan kembali nama wanita tersebut.


"Ranti, manager" jawabnya menyebutkan namanya kepada manager itu


"Ya, saya tadi sudah menanyakan kepada Ranti. Ranti sudah menjelaskan semuanya kepada saya. Sekarang saya sudah tau siapa yang salah" kata manager menjelaskan kepada Julian.


"Sekarang saya mau bertanya kepada kamu Julian. Apa hukuman yang mau kamu berikan kepada Ranti, karena dia sudah memfitnah kamu" kata manager yang langsung saja menanyakan hukuman yang akan diberikan oleh Julian kepada Ranti.


Julian menatap ke arah manager. Julian tidak menyangka kalau manager akan mempercayai dirinya dari pada karyawan wanita yang ternyata bernama Ranti itu.


"Saya tidak akan memberikan hukuman berupa fisik atau apapun itu." jawab Julian dengan wajah datarnya. Wajah yang hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang pernah merasakan menjadi orang yang terpenting, terkaya pokoknya semua yang ter.


"Saya hanya ingin dia menceritakan apa yang terjadi kepada semua orang yang ada di kantin. Saya mau dia mengatakan apa latar belakang yang membuat dia harus berbohong seperti itu" kata Julian kepada manager HRD.


Manager HRD paham dengan apa yang diinginkan Julian. Sebuah keinginan yang bisa diambil oleh seseorang yang berpikiran matang dan tidak mengutamakan emosi melainkan sebuah pembelajaran bagi orang yang melakukan sebuah kesalahan. Sebuah kepintaran dan pengendalian emosi yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan


"Baiklah Julian. Saya akan memberikan pengumuman untuk semua orang yang tadi makan siang dikantin untuk berkumpul di kantin kembali sekarang" ujar manager yang setuju dengan apa yang diinginkan oleh Julian.

__ADS_1


Hukuman yang sebenarnya lebih berat dari pada hukuman fisik yang dikatakan oleh Julian tidak ingin dilakukan oleh dirinya. Julian sangat cerdik sekali dalam memilih hukuman yang akan diberikannya kepada Ranti. Hukuman yang terlihat gampang tetapi sangat susah untuk dilakukan. Hukuman yang juga bisa disebut sebagai hukuman sosial.


__ADS_2