Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #86


__ADS_3

"Julian, gue hari ini sepertinya nggak bisa ngantar loe pulang. Maaf ya" kata Vian saat mereka baru selesai istirahat untuk makan siang.


Julian mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Vian. Tumben tumben nya sahabatnya ini tidak bisa mengantarkannya pulang ke rumah seperti biasanya.


"Tumben? Loe ada urusan mendadak?" tanya Julian yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.


"Iya, gue mau jemput teman gue yang baru datang dari luar negeri ke bandara. Pesawatnya mendarat jam setengah empat" Vian menjelaskan kepada Julian alasan kenapa dirinya tidak bisa mengantarka Julian ke rumahnya saat pulang kerja seperti biasanya.


"Oh Oke. Nggak apa apa, gue akan minta Bryan untuk jemput gue nanti pas pulang kerja." Jawab Julian yang paham sekali kali setiap pasti ada urusan pribadi masing masing, sehingga terkadang tidak harus bersama terus.


"Makasi Julian" kata Vian sangat senang karena izinnya dikabulka oleh Julian. Seandainya Julian mengatakan dia akan ikut ke bandara, maka Vian tidak akan pergi menjemput orang yang akan di jemputnya ke bandara itu.


Vian kemudian mengirim sebuah pesan kepada orang yang akan ditemuinya itu. Dia tidak mau orang itu menunggu balasan kepastian dari Vian yang lama.


Julian yang melihat vian sedang sibuk dengan ponselnya juga memilih untuk menghubungi Bryan suaminya. Dia akan meminta Bryan untuk menjemputnya pulang


"Tumben Julian nelpon siang siang begini? Apa dia sakit ya? Atau ada sesuatu yang terjadi saat dia bekerja? " kata Bryan saat melihat di layar ponsel miliknya siapa yang menghubunginya siang siang begini.


Tania melihat kegelisahan dari Kakak laki lakinya itu. Hal baru yang tidak pernah di lihat oleh Tania selama ini. Akhirnya saat Bryan benar benar jatuh cinta, semua ekspresi yang dimiliki oleh Bryan keluar semua sekarang


"Hallo sayang, ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan kamu? Kalau iya aku jemput sekarang ke sana" kata Bryan yang langsung menyapa Julian dengan nada cemas yang nggak bisa ditutup tutupi nya sama sekali.


Julian hanya bisa geleng geleng kepala saja dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Bryan terlihat sangat cemas sekali dengan kondisi Julian saat ini.


"Bisa jemput aku pulang kerja nanti?" tanya Julian yang langsung menyampaikan apa tujuannya menghubungi Bryan siang siang begini.


Huft, Bryan menghembuskan nafas yang sudah di tahannya dari tadi. Dia lega saat mendengar perkataan dari Julian. Dia tidak menyangka kalau Julian hanya memintanya untuk menjemput saat pulang kerja.


Felix yang semula ikut terbawa cemas melihat Tuan mudanya itu cemas, akhirnya juga lega saat melihat Bryan menghembuskan nafasnya dengan sangat lega sekali.


"Bisa sayang. Aku akan sampai sebelum jam lima di perusahaan kamu." jawab Bryan lagi tanpa berpikir panjang memutuskan untuk menjemput Julian pulang dari kerjanya.

__ADS_1


"Makasi sayang. Aku kerja dulu ya. Nanti aku kabari lagi" ucap Julian yang berniat mengakhiri panggilan telpon dengan Bryan.


"Eh bentar sayang, Vian kemana?" tanya Bryan menanyakan pengawal pribadi Julian yang biasanya mengantar Julian pulang


"Vian, dia jemput temannya ke bandara sayang. Makanya dia ndak bisa nganter aku pulang ke rumah. Dia harus ke bandara secepatnya" kata Julian menjelaskan kemana perginya Vian sahabatnya itu.


"Oh baiklah sayang, aku akan jalan sejak setengah lima ke sana" kata Bryan.


"Oke sayang, aku akan tunggu kamu di sini. Hati hati nanti di jalan ya, jangan ngebut, jangan bengong" ujar Julian yang selalu menitip hal yang sama.


"Jangan lihat ke arah wanita lain" lanjut Bryan.


"Haha haha haha. Mantap" jawab Julian tertawa bahagia mendengar lanjutan dari apa yang biasa dikatakan oleh dirinya.


Julian memutuskan panggilannya dengan Bryan. Dia kemudian menatap ke arah Tania yang terbengong saat mendengar kalimat terakhir dari Bryan tadi.


"Kenapa bengong?" tanya Bryan kepada adiknya itu.


"Jangan lihat wanita lain" jawab Tania kembali mengulang apa yang dikatakan oleh Bryan kepada Julian tadi.


"Oh Oke oke oke. Gue nggak akan bantah lagi. Kalau udah bucin ya akan tetap bucin. Tapi baguslah" ujar Tania yang nggak mau melanjutkan perdebatan dengan Bryan hanya gara gara satu kalimat itu saja.


"Bucin ke istri sendiri kan nggak masalah" jawab Bryan yang nggak mau kalah dengan terus menjawab setiap pertanyaan dan perkataan dari Tania.


"Vian kemana Kak, biasanya bukannya Vian yang selalu mengantarkan dan memastikan kakak ipar selamat sampai di rumah?" tanya Tania yang heran kenapa tidak Vian yang mengantarkan Julian pulang seperti biasanya.


"Kata Julian, vian ke bandara menjemput temannya pulang dari luar negeri" kata Bryan menyebutkan kemana perginya Vian sehingga tidak bisa mengantarkan Julian pulang ke rumah.


"Oh. Emangnya kakak percaya Vian punya kawan dari luar negeri?" tanya Tania yang sedikit ragu dengan alasan dari Vian kepada Julian.


"Maksud kamu Vian berbohong?" tanya Bryan kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Bisa jadi" jawab Tania dengan santainya


Felix geleng geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Tania. Tania masih bersikap selalu memiliki pemikiran negatif ke orang lain. Hal inilah yang membuat Felix menjadi sedikit tidak suka kepada dik bungu Tuan mudanya itu.


"Tuan muda, saya tau siapa yang ditunggu kedatangannya oleh Vian. Saya sudah di kirimi pesan oleh Vian, sebelum Vian meminta izin kepada Nyonya muda" kata Felix yang tidak mau anak buahnya menjadi orang yang disalahkan oleh nona muda Witama itu.


"Emang dia mau jemput siapa?" tanya Bryan yang ternyata juga ingin tau siapa yang dijemput oleh Tania ke bandara.


"Orang tuanya. Orang tuanya datang dari luar negeri" jawab Felix memberitahukan kepada Bryan siapa yang akan dijemput oleh Vian ke bandara.


"Terus kenapa dia ngomong ke Julian kalau mau jemput temannya?" kali ini Tania yang bertanya kepada Felix.


"Maaf Nona muda, Vian memperkenalkan dirinya kepada Nyonya muda sebagai seorang wanita yang sudah tidak punya keluarga lagi. Makanya Vian tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Nyonya muda" kata Felix menjelaskan kepada Tania kenapa Vian sampai harus berbohong kepada Julian.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Tania lagi.


"Untuk menjaga kerahasiaan. Lagian itu juga sudah prosedur dan ketentuan menjadi pengawal di keluarga Witama" jawab Felix dengan menatap lurus ke arah Tania.


"Oh" komentar Tania.


"Kakak, aku rasa urusan aku di sini sudah selesai. Aku pulang dulu ya" kata Tania berpamitan kepada Bryan.


"Sip. Hati hati pulang jangan banyak main di jalan" kata Bryan lagi berpesan kepada adiknya itu.


"Main di jalan, emangnya anak anak. Titip salam untuk kakak ipar. Katakan kapan kapan ketemu gue lagi" ujar Tania sambil melambaikan tangan.


"Kapan kapan di sampaikan kalau Julian sudah tau siapa gue sebenarnya" ujar Bryan menjawab permintaan dari Tania.


"Haha haha haha. Salah pesan gue ternyata" komentar Tania sebelum dirinya menutup pintu ruang kerja Bryan.


Semua urusan ingin tahunya tentang siapa Julian dan bagaimana kakak laki lakinya itu bisa menikah dengan Julian sudah di dapatkannya. Bahkan satu berita yang luar biasa membuat dirinya terkejut juga sudah didapatkan oleh Tania. Jadi semua masalah sudah jelas sekarang berasal dari siapa.

__ADS_1


"Hanya tinggal ngomong dengan Papi, apa kejadian yang sudah terjadi, biar Papi tau semuanya" kata Tania saat dirinya berada di dalam lift yang akan mengantarkan Tania menuju mobil yang di parkirnya di bestman perusahaan Witama Grub. Perusahaan yang sebenarnya Tania harusnya menjadi wakil direktur di sana. Tetapi karena Tania ingin meraih cita citanya menjadi dokter, membuat posisi itu kosong sekarang. Papi rencananya akan memberikan jabatan itu kepada salah satu menantu keluarga Witama keesokan harinya.


"Oh ya Felix tadi loe ngomong ada masalah serius yang mau loe bahas dengan gue. Kalau gue boleh tau, masalah apa itu?" tanya Bryan yang baru ingat dengan maksud dan tujuan Felix datang ke perusahaan tanpa di undang atau diminta oleh Bryan.


__ADS_2