Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #17


__ADS_3

Brak, pintu ruang kerja Bryan kembali terbuka dengan sangat keras. Bryan yang sedang membaca dokumen perusahaan sama sekali tidak mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Bryan sudah tau siapa yang datang dengan gayanya yang seperti itu. Sehingga kedatangan orang itu tidak perlu dilihat oleh Bryan. Bryan juga sudah tau apa maksud dari kedatangan orang tersebut.


"Hay, tuan muda, kenapa tidak menyambut kedatangan mami kamu ini?" kata Mami yang sudah berdiri di depan meja kerja Bryan dengan tatapan penuh amarah.


"Selagi Mami masih masuk ke dalam ruang kerja aku dengan gaya Mami seperti itu, maka jangan harap aku akan menyambut Mami dengan tangan terbuka" jawab Bryan dengan tanpa mengangkat kepalanya sama sekali untuk melihat ke arah Mami. Padahal dulunya Bryan terkenal sebagai anak yang sangat sopan terhadap kedua orang tuanya.


Mami terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh putranya itu. Putra yang selama enam bulan ini ditunggu tunggu kepulangannya ke mansion utama keluarga Witama. Tetapi jangankan untuk pulang, lewat depan mansion utama saja Bryan tidak pernah.


"Kenapa kamu berubah Bryan?"


"Siapa orang yang sudah mencuci otak kamu?" tanya Mami bertubi tubi kepada Bryan.


"Kamu dulunya sangat hormat dengan Mami, sekarang semenjak kamu tinggal di luar, kamu menjadi kurang ajar sama Mami" tambah Mami dengan emosi.


"Makanya Bryan lebih baik kamu tinggal bersama kami. Kamu lebih terjaga dan tidak bersikap seperti ini."


"Mami sangat kecewa sama kamu. Kamu sangat jauh berubah semenjak tinggal di luar sana" lanjut Mami dengan nada tinggi dan penuh kemarahan serta kekecewaan terhadap reaksi yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.


Bryan diam saja mendengar semua perkataan yang dikeluarkan oleh Mami. Bryan sama sekali tidak memberikan tanggapan. Bryan membiarkan antara hati dan pikirannya bertengkar. Bryan lebih memilih untuk egonya yang menang kali ini.


"Sekarang Mami minta kamu pulang ke mansion utama. Kalau tidak maka" kata Mami sengaja menggantung ucapannya. Mami ingin membuat Bryan teralihkan dari pekerjaannya, makanya Mami dengan sengaja menggantung ucapannya itu.


"Kalau tidak apa Mami?" Bryan menyambar ucapan Mami nya.


"Kalau tidak aku akan Mami usir dari rumah dan dari perusahaan?" kata Bryan yang mengeluarkan ancaman yang seharusnya Mami yang mengeluarkan dari mulut Mami.


Mami cukup lama termenung mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan. Bryan benar benar sudah berubah sekarang. Dia tidak lagi Bryan yang dikenal oleh Mami selama ini.


Mami yang rencananya mau duduk di sofa ruang tamu ruang kerja Bryan membatalkan niatnya. Mami melangkahkan kembali kakinya keluar dari ruangan itu. Mami merasa dirinya tidak bisa lagi berlama lama di sana untuk menantikan perkataan dari Bryan selanjutnya.


Bryan melihat apa yang dilakukan oleh Mami. Tetapi dia sama sekali tidak menahan langkah kaki Mami. Bryan membiarkan saja orang tua perempuannya itu pergi dari ruangannya.


'Maafkan Bryan Mi' ujar Bryan dalam hatinya menatap kepergian wanita yang sangat dihormati dan dicintainya itu. Cinta pertama Bryan kepada seorang wanita.


'Kamu benar benar sudah berubah Bryan.' kata Mami saat sudah sampai di depan pintu ruang kerja Bryan.


Mami cukup lama berdiri di sana. Mami berharap Bryan memanggil dirinya kembali. Sehingga Mami ada alasan untuk kembali masuk ke dalam ruangan Bryan. Tetapi setelah sekian detik Mami menunggu, Bryan sama sekali tidak memanggil Mami.

__ADS_1


'Mami akan buat kamu pulang ke mansion utama Bryan. Jangan sebut aku Nyonya besar Witama kalau aku tidak bisa membawa kamu pulang secepatnya' kata Mami sambil berjalan meninggalkan ruang kerja Bryan.


Mami membiarkan saja pintu ruang kerja itu terbuka. Mami sengaja tidak menutup pintu ruang kerja itu, supaya Bryan masih bisa melihat saat Mami melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut.


Tetapi yang namanya Bryan sudah kadung kesal dengan Mami, Bryan tidak melakukan apa yang diinginkan oleh Mami. Bryan membiarkan saja Mami pergi dari hadapannya. Dia sama sekali tidak ingin mencegah Mami.


Kevin melihat semua kejadian tersebut. Tetapi Kevin tidak bisa berbuat apa apa. Bryan sudah memutuskan apa yang akan dilakukan oleh dirinya. Sehingga siapapun itu tidak akan bisa mengubah keputusan Bryan.


"Nyonya besar juga sama, masak memaksakan kehendak terus. Sudah jelas tuan muda sudah dewasa. Masak masih dipaksa paksa untuk menikah dengan wanita pilihan nyonya besar" ujar Kevin dalam hatinya.


"Memang susah jad orang kaya. Untung gue terlahir dari keluarga biasa saja" lanjut Kevin dengan menatap nanar ke arah sahabatnya yang masih menatap kepergian lift yang mengantarkan nyonya besar ke lobby perusahaan.


"Tapi kalau Tuan Muda membawa nona muda sekarang ke mansion. Maka sudah bisa dipastikan Nona muda tidak akan diterima oleh keluarga Witama."


"Mereka benar benar menjaga jodoh dari anaknya masing masing. Mereka tidak mau anak mereka berjodoh dengan orang biasa saja"


"Huft susah"


Kevin yang sedang mengasihani Tuan mudanya itu terkejut saat ponsel miliknya bergetar di dalam saku celana.


'Tuan muda baik baik saja kan Kev?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada Kevin.


'Gue tadi melihat Nyonya besar datang dan marah marah ke Tuan Muda' jawab Felix.


Felix memang memiliki akses untuk melacak CCTV perusahaan. Semua ruangan yang ada di perusahaan Felix memiliki semua akses CCTV.


'Ya begitulah. Loe tau sendirilah kan ya bagaimana nya Nyonya besar' balas Kevin


'Ya. Semoga Tuan Muda sabar'


'Loe sedang ngapain Felix' tanya Kevin.


'Sedang duduk di depan kampus Nona Muda. Sekarang giliran Vina yang jaga' balas Felix.


'Oke. Gue kerja dulu. Kalau loe sayang sama nyawa loe, loe harus jaga Nona muda sebaik baiknya' pesan Kevin kepada sahabatnya itu.


'Siap bro. Gue nggak akan mengecewakan Bryan. Loe juga hati hati kerja. Loe tau sendirikan bagaimana Bryan kalau sudah tidak mood'

__ADS_1


'Siap' balas Kevin


Felix kembali menatap ke arah kampus Julian. Dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari kampus itu. Setiap perkataan dari Julian akan selalu terdengar oleh Felix. Alat pelacak yang di taruh Felix masih bekerja dengan sangat bagus.


.......................................


"Beneran Pak saya bisa sidang tugas akhir salam minggu besok?" tanya Julian kepada pembimbing tugas akhirnya.


"Ya, tugas akhir kamu sudah sempurna. Saya akan acc tugas akhir ini besok, tetapi kamu perbaiki beberapa yang saya garis ini" lanjut dosen pembimbing.


"Siap Pak. Nanti malam akan saya kejar perbaikannya. Besok pagi saya akan serahkan kembali perbaikannya ke Bapak"


Julian benar benar bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh dosen pembimbingnya. Pekerjaan dan usahanya semalaman membuahkan hasil. Dia bisa sidang tugas akhir dalam minggu besok.


"Kalau begitu saya pamit Pak. Besok pagi pagi sekali saya akan langsung menemui Bapak dan menyerahkan perbaikannya. Sekali lagi terimakasih Bapak" ujar Julian yang berkali kali mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing.


Dosen pembimbing tersenyum mendengar ucapan terimakasih Julian yang berkali kali itu. "Semangat Julian. Kamu akan menjadi mahasiswa pertama yang menamatkan perkuliahan ini dengan begitu cepat" kata dosen pembimbing memberikan semangat kepada Julian.


"Terimakasih Pak"


Julian kemudian keluar dari dalam ruang dosen pembimbingnya itu. Dia berjalan dengan bibir yang terus tersenyum. Semua orang yang ada di ruangan dosen tersebut di sapanya dengan sangat ramah.


"Vin, gue berhasil" ujar Julian berteriak gembira ke arah sahabat satu satunya itu.


"Serius loe berhasil?" tanya Vina kembali.


"Ya. Apa loe meragukan kemampuan gue?" Julian balik bertanya.


"Sama sekali tidak. Aku sangat tau bagaimana kemampuan sahabat gue ini. Apapun yang sudah loe targetkan pasti bisa loe capai"


"Gue sangat senang mendengarnya. Bagaimana kalau gue traktir loe makan siang sekarang di kafe baru yang ada di ujung jalan?"


"Oke. Tapi kok kebalik ya. Kok loe yang traktir gue. Padahal yang seharusnya traktir gue" kata Julian yang nggak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Vina sebentar ini.


"Hahaha hahaha. Anggap aja ini sebagai ucapan selamat dari gue. Nah besok pas loe wisuda, baru loe traktir gue. Gimana?" Vina balik memberi saran kepada Julian.


"Setuju. Mari jalan"

__ADS_1


Kedua wanita cantik itu berjalan meninggalkan kampus. Felix yang sudah mendengar pembicaraan antara Julian dan Vina mulai bergerak meninggalkan tempat dia selama ini duduk memantau keadaan Nona mudanya tersebut.


"Nona muda beneran keren. Dia bisa tamat magister nya lebih cepat dari pada waktunya. Otaknya benar benar jenius." puji Felix.


__ADS_2