Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #99


__ADS_3

"Baiklah, gue harus nelpon Felix duluan. Kali ini memang gue yang salah bukan Felix." kata Bryan saat panggilan telponnya dengan Julian diakhiri oleh Julian.


"Bener apa yang dikatakan oleh Julian. Aku semenjak mengenal dirinya sudah terlalu mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Suatu hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan. Aku benar benar khilaf" lanjut Bryan berkata sendirian.


Bryan mencari nomor Felix di ponselnya. Dia harus menghubungi sahabatnya itu sekarang juga. Bryan tidak mau egonya membuat kerugian untuk perusahaan dan waktunya bekerja di pulau Balis.


Bryan menunggu panggilan tersambung dengan Felix. Panggilan pertama tidak diangkat oleh Felix. Bryan mencoba panggilan kedua untuk menghubungi Felix. Tetapi hasilnya tetap sama.


"Dia sepertinya benar benar marah ke gue. Makanya sampai tidak mau angkat panggilan dari gue lagi" ujar Bryan yang sudah menyerah untuk menelpon Felix


Bryan duduk termenung sendirian. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi untuk bisa menelpon Felix. Dia tidak mungkin meminta bantuan ke Kelvin untuk bisa menghubungi Felix. Bisa habis dia di olok olok Kevin nantinya.


"Felix, loe marah kayak perempuan" ujar Bryan setengah kesal melihat bagaimana Felix yang sedang marah.


"bikin pusing gue aja loe jadi orang" lanjut Bryan memmaki maki sendirian sahabatnya itu.


Saat Bryan sedang duduk dan memikirkan bagaimana cara dia menghubungi Felix dan mendapatkan dokumen yang harus dipelajarinya itu. Tiba tiba pintu kamar Bryan di ketuk dari luar. Bryan melihat seorang office boy berdir di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Bryan dari dalam kamar melalui speaker yang tersambung dengan alat pengeras suara yang ada di luar pintu kamar.


"Saya diminta untuk mengantarkan dokumen kepada Anda Tuan Muda" ujar office boy mengatakan keperluannya yang mendatangi kamar Bryan.


"Baiklah" ujar Bryan.


Bryan kemudian berdiri dari sofa yang didudukinya itu. Sebenarnya Bryan sangat malas untuk membuka pintu kamarnya. Tetapi office boy itu mengatakan dia akan mengantarkan sebuah dokumen. Bryan heran dengan dokumen yang akan dikirimkan.


"Maaf Tuan Muda, saya telah mengganggu istirahat Tuan muda" kata office boy meminta maaf kepada Bryan. Wajah Bryan benar benar tidak bersahabat kali ini.


"Hem" ujar Bryan memberikan tanggapan sekenanya saja.


"Maaf Tuan Muda, ini dokumen yang mau saya antarkan tadi" ujar office boy sambil menyerahkan dokumen yang berada di dalam amplop coklat.


"Terimakasih" jawab Bryan.


Bryan kemudian menutup pintu kamarnya kembali. Dia melihat lihat amplop coklat yang sekarang berada di tangannya itu.


"Kenapa nggak ada alamat pengirimnya?" ujar Bryan setelah memeriksa semua sisi amplop mencari siapa pengirim dokumen itu.


Bryan yang sedang fokus dengan tujuannya mendapatkan dokumen perusahaan lebih memilih menaruh amplop coklat itu di atas kopernya. Dia tidak berminat untuk memeriksa apa isi amplop coklat itu.

__ADS_1


Tok tok tok. Terdengar kembali bunyi ketukan di pintu kamar. Bryan menatap kesal ke arah pintu kamar itu.


"Siapa lagi cobak yang datang" ujar Bryan setengah kesal.


Dia sedang butuh ketenangan, tetapi keadaan tidak mendukung dirinya. Sama sekali. Bryan benar benar tidak suka dengan kondisi itu.


Tok tok tok. Seseorang yang berada di depan pintu kamar Bryan juga tidak menyerah untuk mengetuk pintu kamar. Dia terus saja mengetuk pintu kamar Bryan.


"Huft" Bryan menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia sangat kesal sekali sekarang. Orang itu sudah mengganggu kenyamanannya.


Bryan membuka pintu kamar dengan raut wajah kesal dan seperti ingin memarahi orang yang berada di depan pintu itu. Tapi raut wajah itu langsung berubah saat melihat siapa yang datang menemui Bryan.


"Akhirnya loe datang juga" ujar Bryan dengan nafas lega saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya itu.


"Kenapa?" tanya Felix seperti tidak tau apa yang terjadi.


Padahal Felix sudah dapat informasi dari Vian kalau Bryan siap diberikan nasehat dan sedikit dimarahi oleh Nyonya muda mereka itu.


"Nggak kenapa kenapa. Masuk" ujar Bryan yang langsung kumat.


Gengsi ceo nya kembali muncul kepermukaan saat melihat Felix yang sudah ada di hadapannya sekarang ini.


"Eeeeee eeee ngapain loe buru buru. Santai aja di sini dulu" jawab Bryan yang tidak ingin Felix pergi dari kamarnya.


"Ngapain gue di sini kalau nggak ada kerjaan. Mending gue tidur di kamar" jawab Felix yang juga menahan ego nya untuk memulai membicarakan bisnis dengan Bryan.


Felix ingin melihat sampai mana ego Bryan yang besar itu bisa sedikit turun.


"Loe jangan banyak gaya Felix. Loe pasti tau kan apa maksud gue berkali kali nelpon loe" ujar Bryan yang akhirnya mengatakan apa yang akan dikatakannya dari tadi.


"Tau" jawab Felix dengan santai.


"Kalau tau mana dia. Kenapa nggak loe bawa sekalian sama loe ke sini" ujar Bryan kesal.


"Apa yang mau gue bawa. Kan gue bilang gue tau. Yang gue tau itu, loe nelpon gue, karena loe nggak nengok gue dalam pesawat" ujar Felix dengan santainya mengatakan hal itu. Padahal sebenarnya Felix sudah sangat tau apa yang diinginkan oleh Bryan.


"Gila loe, bukan itu" jawab Bryan dengan nada yang lebih kesal lagi.


"Terus apaa? Nggak usah main tebak tebakan segala" sambar Felix yang sengaja menaikkan nada suaranya memancing kemarahan dari Bryan.

__ADS_1


"Dokumen perusahaan yang jadi temuan itu mana" kata bryan yang akhirnya mengatakan juga apa yang diinginkan dari Felix.


"Lah bukannya sudah di antar office boy tadi ke elo sebelum gue ke sini?" jawab Felix.


"Apa nggak ada office boy yang nganter?" tanya Felix lagi.


Felix sengaja membuat suasana pembicaraan menjadi cemas. Padahal dia tau kalau dokumen itu sudah diserahkan oleh office boy kepada Bryan sebelum dirinya masuk ke dalam kamar Bryan.


"Oooo dokumen dalam map coklat yang tidak ada pengirimnya itu?" tanya Bryan untuk meyakinkan dirinya kalau dokumen dalam map coklat yang diantar oleh office boy tadi adalah dokumen yang seharusnya di baca Bryan dari tadi.


"Nah bener itu. Gue tadi nggak punya pena, makanya nggak nulis nama. Lagian juga diserahkan ke elo langsung, ngapain gue pakai nama" ujar Felix menjawab pernyataan dari Bryan.


"Gue kira itu amplop isinya apaan karena nggak ada nama pengirim" ujar Bryan sambil berjalan ke arah koper miliknya dan mengambil map coklat itu.


Bryan kemudian membuka dokumen yang diberikan oleh office boy tadi. Ternyata memang benar isinya adalah dokumen yang isinya permasalahan perusahaan cabang.


Bryan membaca dokumen itu dengan teliti. Sedangkan Felix juga membaca dokumen yang sama tetapi melalui tablet miliknya.


"Jadi ada beberapa hal karyawan yang tidak diberikan terus pembengkakan dana pembelian bahan mentah, tetapi tidak sesuai dengan kualitasnya." kata Bryan menarik kesimpulan dari apa yang dibacanya berdasarkan dokumen yang sekarang berada di tangannya itu.


"Ya sepertinya begitu." Felix setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Mantap juga tu orang. Banyak juga makannya. Loe udah cari tau gimana keluarganya?" tanya Bryan yang sekarang sudah dalam mode serius.


"Sudah" jawab felix.


Felix kemudian memberikan dokumentasi tentang kehidupan keluarga direktur yang mengelola perusahaan cabang yang sedang bermasalah tersebut.


"Wow hedon banget" kata Bryan saat melihat bagaimana gaya kehidupan direktur tersebut.


"Istrinya saja tiap bulan beli tas mewah. Belum liburan keluar negeri" kata Bryan mengomentari apa yang dilihatnya barusan.


"Pantas aja korup nya nggak tanggung tanggung" lanjut Bryan.


"Jadi bagaimana?" tanya Felix lagi.


"Kita bermain besok" ujar Bryan yang langsung semangat.


Bryan dan Felix kemudian melanjutkan obrolan mereka tentang kemajuan dan permasalahan dari beberapa perusahaan yang ada. Felix sebenarnya ingin menanyakan tentang informasi yang didapat oleh Vian. Tetapi untuk sekarang rasanya kurang etis, lagian Felix tau bagaimana Bryan. Bryan akan percaya kalau ada bukti yang tidak bisa dibantahkan oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2