
"Naik motor saja. Lebih mesra. Kalau naik mobil kan masih ada jaraknya" kata Julian sambil tersenyum ke arah Bryan. Mood baik Julian sudah kembali, sehingga bagaimanapun juga membuat Bryan kembali senang.
"Kami naik motor saja" kata Bryan mengulang perkataan dari Julian.
"Baiklah"
'Huft sudah bisa dipastikan kalau gue akan lembur lagi' kata Felix dalam hatinya. Felix tidak menyangka kalau dirinya harus kerja kembali. Padahal kalau Julian mau naik mobil, maka dia tidak harus bekerja kembali, dia bisa langsung pulang dan langsung tidur.
Bryan dan Julian kembali naik motor Vian. Kali ini mereka akan pulang ke rumah. Bryan tidak akan membawa Julian kemana mana lagi. Apalagi besok adalah hari pertama Julia bekerja, Bryan tidak mau, kalau Julian mendapatkan masalah di hari pertama kerjanya.
"Wow sayang enak ya naik motor malam malam." kata Julian sambil merentangkan tangannya lebar lebar.
"Kenapa? Mau beli motir juga??" tanya Bryan menebak keinginan Julian yang terselubung di balik kata kata pujiannya itu
"Ya kalau boleh" jawab Julian sambil tersenyum.
"Hem dipikir dulu ya" sikap protektif dari seorang Bryan kembali terlihat. Bryan pastinya akan berpikir ulang dulu saat dia memperbolehkan Julian membeli mobil. Suatu hal yang tidak akan mungkin diwujudkan oleh Bryan.
"Sayang, kamu dibagian mana diterima di perusahaan VJ Grub?" tanya Bryan yang penasaran dengan posisi Julian di perusahaan itu.
"Kalau aku jawab sekretaris bagaimana?" tanya Julian balik.
"Sayang........" samabar Bryan yang tidak suka kalau Julian menjadi sekretaris. Bryan lebih suka Julian menjadi pegawai biasa saja.
"Kenapa sayang? Ada apa? Kenapa pakai teriak?" tanya Julian yang kaget saat Bryan memanggil kata sayang yang melengking.
"Jujur ya sayang ya, aku nggak suka dan sangat tidak setuju kalau kamu jadi sekretaris. Aku lebih suka kamu jadi karyawan biasa saja" jawab Bryan dengan santainya.
"Kenapa harus begitu?"
"Ya, aku tidak suka nanti kamu pergi pergi berdua dengan bos kamu"
Nada cemburu dari seorang Bryan sangat terlihat jelas. Bryan sama sekali tidak bisa menutupi rasa cemburunya kepada Julian.
"Kamu cemburu?" tanya Julian lagi.
"Ya" jawab Bryan dengan mantap dan tanpa keragu raguan
Julian memeluk erat suaminya itu. Bryan merasakan dua gundukan lembut menempel mulus di punggung kuat dan kekarnya itu.
"Sayang jangan menempel seperti itu. Nanti dia nggak bisa nahan loh" Bryan menegur kelakuan Julian yang sangat sangat mengundang sesuatu itu.
"Biarin aja. Emang salah aku meluk kekasih aku dengan erat? Sedangkan orang orang diluaran sana yang mereka peluk pacarnya, aku meluk suami aku sendiri. Emang ada yang bisa marah?" tanya Julian dengan sengaja memancing reaksi dari Bryan.
"Marah sih nggak sayang. Tapi kok ada sesuatu yang terjaga, apa kamu mau tanggung jawab?" selidik Bryan.
Bryan berkata seperti itu juga untuk mencoba krberunyungannya sendiri. Bryan ingin melihat apa reaksi yang diberikan oleh seorang Julian kepada dirinya.
__ADS_1
"Tergantung yang di gantung aja sayang" jawab Julian semakin tidak jelas. Tangan Julian yang semula memeluk pinggang Bryan sekarang makin turun ke bawah sedikit. Julian mulai menggoda Bryan dengan gayanya.
"Hay tidak boleh lesek seperti itu" Bryan menegur apa yang dilakukan oleh Julian terhadap dirinya.
"Kamu udah mulai ya sayang. Nanti atau besok aku menyelesaikannya jangan banyak cerita" kata Bryan memberikan ancaman kepada Julian.
"Haha haha haha. Jangan malam ini ya. Aku capek banget. Emosi aku tadi benar benar menguras energi" kata Julian yang menolak Bryan untuk menuntaskan apa yang sudah dimulai oleh Julian malam ini juga.
"Aku kalau malam ini juga nggak sanggup sayang. Badan aku capek, pikiran aku lelah" jawab Bryan yang merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Julian saat ini.
Motor yang dikendarai Bryan sudah masuk kembali ke daerah tempat tinggal mereka. Sebentar lagi mereka akan sampai di rumah.
"Wah letihnya" kata Julian sambil meregangkan semua tubuhnya itu.
"Capek sayang?" tanya Bryan sambil tersenyum melihat tingkah lucu Julian.
"Pake banget. Nggak ada yang secapek ini sayang" jawab Julian lagi.
"Waktu aku kuliah kerja di swalayan, nggak pernah aku merasakan secapek ini. Kali ini aku bener bener lelah" kata Julian lagi.
Julian mengambil dua cangkir air minum yang sudah dicampur air panas. Dia manaruh satu di depan Bryan dan satu lagi di depan dirinya.
"Makasi sayang" kata Bryan sambil tersenyum.
"Untuk mu selalu" jawab Julian.
"Apa aku boleh cerita kejadian tadi sore?" tanya Julian.
"Kamu mau menceritakannya? Aku tidak ingin kamu merasa tertekan harus mengulang kembali cerita yang membuat kamu terluka itu" tanya Bryan yang sangat menjaga perasaan Julian.
"Aku siap menceritakannya" jawab Julian dengan pasti.
Julian kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya. Apa yang diceritakan oleh Julian sama dengan apa yang diceritakan kepada Vian. Julian tidak mengubah sedikitpun ceritanya itu. Hal ini disebabkan karena Julian memiliki pemikiran yang sangat panjang.
"Jadi, kamu ditampar oleh Nyonya Nyonya kaya?" tanya Bryan saat Julian selesai menceritakan apa yang dialaminya tadi di mall.
"Ya. Malahan dia mengancam aku. Dia akan membuat aku susah" lanjut Julian.
Nada suara Julian, ekspresi Julian tidak memperlihatkan sebuah ketakutan. Malahan sebaliknya, hanya sebuah kemarahan dibalut dengan dendam. Bryan bisa melihat semua itu. Aura yang dikeluarkan oleh Julian sangatlah kuat. Bryan merasakannya.
'Sayang siapa dirimu sebenarnya. Kenapa aku tidak asing dengan sikap seperti ini dari seorang wanita' kata Bryan dalam pemikirannya sendiri.
"Apa kamu kenal orangnya sayang?" lanjut Bryan bertanya.
Bryan sangat penasaran dengan orang yang melakukan hal tidak terhormat itu kepada Julian.
"Aku harus tau siap orang yang telah terlalu berani memukul istri tercinta aku"
__ADS_1
"Aku tidak Terima dia melakukan hal itu" lanjut Bryan dengan sangat emosi.
"Aku saja jangankan untuk menampar dan berkata kasar ke kamu, meninggikan suara saja aku tidak pernah" lanjut Bryan.
"Sudah biarkan saja. Kamu jangan niat mau cari tau dan jangan niat untuk balas dendam." kata Julian sambil mengusap punggung Bryan dengan sebelah tangannya yang tidak digenggam Bryan.
"Kenapa?" tanya Bryan yang penasaran dengan alasan di balik perkataan Julian itu.
"Nanti kamu di apa apain sama mereka. Aku nggak mau itu terjadi" jawab Julian sambil menekurkan kepalanya.
"Emang kamu takut aku di apa apain?" tanya balik Bryan.
"Nanyak? Masih nanyak juga?" kata Julian.
"Haha haha haha. Ternyata oh ternyata ada wanita cantik yang mencemaskan keadaan diriku" Bryan bernyanyi dengan asal lirik lagu saja.
"Hay Tuan yang aku cemaskan bukan kamunya. Jangan terlalu percaya diri seperti itu Tuan. Malu dengan usia" kata Julian dengan menggoyang goyangkan jari tangannya di depan Bryan.
"Terus apanya? Itunya?" kata Bryan dengan luar biasa terlalu percaya diri dengan apa yang dikatakan.
Bryan terus berdiri dari duduknya.
"Sayang gajinya" teriaknya sambil berlari masuk ke dalam kamar.
Bryan yang mendengar, hanya bisa melongo tidak percaya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian.
"Wanita memang di takdirkan untuk matre" kata Bryan sambil tersenyum.
Bryan membereskan meja makan. Dia kemudian berjalan menuju kamar. Julian sudah berada di atas ranjang.
Julian menepuk nepuk tempat tidur Bryan.
"Ayo bobok cini. Besok mau kerja lagi" Julian memperlihatkan senyumannya yang sangat terlihat dibuat buat.
"Mau tapi sambil cucu boyeh?" tanya Bryan yang sudah berbaring di sebelah Julian.
"Tidak. Cucu baci" jawab Julian.
"Ye" kata Bryan satu kata saja.
Julian kemudian memeluk Bryan. Dia tau Bryan sedang mau, tetapi dia benar benar lelah dan ingin beristirahat.
"Becok cucu ndak baci" kata Julian menenangkan Bryan.
"Serius? Besok?" Bryan menatap mata istrinya itu.
"Ya besok tidak basi" kata Julian dengan pasti.
__ADS_1
"Sekarang bobok. Jad suami yang baik" ujar Julian.
Bryan memejamkan matanya. Begitu juga dengan Julian. Mereka berdua masuk ke dalam alam mimpi masing masing.