
"Loe mau kemana? Tapi loe nggak akan mandi tadi loe ngonong" tanya Vian saat melihat Julian yang sudah berdiri dari posisi duduknya.
Padahal Julian tadi mengatakan kalau dirinya belum akan mandi, tetapi ntah kenapa dengan tiba tiba dia berdiri dari posisi duduknya.
"Mau masak untuk makan malam. Siap masak baru mandi" jawab Julian dengan santai.
"Hah masak makan malam? Tapi loe ngambek sama Bryan, kenapa loe masih masak juga? Biasanya kalau orang ngambek itu tidak akan melakukan apa-apa. Masak kamu masih mau masak" tanya Vian berusaha menarik informasi dari Julian kenapa dirinya masih bersedia untuk masak menu makan malam, padahal sedang tidak akur dengan Bryan.
"Ya semarah marahnya gue ke suami gue, gue tetap istrinya. Gue wajib menjalankan tugas gue sebagai seorang istri. Gue nggak mungkin membiarkan Bryan pulang kerja tidak makan" kata Julian menjelaskan kepada Vian kenapa dirinya masih mau masak menu makan malam untuk Bryan.
"Keren loe. Bryan harusnya bersyukur mendapatkan loe sebagai istri. Nggak ada istri yang lebih baik dari pada elo yang bisa mendampingi Bryan" kata Vian memuji Julian yang memang sangat cocok menjadi istri Bryan. Istri dari seorang CEO perusahaan ternama yang bergerak di seluruh lini bisnis.
"Bisa aja lo." kata Julian saat mendengar pujian dari Vian akan sikap dan tanggung jawabnya menjadi seorang istri.
"Sana mandi, gue mau masak. Baju loe udah gue tarok di kasur" kata Julian.
"Siap nyonya besar. Terimakasih banyak" jawab Vian sambil tersenyum ke arah Julian.
Senyum Vian membuat Julian ingin memukulnya. Apalagi tadi Vian memanggil dirinya dengan kata sapaan Nyonya besar.
"Sudah sana mandi, gue mau masak." kata Julian lagi.
Vian masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Julian berjalan menuju dapur. Julian akan masak menu makan malam. Julian akan masak beberapa menu yang akan mereka nikmati saat makan malam nanti.
Bau wangi masakan yang diolah Julian sampai ke kamar mandi. Bau yang memenuhi ruangan kamar mandi dengan baunya yang sangat harum dan wangi.
"Bau masakan Julian bener bener enak dan menggugah selera. Pantesan Tuan Muda sekarang badannya lebih berisi, ternyata ini penyebab nya" kata Vian dari dalam kamar mandi.
"Baunya saja udah sangat enak, apalagi rasanya. Hua, gue pengen seperti Julian. Gue harus belajar bagaimana bisa masak seperti Julian" kata Vian yang sudah bertekad untuk menjadi wanita yang baik dan bisa memasak.
Julian masak sambil menggoyang goyangkan badannya sedikit sedikit. Goyangan Julian mengikuti irama musik yang di hidupkan dari ponsel miliknya. Julian menikmati alunan musik yang menjadi latar belakang mengiringi kegiatan memasaknya itu.
__ADS_1
Bryan yang baru sampai depan rumah dan diantar oleh Kevin sudah mencium bau masakan yang dimasak oleh Julian. Bau masakan yang benar benar sudah terbayang bagaimana nikmatnya makanan yang sudah jadi.
"Sepertinya Julian masak Bryan" kata Kevin yang juga mencium aroma masakan yang sudah tercium bau enaknya.
"Ya, sepertinya dia tetap masak menu makan malam" jawab Bryan yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kevin.
'Semarah marah apapun kamu, se tersinggung apapun kamu, kamu tetap menjalankan kewajiban kamu sebagai istri aku. Aku bener bener bahagia memiliki kamu sebagai istri aku' kata Bryan dalam hatinya.
Bryan benar benar bahagia sekarang. Dia semakin jatuh cinta kepada istrinya itu. Cinta yang tumbuh benar benar karena kebersamaan yang instens dan selalu bersama dalam hal apapun serta selalu berbagi cerita satu dengan yang lain.
Tok tok tok tok. Bryan mengetuk pintu rumah. Vian yang selesai memakai pakaian memilih untuk membuka pintu rumah karena Julian masih sibuk di dapur.
"Gue aja yang buka pintunya" kata Vian memberitahukan kepada Julian yang sedang memasak di dapur.
Vian berjalan ke arah luar untuk membuka pintu rumah. Bryan dan Kevin ternyata sudah berdiri tepat di depan pintu rumah. kedua pria itu terlihat sangat lelah sekali.
"Julian mana?" tanya Bryan sambil melihat ke dalam rumah.
Bryan berjalan masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju dapur. Bryan melihat Julian yang sedang masak menu makan malam. Bryan memeluk Julian dari belakang. Julian kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bryan kepada dirinya. Kevin dan Vian yang melihat adegan romantis antara Tuan dan Nyonya muda mereka membuat mereka memilih untuk duduk di ruang tamu saja.
"Maafkan aku" ujar Bryan dengan lembut dan mesra.
Bryan menaruh kepalanya di pundak Julian. Dia menghembuskan nafasnya dengan lembut ke leher Julian. Bryan memeluk Julian dengan sangat erat. Bryan seperti tidak ingin melepaskan pelukannya dari Julian.
"Kamu marah sayang?" tanya Bryan.
Bryan bertanya karena melihat Julian yang masih diam tanpa ekspresi saat mendengar Bryan meminta maaf dan mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Sayang, kok kamu diam saja. Maafkan aku sayang." kata Bryan sekali lagi meminta maaf kepada Julian.
Julian masih saja acuh. Dia masih sibuk memasak walaupun Bryan masih memeluknya dari belakang. Julian menikmati saja perlakuan mesra dari Bryan. Julian sengaja diam saja untuk memberikan hukuman kepada Bryan. Bryan sudah keterlaluan kepada dirinya dengan memakai nada yang tinggi untuk berkata kepada Julian. Julian tidak suka akan hal itu sehingga dia harus memberikan hukuman kepada Bryan.
__ADS_1
Julian melepaskan tangan Bryan yang memeluk dirinya dengan erat. Dia tidak suka Bryan memeluk dirinya untuk saat ini. Padahal selama ini Julian paling suka dipeluk oleh Bryan, tetapi tidak untuk kali ini.
Bryan kaget saat Julian melepaskan pelukannya. Dia tidak menyangka Julian dengan teganya melepaskan pelukan dari dirinya. Bryan kemudian berjalan menuju ruang tamu. Julian melihat langkah kaki Bryan yang melangkah dengan lunglai. Bryan pergi karena penolakan dari Julian.
"Kamu harus diberi pelajaran sayang, kalau tidak maka ke depannya kamu akan semakin semena mena kepada aku nantinya. Dalam hubungan kita harus saling menghormati dan menghargai. Bukan saling menyakiti dengan perkataan. Walaupun sedang panik" kata Julian sambil melihat kepergian Bryan menuju ruang tamu.
Bryan duduk di sebelah Kevin. Sedangkan Vian yang tadi duduk di dekat Kevin memilih untuk pergi dari ruang tamu. Vian akan membantu Julian di dapur.
"Kenapa loe? Kusut banget" ujar Kevin saat melihat wajah Bryan yang kusut seperti kain yang baru selesai di peras.
"Julian menolak gue" kata Bryan sambil memegang kepalanya yang sakit karena penolakan yang diberikan oleh Julian tadi saat dirinya memeluk Julian dari belakang.
"Kok bisa?" tanya Kevin dengan polosnya.
Bryan kemudian menceritakan kepada Kevin apa penyebab dirinya bisa ribut dengan Julian. Kevin mendengarkan curhat dari seorang suami yang di tolak pelukannya oleh istri yang sangat dicintainya.
'Ternyata setelah menikah masih ada aja permasalahan yang terjadi. Gue kira kalau sudah menikah tidak akan ada masalah lagi' kata Kevin dalam pikirannya menanggapi kasus yang terjadi antara Bryan dengan Julian seperti sekarang ini.
"Itu yang bikin gue di tolak" kata Bryan menutup pembicaraan tentang penyebab dirinya di tolak oleh Julian kepada Kevin.
"Terus hati loe jadi sakit?" tanya Kevin dengan ringannya bertanya seperti itu kepada Bryan.
"Sakitlah. Masak nggak. Di tolak istri gitu loh bro. Gue nggak mau tidur di luar kamar. Gila aja kali, gue capek kerja terus tidur nggak meluk istri. Huf berat banget" kata Bryan yang tidak memikirkan kalau apa yang dikatakannya sama sekali belum di rasakan oleh Kevin.
"Bujuk lah biar Julian nggak marah lagi" kata Kevin memberikan solusi kepada Bryan untuk membujuk Julian supaya tidak marah lagi dan mau di peluk Bryan nanti saat tidur.
"Udah. Meluk kan sama dengan bujuk" kata Kevin sambil melihat ke arah Bryan.
"Bedalah masak udah suami istri, bujuk masih dengan ngasih peluk doang. Lebih lah dari itu" kata Kevin.
"Ais loe kayak tau banget aja" jawab Bryan.
__ADS_1
"Makanya nonton film romantis biar loe bisa belajar bagaimana caranya supaya loe bisa menjadi orang yang romantis" kata Bryan memberikan ajaran dan masukan dari mana Bryan bisa belajar tentang cara untuk menjadi romantis