Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #26


__ADS_3

"Loe antar gue ke swalayan tempat Julian kerja" ujar Bryan kepada Kevin saat mereka berdua sudah di dalam mobil.


Kevin sengaja di tahan oleh Bryan untuk tidak pulang duluan karena dia akan meminta Kevin mengantarkan dirinya ke swalayan tempat Julian bekerja.


"Sip yang mau bucin" Kevin sengaja meledej bosnya itu.


"Wah loe aja juga bucin tapi nggak berani aja ngomong sama Vian" balas Bryan tidak mau kalah.


"Mana ada, siapa bilang"


"Alah ngaku aja deh loe. Gue setuju setuju aja kalau loe sama Vian" lanjut Bryan sambil tersenyum mencemooh kepada Kevin.


"Loe seneng, gue nggak" balas Kevin.


"Karena di tolak" tebak Bryan.


Kevin melongos tidak percaya. Dia sama sekali tidak pernah cerita apapun kepada Bryan. Selama ini dirinya bercerita hanya kepada Felix saja. Ntah kenapa Bryan bisa sampai tau cerita ini.


"Felix?" ujar Kevin mencoba menebak dari mana Bryan bisa tau cerita itu.


Bryan menggeleng. "Itu hal gampang dari mana gue bisa tau. Loe nggak perlu tau dari mana gue tau" kata Bryan sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Loe nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari gue. Gue pastikan gue akan tau semuanya" ujar Bryan sambil menahan senyumannya.


"Ya ya ya. Memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari Tuan Muda Bryan Witama. Tetapi ada satu yang bisa" kata Kevin sengaja menggantung ucapannya.


Kevin melakukan itu, supaya Bryan penasaran dan ingin bertanya kepada Kevin lebih lanjut. Kevin ingin membalas apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.


"Apa?" tanya Bryan penasaran dengan yang dimaksud oleh Kevin itu.


"Ya itu. Semua hal pasti diketahui oleh Bryan Witama, tetapi sayangnya siapa istrinya dan latar belakang istrinya, bahkan sampai menyewa ditektif, Bryan Witama tidak berhasil mengetahui siapa keluarga istrinya" Kevin menjelaskan serinci rincinya.

__ADS_1


Bryan terdiam, sampai sekarang dia memang tidak mengetahui siapa sebenarnya keluarga Julian. Dia hanya tau kalau Julian adalah seorang mahasiswa yang merantau. Tetapi untuk keluarga Julian, Bryan sama sekali tidak tau. Semua cara sudah dilakukan Bryan, termasuk meminta Vian menjadi sahabat Julian. Tetapi hasilnya tetap sama, Julian sama sekali tidak pernah bercerita tentang keluarganya.


"Jadi, sampai sekarang loe beneran nggak tau?" tanya Bryan penasaran.


"Sama sekali. Ntah bagaimana dia menyembunyikan identiatasnya."


"Nah, sekarang apa dia sudah tau siapa elo? Notabene di semua majalah bisnis pasti membahas elo. Belum lagi kalau dia mencari tau di dunia maya" kata Kevin memperingati Bryan tentang identitasnya di dunia maya.


"Sepertinya Julian tidak ambil pusing dengan hal itu. Julian terlalu sibuk dengan kegiatan sehari harinya, jadi dia tidak ada waktu untuk mencari tau siapa gue" jawab Bryan dengan penuh keyakinan.


"Oh Oke. Kita sudah sampai Tuan Muda. Apa saya harus menemani Tuan Muda untuk masuk ke dalam swalayan?" tanya Kevin dengan sengaja ingin mengusili Bryan.


"Gila loe. Atau kita sama sama duduk di sini saja. Gue nunggu istri sah gue, sedangkan elo nunggu calon kekasih loe. Kan mereka sama sama kerja di sini" kata Bryan membalas keusilan Kevin.


"Turun loe sana." usir Kevin.


"Haha haha haha haha. Makanya kalau nggak mau diusilin orang, jangan usil Anda" jawab Bryan sambil turun dari dalam mobil Kevin.


Tepat pukul delapan malam Julian dan Vian keluar dari dalam swalayan. Bryan yang melihat Julian dan Vian sudah selesai bekerja, langsung berdiri dari kursi yang sudah ditempatinya selama setengah jam terakhir.


"Hay, maaf apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Julian sesaat setelah dirinya bersalaman dengan Bryan.


"Sama sekali tidak. Palingan aku duduk di sini baru setengah jam yang lalu" jawab Bryan dengan santai.


Vian yang tau bagaimana Bryan saat bekerja, mendadak menjadi kaget. Perubahan ekspresi Vian terbaca oleh Bryan. Tetapi Bryan bersikap biasa saja.


"Bryan, kenalkan ini sahabat aku satu satunya" ujar Julian memperkenalkan Vian kepada suaminya itu.


Bryan menjulurkan tangannya. Vian sedikit ragu untuk menerima uluran tangan Bryan. Bryan memberikan kode kepada Vian. Vian yang mengerti langsung menjabat tangan Bryan yang sudah terulur lama itu.


"Bryan, suaminya Julian" ujar Bryan memperkenalkan dirinya kepada Vian.

__ADS_1


Julian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan mengatakan dia adalah istrinya.


"Vian" jawab Vian dengan singkat dan padat. Nada formal dan sedikit takut masih terlihat di nada suara Vian. Untung saja saat itu Julian tidak ambil pusing atas interaksi antara Vian dan Bryan yang terlihat sangat kamu.


"Bisa kita pulang sekarang sayang? Aku sudah lapar mau makan" ujar Bryan meminta Julian untuk mau pulang ke rumah mereka.


"Sip." jawab Julian.


"Kita jalan kaki saja gimana? Nanti di ujung sana kita beli makan malam, jadi kamu nggak perlu masak lagi sampai rumah" kata Bryan memberikan solusi tentang makan malam mereka.


"Aku nggak ada duit lagi. Maafkan aku" kata Vian saat menyadari kalau uangnya tertinggal hanya untuk membeli bahan masakan sampai dirinya gajian akhir bulan.


"Tenang aku tadi di kasih uang sama Kevin." jawab Bryan.


Julian menatap Bryan dengan tatapan tidak suka. Julian paling anti kalau Bryan menerima uang dari orang lain, tanpa melakukan pekerjaan sama sekali.


"Tenang sayang, aku tadi membantu pekerjaan dia. Makanya dia memberi aku sedikit uang" kata Bryan menjelaskan kepada Julian asal uang itu.


"Oh baiklah. Kamu taukan kenapa wajah aku berubah tadi?"


"Ya aku tau. Makanya aku jelaskan sebelum kamu menolaknya" jawab Bryan sambil tersenyum.


Vian memperhatikan interaksi sepasang suami istri itu. Dia benar benar tidak menyangka kalau tuan mudanya yang dulu sangat arogan dan terkenal dengan sikap sombong dan egoisnya itu, berhasil menjadi seorang pria dengan selera humor dan juga asik seperti yang terlihat sekarang di depan mata Vian.


"Sekarang, apa sudah bisa kita untuk jalan?" tanya Bryan kepada Julian.


Julian mengangguk.


"Kami pulang dulu Nona Vian" ujar Bryan permisi kepada anak buahnya itu.


"Sama sama Tuan mu, tuan Bryan" kata Vian yang hampir keceplosan memanggil Bryan dengan sebutan tuan muda, untung saja Vian berhasil mengubahnya dengan sangat cepat sebelum Julian menyadari hal itu

__ADS_1


Bryan menggandeng tangan Julian, mereka berdua memutuskan untuk jalan kaki pulang ke rumah kontrakan yang tidak berapa jauh jaraknya dari swalayan tempat Julian bekerja. Mereka berdua berhenti membeli menu pical lele untuk makan malam, karena tidak akan mungkin Julian memasak setelah mereka sampai di rumah kontrakan.


__ADS_2