
"Sekarang tidur ya." kata Bryan.
Bryan menutup tubuh bayi mereka dengan selimut. Bryan membawa istrinya yang sekarang sudah lengkap menjadi istrinya, walaupun belum sampai membelah duren. Tetapi yang tadi itu sudah merupakan kemajuan yang luar biasa.
Julian tidur dalam dekapan hangat suaminya. Rasa sakit di kepalanya, rasa kesal dan marah tadi, rasa lelahnya selama ini langsung hilang sirna di terbawa sesuatu yang keluar tadi. Julian merasakan terlahir kembali
Pagi harinya Julian bangun. Tubuhnya terasa sangat ringan sekali. Tidak seperti hari hari biasanya, sebelum kejadian semalam, tubuh Julian asal bangun tidur masih terasa capek yang luar biasa. Kali ini sungguh berbeda sekali.
Julian melepaskan dekapan Bryan. Dia dengan santainya membuka selimut. Saat itulah dia tersadar kalau dia sama sekali tidak memakai apa apa.
"Au" ujar Julian.
"Aje gile kok bisa begini banget" lanjut Julian saat melihat apa yang terjaditerjadi terhadap dirinya saat ini.
Julian menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Dia benar benar telah melakukan sesuatu. Julian meraih piyama yang berada di bawah ranjang. Dia memakai piyamanya kembali. Setelah itu barulah Julian turun dari ranjang untuk melaksanakan aktifitas rutin setiap pagi yang harus dilakukan oleh dirinya.
Julian mengambil keranjang pakaian kotor miliknya dan Bryan. Dia berjalan ke area cuci dan jemur pakaian. Julian memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin. Setelah itu Julian melanjutkan kegiatannya untuk memasak sarapan.
"Bikin menu apa ya hari ini?" kata Julian.
"Mumpung gue sedang semangat, langsung ajalah masak untuk makan siang. Sedangkan sarapan cukup dengan roti bakar kasih telor dan timun" ujar Julian yang pada akhirnya memutuskan untuk masak makanan berat sekalian.
"Jadi nanti Bryan bisa bawa bekal ke perusahaan, gue juga bisa bawa untuk menu makan siang gue dengan Vian" lanjut Julian.
Julian mengeluarkan semua bahan masakan yang akan diolah nya dari dalam lemari pendingin.
Raut wajah bahagia masih terpancar jelas dari wajah Julian. Julian sama sekali tidak bisa berbohong, wajah cantiknya semakin cantik karena bersemu merah. Apa yang dilakukan Bryan terhadap dirinya masih bisa dirasakannya di sana.
Bryan yang mendengar suara suara berisik dari arah luar, langsung terbangun dari tidurnya. Dia melihat Julian sudah tidak ada lagi di sebelahnya.
"Sepertinya dia sudah bangun dan beraktivitas" kata Bryan.
"anak itu memang sangat rajin sekali" lanjut Bryan.
"gue sangat bersyukur mendapatkan dia menjadi istri gue" ucap Bryan yang bersyukur kalau dirinya memang mendapatkan kekasih istri yang dicintainya.
Bryan dengan reflek memegang bibirnya. Dia sedikit merasakan kebas di bibirnya itu.
"Permainan yang wow semalam" kata Bryan sambil mengusap dengan jempolnya bibir yang sudah bekerja maksimal tadi malam untuk memberikan sensasi wow kepada istri tercintanya itu.
Bryan kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia akan membantu Julian. Sebenarnya Julian tidak mengizinkan Bryan untuk menolong dirinya melakukan pekerjaan rumah, tetapi Bryan dengan sejuta alasan dan sejuta pesona dirinya berhasil meyakinkan Julian bahwasanya apa yang dilakukan oleh dirinya adalah sebuah hal yang biasa saja.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Julian. Julian tersenyum kepada orang yang memberikan hadiah pagi hari kepada dirinya.
"Selamat pagi cantik" ujar Bryan sambil tersenyum.
"Selamat pagi tampan" balas Julian.
"Kamu masak, aku nyuci piring sama jemur pakaian" kata Bryan membagi tugas apa yang akan dikerjakan oleh dirinya dan Julian.
"Siap bos. Ditolak pun kamu akan tetap melakukannya. Jadi ya aku langsung setuju saja" jawab Julian menjelaskan sebelum Bryan mengomel panjang lebar kepada dirinya.
__ADS_1
Bryan bahkan menjelaskan seharusnya yang mengerjakan pekerjaan rumah adalah seorang suami. Sedangkan kalau kejadian di sini, suami yang mengerjakan maka akan dikatakan sebagai suami yang takut istri. Benar benar sebuah kejadian yang aneh, apa salahnya seorang suami membantu pekerjaan seorang istri. Toh istri juga bekerja mencari nafkah yang pada akhirnya digunakan bersama sama untuk kebutuhan keluarga.
Bryan dan Julian mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menjadi pembagian mereka setiap hari dengan hati santai dan nyaman. Bahkan Bryan yang telah selesai menjemur pakaian, kemudian membersihkan rumah. Sebuah pekerjaan tambahan yang paling di sukai oleh Bryan. Apalagi saat menukar tata letak pot bunga, maka Bryan akan melakukannya dengan senang hati.
"Sayang, aku mandi duluan ya" ujar Bryan saat dirinya sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya itu.
"Oke, aku juga tinggal dikit lagi" jawab Julian yang sedang menata menu makan siang yang akan mereka bawa masing masing.
Selesai Bryan membersihkan badannya, Julian masuk ke dalam kamar mandi, giliran dia yang membersihkan badan
"Tidak.............." pekik Julian lumayan keras dari dalam kamar mandi.
Bryan yang masih sedang memakai pakaiannya, berlari keluar kamar menuju kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Bryan sambil membuka pintu kamar mandi yang lupa di kunci Julian dari dalam.
"Ulah kamu sayang. Apa lagi" jawab Julian sambil memonyongkan bibirnya tanda dia sedang kesal.
"Aku?" ujar Bryan sambil menunjukkan jarinya ke wajahnya sendiri.
"Iya kamu, siapa lagi" jawab Julian.
"Kenapa lagi?" tanya Bryan yang nggak mengerti kenapa dirinya yang disalahkan oleh Julian.
Julian menunjukkan kepada Bryan apa yang menjadi masalah sekarang. Bryan tersenyum saat tau apa yang membuat Julian memekik hebat dari dalam kamar mandi.
"Kamu lucu sayang. Yang namanya kemarin di hiasap memang seperti itulah jadinya" kata Bryan yang sudah paham apa yang menyebabkan sebuah teriakan berasal dari kamar mandi.
Bryan yang melihat Julian bersikap malu itu, hanya bisa geleng geleng kepala saja. Dia kemudian berlalu pergi dari kamar mandi.
"Ada ada aja yang akan buat aku tertawa bahagia" ujar Bryan sambil menahan senyumannya.
Julian mandi dengan sangat cepat, dia sangat malu saat ini melihat apa yang ada di tubuhnya itu. Tanda merah yang terlalu banyak berada di sana. Tanda merah yang menandakan kalau dia adalah milik seseorang.
"Sayang, gimana cara nutupin nya ini?" tanya Julian sambil menunjuk bagian yang memerah itu. Julian pusing sendiri memikirkannya dari tadi. Mulai sejak dia mandi sampai keluar kamar mandi, itu saja yang dipikirkannya.
"Sayang pakai pakaian dalam kamu saja. Kan nggak akan nampak" jawab Bryan.
"Kecuali kalau aku bikinnya di sini. Baru kelihatan" lanjut Bryan berkata sambil menunjuk leher jenjang Julian yang sangat menggoda pagi ini.
"Ais awas saja kalau bikin di situ pas jam kerja" ancam Julian.
"kalau pas jam kerja nggak akan, tapi kalau nggak jam kerja maka akan" balas Bryan menarik kesimpulan sendiri dari apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.
Pikiran Bryan sudah kemana mana. Dia kemudian memilih untuk langsung ke meja makan saja, dari pada terjadi hal hal yang mereka inginkan. Bryan tidak mau melakukan hal itu dengan tergesa gesa, dia harus membuat nyaman Julian untuk melakukannya dan menjadi suatu hal yang akan diingat Julian selalu dan selamanya.
Sarapan sederhana hari ini sudah terhidang di meja makan. Tinggal menunggu Julian siap mandi barulah sepasang suami istri itu menikmati sarapan pagi mereka sebelum ke kantor masing masing.
"Sayang maaf ya untuk sarapan pagi ini hanya bisa menu sederhana saja. Aku mengejar untuk masak bekal makan siang" kata Julian sambil melirik menu makan siang yang sudah ada di sudut meja makan.
"Kamu juga menyiapkan untuk aku sayang?" tanya Bryan saat melihat ada dua kotak bekal di sana.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau?" tanya Julian yang menjadi pesimis kalau Bryan mau membawa kotak bekal makanan itu.
"Mau lah masak nggak" jawab Bryan.
"Aku senang bisa bawa bekal makanan dari kamu. Kalau bisa malahan setiap hari aku bawa bekal. Jadi, uang saku aku menjadi hemat dan tersimpan" Bryan menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini kepada Julian.
"Oke. Kita akan bawa bekal setiap hari." kata Julian dengan semangat.
"Tapi makanannya jangan roti mulu sayang. Sekali sekali nasi goreng atau apalah" kata Bryan yang sudah sangat bosan makan roti di pagi hari.
"Kayak dulu lagi aja. Ada variasinya" lanjut Bryan yang ingat dulu mereka sarapan pagi selalu bervariasi mulai dari nasi goreng yang beraneka rasa, kemudian ada lontong, kadang bubur, pokoknya Julian memasak berbagai jenis sarapan yang bervariasi.
"Oke oke, aman itu" jawab Julian
"Tapi ada tapi nya ini ya" sambar Julian sambil tersenyum kepada suaminya itu.
"Lah kok pake tapi lagi" Bryan mulai memikirkan hal yang aneh aneh di kepalanya.
"Iyalah, kamu harus nambah uang jajan ke aku ya." kata Julian sambil tersenyum cantik.
"Gampang" jawab Bryan dengan santainya.
Mereka berdua akhirnya menyelesaikan sarapan hari itu. Walaupun dengan menu yang sederhana tetapi karena dibuat dengan cinta membuat masakan menjadi sangat lezat.
"Siap berangkat sayang?" tanya Bryan.
"Siap. Mari bermotor motor pagi" ujar Julian dengan semangat.
"Kamu aneh sayang" ujar Bryan saat mereka sudah berkendara.
"aneh kenapa?" tanya balik Julian.
"biasanya istri akan bahagia saat di antar suaminya pakai mobil. eeee kamu malahan bahagia saat di bawa pakai motor" Bryan menerangkan kepada Julian apa maksud dari perkataannya tadi.
"Sayang, saat sekarang ini kita hanya ada ini. Ya di syukuri aja. Besok saat ada mobil, kita akan lebih bersyukur lagi" jawab Julian sambil tersenyum.
Bryan yang mendengar jawaban yang diberikan oleh Julian sangat bahagia sekali.
'Tuhan terimakasih telah memberikan saya istri yang seperti Julian.' kata Bryan berdoa dalam hatinya mengucapkan syukur atas apa yang didapatkannya saat ini. Seorang istri yang sama sekali tidak neko neko dan tidak banyak maunya. Apa yang ada diterima Julian dengan senang hati.
Akhirnya setelah berkendara selama setengah jam, mereka sampai di parkiran perusahaan tempat Julian bekerja.
"Sampe" uajr Bryan.
Bryan dan Julian turun dari motor. Bryan membantu Julian untuk membukakan helem yang dipakainya. Saat itulah mobil Kevin juga berhenti di dekat mereka.
"Kebetulan sayang ada Kevin. Aku bisa sama dia ke perusahaan" ujar Bryan.
"hati hati yaa. semangat bekerja" kata Julian memberikan semangat kepada suaminya itu.
Julian kemudian menyalami tangan Bryan. Bryan mengecup kening Julian. Mereka menjadi tontonan Kevin dan Vian. Tetapi Julian dan Bryan santai saja. Mereka tidak peduli dengan tatapan dari Kevin dan Vian.
__ADS_1