Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #48


__ADS_3

"Bryan mau datang. Gue nggak mau dia melihat bekas tamparan ini. Bisa kacau gue nanti kalau dia melihat ini" kata Julian yang tidak ingin Bryan melihat bekas tamparan yang ada di pipinya. Bekas tamparan yang sangat terlihat dan tidak bisa di tutupi dengan rambut Julian.


"Oke. Apa harus gue bantu? " kata Vian.


"Nggak perlu. Gue bisa sendiri kalau hanya setipis itu" jawab Julian yang merasa kalau dirinya pasti bisa memakai makeup sederhana itu sendiri.


Vian memberikan kotak makeup nya kepada Julian. Julian kemudian pergi ke kamar mandi, dia pergi merapikan tampilannya. Wajah yang memerah karena tamparan itu harus ditutupinya. Julian tidak mau Bryan marah marah di kafe tersebut. Julian hanya mau menjelaskan apa yang terjadi kepada Bryan saat di rumah saja.


"Gimana tampilan gue?" tanya Julian sambil menyibakkan rambut panjangnya yang dibuat untuk menutupi pipi.


"Kalau menurut gue udah nggak kelihatan. Tapi kalau bisa loe jangan terlihat sengaja menutupi pipi loe dengan rambut. Nanti bisa bisa Bryan menjadi sangat curiga sama loe" Vian memberikan masukannya saat melihat Julian yang masih melepas ikat rambutnya itu.


"Tapi rasanya sedikit tebal dari pada biasanya" komen Vian selanjutnya


"terpaksa ditebalin. Kalau nggak maka nggak akan ketutup ini" Julian menjelaskan alasan kenapa dirinya menebalkan sedikit bedaknya dari pada biasanya.


"Sepertinya ini akan membuat Bryan menjadi curiga" ujar Vian.


"yah loe jangan matahin semangat gue dong Vian" Julian protes kepada Vian.


"Semoga nggak jadi perhatian sama Bryan ya"


"semoga aja" Julian mulai kembali cemas, padahal sebelum Vian mengomentari bedaknya tadi, Julian sudah merasa sedikit aman.


Julian mengikat separo rambutnya seperti yang biasanya dia lakukan selama ini. Apa yang dikatakan oleh Vian memang benar, kalau dia menutupi pipinya dengan rambut, maka bisa dipastikan kalau Bryan akan curiga dengan tindakannya itu.


"Nah lebih natural" ujar Vian.


Bryan kemudian datang bersama dengan Kevin dan Felix. Mereka bersamaan dari perusahaan.


"Gimana wawancaranya?" tanya Bryan saat mereka sudah duduk bersebelahan.


"Di Terima dong. Masak Julian dan Vian di tolak. Kalau mereka nolak kamu, maka mereka yang akan rugi. Kalau kami mah bisa cari perusahaan yang lain" kaya Julian menjawab dengan nada bangga. Nada kebanggaan sangat terdengar jelas dari nada suara Julian.


"Sombongnya" ujar Bryan.


"Bukannya sombong, tapi memang itu kenyataannya. Gue mah orangnya nggak sombong tetapi memang bermutu banget" lanjut Julian menganggapi perkataan dari Bryan tadi.

__ADS_1


"Ya ya ya ya." ujar Bryan.


Bryan kemudian sedikit fokus ke pipi Julian sebelah kiri itu. Bryan memegang wajah Julian dengan kedua belah tangannya.


"Ada apa?" tanya Julian saat melihat Bryan memegang lembut pipinya.


"Penasaran dengan warna merah di pipi itu. Ada apa?" ujar Bryan.


"Apaan sih Bryan. Malu, orang rame itu" Julian berkata dan mencari alasan supaya Bryan mau melepaskan wajahnya.


"Jangan banyak cerita. Kamu diam sebentar. Aku cuma memastikan merah ini apaan"


Bryan menatap lurus ke pipi Julian. Dia menghapus bedak Julian yang agak tebal dari biasanya itu. Sekarang Julian sangat yakin dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.


"Apa ini Julian?" tanya Bryan separo kesal kepada Julian tidak menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.


"Aku kepentok tadi" jawab Julian ngasal.


"Huft" Vian sontak menghembuskan nafasnya. Dia tidak menyangka kalau Julian akan mengatakan hal ini kepada Bryan. Alasan yang paling tidak masuk akal yang bisa diterima oleh Bryan nantinya.


"Kepentok?" tanya Bryan mengulang jawaban dari Julian.


Dua orang pelayan datang menghidangkan pesanan Bryan dan kedua sahabatnya itu. Pembicaraan antara Bryan dengan Julian terganggu oleh makanan yang datang.


"Pembicaraan kita belum selesai sayang" kata Bryan dengan nada sedikit tinggi dari pada biasanya.


Julian mengangguk, dia sudah sangat yakin Bryan tidak akan melepaskan dan percaya dengan begitu saja kepada Julian dengan alasan aneh yang tidak masuk di akal itu.


Mereka kemudian menikmati makanan yang dipesan tadi. Suasana yang seharusnya gembira karena Julian dan Vian diterima bekerja di salah satu perusahaan yang sangat bonafit di negara mereka.


'Kenapa dengan pipi Nyonya muda' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Felix kepada Vian yang duduk di sebelah Kevin.


'Nyonya besar' balas Vian dengan singkat padat dan tepat menunjuk siapa orang yang telah berbuat seperti itu kepada Vian.


'Maksudnya?" balas Felix lagi.


'Nanti gue cerita jangan sekarang' ujar Vian yang tidak mungkin menceritakan kejadian lewat pesan chat kepada Felix. Vian malas mengulang ulang kembali bercerita. Pasti nanti Kevin juga akan bertanya kepada dirinya tentang apa yang terjadi. Jadi dia memutuskan untuk menceritakan nanti saja kepada mereka berdua.

__ADS_1


'Tugas loe sekarang tanyakan kepada Nyonya muda, dia di tarok dibagian mana, atau pandai pandai loe aja pertanyaannya' Vian memberikan perintah kepada Felix untuk mengubah suasana yang mencekam seperti sekarang ini.


"Vian, gue penasaran, gimana tes wawancara mereka tadi?" tanya Felix asal comot pertanyaan saja.


"Yah biasalah. Mereka tanya kenapa memilih perusahaan mereka kenapa tidak perusahaan lain saja"


"Terus kalau diterima di sana, apa yang akan kami berikan untuk perusahaan"


"Pertanyaan pertanyaan standar ajalah. Pertanyaan yang udah umum, nggak ada yang spesial" ujar Julian.


"Oh berarti pertanyaan standar lah ya. Kenapa orang orang bilang susah masuk ke perusahaan itu ya" kali ini Kevin yang bertanya.


"Sebenarnya bukan susah, tapi sepertinya mereka memiliki standar yang cukup tinggi untuk merekrut karyawan" kata Julian.


"Bener yang dikatakan Julian, malahan saat kami wawancara tadi, ada pelamar yang tamatan luar negeri, tetapi ya karena menurut mereka tidak punya apa apa ya tidak mereka Terima." jawab Vian.


'Ternyata Vian memerhatikan semuanya dengan sangat jeli. Siapa dia sebenarnya ini?' kata Julian dalam hatinya.


"Beda banget dengan perusahaan perusahaan yang lain, mereka berbondong bondong menerima karyawan dari lulusan luar, padahal mutu mereka kalah dari tamatan dalam. Mana gaji mereka di bayar tinggi lagi" lanjut Vian sedikit mengkritik bagaimana sistem penerimaan karyawan baru di perusahaan Witama.


Bryan melihat ke arah Vian. Vian bersikap acuh saja seperti tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan oleh dirinya saat ini. Tetapi setelah dipikir kembali oleh Bryan, apa yang dikatakan oleh Vian ada benarnya juga. Bryan sudah memutuskan untuk menukar cara penilaian dalam penerimaan karyawan baru.


Felix dan Kevin melihat ke arah Bryan yang dari tadi hanya diam saja. Bryan sama sekali tidak bersuara. Bryan seperti masih berada di alam pikirannya sendiri.


"Palingan masih mikirin bekas jari itu" ujar Kevin kepada Felix dengan suara yang rendah.


Felix mengangguk. Dia sangat setuju dengan yang dikatakan oleh Kevin sebentar ini. Bryan pasti masih penasaran dengan hal itu.


Julian melihat ke arah Bryan, suaminya yang dari tadi dalam mode diam saja. Julian tau kenapa Bryan diam, tetapi dia tidak ingin membahas hal ini di sini sekarang. Dia hanya ingin membahas hal itu nanti saja di rumah mereka yang mungil. Julian tidak ingin apa yang terjadi terhadap dirinya diketahui oleh Felix dan Kevin. Walaupun pada akhirnya Felix dan Kevin tau, tetapi selagi itu tidak dari mulut Julian sendiri, maka Julian tidak akan ambil pusing dengan hal itu.


"Oke sudah mau malam, gimana kalau kita pulang?" kata Bryan yang sudah tidak sabaran lagi untuk mendengar cerita dari Julian.


Tidak satupun dari mereka yang berani membantah. Termasuk Julian sendiri. Mereka kemudian berdiri dari posisi duduknya.


"Vian, saya pinjam motor kamu. Kamu pulang diantar Kevin atau Felix saja" kata Bryan memberikan perintah kepada Vian.


"Oke" jawab Vian tidak lupa menganggukkan kepalanya dalam dalam.

__ADS_1


Felix yang biasanya tidak akan mau membiarkan Bryan pulang dengan motor, akhirnya membiarkan saja. Felix tidak mau memperkeruh suasana.


Mereka semua akhirnya pulang ke rumah masing masing. Bryan dan Julian naik motor Vian, sedangkan Kevin mengantarkan Vian ke rumahnya, sedangkan Felix berkendara sendirian.


__ADS_2