Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #42


__ADS_3

Julian dibantu Vian membereskan semua peralatan yang tadi mereka pakai untuk makan siang. Semua masakan Julian habis tak bersisa. Felix, Kevin dan Vian sama sekali tidak malu malu untuk menambah makanan mereka masing masing. Awalnya mereka memang malu untuk menambah tetapi semenjak Bryan mengatakan, jangan malu malu untuk nambah, silahkan aja makan sepuas kalian. Nah, semenjak itulah mereka bertiga tidak sungkan sungkan lagi untuk menambah makanan.


"Julian, masakan loe bener bener enak. Kapan kapan saat loe dan gue ada waktu kosong, mau loe ngajarin gue masak?" tanya Vian saat mereka baru selesai membasuh pirng piring kotor.


"Oke sip kapan loe mau mari kita eksekusi" jawab Julian.


"Gue akan selalu siap membantu loe" lanjut Julian lagi dengan tujuan meyakinkan Vian kalau dia pasti akan membantu Vian untuk belajar memasak.


"Makasi Julian. Loe bener bener sahabat gue" Vian memeluk Julian dengan sangat hangat. Vian sangat bahagia dia bisa berteman baik dengan Julian.


"Sama sama. Tapi loe harus janji satu hal ke gue" ujar Julian lagi sambil menatap lurus ke arah Vian.


Vian sedikit takut mendengar apa yang dikatakan oleh Julian. Dia takut Julian meminta yang aneh aneh kepada dirinya.


"Jangan yang aneh aneh ya loe mintak ke gue" kata Vian yang tidak mau Julian meminta sesuatu yang aneh aneh kepada dirinya.


"Nggak akan yang aneh aneh" ujar Julian menjawab keraguan dari Vian.


"Jadi apa syaratnya?" tanya Vian kembali bertanya.


"Gampang. Tidak ada yang boleh disumpetin dari gue" kata Julian mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Gue pikir, gue nggak ada yang gue sempetin dari loe" jawab Vian dengan penuh keyakinan.


Vian memang merasa tidak ada yang disembunyikannya dari Julian selama ini.


"Apa kamu yakin?" tanya Julian memastikan apa yang dikatakan oleh Vian adalah benar.


"Sangat yakin sekali. Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari kamu" jawab Vian dengan sangat yakin.


"Baiklah. Aku harap kamu menjaga kepercayaan aku ke kamu Vian" kata Julian sambil memberikan sebuah teko yang sudah berisi air buah segar.


"Sip" jawab Vian.


"Kapan loe bikin puding buah?" tanya Vian saat melihat Julian yang mengeluarkan puding buah dari salam lemari pendingin.


"Kemaren sore. Semuanya gue buat kemaren sore" jawab Julian.


"Loe keren" ujar Vian.

__ADS_1


"Haha haha haha. Makasi banyak" jawab Julian sambil tersenyum.


Julian membawa puding buah yang sudah di potong potong lengkap dengan vla vanila, sedangkan Vian membawa air buah yang berada di dalam teko. Kedua wanita itu berjalan menuju teras rumah dimana Bryan dan kedua sahabatnya sedang mengobrol di sana.


"Kevin, Felix ini ada puding buah sama air buah." kata Julian sambil menaruh puding buah dan juga air buah yang mereka bawa dari luar.


"Wow.... Ini benar benar perayaan wisuda magister" ujar Kevin dengan wajah berbinar saat melihat puding buah dan juga es buah yang dibawa Julian dan Vian.


"Bisa aja loe lambung besar" kata Felix saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin kepada mereka semua.


"Bilang aja loe kelaperan, nggak usah pake kata pengantar segala" lanjut Felix lagi mencemooh Kevin dengan sekian banyak gayanya sebagai manusia.


Kevin mengambil sepotong puding buah serta menyiramkan vla vanila di atas pudingnya itu


"Felix ini enak. Cobain aja"


"Kalah sama yang di restoran" ujar Kevin memuji puding yang dibuat oleh Julian.


"Ya ya ya ya. Kalau untuk menilai makanan, loe tiada duanya" ujar Felix sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada Kevin.


"Tentulah iyes. Jelas lidah gue memiliki kemampuan yang sempurna" balas Kevin lagi tidak mau kalah dengan yang dikatakan Felix.


'Kalau seperti ini kalian terlihat oleh lawan bisnis. Hem sudah bisa dipastikan kita akan kalah' bunyi pesan Bryan di dalam grub chat mereka bertiga.


Felix dan Kevin saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua langsung mengubah sikap sesaat setelah membaca pesan chat tersebut.


"Jangan mau diintimidasi oleh teman sendiri." ujar Julian berkata tanpa melihat ke arah siapapun.


Bryan, Felix dan Kevin saling melirik antara satu dengan yang lainnya. Mereka cukup kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.


"Maksudnya apa ya Julian?" ujar Vian bertanya dengan santainya. Vian tidak sempat melihat ke wajah tiga orang pria yang ada di dekat mereka sekarang ini.


"Maksudnya gini Vian. Kalau kita bersahabat ni, jangan pernah intimidasi sahabat sendiri. Sahabat mau ngapain ya terserah sahabat, asalkan masih dalam batas kewajaran" ujar Julian menjelaskan


Vian masih terlihat bengong dan tidak mengerti ke mana arah pembicaraan dari seorang Julian.


"Serah loe deh Julian. Asli gue nggak ngerti. Tapi gue berusaha untuk mengerti aja" akhirnya Vian menyerah. Dia tidak akan meminta Julian untuk menjelaskan kembali kepada dirinya tentang apa yang mereka bahas tadi


"Hahaha haha hahaha. Kalau loe masuk ke dalam circle mereka maka loe akan tau apa maksud gue" lanjut Julian sambil tersenyum sedikit saja.

__ADS_1


"Udahlah nggak usah bahas lagi. Kita senang senang aja lagi" kali ini Vian mengatakan hal yang sebenarnya. Mereka memang lebih baik tidak mengatakan hal hal yang bisa merusak suasana, tetapi lebih baik mengatalan hal hal yang baik untuk suasana.


Keheningan sedikit tercipta di teras itu. Sekarang Julian sudah mulai jeli melihat kelakuan aneh dari tindakan Bryan, Felix dan Kevin. Sehingga apapun itu mereka bertiga harus bisa berpandai pandai bersikap di depan Julian.


"Jadi, setelah tamat kuliah ini kamu mau melanjutkan kuliah lagi atau mau kerja Julian?" tanya Felix memecahkan kesunyian yang sempat tercipta di antara mereka sesaat.


"Rencananya mau melamar pekerjaan. Apa di perusahaan tempat Felix dan Kevin ada lowongan pekerjaan?" tanya Julian dengan entengnya.


"Yah nggak bisa jawab sekarang. Nantilah di tanya ke bagian HRD dulu. Nanti kalau ada di hubungi" jawab Kevin yang tidak akan mungkin perusahaan tempat Kevin bekerja bisa menerima Julian untuk bekerja di sana juga.


"Tempat Felix bagaimana?" tanya Julian.


"Sama seperti Kevin. Nggak bisa jawab sekarang" jawab Felix lagi.


"Hem oke oke. Aku akan berusaha mencari pekerjaan. Aku akan melamar ke berbagai perusahaan yang ada di sini" jawab Julian dengan mata yang berbinar binar. Tekad bulat Julian sudah ada, dia memang akan melamar pekerjaan ke setiap perusahaan yang ada di negara ini.


"Gue akan temenin elo Julian" kata Vian tidak kalah semangatnya.


"Kuliah loe gimana?" tanya Julian.


"Gue nggak mau gara gara gue, loe nggak jadi menyelesaikan kuliah elo sendiri" Julian menolak secara halus permintaan dari Vian kepada dirinya.


"Loe tenang aja. Itu sudah di dalam" jawab Vian dengan santainya


Mana mungkin Vian mau di kampus lagi. Dia di kampus hanya mengikuti Julian saja. Perkuliahan magister Vian sudah terlalu lama diselesaikan.


"Oke oke. Kalau itu tidak mengganggu loe nggak masalah juga" jawab Julian lagi.


"Kalau gue juga daftar seperti loe gimana? Loe pakai ijazah magister, gue pakai ijazah sarjana" kata Vian memberikan solusi kepada Julian.


"Jadikan kita kemana mana bisa bersama" lanjut Vian lagi


"Kuliah loe?" tanya Julian kembali.


"Sudah di dalam" jawab Vian dengan tegas.


"Oke. Terserah loe aja. Lagian gue makin seneng pas ngantor ada teman langsung" kata Julian yang berharap dia akan diterima di perusahaan yang sama dengan Vian


Mereka kembali melanjutkan obrolan. Tepat jam sembilan malam, mereka bertiga pamit untuk pulang. Julian dibantu Bryan merapikan teras rumah tempat mereka makan tadi. Julian sampai harus masak untuk menu makan malam mereka berlima kembali.

__ADS_1


__ADS_2