Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #49


__ADS_3

"Oke sudah mau malam, gimana kalau kita pulang? Saya sudah terlalu letih pengen istirahat" kata Bryan yang sudah tidak sabaran lagi untuk mendengar cerita dari Julian. Hati dan Pikiran Bryan sekarang sudah tidak menentu lagi. Dia sudah tidak tau harus berbuat apalagi. Sehingga Bryan memutuskan untuk pulang.


Tidak satupun dari mereka yang berani membantah apa yang dikatakan oleh Bryan Termasuk Julian sendiri. Mereka kemudian berdiri dari posisi duduknya. Mereka akan pulang dan kembali ke rumah masing masing


"Kita pulang naik motor saja. Jangan pesan taks online" kata Bryan dengan nada dingin kepada Julian. Julian memang sudah siap akan memesan taksi online, dia akhirnya menggagalkan niatnya untuk memesan taksi online.


"Oke" jawab Julian membatalkan pesanannya. Untung saja belum ada driver yang menerima orderan dari Julian.


"Vian, saya pinjam motor kamu. Kamu pulang diantar Kevin atau Felix saja" kata Bryan memberikan perintah kepada Vian. Bryan ingin mencari tempat untuk berbicara dengan Julian. Bryan memerlukan tempat yang tenang untuk melakukan pembicaraan yang cukup berat itu.


'Mampus gue, sepertinya Bryan tidak mau menunda percakapan ini untuk dilakukan di rumah' kata Julian dalam hatinya.


"Semangat" Vian memberikan semangat kepada Julian. Vian sudah bisa merasakan kecemasan Nyonya mudanya itu.


Julian cemberut ke arah Vian. Vian mengepalkan tangannya memberikan semangat kepada Julian.


Felix yang biasanya tidak akan mau membiarkan Bryan pulang dengan motor, akhirnya membiarkan saja. Felix tidak mau memperkeruh suasana.


"Kamu harus pegang aku kuat kuat Julian" kata Bryan memberikan perintah. Bryan tidak mau Julian jatuh atau bagaimana nya saat dirinya mengendarai motor dengan kecepatan lumayan tinggi nantinya.


"Tenang motor nggak bisa ngebut" ujar Vian lagi saat membaca raut kecemasab di wajah Julian.


Julian tersenyum bahagia. Dia memberikan kedua jempolnya kepada Vian.


Mereka semua akhirnya pulang ke rumah masing masing. Bryan dan Julian naik motor Vian, sedangkan Kevin mengantarkan Vian ke rumahnya, sedangkan Felix berkendara sendirian.


Bryan mengemudikan motor Vian pergi ke sebuah tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Felix yang sudah bisa membayangkan dan menebak apa yang akan dilakukan oleh Bryan, mengikuti motor Tuan mudanya itu. Bryan tau diikuti oleh Felix, makanya dia merasa aman dan nyaman nyaman saja selama berkendara.


"Ini motor kenapa nggak mau diajak ngebut lagi" kata Bryan yang kesal dengan motor punya Vian yang tidak bisa mengebut itu.


Julian tersenyum bahagia. Ternyata yang dikatakan oleh Vian memang benar, motornya tidak bisa di bawa untuk menyebut sesuai keinginan Bryan.


"Kita kemana sayang?" tanya Julian mulai takut kemana Bryan membawa dirinya pergi. Julian tau kalau daerah ini sudah lumayan jauh dari pusat kota.


Pertanyaan yang sama yang sudah diulang sebanyak tiga kali oleh Julian. Tetapi respon yang diberikan oleh Bryan tetaplah sama. Bryan tetap dengan diamnya. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Julian.


"Kalau kamu tidak mau menjawab aku. Silahkan turunkan aku di sini" teriak Julian yang sudah kesal dengan sikap Bryan.


Kalau Bryan marah karena bekas tamparan itu, sebenarnya yang lebih marah lagi adalah Julian karena bagaimanapun Julianlah korbannya di sini. Julian berhasil dibikin malu oleh Nyonya besar itu


Bryan masih tidak bereaksi saat mendengar ancaman dari Julian. Bryan masih saja diam dan melajukan motor dalam kecepatan maksimal sesuai kemapuan motor itu

__ADS_1


"Bryan" teriak Julian


"Kalau kamu tidak mau berhenti, maka aku benar benar akan loncat" kata Julian yang kemarahannya sudah di puncak ubun ubun.


"Aku tidak suka melihat orang jarang tapi diam" kata Julian dengan nada kasar.


Bryan masih saja diam. Saat itulah Julian memutuskan untuk loncat. Dia melakukan pergerakan, ternyata pergerakan Julian yang sedikit itu dirasakan oleh Bryan. Bryan kemudian menepikan motornya.


Julian langsung turun dari motor. Dia sangat marah dengan sikap Bryan yang seperti ini.


"Loe berhak marah. Berhak emosi. Tapi gue di sini juga manusia, gue juga berhak untuk hidup" teriak Julian.


"Kalau loe mau mati, mati sendiri aja. jangan bawa bawa gue" lanjut Julian dengan emosi.


Untung saja suasana di sana sangat sepi. Sehingga tidak ada orang yang bisa menyaksikan kemarahan dari seorang Julian. Saksi yang ada hanya Felix yang mobilnya parkir hanya berjarak lima meter dari posisi Julian dan Bryan berhenti.


"Loe marah karena wajah gue di tampar seseorang. Gue ucapin terimakasih, karena kemarahan loe menunjukkan kalau gue sangat berarti bagi loe" lanjut Julian lagi.


"Loe kesal sama orang yang melakukan hal ini ke gue, gue ucapin terimakasih. Tapi gue juga kesal dan marah. Gue nggak bisa membalas orang itu." lanjut Julian mengeluarkan apa yang dirasakannya.


"Gue bener bener malu. Gue nggak tau mau kemana gue harus menyurukkan wajah gue" lanjut Julian lagi.


"Gue memakai makeup lebih tebal supaya loe bisa lihat bekas ini di rumah. Karena ada Felix dan Kevin. Gue nggak mau mereka tau kalau gue habis di tampar orang lain" lanjut Julian lagi.


"Setelah loe teriak apa yang loe lakuin ha? Apa? loe malah bersikap dingin ke gue. Padahal hari ini adalah hari spesial bagi gue. Gue bisa bekerja di perusahaan. Tidak perlu kerja di dua tempat lagi" kata Julian.


Julian menghapus air matanya yang jatuh. Perasaan Julian saat ini campur aduk, antara sedih, bahagia dan terluka serta kecewa melihat sikap Bryan.


"Tadi saat makan, gue hanya minta tunjukkan kebahagian loe karena gue diterima kerja, bukan seperti tadi." Julian benar benar kesal sekarang.


"Bukan sikap dingin seperti seseorang yang super protektif" lanjut Julian. Julian mengeluarkan apa yang dirasakannya. Kemarahan yang sudah memuncak karena aksi diam Bryan.


Julian berjalan mondar mandir di depan Bryan. Kemarahan Julian sudah tidak bisa lagi di tahannya. Dia benar benar marah sekarang, sampai sampai Julian kehilangan akal sehatnya. Malahan Julian memanggil dengan kata sapaan loe gue ke suaminya itu. Suami yang selama berbulan bulan ini dihormatinya. Tetapi hanya karena kejadian ini Julian menjadi lepas kendali. Suatu hal yang sudah sangat lama tidak terjadi lagi kepada Julian.


"Maaf kalau aku panggil loe gue tadi" kata Julian saat dia sudah berhasil mengendalikan dirinya kembali.


Julian memilih duduk di trotoar. Dia benar benar tidak tau lagi harus ngapain. Dia kesal melihat Bryan yang hanya diam saja seperti itu. Tidak ada reaksi yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.


Julian yang melihat Bryan hanya diam saja, langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia berjalan meninggalkan Bryan yang seperti patung itu. Bryan syok melihat kemarahan dari seorang Julian.


"Itu Tuan Muda kenapa diam saja. Bikin kesal aja" kata Felix yang melihat tida ada sama sekali pergerakan yang dilakukan oleh Bryan.

__ADS_1


Felix yang melihat Julian berjalan dalam kegelapan malam sendirian, keluar dari dalam mobilnya.


"Julian" teriak Felix.


"Julian berhenti Julian" Felix berteriak sekali lagi.


Felix sengaja berteriak dengan keras supaya Bryan mendengar dan sadar kalau Julian tidak lagi di dekat dirinya saat ini.


Mendengar Felix sudah teriak, barulah Bryan tersadar kalau Julian sudah tidak di dekatnya lagi. Bryan berlari mengejar Julian. Bryan memegang erat tangan Julian.


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Bryan. Felix yang melihat hal itu berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya. Dia tidak mau menyaksikan keributan sepasang suami istri itu.


"Satu tamparan belum mewakili kekecewaan aku ke kamu Bryan" kata Julian dengan kesal.


Bryan memilih untuk memeluk Julian. Dia tau dia sudah salah. Tidak seharusnya dia bersikap diam seperti ini, seharusnya dia memberikan perhatian kepada Julian.


"Maaf"


"Maafkan aku"


Bryan meminta maaf kepada Julian. Bryan tau kalau dia sudah salah. Bryan menyadari sepenuhnya kesalahannya itu


"Apa bryan?" tanya Julian yang ingin Bryan sekali lagi mengulang permintaan maafnya tadi.


"Maafkan aku. Aku salah. Tidak seharusnya aku diam saja" lanjut Bryan masih memeluk erat Julian.


"Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku kesal dan marah karena kamu di tampar orang lain."


"Kemarahan aku semakin menjadi karena aku tidak tau ke siapa harus aku balaskan tamparan itu" lanjut Bryan mengeluarkan segala pemikiran yang membuat dirinya terdiam lama tadi.


"Sekali lagi maafkan aku" kata Bryan.


"Aku sudah memaafkan kamu sayang. Kamu juga mau kan memaafkan aku karena panggilan tadi, terus aku nampar kamu tadi" kata Julian yang gantian meminta maaf kepada Bryan.


Bryan mengangguk. "Aku maafkan" jawab Bryan.


"Bryan, lebih baik kamu bawa mobil saja pulang. Hari sudah terlalu malam. Biar motor Vian, aku yang bawa" kata Felix.


Bryan melihat kearah Julian. Julian menggeleng.


"Naik motor saja. Lebih mesra" kata Julian.

__ADS_1


"Kami naik motor saja" kata Bryan mengulang perkataan dari Julian.


Bryan dan Julian kembali naik motor Vian. Kali ini mereka akan pulang ke rumah. Bryan tidak akan membawa Julian kemana mana lagi. Apalagi besok adalah hari pertama Julia bekerja, Bryan tidak mau, kalau Julian mendapatkan masalah di hari pertama kerjanya.


__ADS_2