
Sebuah mobil mini bus yang biasa menjemput pegawai perusahaan yang baru selesai dinas dari luar kota berhenti di lobby perusahaan. Seorang pria berpakaian rapi keluar dari pintu penumpang. Dia membetulkan jasnya dan juga kaca mata hitam yang selalu bertengger di wajah tampannya itu. Pria yang sudah lama ditunggu kedatangannya oleh Bryan dan Kevin. Pria yang katanya akan sampai tiga puluh menit lagi, tetapi setelah tiga puluh menit kali sekian kali, pria itu tidak juga datang. Baru di jam segini pria itu menampakkan batang hidungnya ke perusahaan utama Witama Grub.
Felix menarik koper yang lumayan besar. Resepsionis yang melihat hal itu menjadi keterangan sendiri. Felix memang sangat sering keluar negeri, tetapi Felix tidak pernah membawa koper yang besar, apalagi sebesar yang sekarang itu. Ntah setan apa yang merasuki Felix sehingga Felix membawa koper yang besar kali ini.
Felix menaruh koper di dekat dirinya berdiri di depan meja resepsionis itu. Felix akan memastikan kehadiran Bryan di ruangannya sebelum dia dengan percaya dirinya masuk ke dalam ruang kerja Bryan.
"Tuan muda dimana?" tanya Felix kepada resepsionis yang masih berada di balik meja kerjanya.
Dua orang resepsionis menjadi kaget saat disapa mendadak oleh Felix. Mereka mengira tidak akan ada lagi orang yang datang. Tadi Kevin memang mengatakan Felix akan datang, tetapi waktunya sudah terlewat cukup jauh.
"Kalian berdua kira saya hantu, sampai sampai kalian kaget seperti itu" kata Felix protes melihat ekspresi terkejut dua orang resepsionis itu.
"Apa Tuan Muda ada di ruangannya?" kata Felix kembali menanyakan hal yang sama kepada dua orang resepsionis itu.
Felix bertanya tanpa basa basi main langsung ke topik percakapan. Beda dengan Kevin yang akan selalu berbasa basi sebelum bertanya kepada resepsionis. Bahkan terkadang sikap Kevin yang seperti itu membuat resepsionis menjadi salah sangka kepada dirinya.
"Masih di ruangan Tuan Muda, Tuan Felix" jawab resepsionis dan melihat ke arah Felix sekilas saja. Mereka berdua tidak bisa lagi merangkai kata kata dengan tepat saking cemas dan takutnya kepada Felix.
"Tuan Kevin?" tanya Felix menanyakan satu lagi sahabatnya yang dari tadi sibuk terus menanyakan dia sudah dimana dan sampai jam berapa.
"Masih dalam ruangan Tuan Muda" jawab resepsionis.
"Terimakasih. Sudah sore silahkan kalian pulang. Katakan sama satpam dan juga office boy untuk tidak mengunci pintu bagian depan. Kami masih akan ada di sini, ntah sampai kapan." ujar Felix memberikan perintah kepada resepsionis yang sampai jam segini masih berada di perusahaan.
"Siap Tuan Felix. Kami akan langsung pulang setelah memberitahukan kepada office boy semua pesan dari Tuan Felix" kata resepsionis.
Felix menarik koper yang luar biasa berat itu menuju ruang kerja Bryan.
"Huft, hampir copot jantung gue" ujar kedua resepsionis itu serempak Mereka tidak menyangka Felix tetap akan datang. Untung saja mereka tadi menunda untuk pulang ke rumah, kalau tidak bisa habis mereka besok harinya.
"Ini koper bener bener menyusahkan gue dari tadi" ujar Felix memaki benda mati tempat menyimpan pakaian itu.
Felix membuka pintu ruang kerja Bryan. Dia menahan pintu itu dengan sebelah kakinya, sedangkan tangannya menarik koper yang berada di luar pintu.
__ADS_1
Bryan dan Kevin melihat koper besar yang di bawa oleh Felix. Setau mereka selama ini Felix tidak pernah membawa koper saat berpergian kemanapun dia bekerja. Paling besar Felix hanya membawa tas ransel, itupun jarang terjadi.
Kevin melihat ke arah Bryan. Bryan mengangkat pundaknya tanda tidak mengerti dengan apa yang dibawa oleh Felix. Suatu hal yang tidak pernah terjadi selama ini. Pemandangan yang benar benar langka dan layak masuk guiness book record. Saking langkanya hal yang mereka lihat sekarang
"Tumben loe bawa koper. Apa isinya?" tanya Bryan yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya itu.
Felix menaruh koper di dekat Bryan. Setelah itu dia duduk di sofa tunggal yang berada di depan Kevin. Felix menghembuskan nafasnya dengan berat, dia kelihatan sangat lelah sekali. Bryan dan Kevin memberikan waktu yang seluas luasnya kepada Felix untuk mengambil nafas dan menenangkan dirinya.
"Loe kenapa Felix, seperti orang habis lari larian?" tanya Kevin yang heran melihat kelakuan Felix yang bisa bisanya sampai sesak nafas karena membawa koper.
"Bener gaya loe seperti meyakinkan sekali. Padahal loe tadi janji sampai sini tiga puluh menit saat Kevin nelpon. Eeeeeee ternyata sampainya tiga puluh menit kali sekian kali. Bener bener lama tiga puluh menit loe" sekarang giliran Bryan yang marah marah kepada Felix.
Felix hanya mendengarkan saja ceramah singkat dari Bryan dan Kevin. Dia tidak menjawab ataupun membantahnya. Dia bersikap pasrah saja seperti orang yang tidak tau apa apa.
"Ngapain loe diam Felix" ujar Kevin setengah kesal.
Kevin menjadi kesal kepada Felix, karena kedatangan Felix yang tidak tepat waktu membuat Bryan menjadi cemberut dan terlihat tidak sedang dalam kondisi normal alias kondisi oke.
Bryan dan Kevin mengangguk. Mereka berdua cukup kaget saat melihat reaksi Felix yang diluar ekspektasi mereka berdua. Bryan dan Kevin membayangkan kalau Felix hanya akan memberikan reaksi standar, ternyata tidak sama sekali.
"Sekarang giliran gue ngomong dan menjelaskan kenapa gue bisa sampai telat datang ke sini. Serta kenapa tiga puluh menit yang seharusnya menjadi tiga puluh menit berkali kali lipat" kata Felix memulai percakapannya dengan Bryan dan Kevin.
"Sebenarnya gue memang seharusnya datang tiga puluh menit setelah Kevin nelpon. Gue saat itu udah di bandara. Jemputan perusahaan udah nunggu gue di parkiran." kata Felix memulai ceritanya.
"Terus kenapa loe telat sampai kalau udah di bandara? Loe ketemuan dulu ya, makanya sampilai telat" ujar Kevin menebak apa yang dilakukan oleh Felix sehingga dirinya bisa telat sampai ke perusahaan.
"Kalau yang loe omongin itu bener ya baguslah. Ini kan karena nggak sama sekali" kata Felix menjawab tuduhan dan prasangka dari Kevin
"Lah terus loe kemana? Nggak mungkin kan loe ketiduran di bandara" kaya Kevin memberikan solusi yang semakin tidak mungkin terjadi.
"Tu gara gara itu" ujar Felix sambil menunjuk ke arah koper besar yang tadi di bawanya.
"Koper? Apa hubungannya?" Bryan semakin tidak mengerti.
__ADS_1
Masalah penting yang akan mereka diskusikan menjadi tidak jadi dan tertunda gara gara kasus koper yang dijadikan oleh Felix sebagai kambing hitam kenapa dia sampai terlambat datang dari jadwal seharusnya.
"Hubungannya kalau gue tinggalin tu koper, maka bisa dipastikan gue dipecat dari pekerjaan gue" jawab Felix dengan santainya.
"Kalau nggak gara gara itu. Gue biarin tu koper kemana mana" lanjut Felix dengan nada sedikit kesal.
"Yang bisa mecat loe hanya gue sendiri. Lah gue nggak ada nyuruh loe ngamanin koper gue" ujar Bryan yang tidak mengerti kenapa Felix sampai menyangkut pautkan dirinya dengan koper yang dibawa Felix tadi.
"Yang nyuruh memang bukan loe Bryan CEO perusahaan Witama Grub. yang minta gue menjad seperti ini adalah Julian Bryan Witama" kata Felix menyebutkan siapa orang yang meminta dirinya untuk membawa koper sebesar itu.
"Hah? Julian?" kata Bryan kaget saat mendengar siapa yang membuat Felix bersedia membawa koper yang luar biasa besar itu.
"Loe serius yang nyuruh adalah Julian?" tanya Bryan yang kurang yakin dengan apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.
"Ngapain gue pake boong. Ribet banget hidup gue. Sudahlah gara gara ne koper gue ribet. Sekarang harus ribet boong sama loe juga" jawab Felix masih kesal karena perkara koper besar itu.
"Jadi apa yang terjadi?" tanya Bryan pada akhirnya.
"Julian nitip berbagai macam makanan dan juga buku ke gue. Nah saking banyaknya akhirnya satu koper full. Gue bahkan harus beli koper di luar sana" kata Felix menjelaskan kepada Bryan apa yang dialaminya.
"Terus yang lebih gilak nya lagi. Gue nggak pernah bawa koper. Nah ne koper pake terbang lagi ke negara singapuran pusing kan gue" kata Felix menjelaskan.
"Jadi gara gara menunggu koper balik ke sini, loe sampai lama nunggu di bandara?" kali ini Kevin mengambil kesimpulan dari apa yang diceritakan oleh Felix kepada mereka berdua.
"Cakep" jawab Felix sambil memberikan dua jempolnya kepada Kevin.
"Gile bener" kata Kevin sambil menggeleng geleng kan kepalanya.
"gile bener loe bilang Gue keberatan tau bawanya. Mana belinya susah lagi" jawab Felix yang benar benar butuh perjuangan membawa dan membeli semua titipan Julian.
"Kalau bukan Julian yang minta. Ogah gue melakukan ini. Gue masih sayang sama pekerjaan gue" Lanjut Felix menerangkan kenapa dia mau bersusah payah menuruti keinginan Julian.
Sedangkan Bryan tidak bisa berkomentar apa apa lagi. Dia sendiri heran kenapa bisa Julian menitip segitu banyaknya makanan kepada Felix. Ini bener bener aneh. Bryan tidak cemburu kepada Felix. Cuma bryan merasa aneh dengan sikap Julian sekarang
__ADS_1