
Bryan memilih untuk masuk ke dalam kamar yang ada di pesawat milik keluarga Witama itu. Dia ingin beristirahat selama kurang lebih tiga jam penerbangan menuju pulau Balis itu.
Felix yang merasa kalau pesawat sudah terbang dengan stabil memilih untuk ke kamar kecil terlebih dahulu. Padahal sebenarnya dia mau melihat keadaan Bryan.
"Tuan muda mana?" tanya Felix kepada pramugari yang bertugas sebagai kabin jaga.
"Tuan muda masuk ke dalam kamar, Tuan Felix" kata pramugari memberitahukan kepada Felix dimana posisi Bryan saat ini.
"Oh oke. Tolong layani Tuan Muda dengan sebaik baiknya" kata Felix memberikan perintah kepada pramugari yang bertugas kali ini dalam penerbangan untuk mengantarkan Bryan dan Felix ke pulau Balis.
"Siap Tuan Felix" jawab pramugari sambil menunduk ke arah Felix.
Felix kembali menuju kokpit dia akan kembali bekerja mengendalikan pesawat tersebut. Sebuah pekerjaan yang sudah sangat lama tidak dilakukan oleh Felix. Sebenarnya hari ini Felix juga tidak akan menerbangkan pesawat, tetapi karena dia sedang tidak suka melihat tingkah Bryan, pada akhirnya Felix memilih untuk menggantikan co pilot untuk menerbangkan pesawat Witama grub tersebut.
Bryan yang memilih tidur selama perjalanan karena merasa tidak ada teman lagi di ajak mengobrol, menghabiskan waktunya di atas pesawat dengan berbaring di atas ranjang kecil yang ada di dalam kamar pesawat.
Pilot memberikan pengumuman bahwasanya mereka sebentar lagi akan mendarat, semua penumpang pesawat termasuk crew cabin, diminta untuk duduk kembali di kursi masing masing dan memasang self belt.
Bryan yang mendengar pengumuman dari pilot, langsung bangun dari posisi tidurnya dan berjalan keluar dari dalam kamar. Bryan kemudian duduk di kursi nya tadi.
"Kenapa gue merasa kalau Felix ada di dalam pesawat ya?" kata Bryan yang ntah kenapa sangat yakin kalau sahabatnya itu ada di dalam pesawat yang sama dengan dirinya saat ini.
"Tapi kalau dia ada pasti namanya ada di dalam manifes. Tapi ini kan sama sekali tidak ada" lanjut Bryan kembali.
"Ah pusing."
Bryan akhirnya memilih untuk duduk diam saja di kursinya itu. Dia sama sekali tidak tau harus berbuat apa lagi sekarang. Felix sudah marah berarti dia harus bekerja sendirian.
Pesawat mendarat dengan sempurna di landasan pacu. Bryan bersiap siap untuk turun dari pesawat. Pilot dan pramugari sudah berdiri di depan pintu keluar pesawat untuk menunggu Bryan.
"Terima kasih Ryan, ini pendaratan yang sangat sempurna" ujar Bryan memuji pilot yang sudah melaksanakan tugasnya dengan sebaik baiknya.
"Sama sama Tuan Muda. Selamat menikmati hari Anda" jawab Ryan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Saya akan kembali terbang tiga hari lagi. Kamu stanbay di sini atau balik ke Jarkarta?" tanya Bryan lagi sebelum dia melangkah menuruni tangga pesawat.
"Sepertinya akan stay di sini saja Tuan Muda. Pesawat yang baru di beli Tuan besar sudah bisa di operasikan" jawab Ryan.
"Oh jadi juga papi ambil pesawat baru lagi. Mantap" kata Bryan.
Bryan kemudian melangkah menuruni anak tangga untuk menuju mobil yang sudah menunggunya tepat di ujung tangga pesawat.
"Semangat Bryan loe harus kerja sendirian" ujar Bryan memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Bryan harus bisa melakukan semuanya seorang diri. Dia tidak bisa mengharapkan bantuan Felix maupun Kevin. Itu semua akibat kesalahannya sendiri.
Bryan masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan oleh perusahaan cabang untuk menjemput Bryan ke bandara.
"Kita langsung ke hotel" ujar Bryan memberikan perintah kepada sopir.
"Siap" jawab sopir hanya dengan satu kata saja.
Jarak tempuh bandara ke hotel menghabiskan waktu setengah jam saja. Jadi Bryan menghabiskan waktu untuk saling berkirim pesan dengan Julian.
'Sayang aku udah di rest area' bunyi pesan chat uang dikirim oleh Bryan kepada Julian.
'Sedang meeting sayang. Nanti aku chat lagi' balas Julian memberitahukan kalau dirinya sedang tidak bisa diganggu.
Bryan kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Dia melihat ke arah luar dari kaca yang gelap tersebut.
"Sepi banget. Kenapa orang orang mendadak jadi sibuk semua ya?" kata Bryan sendirian.
Sopir hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan seorang diri.
"Mana felix marah lagi. Susah susah susah dunia jadinya" kata Bryan dengan kesal.
Bryan sangat tidak tau lagi harus melakukan apa. Dia harus bekerja sendirian. Bryan takut kalau tiga hari itu akan molor jadi sekian hari lagi. Bisa bisa Julian marah nanti saat dia pulang.
__ADS_1
"Apa kamu ada lihat Felix?" tanya Bryan kepada sopir.
"Tidak Tuan Muda" jawab sopir dengan suara beratnya.
Bryan kembali diam, dia melihat keluar jendela mobil. Kesibukan kota Balis benar benar terlihat dari lalu lalang mobil. Kesibukan yang tidak bisa disangkal lagi.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit. Akhirnya sopir mobil memberhentikan mobilnya di depan lobby hotel. Seorang vallet hotel membukakan pintu untuk Bryan turun. Sedangkan seorang office boy menurunkan koper milik Bryan dari dalam mobil.
"Selamat datang Tuan Muda. Ini kunci kamar Anda" ujar manager hotel memberikan kunci kamar kepada Bryan.
"Terimakasih" ujar Bryan.
"Koper saya" lanjut Bryan kepada office boy yang membawakan koper miliknya turun dari atas mobil tadi.
Office boy memberikan koper kepada Bryan. Bryan kemudian masuk ke dalam lift yang akan membawa dirinya langsung ke kamar yang berada di lantai paling atas.
Bryan membuka pintu kamar yang akan ditempatinya selama tiga hari ke depan. Bryan menaruh semua barang barangnya di atas sebuah meja.
"Mandi dulu, setelah itu baca semua laporan. Gue harus kerja keras. Nggak bisa ngandelin orang lain lagi" kata Bryan memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Bryan masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu dia akan minta pelayanan room service untuk menghidangkan makanan.
"Dokumen yang harus gue baca mana ya?" kata Bryan saat dirinya tidak melihat dokumen yang harus dibacanya sekarang.
"Felix" ujar Bryan yang ingat memang belum menerima dokumen apapun dari Felix.
"Sial. Gimana cara minta nya" lanjut Bryan lagi
Bryan berjalan hilir mudik di dalam kamarnya yang besar itu. Dia sudah membuat kesalahan sangat fatal sekarang. Kalau dia memiliki dokumen permasalahan perusahaan itu, maka dia pasti bisa menganalisis kejadiannya. Bisa mencari tau sumber masalahnya. Sedangkan sekarang, apa yang mau dilakukan oleh Bryan. Dia sama sekali tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dokumen yang mau di baca di bawa oleh Felix. Sedangkan untuk menghubungi Felix dia masih terlalu gengsi.
Bryan memutar otaknya. Dia tidak boleh hanya berdiam diri saja sekarang. Dia harus bisa mendapatkan dokumen itu. Mau dari Felix atau dari siapapun juga. Terpenting bagi Bryan sekarang adalah dirinya memiliki dokumen yang berisi masalah di perusahaan.
"Wah kacau bener bener kacau" kata Bryan sambil menarik rambutnya dengan kasar.
__ADS_1