
Felix mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang. Kendaraan sedang ramai ramainya di jalan raya saat ini. Sehingga Felix sama sekali tidak bisa memacu kendarannya dengan kecepatan tinggi.
Setelah tiga puluh menit berkendara, mobil yang dikemudikan oleh Felix masuk ke dalam area perusahaan VJ Grub. Julian kemudian keluar dari dalam mobil saat pintu mobil di bukakan oleh Bryan dari luar.
"Makasi sayang" ujar Julian sambil tersenyum ke arah suaminya itu.
"Sama sama sayang. Hati hati di rumah. Bawa Vian menginap Oke" kata Bryan lagi sebelum mereka benar benar berpisah untuk tiga hari ke depan.
"Iya sayang, tenang, aku akan lakukan semua yang kamu pesan kan. Tidak akan aku langgar satupun" kata Julian meyakinkan Bryan kalau dirinya pasti akan melakukan apa yang sudah dikatakan oleh Bryan tadi.
"Sana masuk" ujar Bryan yang baru akan pergi saat Julian sudah berada di dalam gedung perusahaan.
Julian menunjuk pipi sebelah kanannya. Bryan tersenyum dan paham dengan apa yang dikatakan oleh Julian dengan isyarat nya itu. Bryan langsung mencium pipi, kening dan terakhir bibir sang istri tercinta.
"Aku jalan dulu ya" kata Bryan yang akhirnya mengalah untuk pergi duluan.
"Hati hati" kata Julian sambil memberikan senyuman terbaik untuk suami yang akan lama tidak ditemuinya itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Felix bergerak meninggalkan perusahaan tempat Julian bekerja. Mobil akan menuju bandara dimana pesawat milik perusahaan Witama sudah menunggu di landasan pacu. Pesawat akan mengantarkan Julian dan Felix ke daerah yang memiliki pantai yang indah di negara Indomesia.
"Jadi, kamu nggak ngomong Julian kalau kita akan ke Belis?" tanya Felix saat mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara.
"Sama sekali tidak. Sedangkan nggak ke sana aja gue ngomong pergi kerja keluar kota aja, susahnya dapat izin." kata Bryan menjawab pertanyaan dari Felix sambil mengetik sebuah pesan untuk Julian.
"Bryan Bryan Bryan. Baru juga jalan dua kilo udah ngirim pesan chat langsung. Apalagi semalaman" ujar Felix mencoba menggoda Bryan yang terlihat sangat alay sekali.
Bryan mengacuhkan saja sindiran telak yang diberikan oleh sahabatnya itu kepada dirinya. Dia tetap asik dengan pesan chatnya dengan Julian.
"Lama lama loe gue turunin di sini juga loe, Bryan. Gimana mau kerja kalau loe sibuk dengan ngirim pesan chat aja ke Julian besok" kata Felix yang sudah sangat yakin kalau Bryan pasti akan sibuk dengan pesan chat selama mereka di Balis nantinya.
Bryan yang sedang asik mengirim pesan chat dengan Julian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya. Bryan kemudian menyimpan ponsel miliknya ke dalam tas, setelah mengatakan kepada Bryan kalau dia akan mengemudikan mobil, jadi dia tidak bisa membalas pesan chat dari Julian lagi. Kali pertama Bryan berbohong kepada Julian selain menyembunyikan identitas dirinya sendiri..
__ADS_1
"Sorry bro" ujar Bryan meminta maaf kepada Felix.
"Gue maklum Bryan. Loe sedang cinta cintanya ke Julian. Tapi, loe bisakan memisahkan antara urusan pribadi loe dengan urusan pekerjaan? Apalagi sekarang kasus yang kita hadapi lumayan berat" ujar Felix yang dengan tiba tiba merasa harus menasehati Tuan mudanya itu.
Felix tau dia salah, tidak seharusnya dia menasehati Bryan. Tetapi Felix tidak ingin Bryan menjadi tidak profesional dalam melaksanakan pekerjaannya. Apalagi dalam hal bisnis, tidak akan bisa setengah setengah. Seseorang yang terjun ke dunia bisnis, harus serius menghadapinya.
"Gue ikut bahagia melihat loe bahagia. Tapi saat ini bukan bahagia loe yang harus loe ke depan kan, tapi urusan perusahaan merupakan permasalahan utama. Julian pasti mengerti akan hal itu" lanjut Felix yang ntah setan apa merasuki dirinya sampai sampai dia menceramahi Bryan dengan sangat berani dan terang terangan.
Bryan mendengar apa yang dikatakan oleh Felix. Bryan tau dia sudah salah selama ini. Bryan memang sangat sering mengedepankan hubungannya dengan Julian saat dirinya seharusnya sedang konsentrasi untuk perusahaan, ternyata dia tetap fokus dengan hubungannya bersama Julian. Bryan memang sudah tidak adil dengan perusahaan nya sendiri.
"Satu lagi, seharusnya loe sendiri yang pergi ke negara Francais saat menyelesaikan masalah perusahaan milik loe sendiri yang ada di sana, tetapi kenyataannya loe nyuruh gue dan Kevin ke sana." ujar Felix mengeluarkan semua isi perutnya yang sudah penuh dengan kelakuan Bryan selama ini.
"Gue dengan Kevin, karena sebagai pekerja makanya menuruti semua apa yang loe perintahkan. Tetapi sebagai sahabat loe, gue rasa gue memiliki kewajiban untuk mengingatkan loe kembali"
"Terserah loe, loe mau Terima syukur, nggak nerima juga nggak apa apa. Gue nggak maksa, loe untuk menerima apa yang gue katakan. Hak semua ada di tangan elo" lanjut Felix lagi.
Bryan masih belum memberikan reaksi apa apa. Sedangkan Felix yang melihat Bryan tanpa reaksi menganggap kalau Bryan tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh dirinya.
Felix menambah kecepatan mobil. Dia ingin cepat sampai ke bandara, supaya dia bisa berpisah dengan Bryan. Felix akan mengajukan diri untuk menjadi co pilot penerbangan kali ini ke Balis.
Bryan merasakan perubahan sikap dari seorang Felix. Tetapi, Bryan sama sekali tidak memberikan reaksi apapun atas perubahan sikap Felix kepada dirinya.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di bandara tempat beberapa pesawat pribadi parkir di sana. Felix memarkir mobilnya di tempat parkiran khusus keluarga Witama kalau mereka terbang memakai pesawat pribadi yang ada di hanggar bandara tersebut.
"Silahkan turun tuan muda, pesawat sudah berada di runway" ujar Felix dengan sikap formalnya.
Bryan keluar dari dalam mobil. Dia meninggalkan tas kopernya untuk dibawa oleh pramugara yang akan melayani dirinya selama penerbangan itu.
Bryan melihat Felix yang berjalan menjauh dari dirinya. Felix tidak masuk lewat pintu yang biasa digunakan oleh keluarga Witama. Padahal Felix dan Kevin memiliki akses untuk masuk lewat pintu itu.
"Kemana dia?" ujar Bryan sambil melihat ke arah Felix yang berjalan menjauh dari posisi dirinya.
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, tadi Tuan Felix mengatakan kalau dia sakit perut" ujar pramugara yang mendampingi Bryan untuk masuk ke dalam pesawat.
"Oh baiklah. Kalau begitu." jawab Bryan singkat.
Bryan langsung menuju pesawat yang sudah siap untuk berangkat mengantarkan dirinya menuju pulau Balis. Bryan duduk di kursi tempat dia biasa duduk selama penerbangan. Tetapi sampai pintu pesawat di tutup Bryan sama sekali tidak melihat Kevin.
'Kemana tu anak ya? Apa dia marah sama gue, dan membatalkan penerbangannya sendiri?' kata Bryan yang tidak melihat keberadaan Felix di dalam pesawat.
Seorang pramugari berdiri di depan. Pramugari akan memperagakan bagaimana kalau keadaan darurat menimpa pesawat saat mereka sedang terbang. Bryan sama sekali tidak tertarik dengan protokoler seperti itu. Dia sama sekali tidak melihat ke arah pramugari yang sudah hafal luar kepala apa yang akan dikatakannya dan gerakan gerakan saat dirinya menyampaikan hal tersebut.
"Tuan muda yang terhormat. Penerbangan kali ini akan dipiloti oleh pilot Ryan dan co pilot burung mas. Pesawat akan terbang di ketinggian tiga ribu kaki, dengan cuaca yang diperkirakan hujan di pulau Balis. Selamat menikmati penerbangan Tuan Muda" kata pilot menyapat Bryan yang sudah sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Pilot.
Seorang pramugari lewat di samping Bryan sambil membawa sebuah map merah. Bryan tau kalau itu adalah map yang berisikan data penumpang yang terbang kali ini.
"Bisa saya pinjam map sebentar?" tanya Bryan dengan kaku.
Bryan sama sekali tidak pernah menyapa orang orang yang ada di pesawat selama ini. Kali ini Bryan menyapa karena penasaran dengan posisi Felix yang tidak diketahuinya sampai sekarang.
"Boleh Tuan" ujar pramugari.
Pramugari memberikan map yang dibawanya tersebut kepada Bryan. Bryan mengambil map dan memberikan kode kepada Pramugari untuk pergi dari sebelah dirinya.
Bryan membaca nama nama orang yang ikut penerbangan kali ini. Bryan memang tidak menemukan nama Felix di dalam data manives itu.
"Positif, dia marah" ujar Bryan sambil menutup map dengan ekspresi penyesalan karena gara gara dia Felix memilih untuk tidak berangkat.
Bryan memanggil kembali pramugari yang tadi meminjamkannya map tersebut.
"terimakasih" ujar Bryan.
pramugari mengangguk. Bryan kemudian mengambil posisi tidur, dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa apa lagi. Felix sudah marah.
__ADS_1