Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #47


__ADS_3

"Julian" panggil Vian yang sedang asik duduk di kursi yang ada di depan kamar mandi. Kursi yang dipakai oleh pengunjung mall kalau kamar mandi sedang penuh oleh orang orang yang berkunjung ke mall itu.


"Ngapain loe ngejokgrok di situ Vian? Kayak orang yang di pinggir jalan itu saja" Julian berdiri tepat di depan Vian yang dengan santainya duduk di kursi tunggu.


"Capek gue" jawab Vian.


Vian kemudian berdiri dari posisi duduknya. Dia kemudian berdiri sejajar dengan Julian. Vian melihat Julian melepas rambutnya dan mengarahkan rambutnya menutupi pipi.


Vian menyibak rambut Julian yang menutupi pipi itu.


"Pipi loe kenapa?" tanya Vian kaget saat melihat Pipi Julian yang memerah dan ada bekas jari jari di sana.


"Nggak kenapa kenapa" jawab Julian dengan tersendat sendat.


"Loe jangan boong. Ini kenapa?" tanya Vian kembali bertanya kepada Julian.


"Nanti gue ceritain."


"Kita cari tempat nongkrong yuk" ajak Julian yang sudah merasa perutnya berbunyi.


"Perut gue bunyi bunyi. Gue kelaperan banget" lanjut Julian yang sudah sangat lapar.


"Nope Cafe aja. Makanan dan minuman di sana cukup enak" kata Vian memberikan solusi tempat makan dan minum yang enak menurut versi dirinya.


Kedua gadis cantik itu berjalan menuju kafe yang direkomendasikan oleh Vian. Vian masih menatap bekas tamparan yang cukup terlihat jelas di pipi Julian.


'Huf habis dah gue besok di maki maki tuan muda' ujar Vian.


Vian sudah tau resiko yang akan diterimanya nanti, saat tuan muda melihat bekas tamparan yang terlihat jelas di pipi istri kesayangannya itu.


'Kenapa juga tadi gue main tinggalin nyonya muda, harusnya gue tadi tetap di sana dan mengambil resiko yang tersulit itu' Vian benar benar menyesal telah mengambil jalan pintas tersebut. Dia tidak menyangka kalau Julian akan menerima tamparan yang cukup keras di pipinya itu.


"Hay kenapa loe bengong kayak bebek sakit?" tanya Julian saat melihat Vian yang dari tadi bengong dan tidak fokus saat berjalan menuju kafe.

__ADS_1


"Noh gara gara itu gue bengong" jawab Julian sambil menunjuk ke arah pipi Julian yang memerah karena menerima tamparan yang lumayan keras diberikan oleh Nyonya Witama tadi.


"Udah santai aja. Gue aja nggak mikirin ini. Ngapain loe yang mikirin. Santai saja" kata Julian memberikan komentarnya atas kecemasan dari Vian. Kecemasan yang tidak diperlukan sekali. Kecemasan yang hanya akan membuat Vian berpikiran buruk saja.


"Kita duduk di sana saja ya" Julian menunjuk sebuah kursi yang berada di pojok ruangan. Julian sedang tidak ingin terlihat oleh orang ramai. Apalagi dengan pipinya yang memerah karena ditampar oleh Nyonya besar yang sangat sombong dan angkuh tadi.


"Okeh" Vian menurut saja kepada Julian. Vian masih memiliki rasa bersalah dalam dirinya terhadap apa yang menimpa Julian pada saat ini.


"Loe mau pesan apa?" tanya Julian kepada Vian saat mereka sudah duduk di kursi yang ada di dalam kafe tersebut.


"Gue mau pesan wafel sama coklat panas" ujar Vian menyebutkan apa yang ingin di nikmati nya sekarang.


"Wafel dua porsi tapi jumbo. Dua coklat panas" ujar Julian menyamakan makanan dan minumannya dengan Vian.


Vian menatap ke arah Julian saat mendengar pesanan mereka sama. Tidak biasanya Julian memesan menu yang sama dengan yang dipesan Vian.


"Sengaja, gue baru kali ini makan di sini. Gue nggak mau berspekulasi dengan memesan makanan yang berbeda dengan yang loe pesan. Sayang duit gue nanti" kata Julian menjelaskan kenapa dirinya memesan makanan yang sama dengan Vian.


Julian memegang pipinya yang memerah tersebut. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan menerima hal jelek itu.


"Sakitlah masak nggak. Boong gue kalau jawab nggak. Bekasnya aja nggak ilang ilang" jawab Julian dengan santainya.


"Tapi ya gitu, gue tinggal menikmatinya saja lagi." lanjut Julian.


"Gimana ceritanya? Seharusnya gue ada di sana, jadi gue bisa melerai" kata Vian dengan nada menyesal karena tidak bisa membela Julian.


"Haha haha haha. Kalau loe ada di sana makin ngeri. Nanti loe pup di depan orang ramai. Makin malu lah kita berdua" Julian menanggapi perkataan Vian masih dengan bercanda, padahal Vian di depannya itu sekarang sudah sangat cemas menerima reaksi yang akan diberikan oleh Bryan nantinya.


"Loe penasaran sama ceritanya?" tanya Julian sambil melihat ke arah Vian.


Vian mengangguk, dia memang sangat penasaran. Julian kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Vian. Vian yang mendengar apa yang dikatakan oleh Julian semakin menyesal. Penyesalan yang luar biasa bagi seorang Vian.


'Kenapa Nyonya besar berkata kasakasar seperti orang yang tidak tau sopan santun ya'

__ADS_1


'Gue tidak menyangka' lanjut Vian dalam pikirannya sendiri.


"Kenapa loe nggak lawan Julian?" tanya Vian.


"Males gue" jawab Julian dengan santai.


Julian memang sengaja tidak menceritakan semuanya kepada Vian. Dia tidak mau Vian sampai tau kalau dirinya sudah mengancam Nyonya besar itu.


"Jujur ya Vian, gue penasaran dengan nyinya besar itu. Kenapa dia mengatakan kalau keluarganya tidak bisa diusik siapapun. Emang sekaya apa mereka?" tanya Julian kepada sahabatnya.


"Lah mana gue tau."


"Tapi jujur ya Julian, biasanya kalau mereka sudah mengatakan hal seperti itu, setau gue, ini setau gue ya, dan menurut buku yang gue baca, mereka pasti bener bener orang kaya luar biasa" lanjut Vian.


"Hem" Julian terlihat sedang berpikir panjang.


"Apa loe mau cari tau siapa Nyonya itu?" tebak Vian saat melihat bagaimana raut wajah seorang Julian yang sedang berpikir seperti menimbang nimbang akan melakukan sesuatu karena permasalahan itu.


"Nggak, males. Kayak nggak ada kerjaan aja" ujar Julian menolak apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya. Julian tidak ingin ada yang tau apa yang akan dilakukannya sekarang kepada keluarga Nyonya besar yang sudah mengata ngatai nya itu.


'Dimana' bunyi sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel Julian.


Wajah Julian langsung memerah saat membaca pesan yang baru masuk tersebut.


"Loe ada bedak?" tanya Julian sambil melihat ke arah Vian.


Vian mengerenyitkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan Julian. Julian yang tidak pernah meminjam peralatan make up sekarang mendadak meminjam make up Vian.


"Bryan mau datang. Gue nggak mau dia melihat bekas tamparan ini" kata Julian yang tidak ingin Bryan melihat bekas tamparan yang ada di pipinya.


"Oke" jawab Vian


Vian memberikan kotak makeup nya kepada Julian. Julian kemudian pergi ke kamar mandi, dia pergi merapikan tampilannya. Wajah yang memerah karena tamparan itu harus ditutupinya. Julian tidak mau Bryan marah marah di kafe tersebut. Julian hanya mau menjelaskan apa yang terjadi kepada Bryan saat di rumah saja.

__ADS_1


__ADS_2