Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #61


__ADS_3

"Kevin telpon Felix lagi. Dimana dia kenapa lama kali sampainya. Gue sedang pusing gini, tu anak bisa bisanya lama sampai ke perusahaan" ujar Bryan yang sudah tidak sabaran lagi menunggu kedatangan sahabat baiknya itu. Felix memang sahabat yang akan selalu diminta bantu oleh Bryan kalau memiliki masalah dengan perusahaan yang memang didirikan oleh Bryan dengan uangnya sendiri.


"Oke"


Kevin menghubungi Felix. Dia tidak ingin Bryan menjadi uring uringan karena menunggu Felix yang terlalu lama sampai di perusahaan Witama Grub. Kevin sangat kasihan melihat kondisi Bryan sekarang, tapi Kevin juga sadar kapasitasnya sehingga dia tidak bisa membantu Bryan keluar dari permasalahannya.


"Setengah jam lagi Felix baru sampai Bryan. Katanya dia sudah di bandara dan sedang menunggu koper" ujar Kevin memberitahukan jam berapa kedatangan Felix di perusahaan.


"Oke" ujar Bryan.


"Tunggu koper? Sejak kapan tu anak keluar kota bawa koper?" tanya Bryan yang heran dengan tingkah Felix kali ini. Ntah kenapa Felix bisa bisanya membawa koper.


"Mana tau gue. Tadi dia ngomong begitu ya gue bilang begitu juga ke elo" kata Kevin menjawab kecurigaan dari Bryan.


"Loe udah makan?" tanya Kevin saat melihat tidak ada bekas bekal makan siang Bryan di atas meja kerja maupun meja tamu.


Bryan menggeleng. "Gue belum makan. Pas loe masuk tadi, gue sedang meriksa dokumen dokumen perusahaan" jawab Bryan yang memang lupa untuk makan siang. Dia benar benar tidak tau dan pikirannya tidak sampai ke sana untuk makan siang.


"Loe tau sendirilah seperti ini permasalahan perusahaan gue, mana bisa gue ingat gue udah makan atau belum" lanjut Bryan.


Bryan kemudian memilih untuk duduk di sofa tamu. Dia benar benar lelah dan tidak tau harus melakukan apa sekarang. Bryan terlihat lepas dari pegangannya selama ini. Kalau orang melihat Bryan sekarang yang mereka lihat adalah Bryan yang kehilangan pegangan, Bryan yang kehilangan kepercayaan diri dan Bryan yang kehilangan semuanya. Bener benar tidak terlihat Bryan yang seperti biasanya.


"Gue beli makanan keluar dulu ya. Gue juga yakin Felix pasti juga belum makan" kata Bryan yang nggak tau harus berbuat apa sekarang. Dia hanya bisa lari dari Bryan yang sedang pusing saat ini.


"Oke. Loe beli sup ayam tempat biasa kita belanja saja. Gue hanya pengen itu sekarang" kata Bryan memberikan perintah sekaligus pesan kepada Kevin untuk membelikan dirinya sup ayam di restoran favorit mereka hari ini.


"Itu lumayan jauh, apa tidak masalah kalau gue nyampe sini lama?" kata Bryan yang tau kalau tempat yang dirinya akan tuju letaknya lumayan jauh dari perusahaan Witama Grub.


"Tidak apa apa. Gue hanya mau makan itu sekarang" lanjut Bryan lagi yang tidak ingin dibantah sedikitpun sekarang.


"Baiklah" Kevin mengalah, dia juga tidak bisa banyak komentar kalau Bryan sedang dalam posisi kalut seperti sekarang. Bryan sedang dalam pemikiran yang tidak sehat saat ini.


"Gue ke pantry dulu, loe mau ikut?" tanya Julian kepada Vian.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Vian heran, tidak biasanya Julian jam segini ke pantry.


"Gue pengen bikin es teh atau yang dingin dingin gitu. Loe ikut nggak?" tanya Julian yang sudah tidak sabar lagi ingin merasakan es teh. Ntah kenapa dirinya tiba tiba menginginkan es teh di siang hari yang lumayan panas akibat pengaruh gelombang panas.


"Oke ikut. Gue sepertinya juga tertarik untuk minum minuman dingin." jawab Vian.


Vian sebenarnya tidak begitu tertarik minum minuman dingin, tetapi karena Julian akan keluar dan jauh dari jangkauan matanya membuat Vian mau tidak mau harus berangkat dan ikut dengan Julian ke pantry.


Kedua karyawan cantik dari divisi pengadaan berjalan dengan acuhnya menuju pantry. Beberapa karyawan menyapa mereka berdua. Julian dan Vian pun balik menyapa mereka dengan ramah. Julian dan Vian memang terkenal ramah oleh semua karyawan.


Prang, bunyi gelas pecah. Gelas itu terjatuh dari tangan Julian saat Julian mengambil dari rak rak gelas yang sebenarnya letaknya tidak tinggi, tetapi ntah kenapa gelas itu bisa jatuh dari tangan Julian.


"Loe tidak apa apa Julian?" tanya Vian yang cemas dengan keadaan Nyonya mudanya itu.


"Nggak apa apa" jawab Julian.


"Yakin loe nggak apa apa?" tanya Vian lagi.


"Nggak biasanya loe kayak gini. Apa yang loe pikirin?" lanjut Vian yang heran melihat tingkah aneh dari Julian. Julian biasanya merupakan orang yang luar biasa konsentrasinya. Sedangkan sekarang, luar biasa tidaknya. Gelas yang dipegang bisa jatuh.


"Loe mau ngapain?" tanya Vian kaget saat melihat Nyonya mudanya memegang sapu.


"Mau bersihin ini lah. Nggak mungkin mau terbang. Lagian kalau terbang pake sapu lidi. Bukan sapu plastik kayak gini" jawab Julian yang berusaha untuk melucu, tetapi apa daya lawakan yang dikeluarkan oleh Julian tidak berhasil membuat Vian tertawa.


"Nggak lucu Julian." kata Vian.


"Kalau loe nenek sihisihir bisalah loe pakai sapu lidi. Sini sapu loe, biar gue yang nyapu, loe bikin minuman dingin" lanjut Vian.


"Tapi" ujar Julian.


Belum selesai Julian berbicara, Vian sudah mengambil sapu yang ditangannya.


"Ya udah loe nyapu, hati hati sama pecahan kacanya. Gue bikin es teh" ujar Julian mengalah dengan keinginan Vian yang tidak akan bisa dilarang untuk dilakukan

__ADS_1


"Oke sip. Gula untuk gue dikit ya." kata Vian mengingatkan Julian kalau dirinya tidak suka teh yang manis


"Sudah ingat dan sudah di dalam" jawab Julian.


Julian dan Vian mengerjakan pekerjaannya masing masing. Vian sebenarnya masih penasaran kenapa Julian bisa se ceroboh itu. Padahal selama ini Julian sangat berhati hati dan berkonsentrasi dalam melakukan semua pekerjaannya.


"Siap Vian?" tanya Julian.


Julian sudah membawa baki yang di atasnya berisi dua gelas es teh.


"Siap" jawab Vian yang baru saja mencuci tangan dari sisa sisa kotoran dan juga pecahan kaca yang halus halus.


Julian dan Vian kemudian berjalan menuju ruang kerja mereka kembali. Mereka masih akan lanjut bekerja sampai pukul lima sore. Hari ini Julian dan Vian tidak ada kegiatan lembur, sehingga mereka bisa pulang di jam normal.


Ting, bunyi pesan chat masuk ke dalam ponsel Julian.


'Sayang aku pulang larut malam. Bawa Vian pulang ke rumah ya untuk menemani kamu' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Bryan.


Julian menatap lama layar ponselnya yang masih menyala itu. Dia tidak tau harus berbuat apa saat melihat pesan chat yang dikirimkan oleh Bryan.


"Kenapa?" tanya Vian yang kaget melihat ekpresi dari Julian yang berubah.


Julian memberikan ponselnya kepada Vian. Vian membaca pesan chat tersebut.


"Apa loe bisa nemanin gue di rumah?" tanya Julian.


Julian tau kalau Bryan pas pulang tidak melihat Vian yang ada di rumah. Dia pasti akan marah dan menyesal karena sudah lembur dan membiarkan Julian tinggal sendirian di rumah mereka.


"Bisa. Gue akan menemani loe di rumah" jawab Vian.


"Makasi Vian" jawab Julian.


'Julian bisa menemani aku di rumah kok. Emang kamu ada tugas lembur hari ini?' bunyi pesan chat dari Julian.

__ADS_1


Bryan yang membaca pesan chat dari Julian mulai merasakan sedikit ketenangan. Dia sudah tidak perlu mencemaskan Julian lagi. Dia bisa berkonsentrasi untuk mendiskusikan permasalahan perusahaan yang di Francais.


__ADS_2