
Julian menaruh pakaian ganti untuk dipakai Bryan setelah mandi di sebuah kursi yang sudah di taruhnya di depan pintu kamar. Julian juga tidak lupa menaruh sebuah selimut dan sebuah bantal untuk dipakai Bryan saat tidur nanti malam.
"Makanya sayang, jangan main pakai nada tinggi kalau ngomong" kata Julian saat menaruh semua benda yang dibawanya dari dalam kamar.
Bryan yang baru selesai membersihkan badannya langsung kaget saat melihat semua pakaian ganti untuk dirinya dan juga bantal serta selimut sudah ada di atas sebuah kursi.
"Huft. Sudah bisa dipastikan malam ini tidur di karpet" ujar Bryan saat melihat semua benda yang akan digunakannya malam ini sudah berada di luar kamar tidur
Bryan mengambil pakaian gantinya, dia memakai semua pakaian itu di kamar mandi. Setelah selesai berkemas kemas, Bryan kembali ke depan kamar untuk mengambil bantal dan selimut. Bryan membawa kedua benda untuk peralatan tidurnya itu ke depan televisi. Bryan memutuskan untuk tidur di atas karpet saja.
Bryan mengambil foto nya yang tidur beralaskan karpet. Foto yang akan menjadi kenang kenangan bagi Bryan. Tak lama berselang karena terlalu lelah bekerja seharian di perusahaan, ditambah lagi dengan permasalahan yang terjadi di negara Francais, membuat Bryan cepat masuk ke alam mimpi
Bryan yang sudah dalam posisi tertidur berbanding terbalik dengan Julian. Julian masih bolak balik kiri kanan mencari posisi yang enak untuk tidur. Tetapi sayangnya sampai sekarang Julian belum menemukan posisi yang tepat untuk beristirahat.
"Kok nggak ada suara TV lagi ya? Apa Bryan sudah tidur?" kata Julian yang tadi masih mendengar sayup sayup suara TV yang sangat jarang hidup tersebut.
"Sepertinya dia sudah tidur karena kelelahan" kata Julian lagi.
Julian kemudian turun dari atas ranjangnya. Dia berjalan ke depan pintu kamar. Julain membuka pintu kamar yang langsung bisa melihat ke ruang tengah. Ternyata Bryan sudah tertidur dengan lelap. Julian tersenyum melihat Bryan yang tertidur dalam posisi miring ke kanan, posisi yang selalu dilakukan oleh Bryan selama ini. Alasan Bryan sewaktu ditanya oleh Julian adalah, supaya dirinya setiap bangun tidur bisa melihat wajah cantik istrinya itu. Suatu alasan yang paling romantis yang pernah di dengar oleh Julian dari seorang pria.
Julian kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Dia mengambil bantal miliknya. Kasih sayang seorang Bryan membuat Julian tidak tega menghukumnya dengan sebegitunya. Cukup sudah tadi Julian melepaskan pelukan Bryan. Kali ini Julian merasa sudah keterlaluan.
Julian menaruh bantalnya, dia kemudian berbarik menghadap ke arah Bryan. Kali ini Julian tidak menaruh kepalanya di tangan Bryan. Melainkan di depan dada Bryan. Julian sangat kangen dengan bau Bryan. Bau yang selalu dikangenin ya saat dirinya berada di luar rumah. Bryan yang memang tidur selalu dalam keadaan tipis, merasakan gerakan dari seorang Julian. Bryan sedikit membuka matanya. Dia melihat Julian sudah mencari kenyamanannya sendiri.
'Sayang aku' ujar Bryan dengan pelan.
Bryan tidak ingin Julian mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya. Bryan yang melihat Julian sudah tertidur, kemudian memilih untuk ikut tidur juga. Akhirnya malam panjang Bryan tidak dilalui dalam kesendirian, tetapi tetap ditemani oleh istri tercintanya. Istri yang membuat dia selalu bahagia, dan rajin bekerja.
Julian yang sudah tertidur lelap memeluk Bryan. Dia memang paling suka memeluk Bryan dari pada gulingnya semenjak mereka sudah melakukan sebuah hubungan yang selalu diinginkan oleh pasangan suami istri. Bryan yang sadar kalau dia sudah di peluk balas memeluk Julian. Dia sangat bahagia sekarang. Istrinya sudah kembali lagi seperti semula. Tidak ada istri yang merajuk, tetapi Bryan akan tetap meminta maaf nanti kepada Julian atas kesalahannya kemaren.
__ADS_1
"Huam" Julian bangun dari tidurnya.
Dia membuka matanya dan melihat Bryan yang masih tertidur lelap. Julian mengangkat tangannya dan menyentuhkan jari telunjuknya ke wajah tampan suaminya itu. Wajah damai seorang Bryan saat tidur membuat Julian semakin mencintainya. Bryan yang pura pura tidur menikmati sentuhan Julian di wajahnya. Kalau saja Julian melakukan hal itu di kamar tidak di ruang tengah, maka sudah bisa dipastikan mereka akan berakhir dengan berolahraga pagi hari.
"Kamu nggak usah pura pura tidur lagi Bryan" ujar Julian yang sengaja memanggil Bryan dengan namanya, tidak dengan panggilan sayang seperti biasanya.
"Hem" ujar Bryan yang masih memainkan peranan sebagai seseorang yang mash tertidur lelap.
"Males ah. Sana bangun. Nggak asik" ujar Julian sambil menggelitik pinggang Bryan dengan semua jari jari tangannya.
"Haha haha haha haha haha. Sayang geli" teriak Bryan yang memang tidak tahan kalau digelitik.
Julian terus menggelitik tubuh Bryan. Bryan nggak bisa menahan tawanya. Tawa Bryan langsung meledak dengan keras. Dia benar benar merasa geli di sepanjang tubuhnya itu.
"Sayang udah sayang. Nanti aku pipis celana sayang" ucap Bryan memohon mohon kepada Julian untuk menghentikan kegiatannya menggelitik tubuhnya itu.
"Oke oke aku janji. Apa itu?" tanya Bryan yang sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan oleh Julian sekarang ini.
"Kamu nggak boleh ngomong dengan nada tinggi lagi ke aku" ujar Julian menyebutkan apa yang dimintanya Bryan untuk berjanji.
"Aku nggak mau kamu ngomong seperti kemaren ke aku" lanjut Julian memberikan contoh kasus kepada Bryan.
"Maafkan aku ya. Kemaren nada suara aku sangat tinggi pas ngomong dengan kamu" kata Bryan meminta maaf dengan sungguh sungguh kepada Julian.
Bryan memang salah kemaren. Dia seharusnya tidak menumpahkan kekesalannya terhadap kelakuan karyawannya kepada Julian. Julian tidak layak mendapatkan perlakuan kasar seperti itu.
"Aku maafkan tapi jangan ulangi lagi. Janji?" kata Julian yang memang sudah memaafkan Bryan dari kemaren.
Bryan memang layak mendapatkan maaf dari Julian karena baru sekali itu melakukan kesalahan. Selama ini Bryan sangat baik kepada Julian. Tidak pernah sekalipun Bryan melukai hati Julian.
__ADS_1
"Janji sayang. Kamu memaafkan aku saja sudah membuat aku sangat bahagia sekali. Apalagi yang harus aku minta coba" kata Bryan yang sangat senang telah mendapatkan kata maaf dari Julian istri cantik nan baik hatinya itu.
Mereka berdua masih tidur tiduran di atas karpet yang berbulu tebal itu. Karpet pembelian pertama dari gaji Bryan. Drama beli karpet itu masih terngiang ngiang di telinga merea berdua. Bagaimana ribetnya Julian dan Bryan dengan keinginan masing masing, yang pada akhirnya keinginan Bryan yang menang. Makanya ada karpet berbulu tebal di rumah mereka sekarang.
"Kamu libur hari ini sayang?" tanya Bryan kepada Julian yang masih malas untuk berdiri dari posisi tidurnya.
"Nggak. Kerja. Kan bukan tanggal merah atau hari minggu" jawab Julian dengan santainya menanggapi pertanyaan dari Bryan.
"Terus kenapa masih tidur tiduran kayak gini?" tanya Bryan lagi.
"Lagi males bangun" jawab Julian dengan santai.
"Ya udah, biar aku yang bangun, yang bikin sarapan. Kamu hari ini jadi tuan putri saja" kata Bryan sambil tersenyum.
"Serius kamu mau masak sarapan?" tanya Julian kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini.
"Serius lah. Masak boong" jawab Bryan lagi
Bryan bangun dari tidurnya. Sedangkan Julian masih berbaring. Bryan mulai melakukan semua pekerjaan yang biasa di lakukan oleh Julian setiap pagi.
"selesai"
"Sana mandi sayang. Setelah itu kita sarapan kemudian berangkat ke kantor" Kata Bryan setelah selesai memasak dan menyiapkan semua sarapan ke atas meja.
"Sayang masukin bekal aja. Aku sarapan di kantor saja." jawab Julian yang langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"kenapa?" tanya Bryan yang kaget melihat apa yang dilakukan oleh Julian.
"Ada meeting mendadak" jawab Julian
__ADS_1