Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #36


__ADS_3

Pluk sebuah pukulan mendarat di kepala Vian. Pukulan yang tidak begitu kuat tetapi memiliki bunyi yang lumayan keras. Bunyinya itu yang membuat Vian kaget.


"Au, kenapa main pukul aja?" Vian protes saat kepalanya di pukul Felix.


"Lagian jawaban yang aneh aneh aja. Mana ada Tuan putri zaman sekarang. Emang putri salju zaman dongeng" ujar Felix sambil geleng geleng kepala.


"Lah kan itu cuma pendapat gue. Apa salahnya" Vian masih mencoba membela dirinya atas kesalahan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.


"Pendapat bolehlah pendapat. Tapi nggak pendapat ngaco kayak gitu" balas Felix tidak mau mengalah. Felix sangat kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini. Felix tidak menyangka kalau seorang pengawal hebat seperti Vian bisa memiliki pendapat seperti itu.


Kevin sebenarnya ingin juga ikut menertawakan jawaban aneh Vian, tetapi karena rasa yang ada, membuat Kevin mengurungkan niatnya. Dia hanya menggeleng gelengkan kepalanya, tanda tidak percaya kalau Vian bisa mengatakan hal seperti itu.


"Loe coba pikir ajalah sendiri. Apa pendapat loe tadi masuk akal, atau hanya pendapat orang bangun tidur doang" kali ini Felix sudah malas berdebat dengan Vian


"Hehe hehe hehe. Bener juga ya. Gue kira dongeng sekarang" jawab Vian dengan gampangnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun di wajah cantiknya itu. Dalam hati Vian, kadung malu ya malu sekalian aja.


Bryan masih dalam keadaan diamnya. Dia sama sekali tidak terpancing dengan obrolan receh sahabat sahabatnya itu. Dia masih dalam pemikirannya sendiri. Bryan memiliki sebuah pandangan sendiri terhadap Julian.


"Tuan muda, maaf apa yang Anda pikirkan?" ujar Felix dengan nada serius dan tidak lagi dalam konteks pertemanan, tetapi ini antara tuan muda dan pengawalnya.


Bryan kaget saat mendengar perkataan Felix. Dia kemudian membetulkan duduknya. Setelah itu mengsar rambutnya dengan jari jari tangannya yang panjang. Bryan jelas jelas telihat sedang berpikir keras tentang sesuatu.


"Maaf Tuan Muda, apa ada yang mengganjal di pikiran anda?" ulang Felix bertanya kepada Bryan sekali lagi.


Bryan mengangguk. "Sepertinya Julian menyimpan sesuatu" jawab Bryan.


"Maksud Tuan Muda sebuah rahasia besar?" kali ini kevin yang bertanya.


Vian, Kevin dan Felix kembali bersikap serius dalam menyimak obrolan antara mereka berempat.


"Ya. Tapi kalau kalian tanya, apa yang ada dalam pikiran saya, maka saya tidak bisa menjawabnya. Saya masih tidak tau, keraguan saya ini ke arah mana" jawab Bryan.


"Vian, kamu sehari hari jalan sama Julian. Apa ada sesuatu yang aneh yang pernah kamu lihat dari Julian?" tanya Bryan.


"Siap tidak ada Tuan Muda. Selama dengan saya, Nona muda bersikap biasa saja. Tidak ada yang bisa dicurigai" jawab Vian dengan penuh keyakinan.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Vian kepada semua rekan rekannya termasuk Tuan muda. Julian selama ini tidak pernah bersikap yang aneh atau bagaimana nya. Julian bersikap layaknya wanita seperti biasanya.


"Apa tidak ada yang mengikuti Nona muda?" tanya Felix.


"Kalau itu yang bisa menjawabnya jelas kamu Felix" jawab Vian.


"Kalau menurut penglihatan saya, tidak ada yang mengikuti Nona muda" jawab Felix lagi.

__ADS_1


'Pulang jam berapa sayang' bunyi sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Bryan.


'Ini mau jalan pulang. Kamu sudah di rumah?' balas Bryan kepada Julian.


'Sudah. Jangan beli makanan, aku sudah masak ayam kecap' balas Julian dengan menambahkan ikon love tiga kali.


'Haha haha haha. Aku sangat bahagia membacanya' balas Bryan lagi sambil sedikit menahan senyumannya.


Bryan tidak mau ketiga anggotanya itu bertanya tanya apa yang membuat Bryan tertawa bahagia.


"Oke kita pulang. Semoga ini hanya perasaan Vian saja dan juga perasaan saya saja" kata Bryan sambil berdiri dari posisi duduknya.


"Jadi, apakah saya besok masih harus menemani Nona muda, tuan?" tanya Vian yang berharap masih menemani Julian kemanapun dia pergi.


"Ya, tapi kamu harus mengurangi kecurigaan dari Julian" jawab Bryan.


"Siap tuan muda" kata Vian dengan nada bahagia. Dia sangat senang masih dipercaya oleh Bryan untuk menemani kegiatan sehari hari Julian.


"Kevin, kamu antar saya pulang" kata Bryan memerintahkan Felix untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah.


"Siap tuan muda" jawab Felix.


Kevin dan Vian sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan ruangan Bryan. Kevin akan mengantarkan Vian pulang ke rumahnya.


"Jalan Felix" ujar Bryan saat dia sudah berada di sebelah Felix.


"Oke" Felix setuju dengan ajakan Bryan.


"Ngomong ngomong Bryan. Loe cocok juga pakai pakaian sederhana itu. Lebih simpel kelihatannya" kata Felix memuji pakaian yang dipakai oleh Bryan


"Ya memang simple. Tapi kalau ini yang gue pakai ketemu klien apa klien mau kerjasama dengan perusahaan kita?" Bryan balik bertanya


"Mana ada mau" jawab Felix langsung.


"Makanya" ujar Bryan lagi.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil Felix yang berada di lobby perusahaan. Felix tadi tidak memarkir mobilnya di tempat khusus, tetapi membiarkan saja mobil itu parkir tepat di pintu masuk perusahaan.


"Mobil loe keren juga tempat parkirnya" ujar Bryan menegur kelakuan Felix.


"Kepepet mau bagaimana lagi" jawab Felix membela dirinya.


"Makanya gue nggak sempat ke bawah" lanjut Felix menambahkan alasan kenapa dirinya parkir di situ.

__ADS_1


"Jadi Bryan, apa yang membuat loe termenung tadi?" Felix kembali bertanya saat mereka berdua sudah di dalam mobil.


"Loe emang nggak bisa gue boongin" komen Bryan terhadap rasa penasaran seorang Felix.


"Bryan Bryan. Loe kira kita berdua baru kenal? Gue udah sangat lama kenal sama loe Bryan. Jadi loe nggak bisa boongin gue. Gue tau, loe sedang mikirin sesuatu" balas Felix. Felix memiliki keyakina sepenuhnya tentang itu. Dia sangat paham bagaimana seorang Bryan.


"Sesungguhnya ya, memang ada yang mengganggu pikiran gue selama ini" Bryan mengakui semuanya kepada Felix.


Felix mulai serius mendengar apa yang akan diceritakan oleh Bryan kepada dirinya. Sedangkan Bryan sudah memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya selama ini kepada Felix. Pemikiran yang selalu mengganggu Bryan selama ini.


"Loe coba pikir Felix. Mana ada orang yang nggak ada latar belakang apa apa, bisa kuliah magister, bisnis lagi" kata Bryan memaparkan keraguannya terhadap Vian


"Biasanya, orang yang kuliah bisnis magister itu, pasti memiliki sebuah perusahaan yang akan dikembangkannya. Sedangkan Vian" ujar Bryan lagi.


Felix mengangguk anggukkan kepalanya tanda paham dengan maksud yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini.


"Atau jangan jangan dia sama sama gue Felix. Sama sama menyembunyikan jati diri kami sebenarnya" ucap Bryan menduga duga.


"Rasa gue nggak Bryan." jawab Felix dengan lugas.


"Kenapa bisa tidak?" tanya Bryan yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.


"Gue udah melakukan penyelidikan terhadap Julian. Gue sama sekali tidak menemukan hal yang aneh dari Julian" lanjut Felix menjelaskan kenapa dia dengan sangat cepat membantah apa yang ada di dalam pikiran Bryan tadi.


"Loe udah selidiki betul betul?" tanya Bryan lagi.


"Sudah. Julian bisa masuk ke universitas, murni karena kemampuannya. Makanya dia mengejar beasiswa setiap semester" lanjut Felix lagi.


"Oke kalau masalah yang itu. Kalau masalah kehidupannya yang lain bagaimana?" lanjut Bryan bertanya.


"Ya masih sama. Sama seperti yang kita lihat. Dalam biodata nya, Julian merupakan anak yatim piatu" jawab Felix lagi.


Bryan terdiam mendegar jawaban dari sahabat sekaligus orang kepercayaan nya itu.Tetapi Bryan masih tidak yakin dengan hasil penyelidikan Felix. Tetapi kalau dia yang akan menyelidiki, maka waktunya tidak ada.


Tak terasa mobil sudah tiba di mulut gank


"Gue turun sini saja" ujar Bryan meminta di turunkan di depan mulut gank itu saja kepada Felix.


"Gue anter aja" tolak Felix yang tidak mungkin membiarkan Bryan berjalan lumayan jauh ke rumahnya.


"Nggak usah aja. Gue jalan aja" tolak Bryan.


Bryan kemudian turun dari dalam mobil. Dia berjalan kaki menyusuri gank untuk sampai ke depan rumah. Sedangkan Felix kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah. Dia memiliki satu tugas penting yang harus dikerjakan oleh dirinya sekarang

__ADS_1


__ADS_2