
"Sayang, kamu nggak masak makan malam?" tanya Bryan saat melihat tidak ada makanan yang tersaji di atas meja makan. Kejadian ini tidak seperti hari hari biasanya. Biasanya saat Bryan pulang dari kantor, maka hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja. Sedangkan sekarang tidak ada sama sekali.
"Maaf Bryan, aku terlalu sibuk dengan perbaikan tugas akhir aku. Kamu duduk di sini sebentar ya, aku akan masak sebentar. Kasih aku waktu sepuluh menit, tetapi palingan yang bisa aku masak hanyalah telur dadar saja." jawab Julian yang baru sadar kalau dia sama sekali belum masak menu makan malam. Julian terlalu serius dalam menyelesaikan tugas akhirnya. Dia sangat berharap bisa sidang akhir dalam bulan ini juga, sehingga dia bisa wisuda lebih cepat satu semester dari perkiraannya.
"Op tidak perlu sayang. Aku sudah bawa makan malam untuk kita. Jadi kamu tidak perlu waktu sepuluh menit itu" kata Bryan sambil mengangkat kantong kresek yang dibawanya.
Julian menatap tidak percaya ke arah kantong kresek yang dibawa oleh Bryan. Bryan sudah menyelamatkan makan malam mereka hari ini.
"Makasih ya. Maafkan aku" ujar Julian dengan nada sedih karena sudah mengecewakan suaminya.
"Nggak apa apa. Kamu lanjut aja dulu. Aku akan siapkan makan malam kita" ujar Bryan yang sangat tau bagaimana sibuk dan sakit kepalanya seorang mahasiswa saat harus menyelesaikan tugas akhir sesuai dengan target yang sudah ditetapkan secara pribadi.
"Beneran nggak apa apa?" Julian menatap ke arah Bryan.
"Beneran sayang. Kamu lanjutin aja. Kamu percayakan aja sama aku" Bryan sangat yakin kalau dirinya pasti akan bisa menyiapkan menu makan malam yang sudah dibelinya itu.
'Untung saja beli di luar tadi. Kalau tidak, hem sudah pasti Julian akan masak. Padahal dia sangat sibuk dengan tugas akhirnya' Bryan berkata dalam hati sambil menaruh semua menu yang dibelinya tadi ke dalam piring.
Bryan membeli pical ayam untuk menu makan malamnya dengan Julian. Bryan juga melebihkan untuk tahu dan juga tempe nya. Karena bagaimanapun juga, Julian yang sedang sibuk dan konsentrasi itu membutuhkan energi yang banyak untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
"Oke sayang. Menu makan malam kita sudah siap. Kamu taruh aja di bawah dulu laptop sama bukunya ya"
Bryan berkata sambil membawa dua piring pical ayam. Julian membantu dengan menuangkan air putih ke dalam gelas mereka berdua.
"Wow, menu yang keren. Kamu habis gajian ya?" tanya Julian saat melihat begitu banyak menu makanan yang dibeli oleh Bryan.
"Tadi dapat bonus" jawab Bryan ngasal.
"Oh pantesan"
"Ya Tuhan yang paling baik, sering seringlah memberi rezeki bonus kepada suami hamba, supaya selama hamba menyelesaikan tugas akhir ini, suami hamba bisa membawa makanan dari luar terus" ujar Julian memanjatkan doa kepada Tuhan.
"Aamiin" jawab Bryan dengan semangat.
"Udah kita makan dulu. Nanti keburu dingin nasinya"
__ADS_1
"Mana enak makan pical ayam pake nasi dingin" lanjut Bryan yang sebenarnya sudah sangat lapar.
"Oke"
Julian merapikan buku bukunya yang bertebaran dan juga menutup sedikit layar laptop miliknya itu. Laptop paling sederhana yang pernah dilihat oleh Bryan.
'Ternyata masih ada orang yang memakai laptop setebal itu. Gue kira laptop modelan seperti itu sudah tidak ada lagi di dunia' pikir Bryan dalam kepalanya saat melihat laptop yang dipakai oleh Julian untuk mengerjakan tugas akhirnya.
Mereka berdua menyantap makan malam dengan perlahan sambil mengobrol beberapa hal tentang pekerjaan Bryan yang sudah bisa di katakan sedikit mapan dari pada biasanya.
"Jadi, sudah sampai mana tugas akhir kamu sayang?" tanya Bryan yang sudah kembali dari menaruh piring kotor di dapur.
Nanti tugas mencuci piringnya adalah tugas Julian saat Julian sudah selesai mengerjaka tugas akhirnya. Sebenarnya Bryan mau mencuci piring tersebut karena tidak seberapa dan tidak terlalu kotor, tetapi Julian melarang dengan keras kepalanya.
"Sudah tinggal bab akhir saja. Setelah itu bimbingan dan perbaikan satu kali lagi" jawab Julian yang sibuk dengan tugas akhirnya.
Bryan ingin sekali menolong Julian, tetapi karena Bryan tidak ingin Julian curiga dengan kemampuannya, membuat Bryan tidak melakukan apa apa. Malahan saat Kevin mengatakan kalau Bryan bisa membantu Julian saat Julian terlelap, membuat suatu masalah besar keesokan harinya.
Julian pulang dari kampus mengamuk besar. Dia cemberut sepanjang hari. Saat ditanya oleh Bryan, Julian menjawab, kalau ada seseorang yang ntah siapa dan kapan mengubah sedikit isi tugas akhirnya. Semenjak itulah Bryan tidak mau lagi mengubah atau membetulkan isi tugas akhir Julian. Hal ini di sebabkan karena Julian hafal apa yang ditulisnya di dalam tugas akhirnya itu.
"Target aku akhir bulan ini. Semoga tercapai. "
"Aku yakin kamu bisa. Semangat istri kecil ku" kata Bryan memberikan semangatnya kepada Julian.
Istri yang paling dicintainya karena kesederhanaan dan kepintarannya serta kebaikannya yang nggak ada tandingan sama sekali. Julian tidak perduli dengan latar belakang Bryan yang tidak diketahuinya. Perbedaan antara Bryan dengan Julian, kalau Julian benar benar tidak peduli dan tidak mencari tau. Sedangkan Bryan mencari tau, tetapi sampai sekarang tidak menemui jawabannya.
"Terimakasih suami tampan ku" jawab Julian.
Bryan tersenyum, walaupun mereka sebagai suami istri sudah berjalan enam bulan lamanya, tetapi Bryan sama sekali belum menuntut haknya kepada Julian. Bryan menghargai dan menghormati Julian yang sedang sangat sibuk dan sangat lelah dalam melaksanakan aktivitasnya yang luar biasa itu.
"Aku boleh duduk di sini, memperhatikan dan memberikan semangat kepada kamu untuk mengerjakan tugas akhir kamu itu?" tanya Bryan yang sangat candu melihat saat Julian berpikir keras.
Julian mengangguk, dia sangat senang kalau Bryan mau duduk di dekatnya, saat dia sedang mengerjakan tugas akhirnya.
"Tapi ada syaratnya" kata Julia mulai menggoda Bryan.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu harus bantu aku saat aku sudah mentok berpikir" Julian mengatakan apa syarat yang harus dipenuhi oleh Bryan.
"Tapi aku....."
"Hay, aku tau yang mengubah isi tugas akhir aku kemaren itu adalah kamu. Makanya sekarang aku meminta langsung sama kamu."
"Jangan banyak gaya. Pas diam diam mau bantuin, eeeeee pas giliran diminta tolong nggak mau. Itu namanya nggak adil"
Julian nyerocos seperti petasan yang sedang memeriahkan pesta pernikahan anak konglomerat. Sedangkan Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Bryan tidak menyanyka kalau Julian tau dialah yang sudah mengubah sedikit tugas akhir Julian.
"Haha haha haha. Oke oke aku akan bantu semampu aku" jawab Bryan.
Julian mulai serius mengerjakan tugas akhirnya. Beberapa kali dia bertanya dan berdiskusi yang sangat alot dengan Bryan. Diskusi sepasang suami istri itu sudah seperti forum forum orang orang pintar saja. Mereka berdua saling mempertahankan pendapat mereka dengan argume argumen yang masuk akal dan sesuai dengan buku yang mereka baca.
"Akhirnya selesai juga"
"Terimakasih suami tampan ku"
Julian memeluk Bryan dengan sangat erat, sesutu yang selama ini belum pernah terjadi. Mereka berdua memang sudah sangat sering berpelukan, tetapi yang memulai pertama sekali selalu Bryan, sedangkan kali ini adalah Julian.
"Sama sama istri cantikku. Mari tidur, sudah larut malam. Besok kamu ke kampus bukan?"
"Siap, mari kita tidur"
Julian mematika laptopnya. Dia menyusun buku bukunya. Setelah itu barulah dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Sedangkan Bryan sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.
"Sebenarnya mau memberikan dia jatah malam ini. Tetapi aku malu untuk memulainya" kata Julian dengan nada pelan di dalam kamar mandi sambil melihat wajahnya di depan cermin.
"Sebenarnya pengen minta jatah. Tapi dia terlihat sangat capek sekali. Kasihan" Kali ini yang berkata adalah Bryan di dalam kamar sambil memeluk guling.
"Terpaksa olahraga sendirian lagi nanti di dalam kamar mandi"
"Huft, capek juga ne tangan"
__ADS_1