Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #45


__ADS_3

"Gue juga akan mundur. Gue juga akan bekerja dimana loe bekerja. Ngapain gue kerja mulai mencari teman lagi dari awal. Ogah gue mah" jawab Julian panjang lebar dibandingkan jawaban yang diberikan oleh Vian tadi.


"Bikin repot hidup gue aja nanti" lanjut Julian yang memang sangat tidak suka memulai untuk berteman dengan orang lain. Bagi Julian memulai pertemanan dengan orang lain adalah sebuah keharusan yang harus dihindari nya. Ada sebuah trauma dalam hidup Julian untuk mulai berteman dengan seseorang.


"Haha haha. Lama lama kita berdua bikin usaha sendiri aja lagi. Biar biasa bekerja bersama terus" Vian menanggapi apa yang dikatakan oleh Julian.


"Jadi pertemanan kita hanya berdua saja terus" lanjut Vian sambil tersenyum penuh arti.


"Aman itu. Pokoknya kemana gue pergi loe pasti akan gue bawa" ucap Julian.


"serius loe? kok tiba tiba loe jadi orang kaya mendadak, apa loe akan tetap teman dengan gue?" tanya Vian mencoba peruntungannya kalau seandainya Bryan membawa sahabatnya itu masuk ke dalam mansion utama keluarga Witama.


"Jangankan jadi kaya mendadak. Saat udah kaya aja gue masih mau teman dengan loe" jawab Julian ngasal saja memberikan jawaban kepada Vian.


"loe bisa serius sedikit nggak ngasih jawaban ke gue?" kata Vian lagi dengan setengah kesal kepada Julian.


"haha haha haha. Pertanyaan loe yang ada ada aja. Masak gue bisa kaya mendadak. Kan aneh aneh aja itu" Julian membela dirinya. Ntah kenapa Julian bisa mengatakan hal seperti yang tadi kepada Vian, sehingga membuat Vian menjadi curiga dengan dirinya.


Kedua sahabat itu mulai mengobrol kembali ke sembarangan arah. Mereka bercerita mulai dari pekerjaan sampai gosip para artis. Pembicaraan yang sepertinya tidak akan ada habisnya. Ada saja topik yang akan mereka ceritakan saat sebuah topik sudah selesai.


Saat mereka lelah mengobrol akhirnya Julian dan Vian sibuk dengan ponsel mereka masing masing. Julian melanjutkan permainan gamenya yang sempat tertunda. Sedangkan Vian terlihat melihat sesuatu dengan serius di layar ponselnya itu.


'Gimana hasil tes wawancaranya?' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Bryan kepada Julian.


'Belum tau. Belum di umumkan' balas Julian.


'Semoga berhasil. Doa aku menyertai mu selalu' bunyi pesan chat berikutnya.


'Kalau nggak berhasil. Ngeri banget' balas Julian.


'Haha haha haha. Kalau nggak berhasil cari perusahaan lain saja' balas Vian.


Tiba tiba pintu ruangan tempat mereka diwawancara tadi terbuka dengan sangat lebar.


"Silahkan masuk. Sebentar lagi hasil dari wawancara akan diumumkan" kata seorang karyawan yang dari tadi tugasnya memanggil setiap calon karyawan baru.


'Aku masuk dulu. Mau pengumuman' kata Julian memberitahukan kepada Bryan kalau mereka akan mendengar pengumuman dari manager HRD tentang pelamar mana yang diterima bekerja di perusahaan itu.

__ADS_1


'Semoga sukses' balas Bryan.


Julian dan Vian berjalan masuk ke dalam ruangan tes wawancara. Mereka akan mendengar hasil dari wawancara mereka tadi. Apakah mereka akan diterima atau tidak untuk bekerja di perusahaan yang luar biasa bonafitnya itu.


Seorang manager HRD berdiri di atas panggung kehormatan. Beliau mulai memberikan kata sambutan. Tibalah pada pengumuman nama nama karyawan yang diterima.


"Berdasarkan hasil rapat tim wawancara, maka kami sudah memutuskan untuk menerima tiga orang karyawati yang akan ditempatkan dibagian pemasaran satu orang dan dua orang pada bagian personalia." ujar manager HRD.


"Tiga orang nama nama yang terpilih sudah ada di dalam amplop ini" lanjut manager.


"Pertama Yuni Asma wita" ujar Manager.


Pelamar yang bernama Yuni Asma wita berdiri dari posisi duduknya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu memberikan tepuk tangan yang meriah untuk pelamar yang terpilih itu.


"Kedua Julian" kata Manager.


Julian yang mendengar namanya disebut oleh Manager, langsung memeluk Vian. Dia sangat sangat bahagia bisa bekerja di perusahaan itu. Julian kemudian berdiri, dia juga mendapatkan tepukan hangat dari semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Ketiga atau pelamar yang kami Terima untuk yang terakhir adalah...... " kata manager sengaja menggantung nama pelamar tersebut.


Semua pelamar saling pandang pandangan. Vian tersenyum ke arah Julian. Julian menggenggam tangan Vian dengan erat.


Julian kembali memeluk Vian. Mereka berdua saling berbagi kebahagiaan karena sama sama diterima di perusahaan yang mereka idam idamkan itu.


Vian kemudian berdiri. Dia menundukkan kepalanya sedikit kepada semua orang yang berdiri di depannya saat ini.


"Semua karyawan yang diterima, silahkan besok langsung mulai bekerja. Waktu bekerja dan dibagian apa akan ditempatkan besok akan kita bahas selanjutnya. Sekali lagi, kami mengatakan selamat kepada pelamar yang sudah di Terima. Bagi yang belum di Terima maka silahkan coba lagi di kesempatan yang akan datang" ujar manager bagian HRD.


Semua calon pelamar yang diterima dan ditolak berjalan keluar dari dalam ruang wawancara. Mereka akan kembali ke rumah masing masing. Dari wajah wajah mereka bisa dilihat siapa yang sedang bahagia karena diterima bekerja di tempat yang mereka inginkan, dan ada juga wajahnya yang kuyu dan lesu karena tidak diterima bekerja di sana. Mereka harus kembali berjuang agar di Terima bekerja di tempat lain.


"Kita ke mall bentar Vian. Loe mau kan nemanin gue" kata Julian mengajak Vian untuk ke mall.


"Ngapain?" tanya Vian yang tidak mengerti kenapa Julian tiba tiba mengajak dirinya ke mall.


"Ada yang mau gue beli" jawab Julian.


"Apa?" Vian penasaran dengan apa yang akan dibeli oleh Julian ke mall tersebut.

__ADS_1


"Sepatu. Gue nggak ada sepatu lagi" jawab Julian sambil tersenyum membayangkan dirinya akan mendapatkan sepatu sesuai dengan yang diinginkan oleh dirinya.


"Oh oke" Vian setuju untuk pergi menuju mall menemani Julian membeli sepatu.


"Tapi gue kasih tau Bryan dulu ya. Daripada tu anak mengamuk nanti ke gue"


Julian mengirim pesan chat kepada Bryan, Julian mengabarkan kepada Bryan bahwasanya Julian akan pulang sedikit telat karena mau ke mall dulu membeli sepatu.


"Oke selesai" ujar Julian.


"Emang udah di balas sama Bryan?" tanya Vian yang penasaran saat Julian mengatakan kata selesai.


"Haha haha haha sama sekali belum. Dibaca aja kagak" jawab Julian sambil memperlihatkan pesan teks yang dikirimnya kepada Vian.


"Terus, batal perginya?"


"Wah tentu tidak. Kita akan tetap pergi. Kan udah ngomong." jawab Julian.


"Yakin? Kalau Bryan ngamuk gimana?" kata Vian mengeluarkan perkataan yang lumayan membuat Julian sedikit mengkerut.


"Nggak bakalan ngamuk. Palingan dia datang ke mall" ujar Julian menjawab dengan kemungkinan yang ada.


"Semoga aja datang ke mall" jawab Vian lagi dengan santai.


Kedua wanita cantik yang sama sama baru saja diterima bekerja di perusahaan VJ Grub berjalan keluar dari dalam perusahaan. Mereka akan berangkat menuju mall menggunakan motor kebanggaan Vian.


"Loe serius mau beli sepatu aja?" tanya Vian saat mereka sudah berada di dalam mall besar tersebut.


"Serius. Hanya satu sepatu saja" jawab Julian dengan sangat yakin kalau barang yang akan dibelinya adalah sebuah sepatu.


"Okeh"


Mereka berdua berjalan jalan dengan santainya mengelilingi pusat pertokoan mewah dan elit itu. Julian dan Vian beberapa kali masuk ke dalam toko barang barang branded.


"Ow" ujar Julian saat dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita.


"Jalan itu lihat lihat. Punya matakan?" ujar Nyonya besar Witama.

__ADS_1


Vian yang melihat kejadian Julian tertabrak seseorang ingin langsung menuju Julian. Vian ingin memastikan keadaan Julian. Tetapi saat Julian melihat kalau yang menabrak Julian adalah Nyonya Witama, Vian membatalkan niatnya. Vian berjalan menjauh dari tempat itu. Dia tidak bisa bertemu dengan Nyonya Witama untuk saat ini. Waktu, tempat dan kondisi tidak memungkinkan sama sekali


.


__ADS_2