
Pagi harinya saat Bryan sedang bersiap siap untuk berangkat ke perusahaan cabang guna melakukan pengangkatan atau penaikan jabatan manager HRD menjadi direktur baru di perusahaan cabang, ponsel Bryan yang nomornya hanya diketahui oleh satu orang yaitu istrinya, berdering lumayan keras. Bryan yang sedang memasang bajunya, langsung berlari menuju nakas untuk mengangkat panggilan dari ibu negara tersebut.
"Hallo sayang." sapa Bryan saat dirinya mengangkat telpon dari Julian.
"Pagi sayang ku. Kapan pulang?" tanya Julian yang sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Bryan. Suami ganteng yang sangat dirindukan dirinya.
"Kenapa?" tanya Bryan sambil memasang dasi warna hitam pilihannya kali ini.
"Nggak ada. Nanyak aja" jawab Julian yang tidak ingin mengakui kalau dirinya sedang rindu berat dengan Bryan.
"Yakin nggak ada apa apa?" tanya balik Bryan.
"Yakin sayang." jawab Julian sambil mengusap air matanya yang menetes di pipi
"Serius yakin?" tanya Bryan yang tau sekarang Julian pasti sedang bersedih.
"Kan kemaren kamu ngomong kalau kamu mau pulang hari ini sayang. Makanya aku tanya kamu jadi pulang atau tidak" akhirnya Julian mengatakan juga apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Is istri cantik aku kayaknya udah kangen banget sama suaminya ini" kata Bryan yang sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.
"Sayang, jangan mulai sayang." jawab Julian dengan nada sedih.
Julian sebenarnya sangat kangen dengan suaminya itu terapi Julian untuk mengakui rasa yang ada di dalam dirinya, itu yang membuat dia menjadi sedikit gengsi untuk mengakui kepada Bryan.
"Hay sayang, jangan menunduk gitu dong. Kangen atau nggak?" tanya Bryan kembali kepada Julian.
"Huft"
__ADS_1
Julian menghembuskan nafasnya dengan sangat berat. Dia tau bagaimana tipe Bryan. Bryan akan selalu mengejar jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Bryan kepada dirinya. Dia tidak akan melepaskan peluang yang besar itu. Bryan pasti akan selalu bertanya sampai dia mendapatkan jawaban yang diinginkan oleh dirinya.
"Sayang, apa salahnya sih ngaku ke suami sendiri. Nggak ada yang menghukum juga" lanjut Bryan dengan nada dibuat seromantis mungkin.
"Aku aja ini ya, bener bener bener kangen sama kamu. Malahan aku tidur sambil mendengarkan suara kamu" kata Bryan mengakui kepada Julian bagaimana dirinya sangat kangen dengan istri cantiknya itu.
Istri yang selalu membuat Bryan mengingat wajah cantik Nan teduh dan sangat nyaman untuk di lihat. Semarah apapun, sepanik apapun dan seberat apapun masalah yang dihadapi oleh Bryan, kalau Bryan sudah bertemu dengan Julian, maka semua masalah itu seperti menguap dari pikiran Bryan. Makanya kalau Bryan sedang sangat luar biasa marah, maka dia akan langsung memilih untuk menatap Julian lama lama. Wajah Julian merupakan candu tersendiri bagi seorang Bryan.
"Iya sayang, aku kangen banget. Makanya pulang ya. Aku rindu kamu banget. Hiks hiks" kata Julian yang ternyata kelepasan tangisnya.
Tangis Julian terdengar oleh Bryan di seberang sana. Kepergiannya yang sudah tiga hari ternyata membuat istrinya sudah bersedih dan malahan sampai meneteskan air mata.
"Sayang jangan nangis gitu. Aku akan usahakan pulang hari ini. Jangan nangis dan jangan bersedih ya sayang. Aku mohon" ucap Bryan dengan nada panik.
Bryan sama sekali tidak ingin membuat Julian menangis seperti sekarang ini. Bryan hanya ingin membuat Julian merasakan kebahagiaan setiap harinya bukan kesedihan seperti yang terjadi sekarang ini.
"Sayang, ini bukan tangis kesedihan. Tetapi sayang, ini adalah tangis kebahagiaan, karena kamu sebentar lagi aka pulang" kata Julian berusaha membuat Bryan menjadi tenang kembali tidak menahan kesedihan hatinya lagi.
"Sayang nggak usah berusaha untuk berbohong. Kamu sama sekali tidak bisa berbohong ke aku sayang. Aku tau kok bagaimana perasaan kamu sekarang ke aku. Jadi, aku akan berusaha untuk membuat kamu menjadi tersenyum dan tertawa lagi sayang. Tunggu aku di rumah kita ya"
"Maafkan aku" ujar Julian yang benar benar sangat merasa bersalah sekali karena sudah membuat Bryan khawatir akan dirinya.
"Nggak apa apa sayang. Aku sangat senang kamu merasa tidak bisa berpisah dari aku. Aku sangat senang sekali" kata Bryan mengakui betapa bahagia dirinya saat Julian begitu peduli, begitu sayang dan begitu cinta kepada dirinya.
"Sekarang kamu tutup telponnya ya. Kamu harus bekerja. Dan aku harus ke perusahaan juga. Hari ini aku janji aku akan pulang" kata Bryan yang sudah bertekad akan pulang hari ini.
Bryan langsung bersiap siap dengan sangat cepat. Dia tidak mau lagi menunda nunda pekerjaannya. Bryan sangat menyesal karena hari pertama dia sampai di sini tidak langsung bekerja malahan harus ketiduran sampai siang. Tapi penyesalan hanya tinggal penyesalan. Bryan sama sekali tidak bisa berbuat apa apa atas penyesalan itu.
__ADS_1
"Oke gue sudah rapi. Saatnya bekerja dengan super cepat. Nggak boleh membuang buang waktu. Gue harus bisa menyelesaikan pekerjaan gue hari ini."
"Demi Julian. Wajib bisa. Ayo Bryan loe pasti bisa." kata Bryan menyemangati dirinya sendiri supaya bisa menghadapi semua pekerjaan yang menunggunya sekarang.
Tok tok tok. Bryan mengetuk pintu kamar Fellix. Bryan sudah tidak bisa lagi menunda nunda pekerjaan mereka yang harus mereka kerjakan hari ini.
"Siapa coba. Gue kan nggak mesan room service untuk pagi ini" kata Felix yang heran karena mendengar ketukan pintu di depan kamarnya pagi ini.
Bryan yang melihat tidak ada tanda tanda Felix akan membuka pintu kamar, kembali mengetuk pintu kamar Felix.
"Yah dasar. Siapa coba"
Kesabaran Felix benar benar setipis tisu dibagi lima. Benar benar tipis. Felix kemudian berjalan ke pintu kamar.
"Untung saja gue udah siap. Kalau belum. Hem selamat lah tu orang karena sudah mengganggu hidup gue pagi pagi" kata Felix dengan kesal sambil menatap ke pintu yang tertutup rapat itu.
Felix membuka pintu kamarnya. "Hah!!!!!!! " ujar Felix kaget saat melihat siapa yang berada di depan pintu kamarnya saat ini.
"Kenapa loe kaget? Biasa aja" Komentar Bryan saat melihat bagaimana kagetnya Felix saat dirinya berada di depan pintu kamar.
"Kenapa pagi sekali?" lanjut Felix bertanya.
"Ibu negara sudah nangis. Kita harus pulang hari ini juga" Bryan memberitahukan penyebab dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar Felix pagi pagi sekali.
"Oh Oke. Gue akan telpon Ryan untuk menyiapkan pesawat"
'Yes akhirnya bisa pulang juga' kata Felix dalam hatinya.
__ADS_1
Felix benar benar bersemangat mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini. Mereka akan pulang hari ini juga. Felix menghubungi Ryan sambil berjalan menuju restoran hotel.