
"Felix kalau satu di sini bagaimana?" kata Julian yang sangat ingin berfoto dengan Bryan di kursi teras rumah mereka. Apalagi dengan latar belakang tanaman hias yang ditaman oleh Julian semenjak dirinya tinggal di rumah sederhana itu.
"Boleh. Kayaknya di situ juga spot fhoto yang bagus" jawab Felix setuju dengan tempat fhoto berikutnya yang dipilih oleh Julian.
Bryan berdiri di belakang kursi. Tangan Bryan memegang pundak Julian dengan penuh kasih sayang, tangan Julian memegang lembut jari tangan Bryan. Sedangkan Julian duduk. Mereka berdua saling bertatap tatapan satu dengan yang lainnya.
Vian dan Kevin yang melihat pose mesra sepasang suami istri itu tersenyum bahagia. Mereka ikut bahagia saat melihat Tuan Muda dan Nona muda mereka bahagia.
"Akhirnya Tuan Muda menemukan tambatan hatinya yang pas dan sesuai" ujar Vian sambil mengusap air matanya yang jatuh.
"Ya. Semoga tidak ada rintangan ke depan yang sangat berat yang harus mereka lalui berdua" Kevin menambahkan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Oke Julian, apa masih ada lagi pose atau tempat yang mau loe jadikan spot berfoto?" tanya Felix yang masih siap dengan kamera di tangannya.
"Sudah cukup rasanya Felix. Bagaimana kalau kita ke kampus saja lagi? Undangannya jam sembilan. Sekarang sudah setengah sembilan" kata Julian yang tidak mau terlambat sampai di kampus. Dia harus tepat waktu, Julian tidak ingin melewati acara apapun saat wisuda nanti.
"Oke. Berangkat" ujar Kevin.
Kevin kali ini membawa mobil mini bus. Dia tidak mungkin membawa mobil yang biasa dia pakai. Bisa bisa mereka tidak akan muat di dalam mobil itu
Felix duduk di kursi belakang. Sedangkan Bryan dan Julian duduk di kursi tengah. Sopir tentu saja Kevin, di sebelah Kevin duduk Vian yang tak kalah cantiknya hari ini. Pakaian Vian sangat berbeda dari hari biasanya, kali ini Vian memakai rok serta kemeja yang sangat cantik di pakai oleh Vian. Siapapun yang melihat Vian, mereka pasti akan mengatakan Vian sangat cantik.
Kevin mengemudikan mobil dengan sangat tenang. Bryan sudah kembali memasang kaca mata hitamnya. Kali ini dia tidak memakai masker seperti biasanya. Bryan tidak kalah tampannya dengan Julian. Tuksedo cream yang dipakainya benar benar pas di badan Bryan. Tadi sebelum berangkat pas sesi pemotretan, Julian sempat bertanya kepada Bryan, siapa yang punya tuksedo yang dipakai oleh Bryan, ternyata tuksedo itu adalah milik Felix.
Kevin memarkir mobil di parkiran khusus tamu wisudawan. Mereka semua turun dari dalam mobil. Bryan membantu Julian untuk keluar dari dalam mobil. Julian memakai jubah wisudanya, setelah itu Bryan membantu memasangkan toga Julian.
"Undangannya loe nggak lupa kan Vian?" tanya Julian saat mengingat undangan untuk Bryan dan ketiga sahabatnya itu sudah dititip oleh Julian kepada Vian.
"Aman. Sudah dalam tas" jawab Vian.
__ADS_1
Julian menatap ke arah Bryan. Dia tersenyum penuh kebahagiaan ke ara suaminya itu.
"Makasih karena udah support aku selama ini. Makasih udah mau ngertiin aku selama ini" kata Julian. Julian berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh saat mengucapkan kata kata manis itu kepada Bryan.
Bryan memeluk Julian dengan erat. Dia tidak peduli orang orang melihatnya saat ini. Bagi Bryan sekarang yang terpenting adalah memeluk Julian istri pintarnya itu.
"Sama sama. Sekarang bukan saatnya menangis sedih. Kamu harus bahagia" ujar Bryan sambil mengusap air mata Julian yang ternyata jatuh juga.
"Sekali lagi makasih" ujar Julian.
Bryan menganggukkan kepalanya. Dia tidak sanggup lagi berkata apapun kepada Julian.
"Sekarang saatnya wisudawan yang namanya terpanggil untuk pertama sekali masuk ke dalam ruangan. Sedih sedihannya nanti saja pas udah di rumah lagi" kata Vian yang tidak tahan melihat adegan sedih yang tersaji di depannya saat ini.
"Aku masuk dulu ya" kata Julian sambil tetap memegang tangan Bryan dengan lembut.
"Kamu nanti harus lihat aku saat aku dikalungin medalinya" lanjut Julian lagi masih berusaha mengulur ulur waktu. Julian melakukan itu karena ntah kenapa dalam hatinya dia merasa akan berpisah dengan Bryan. Perpisahan yang ntah kapan terjadi tetapi pasti akan terjadi.
Julian melepaskan genggaman tangannya dari Bryan. Dia kemudian berbalik dan mulai melangkahkan kakinya satu persatu menuju auditorium tempat dia akan diwisuda.
'Aku bahagia sekali. Walaupun mereka tidak hadir dalam acara ini, tetapi Bryan ada mendampingi dan selalu support aku' ujar Julian dalam hatinya.
"Hay Julian. Kamu dari tadi kami tungguin" ujar salah seorang wisudawan yang memang sering menyapa Julian.
"Hay, sorry telat." jawab Julian dengan santai.
"Kamu datang dengan siapa?" tanya wisudawan itu sambil melihat ke sekeliling.
Julian paham akan arti tatapan rekannya itu.
__ADS_1
"Gue datang dengan Vian. Mau dengan siapa lagi" jawab Julian sambil tersenyum.
"Oh, gue datang sama sekeluarga besar gue. Tu mereka di atas" kata wisudawan itu sambil menunjuk ke arah keluarganya.
"Oh selamat kalau begitu. Gue ke kursi gue dulu ya" kata Julian yang malas membahas hal yang menurutnya akan membuat dia sakit itu. Sehingga Julian lebih memilih untuk menghindar dari perbincangan itu
Sesaat suara keriuhan di dalam gedung menjadi hilang. Suasana gedung menjadi sangat senyap sekali.
"Apa acaranya sudah mau mulai? Kok tiba tiba jadi diam seperti ini?" tanya Julian kepada rekannya sebelah kursi tempat dia duduk.
"Bukan" jawab rekan Julian yang matanya masih menatap ke pintu masuk ruangan.
Julian yang heran dengan tingkah rekannya itu, pada akhirnya juga memutar posisi duduknya untuk melihat apa yang menjadi pusat perhatian orang seisi gedung.
'Kenapa mereka bisa menyedot perhatian seperti itu' kata Julian saat melihat siapa yang menjadi pusat perhatian tiba tiba satu gedung penuh.
'Lagian mereka berempat juga iyes, kenapa harus pakai pakaian seperti pengusaha muda yang sukses seperti itu' lanjut Julian ngedumel sendiri saat melihat apa yang membuat semua orang menjadi terdiam.
Bryan, berjalan dengan posisi paling depan. Dia menjadi sangat sentral karena hanya dia yang memakai pakaian cream. Sedangkan Kevin, Felix dan Vian berjalan di belakang Bryan, mereka berempat memakai pakaian yang gelap. Bryan benar benar terlihat sebagai seorang tuan muda.
"Julian ganteng kan yang di depan" ujar rekannya yang berada di kursi belakang Julian.
"Ya memang tampan." jawab Julian mengakui di depan semua rekannya ketampanan dari seorang Bryan.
"Semoga aku bisa memiliki dia" ujar rekan Julian yang lain.
Julian menatap kaget ke arah rekannya itu. Tetapi dia kemudian mengubah kembali raut wajahnya. Dia tidak ingin rekan rekannya bertanya kenapa raut wajahnya bisa berubah seperti itu.
"Semoga aja dia ke sini bukan pergi melihat wisuda kekasihnya. Tetapi pergi wisuda adiknya" lanjut wisudawan yang lainnya.
__ADS_1
Julian hanya bisa menyabarkan hatinya saja. Dia tidak mungkin berteriak di depan semua wisudawan dengan teriakan.
'Dia milik gue, awas kalau kalian ganggu'