Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #66


__ADS_3

"Ayok Vian, kita pulang" ajak Julian yang wajahnya masih terlihat murung dan bersedih. Kesedihan tidak bisa ditutup tutupi lagi oleh Julian. Dia benar benar sangat bersedih dengan semua kejadian yang terjadi hari ini.


"Oke, gue juga udah siap. Kita jadi ke pantainya?" tanya Vian ingin memastikan sekali lagi kalau niat Julian belum berubah dan tetap ingin menikmati udara segar laut.


"Jadilah. Males gue cepat cepat pulang, lagian Bryan juga tidak ada di rumah" kata Julian memberikan alasan kenapa dirinya ingin pergi ke pantai dan menikmati udara laut yang bisa membuat dirinya segar.


"Oke mari kita jalan. Gue juga pengen makan kerupuk kuah pakai mie yang banyak di jual di tepi pantai" Vian sudah membayangkan makanan apa yang akan dinikmatinya nanti saat mereka berdua berada di pantai.


"Dasar loe ya, dalam otak loe kalau kita kemana mana pasti makanan aja terus" ledek Julian kepada Vian yang sudah merencanakan akan makan kerupuk kuah pakai mie saat mereka berada di pantai.


"Udah lama nggak. Ayok cus. Kerupuk kuah sudah manggil gue" jawab Vian membela dirinya.


"Kata kerupuk kuah. Vian ayo sini Vian makan gue Vian. Gue sangat nikmat Vian" kata Vian memperagakan apa yang dikatakan oleh kerupuk kuah itu.


"Haha hahaha. Memang lah ya perut nomor satu yang lain belakangan" kata Julian sambil tersenyum meledek Vian.


"Eeee harus itu perut nomor satu. Kalau nggak bisa mati kelaperan gue. Terus ya kemungkinan paling kecil terburuknya, gue menjadi tidak bisa mengerti dan paham tentang apapun yang sedang gue lakuin. Alias otak gue nggak sampe" jawab Vian berkilah memberikan jawaban dan penjelasan kepada Julian.


Julian hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya saja. Dia main setuju setuju saja dengan apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini, karena mau dilawan pun Vian tetap punya jawabannya sendiri.


Manager Rendi juga baru keluar dari dalam ruangan kerjanya dan ber pas-pasan dengan Julian dan Vian yang juga akan keluar ruangan devisi pengadaan barang.


"Kalian juga mau pulang?" tanya manager Rendi yang sudah melupakan apa yang terjadi hari hari sebelumnya.


"Iya Pak, kami juga sudah mau pulang" kali ini yang menjawab adalah Vian. Sedangkan Julian hanya memberikan senyum tipis saja yang tidak sampai menyentuh mata indahnya.


"Kalau begitu saya duluan" kata Rendi.


"Silahkan" jawab Vian masih dengan ramah.


Vian melihat ke arah Julian. "Loe masih marah dengan dia?" tanya Vian saat melihat bagaimana reaksi yang diberikan oleh Julian terhadap Rendi tadi.


"Sedikit" jawab Julian dengan acuhnya.


"Udah jangan bahas dia. Tambah rusak mood gue nanti" lanjut Julian yang malas membahas tentang Rendi dan Rendi lagi.


"Hay malas malas nanti jadi cinta kapok loe" ujar Vian mulai menggoda Julian.


"Cinta gue hanya untuk Bryan saja. Nggak ada untuk yang lainnya" jawab Julian dengan pasti.


"Kalau itu gue yakin, nggak perlu loe jelasin ke gue lagi" kata Vian menjawab pernyataan yang diberikan oleh Julian sebentar ini kepada dirinya.


Julian dan Vian kemudian berjalan meninggalkan perusahaan. Mereka berdua akan menuju pantai tempat dimana Julian akan menenangkan pikirannya dan juga emosinya yang sedang tidak stabil itu.


"Vian kapan kapan kita ke kebun teh yang sedang viral di sosial media itu ya, pake motor aja, berdua" kata Julian yang ntah dari mana tiba tiba mendapatkan ide yang nggak masuk di akal itu.


"Hah? Gila loe. Bisa bisa kita berdua dimarahi suami loe kalau kita ke sana pake motor juga hanya berdua" jawab Vian

__ADS_1


"Ogah gue ambil resiko itu. Kalau loe mau ke sana juga, kita bisa ke sana, tapi ngomong dulu loe ke suami elo" lanjut Vian yang tidak akan mengambil resiko di marahi Bryan hanya karena menuruti keinginan Julian untuk pergi ke kebun teh dengan naik motor.


"Iya, gue tentu harus izin Bryan dulu. Nggak mungkin gue main pergi pergi aja. Bisa bisa ngamuk Bryan kalau gue pergi nggak ngomong" ujar Julian yang tau bagaimana resiko dirinya kalau dia pergi tetapi tidak melapot kepada Bryan.


"Sekarang loe pergi emang ngelapor ke dia?" tanya Vian balik.


"Hehe hehe hehe. Lupa gue" jawab Julian yang termakan omongannya sendiri.


"Nah itu tu yang bikin loe akan ribut lagi nanti dengan Bryan. Gini ya Julian walaupun gue belum punya suami. Tapi menurut gue lebih baik loe kasih tau Bryan kalau loe jalan sama gue ke pantai. Gue cuma ngasih usulan aja ya. Bukan maksud apa apa" kata Vian menggaris bawahi apa yang dikatakannya hanya sebagai usulan saja bukan murni harus dilakukan oleh Julian.


"Iya siap ibuk cantik, sahabat baik gue. Gue akan beritahu dia sekarang kalau gue akan jalan sama loe ke pantai" kata Julian yang memilih ikut apa yang disarankan oleh Vian karena itu untuk kebaikannya juga.


"Itu baru bener" jawab Vian.


Tidak terasa karena keseringan mengobrol, Julian dan Vian sudah sampai di tepi laut.


"Kita berhenti dimana?" tanya Vian yang tidak tau mereka akan parkir dimana.


"Dekat tugu itu aja. Akan lebih enak disana menikmati keindahan sunset dari posisi itu" jawab Julian yang memilih mereka untuk duduk duduk di dekat tugu.


Kebetulan di tempat yang di pilih oleh Julian, keadaan lebih ramai dari pada tempat yang lainnya. Sehingga mereka berdua tidak perlu cemas dengan orang orang yang sedikit usil mengganggu Julian dan Vian saat mereka sedang menikmati udara sejuk dari tengah laut.


Vian memarkir motornya di tempat parkir yang sudah disediakan. Julian dan Vian kemudian turun dan mencari tempat duduk yang kosong. Mereka berdua menemukan tempat duduk yang kosong yang jaraknya dari tepi pantai lumayan jauh. Sehingga percikan air dari deburan ombak tidak akan mengenai mereka.


"Loe mau makan apa Julian, gue mau pergi pesan makanan" tanya Vian yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Oke sip"


Vian pergi membeli makanan yang akan mereka nikmati. Sedangkan Julian melihat ponselnya. Dia sudah mengetik di pesan chat yang akan dikirimkan kepada Julian, tetapi Vian menghapus pesan itu kembali. Dia mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan tersebut.


"Biarin ajalah. Bagaimana nanti, nanti saja pikirin. Gue Terima aja resikonya nanti" kata Julian sudah memutuskan tidak akan memberitahukan kepada Bryan dimana dia berada sekarang.


Vian datang dengan membawa dua piring kerupuk yang di atasnya sudah di oleh dengan kuah sate dan diberi taburan mie goreng.


"Loe mau?" tanya Vian kepada Julian.


"Mau banget, udah lama gue nggak makan kerupuk kayak gitu" ujar Julian mengambil satu piring kerupuk kuah yang dibawa Vian.


"Gue kira loe nggak suka" kata Vian.


Vian kemudian duduk di sebalah Julian. Mereka memandang ke laut lepas melihat matahari yang akan menyinari belahan bumi yang lainnya.


"Ini snack untuk cemilan yang paling enak" jawab Julian.


Julian memang paling suka kerupuk kuah. Saat dia masih sendiri, Julian paling senang membuat makanan jenis itu. Mereka berdua kemudian menikmati kerupuk kuah sambil menunggu makanan dan minuman yang dipesan oleh Vian tadi.


"Jadi loe kenapa tadi kok emosi saat nelpon Bryan?" tanya Vian yang pada akhirnya harus menanyakan hal itu kepada Julian.

__ADS_1


"Nggak tau kenapa, tiba tiba aja gue mendadak menjadi emosi. Tidak biasanya gue seperti ini. Suasana hati gue ntah kenapa tidak stabil banget hari ini" kata Julian menjelaskan kepada Vian tentang keadaan hati dan pikirannya.


"Terkadang gue bisa mendadak menjadi sedih luar biasa, terkadang bahagia banget. Itu semua bisa terjadi dalam satu hari yang sama. Bener bener membuat gue tidak mengerti" jawab Julian menjelaskan kepada Vian apa yang sekarang sedang dirasakannya. Pergelutan emosi dan permainan perasaan yang benar benar menguras emosinya.


"Malahan yang lebih parahnya lagi, waktu nelpon Bryan itu, gue niatnya cuma mau nanyak kenapa dia bisa pulang telat. Eeeee ntah kenapa gue menjadi sensitif sendiri. Membuat gue menjadi tersinggung , gue nggak tau ntah kenapa gue bisa seperti itu" lanjut Julian yang tidak mengerti kenapa dirinya bisa mengalami perubahan mood dengan sangat mudahnya.


"Loe udah halangan?" tanya Vian dengan santai.


"Belum" jawab Julian.


"Sudah telat atau belum?" tanya Vian selanjutnya.


Julian menatap Vian, dia mengerti ke arah mana tujuan dari pertanyaan yang diajukan oleh Vian.


"Jadwalnya belum, semoga sebentar lagi akan datang" jawab Julian sambil melihat ke arah Vian.


"Kenapa? Loe nggak mau hamil?" tanya Vian penasaran dengan alasan Julian yang mengatakan semoga sebentar lagi tamunya datang.


"Jujur, gue belum siap. Tapi kalau udah di percaya sama Tuhan gue akan jaga dengan baik" jawab Julian.


Julian berharap belum sekarang. Dia masih ingin mengenal lebih baik lagi Bryan suaminya itu.


Dua orang pelayan datang ke meja Julian. Mereka menaruh semua makanan dan minuman yang di pesan oleh vian tadi. Julian dan Vian menikmati menu pesanan mereka.


Sambil makan mereka tetap melanjutkan obrolan. Mereka membahas berbagai hal mulai dari kehidupan sampai dengan masalah pekerjaan.


"pulang yuk udah malam" Kata Julian mengajak Vian untuk pulang.


"oke. mari pulang" kata Vian.


Julian dan Vian kemudian menuju motor Vian yang diparkir di depan tugu merpati itu. Mereka berdua kemudian pulang ke rumah Julian.


"semoga Bryan belum pulang" ujar Julian dalam hatinya. Dia berharap Bryan pulang nanti setelah dia selesai bersiap siap dan menyiapkan menu makan malam.


Perjalanan dari pantai menuju rumah Julian tidak membutuhkan waktu yang lama. Vian hanya perlu mengemudi selama tiga puluh menit saja.


"huf bener bener capek gue. capek luar biasa" kata Vian saat mereka sudah berada di dalam rumah Julian.


"loe mandi dulu sana. pakai pakaian gue saja dulu" kata Julian.


"Oke." jawab Vian.


"Loe mau kemana?" tanya Vian saat melihat Julian sudah berdiri dari posisi duduknya.


"Masak makan malam" jawab Julian


Julian mengeluarkan semua bahan makanan yang akan diolah nya menjadi menu makan malam. Dia tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang harus menyiapkan makan malam untuk suaminya yang baru pulang dari tempat kerja.

__ADS_1


__ADS_2