
Mereka berdua berjalan jalan dengan santainya mengelilingi pusat pertokoan mewah dan elit itu. Julian dan Vian beberapa kali masuk ke dalam toko barang barang branded. Mereka cuci mata dalam toko tersebut. Rencananya kalau mereka ada barang yang di pajang itu mereka sukai, maka mereka akan mencari barang yang sapa dengan harga yang luar biasa miring.
"Gue ke sana bentar ya Julian. Mau nengok nengok bagian sana" ujar Vian yang merasakan kalau ponselnya yang satu lagi bergetar hebat di dalam saku blazer yang dipakainya. Vian sudah tau siapa yang menghubungi nya saat ini.
"Oke. Gue di sini aja. Palingan nengok nengok barang barang yang di sana" kata Julian yang mengizinkan Vian untuk melihat barang barang yang ada di bagian yang berbeda dengan bagian yang dilihat oleh Julian.
Vian berjalan meninggalkan Julian. Tetapi matanya tetap melirik Julian. Vian tidak mau sesuatu terjadi terhadap istri Tuan mudanya itu.
Brug. Bunyi barang bertabrakan.
"Ow" ujar Julian saat dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Julian memegang pantatnya yang sakit karena dia terhempas ke lantai.
"Jalan itu lihat kenapa. Punya matakan?" ujar Nyonya besar Witama dengan nada sinis.
Vian yang melihat kejadian Julian tertabrak seseorang ingin langsung menuju Julian. Vian ingin memastikan keadaan Julian. Tetapi saat Vian melihat kalau yang menabrak Julian adalah Nyonya Witama, Vian membatalkan niatnya. Vian berjalan menjauh dari tempat itu. Dia tidak bisa bertemu dengan Nyonya Witama untuk saat ini. Waktu, tempat dan kondisi tidak memungkinkan sama sekali
"Maaf Nyonya. Saya hanya berdiri saja di sini. Nyonya yang menabrak saya" ujar Julian tidak Terima dikatakan tidak memiliki mata dan tidak hati hati oleh Nyonya Witama.
"Eh sudahlah salah masih merasa benar" lanjut Nyonya Witama yang tidak suka dirinya disalahkan oleh siapapun.
"Tapi maaf Nyonya. Memang Nyonya yang menabrak saya" balas Julian yang juga tidak ingin mengalah kepada Nyonya yang sombong dan angkuh di depannya saat ini.
"Hay" ujar Nyonya Witama sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan hidung Julian.
Julian mengambil telunjuk itu. Dia sangat tidak suka ada orang yang menunjuk nunjuk nya seperti sekarang ini apalagi Julian tau kalau dirinya tidak bersalah. Sehingga dia tidak mau dan tidak menerima sikap yang ditunjukkan oleh Nyonya Witama. Julian menggenggam erat telunjuk Nyonya Witama.
"Kamu jangan macam macam dengan saya ya" ujar Nyonya Witama yang tidak Terima dengan sikap Julian kepada dirinya tadi.
"Maaf Nyonya, saya diajarkan sopan santun oleh keluarga saya." kata Julian kesal dengan gaya Nyonya Witama itu.
"Kalau kamu diajarkan sopan santun, tentunya kamu seharusnya tau bagaimana kalau berbicara dan berhadapan dengan orang yang lebih tua" ujar Nyonya Witama masih dengan kekesalannya.
__ADS_1
Baru kali ini ada orang yang berani melawan dirinya. Apalagi ini hanya seorang anak muda, sudah berani melawan Nyonya Witama di sebuah mall.
"Nyonya saya diajarkan oleh orang tua saya untuk sopan kepada orang yang juga memiliki kesopanan Nyonya" balas Julian tidak kalah sengitnya.
"Jangan mentang mentang Nyonya kaya terus dengan gampangnya menginjak harga diri orang seperti saya" lanjut Julian semakin meninggikan suaranya dan memberikan tekanan tekanan dibagian bagian tertentu.
"Jangan memandang seseorang dari tampilan luarnya saja Nyonya besar" ujar Julian dengan menekankan kata besar dengan nada mencemooh.
"Apa gunanya kata kalau tidak sopan seperti Nyonya. Ingat Nyonya, harta tidak akan di bawa mati" lanjut Julian yang sudah kesal sekali. Sehingga Julian tidak bisa menghentikan apa yang ingin dikatakan oleh dirinya.
Nyonya besar Witama menatap tidak percaya ke arah Julian. Dia sontak mengangkat tangannya.
Plak. Sebuah tamparan hebat mendarat di pipi Julian. Julian memegang bekas tamparan yang diberikan oleh Nyonya Witama di pipinya itu.
Semua orang yang mendengar bunyi tamparan itu melihat ke arah Julian. Julian menatap tidak percaya kearah Nyonya Nyonya yang sudah berani menampar nya itu.
"Anda keterlaluan Nyonya" ujar Julian dengan menahan amarahnya.
"Nyonya jangan hanya karena Nyonya kaya, Nyonya bisa berbuat semaunya" ujar Julian.
"Saya akan pastikan Nyonya akan menerima pembalasan yang lebih pedih dari ini Nyonya" kata Julian mengeluarkan ancamannya kepada Nyonya Witama.
"Maaf Nona muda, Anda tidak tau siapa saya dan siapa keluarga saya. Anda tidak akan bisa menyentuh keluarga saya seujung kuku pun" ujar Nyonya Witama dengan sikap sombong dan pongahnya.
Julian mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya Witama yang sombong dan angkuh itu. Julian menggeleng gelengkan kepalanya tanda tidak suka dengan cara berbicara Nyonya Witama.
"Nyonya Nyonya. Apa Nyonya lupa dengan pepatah lama. Di atas langit masih ada langit" kata Julian sambil tersenyum.
Senyum Julian tidak sampai ke mata indahnya. Senyum Julian menampakkan aura lain dalam dirinya. Aura yang selama ini tidak pernah dilihat oleh siapapun. Kalau orang yang sering perang mental dalam berbisnis akan tau arti dari tatapan mata Julian kepada Nyonya Witama.
"Nona Nona, anda lucu sekali ya. Di negara ini tidak ada yang lebih kuat dari pada keluarga saya" ujar Nyinya Witama semakin menyombongkan siapa dirinya dan keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya saya rasa ini tidak akan ada ujungnya" kata Julian yang sudah sangat muak melihat kesombongan dari Nyonya yang ada di depan matanya ini.
"Nyonya tunggu saja ya hadiah dari saya nantinya. Kapanpun itu, kalau ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga Nyonya maka itu adalah hadiah dari saya, sebagai balasan dari tamparan yang Nyonya berikan" ujar Julian.
"Sekarang silahkan Nnyonya lihat dulu siapa saya. Silahkan hapalkan wajah saya" kata Julian sambil memperlihatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan Nyonya Witama.
"Saya tidak perlu mengingat wajah kamu. Tidak ada untungnya bagi saya" lanjut Nyonya Witama dengan pongahnya.
"Nyonya saya akan pastikan hari ini juga. Nyonya sudah salah memilih saya sebagai lawan Nyonya" ujar Julian kembali meninggalkan ancaman untuk Nyonya Witama.
Setelah mengatakan hal itu, Julian pergi meninggalkan tempat tersebut. Dia kehilangan Vian dan baru menyadarinya sebentar ini.
"Vian loe dimana?" ujar Julian saat panggilan telponnya baru diangkat oleh Vian setelah berkali kali Julian menghubunginya.
"Sorry Julian, gue dari tadi keluar masuk kamar mandi aja. Sepertinya gue masuk angin" ujar Vian memberikan alasan yang lebih tepat kepada Julian.
"Oh oke. Sekarang loe dimana?" tanya Julian.
"Depan kamar mandi" jawab Vian yang memang memilih untuk menunggu Julian di sana.
Hal itu dilakukan oleh Vian supaya dia tidak bertemu dengan Nyonya besar Witama. Bisa bisa nanti dia dimarahi di depan semua orang. Kemudian Julian pasti akan bertanya tentang siapa dia sebenarnya. Vian tidak ingin itu terjadi. Dia belum siap menjelaskan siapa dirinya kepada Julian. Karena satu saja terbongkar maka semua pasti akan terbongkar. Julian adalah wanita pintar, dia tidak akan pernah percaya dengan alasan yang tidak logis.
"Oke tunggu sana. Gue ke sana sekarang" ujar Julian.
Julian melangkahkan kakinya menuju lamar mandi. Dia sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Kepala Julian tetap tegal, dia menganggap kejadian tadi adalh kejadian yang tidak ada harganya saja. Sedangkan Nyonya witama, menatap kepergian Julian dengan tatapan tidak senang. Dia sudah dibuat malu oleh anak muda itu. Nyonya Witama sama sekali tidak Terima.
"Dia sudah berani mengancam saya. Dia tidak tau siapa saya" ujar Nyonya Witama dengan kesal.
"Dia akan menerima akibatnya. Dia yang sudah salah mencari lawan. Bukan saya yang salah mencari lawan" lanjut Nyonya Witama.
Nyonya Witama yang rencananya mau shopping seperti biasanya, menghabiskan uang yang sudah susah payah dicari oleh anaknya laki lakinya itu, akhirnya membatalkan niatnya. Mood Nyonya Witama sudah rusak seketika saat dirinya ribut dengan Julian. Wanita muda yang tidak mau harga dirinya diinjak injak oleh siapapun
__ADS_1