
"Baik, kalian semua sudah melihat sendiri laporan perusahaan yang berada di tangan saya yang diserahkan langsung oleh Ryan, direktur operasional untuk perusahaan saya itu" kata Bryan mulai membuka kembali suaranya dalam rapat dan meeting para manager serta kepala divisi.
Bryan, Felix dan Kevin menatap kearah semua orang yang ada di dalam ruangan meeting tersebut. Mereka bertiga membaca begitu banyak raut wajah cemas yang tergambar di wajah semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Kalian semua tidak perlu cemas. Kenapa harus cemas, santai saja" kata Bryan lagi dengan nada dinginnya.
Saat mendengar suara Bryan yang seperti itu, semakin membuat semua yang ada di dalam ruangan itu menjadi takut dan frustasi. Mereka mendapatkan ancaman dari depan dan belakang. Mereka tidak tau lagi harus berpindah ke posisi yang mana. Kedua posisi itu sama sama mengancam hidup mereka dan hidup keluarga mereka.
Bryan, Felix dan Kevin menikmati ekspresi ketakutan dari semua orang yang ada di sana. Mereka bertiga sengaja melakukan hal itu supaya di antara mereka ada yang jujur dan membuat Bryan tidak perlu menampilkan laporan yang sebenarnya
"Kenapa wajah kalian semuanya wajah takut?" tanya Bryan masih dengan nada dingin dan mengancam.
"Kalau saya mengambil kesimpulan saat melihat raut wajah kalian yang seperti ini. Saya memiliki dua kesimpulan utama" lanjut Bryan lagi.
Para manager dan kepala devisi saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka tidak tau kalau wajah dan ekspresi takut mereka bisa membuat Tuan Bryan menjadi menyimpulkan dua hal penting sekarang ini.
"Kesimpulan pertama kalian tau kalian sudah salah tetapi tidak mau mengakui atau takut mengakui" kata Bryan menyebutkan kemungkinan yang pertama saat melihat bagaimana raut wajah para manager dan kepala divisi itu.
"Kesimpulan kedua, kalian sedang di bawah ancaman seseorang yang terlibat penuh dalam permasalahan ini" kata Bryan selanjutnya.
Para manager masih saja diam, mereka tidak berani membuka mulut. Mereka memang takut akan satu hal. Sebenarnya mereka ingin bicara, tapi keluarga mereka sedang dalam ancaman. Bryan, Felix dan Kevin mengetahui hal itu dengan sangat baik sekali.
"Baiklah kalau kalian cemas akan keselamatan keluarga kalian di rumah dan di tempat kerja mereka bahkan di sekolah. Tenang saja mereka sekarang dalam pengawasan Felix dan Kevin"
__ADS_1
Bryan memberitahukan sebuah berita yang akan membuat semua manager dan kepala divisi menjadi lebih lega. Raut wajah mereka sudah sedikit menjadi rileks tidak separah tadi.
"Felix coba hubungi salah satu dari keluarga mereka. Kamu acak saja siapa yang mau kamu hubungi" Perintah Bryan supaya Felix menghubungi salah satu keluarga dari para manager dan juga kepala divisi.
"Siap Tuan Muda" jawab Felix
Felix menghubungi secara acak salah satu keluarga dari orang orang yang sekarang dalam posisi tertekan oleh seseorang itu. Felix menunggu sampai panggilan itu tersambung barulah dia akan menampilkan di layar, siapa orang yang dihubunginya itu. Tetapi wajah orang itu akan tetap di tutup dengan masker dan suaranya di samarkan. Hal ini supaya saat Felix dan Kevin melonggarkan pengawalan untuk mereka, mereka semua masih dalam posisi aman dan nyaman.
"Selamat siang Nyonya. Maaf saya mengganggu Nyonya. Nyonya masih kenal dengan saya bukan?" tanya Felix saat panggilan videonya sudah tersambung dengan salah satu istri dari manager.
"Tentu saya masih ingat Tuan Felix. Tuan yang menyelamatkan saya dari orang orang yang jahat itu" lanjut Nyonya tersebut yang ternyata masih mengingat wajah Felix dengan sangat baik sekali.
Felix kemudian menceritakan kepada Nyonya itu apa yang sedang terjadi sekarang. Nyonya menyimak semuanya dengan sangat baik. Nyonya itu sama sekali tidak menjeda perkataan dari Felix. Dirinya sangat serius mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Felix kepada dirinya.
"Jadi, apakah Nyonya mau membantu saya kali ini?" Felix bertanya dan berharap Nyonya itu mau membantu dirinya, sehingga Felix tidak perlu menghubungi yang lainnya.
"Saya ingin Nyonya memberitahukan kepada manager yang ada di ruangan ini kalau Nyonya dan keluarga Nyonya serta keluarga yang lainnya dalam keadaan aman dan baik baik saja" kata Felix mengucapkan apa yang diinginkannya.
"Kemudian saya juga ingin Nyonya meminta semua suami dan juga istri serta anak yang ada di dalam ruangan ini untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi" lanjut Felix.
"Bagaimana Nyonya, apa Nyonya sanggup memenuhi keinginan saya?" tanya Felix sekali lagi kepada slaah satu istri dari manager dan kepala devisi yang ada di dalam ruangan itu.
"Siap Tua Felix. Saya bersedia membantu Tuan Felix, terutama sekali Tuan Bryan yang sudah sangat baik kepada keluarga kami" jawab Nyonya yang tidak lupa membawa nama Bryan dalam percakapannya kali ini.
__ADS_1
Nyonya terdiam sesaat. Dia sedang menyusun kata kata yang akan diucapkannya kepada mereka semua yang ada di dalam ruangan meeting itu. Setelah menarik nafas serta menenangkan diri selama dua menit, barulah Nyonya itu yakin akan dirinya.
"Daddy, Sayang" ujar Nyonya itu menyebutkan panggilan sayang kepada suaminya.
Para manager dan kepala divisi mencoba menebak nebak istri siapa yang sekarang berada di ujung video call itu.
"Para suami dan para istri. Saya dengan sangat berani menyatakan, berbicaralah yang sebenarnya. Beritahu lah yang sebenarnya kepada Tuan Bryan." kata Nyonya itu selanjutnya dari seberang sana.
"Kami di sini tau, semua yang ada di dalam ruangan meeting mencemaskan kami yang di luar sini. Tapi sekarang itu tidaklah penting lagi. Kami sudah dalam keadaan aman sekarang. Sudah tidak ada yang perlu di cemaskan lagi" ujar Nyonya tersebut berupaya meyakinkan semua orang yang ada di dalam ruangan kalau dirinya dalam keadaan baik baik saja.
"Jadi kami mohon bicaralah sejujurnya, apa yang terjadi jangan lagi di simpan simpan. Sekarang saatnya membuka apa yang sebenarnya terjadi selama ini" lanjut Nyonya tersebut membakar semangat semua orang yang ada di dalam ruangan untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu mendengarkan apa yang dikatakan oleh salah satu Nyonya yng dihubungi oleh Felix. Mereka semua sekarang sangat yakin kalau keluarga mereka sudah dalam posisi yang aman dan terjaga dengan sangat baik.
"Daddy, bicaralah Daddy" kata Nyonya berpesan langsung kepada suaminya yang berada di dalam ruangan tiu.
Nyonya mengangkat tangannya dan membentuk tinju. Simbol memberikan semangat kepada orang orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Tuan Felix, saya sudah melakukan apa yang menurut saya paling baik dan juga langsung melakukan apa yang tuan Felix mau" kata Nyonya melaporkan apa yang telah dilakukannya sebentar ini.
"Sekarang terserah mereka semua lagi tuan, apakah mereka akan tetap seperti itu, atau akan berubah. Saya tidak bisa memastikannya" lanjut Nyonya.
"Baik Nyonya saya mengucapkan terimakasih banyak kepada Nyonya karena sudah mau membantu saya" jawab Felix.
__ADS_1
Setelah itu Felix menutup panggilan telpon dengan Nyonya istri dari manager yang ada di dalam ruangan.
"Baiklah, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya tadi, bagaimana apa kalian ada yang akan membuka suara untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Felix kepada semua orang.