
"Selesai" kata Julian dengan semangatnya.
Julian berputar putar di depan cermin Penampilannya kali ini sangat sangat cantik sekali. Julian memakai kemeja warna lemon dan celana levis biru tua. Serta sepatu kets warna putih. Tak lupa pula kaca mata hitam yang bertengger indah di hidungnya.
Julian menatap ke arah wajahnya melalui pantulan kaca rias yang menjadi hadiah paling berharga yang dibelikan oleh Bryan untuk dirinya.
Dia tersenyum dan merasa puas dengan riasan nya hari itu. Julian terlihat sangat cantik sekali. Dia memang sangat jarang memakai riasan full, tapi karena kali ini dia akan jalan berdua dengan Bryan, maka Julian harus tampil maksimal. Dia tidak mau kalah saing dengan Bryan yang tampan dan ganteng itu.
"Oke hari ini gue sangat puas sekali dengan penampilan gue. Gue terlihat sangat keren dan cantik. Jadi sudah sah gue untuk gandengan tangan dengan Bryan. Nggak malu malu amat gue nantinya" kata Julian lagi memuji dirinya sendiri yang memang sudah cantik itu.
Julian merias wajahnya dengan riasan minimalis, sehingga tampilannya tidak menjadi menor dan terlalu norak. Bagaimanapun Julian tidak ingin terlihat norak di depan Bryan.
"Sayang aku siap" ujar Julian sambil berdiri di depan suaminya itu.
Bryan ternganga melihat penampilan Julian yang lain dari pada biasanya. Bryan tidak bisa mengatakan apa apa dari mulutnya. Dia hanya ternganga tidak percaya melihat siapa yang sekarang berdiri di depannya.
"Kamu beneran istri aku? Julian?" tanya Bryan perlu diyakinkan sekali lagi oleh Julian kalau itu memang Julian istri cantiknya.
"Ya aku, siapa lagi" kata Julian.
"Emang istri kamu ada berapa yang namanya Julian, sampai harus membuat kamu ragu" tanya Julian lagi sambil tersenyum dan memeluk Bryan dari arah depan.
"Istri aku cuma satu namanya Julian. Tapi yang di depan aku sekarang ini luar biasa cantiknya dari pada biasanya yang sudah biasa cantik" jawab Bryan lagi memuji penampilan Julian hari ini yang memang sangat manis dan sangat cantik.
"Haha haha haha. Bisa aja kamu. Mana ada aku cantik seperti yang kamu katakan. Aku tidak secantik itu" kata Julian yang mau dipuji terlalu berlebihan oleh Bryan. Julian hanya melakukan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang istri. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu.
"Kamu beneran cantik sayangku. Apa salahnya suami memuji istrinya sendiri, dari pada suami kamu memuji istri orang lain" selorih Bryan yang membuat Julian sedikit manyun.
"Awas aja kalau sampai muji istri orang lain. Maka kamu akan berurusan dengan aku. Wanita itu juga akan mencoba tangan aku yang keras ini" jawab Julian sambil mengepalkan jari jarinya membentuk sebuah tinju yang lumayan besar.
__ADS_1
"Udah ah lama lama ngobrolnya bisa bikin kita tidak jadi pergi nanti" ujar Julian yang nggak mau meneruskan obrolan yang dirasa Julian tidak penting dan hanya membuat mereka tidak akan jadi berangkat saja nanti ke kebun teh
"Ayuk jalan. Kalau tampilan kamu secantik ini dan sekeren ini. Kita memang wajib naik motor" kata Bryan lagi yang berubah pikiran dan memutuskan mereka akan naik motor saja pergi jalan jalan ke kebun teh.
"Kenapa?" tanya Julian yang heran.
"Ya karena kamu cantik. Aku ingin mengatakan kepada semua orang kalau istri aku saat dandan seperti ini bisa menjadi juara miss Indomesia" kata Bryan dengan nada bangganya
"Jadi kemaren kemaren aku tidak cantik gitu?" tanya Julian lagi sambil menggoda Bryan dengan caranya sendiri.
"Tapi udah dibilang dari tadi kalau biasanya sangat cantik. Sekarang amat sangat cantik" jawab Bryan.
Mereka berdua sudah berada di atas motor. Julian sudah dipasangkan helm oleh Bryan. Mereka berdua akan jalan jalan ke kebun teh seperti usulan dari Julian semalam.
"Siap sayang?" tanya Bryan kepada Julian.
"Siap sayang. Gas sekarang juga" jawab Julian dengan sangat semangat meminta Bryan untuk gas motornya menuju kebun teh yang sedang viral itu.
"Sayang, bagaimana kalau minggu depan kita baru ke pantai? Tapi kalau nggak panas" kata Julian yang sudah langsung menyusun rencana untuk minggu depan mereka akan jalan jalan kemana lagi
"Minggu depan bersih bersih rumah sayang. Nggak nengok kamu taman samping rumah yang isinya kebun sayur kamu itu udah terlalu tinggi rumputnya. Itu yang mau dibersihkan minggu besok" jawab Bryan yang menolak untuk pergi jalan jalan minggu depan ke pantai.
"Minggu satunya lagi aja ya. Bagaimana?" Julian menawarkan alternatif waktu yang lain kepada Bryan.
"Kita tengok nanti saja. Mana tau pikiran kita berdua berubah. Bisa jadi kita menginap di suatu homestay kan ya. Jadi nggak usah disusun plant nya. Nanti gagal jadi sedih sendiri" kata Bryan menerangkan kepada Julian kenapa selama ini dia tidak mau membuat plant untuk liburan atau jalan jalan bersama dengan Julian. Bryan tidak bisa memastikan kalau setiap akhir minggu dia bisa menemani Julian di rumah.
"Oke sip sayang. Pokoknya kita harus ada jalan jalan minimal satu kali dalam satu bulan" kata Julian yang masih tetap ingin membuat jadwal jalan jalan mereka berdua
"Kita atur kemudian saja ya" jawab Bryan lagi.
__ADS_1
Bryan mengemudikan motor dalam kecepatan sedang. Hari masih terlalu pagi, sehingga jalanan tidak begitu ramai oleh pengendara.
"Tumben agak sepi ya sayang. Biasanya weekend begini orang orang pasti ramai keluar untuk jalan jalan" kata Julian yang mengomentari keadaan jalanan tidak seramai biasanya.
"Uang sedikit susah dicari sekarang sayang. Makanya sepi seperti ini. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, orang orang lebih memilih liburan di rumah saja. Jadi mereka bisa sedikit berhemat sayang" jawab Bryan menjelaskan kepada Julian kenapa bisa jalanan tidak seramai biasanya.
Perusahaan Bryan saja terdampak akibat perubahan ekonomi itu. Penjualan mereka tidak seperti biasanya, menurun banyak tidak, tapi adalah sedikit penurunan sehingga berpengaruh kepada omset yang diterima perusahaan.
Setelah berkendara selama dua jam dan berhenti sebanyak dua kali, satu kali untuk sarapan dan satu kali saat menemukan spot yang indah untuk berfoto, akhirnya Bryan dan Julian sampai di kebun teh yang sedang viral itu.
"Wow beneran keren sayang" kata Julian saat melihat dengan mata kepalanya sendiri keindahan kebun teh yang selama ini hanya di lihatnya melalui sosial media milik Vian.
"Emangnya kamu tau dari mana tempat ini sayang?" tanya Bryan yang tau kalau Julian sama sekali tidak memiliki akun sosial media.
"Dari sosial media Vian. Aku beberapa kali lihat tempat ini menjadi viral di sosial media. Makanya aku jadi penasaran dan sangat ingin ke sini." kata Vian menceritakan dari mana dia tau tempat seindah ini ada di daerah mereka tinggal.
"Apa kita berdua pakai sosial media aja ya?" Bryan mencoba mencari tau apakah Julian memiliki keinginan untuk mempunyai sosial media
"Nggaklah aku mana mau punya itu. Ribet. Nggak usah aja" jawab Julian yang sama sekali tidak terpancing dengan pertanyaan menjerumus dari Bryan sebentar ini.
"Yakin nggak mau. Terus kalau fhoto fhoto di sini mau si upload kemana?" tanya Bryan lagi dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
"Simpan di HP aja, ngapain di upload segala" jawab Julian dengan santainya.
Julian memang tidak seperti wanita kebanyakan yang akan selalu update setiap mereka melakukan sesuatu. Apalagi kalau jalan jalan, mereka akan selalu buat caption mulai dari otw, sampai deh, ops telat update. Selalu seperti itu, sedangkan Julian tidak suka hal yang seperti itu.
"Kita ke sana sayang" ajak Julian sambil menarik tangan Bryan untuk menuju tempat yang ada di kebun teh itu.
Julian dan Bryan kemudian mengambil beberapa fhoto untuk kenang kenangan mereka di sana. Mereka mengambil fhoto dengan berbagai gaya.
__ADS_1
"Mau kemana lagi?" tanya Bryan yang hari ini dirinya khusus melayani Julian kemanapun Julian mau.