Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #106


__ADS_3

"Julian, kita jadi ke mall kan sore nanti?" tanya Vian yang ntah kenapa sangat ingin pergi jalan jalan sore hari ini. Vian sudah lelah sekali untuk melakukan pekerjaannya. sehingga dia sudah ingin merasakan jalan jalan untuk membuat nyaman kembali pikirannya yang sudah buntu itu.


"Jadilah masak ndak. Kan kita sudah butuh refresing, sudah mulai jenuh dengan laporan laporan setumpuk yang harus dikerjakan itu. Capek kita capek. Kita butuh refresing bagaimanapun juga. Kita ini wanita yang butuh refresing" ujar Julian sambil berdendang dan melagukan setiap kata kata yang diucapkannya, belum lagi Julian berkata sambil menggoyang goyangkan badannya.


"Yah bahagia sekali dia." ujar Vian saat melihat bagaimana bahagianya Julian saat ini karena mereka akan pergi ke mall.


"Gimana nggak akan bahagia. Coba kamu pikir berapa lama sudah kita tidak pergi ke mall?" tanya Julian lagi kepada Vian.


Vian terlihat berpikir sesaat. Mereka berdua memang sudah sangat lama tidak ngemall bareng. Sampai sampai Vian tidak bisa lagi mengingat kapan mereka pergi ke mall.


"Iya juga ya. Rasanya udah lebih dari sebulan lebih kita nggak ngemall bareng. Memang udah layak kita ke mall saat ini" ucap vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian kalau mereka berdua memang sudah sangat lama tidak ke mall bareng.


"Nah itulah masalahnya, karena sudah lama banget kita tidak ke mall, makanya sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk ngemall bareng" ujar Julian dengan penuh semangat.


"apalagi Bryan nggak ada di rumah, jadi kita bisa pergi main lama lama" lanjut Julian lagi dengan bahagianya.


Julian sudah bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan berdua di mall itu. Mereka akan menghabiskan hari di sana.


"Jadi, kamu mau shoopingkah?" tanya Vian sambil mengedipkan matanya ke arah Julian.


"Ya tapi tidak banyak. Aku mau nabung, mau beli mobil" ujar Julian yang sudah memiliki target dalam hidupnya akan membeli sebuah mobil untuk digunakan oleh dirinya dan Bryan.


Mereka sudah punya motor, jadi sudah saatnya mereka harus beli mobil. Mobil merupakan kebutuhan bagi Julian dan Bryan untuk transportasi mereka berangkat dan pulang bekerja.


"Kenapa nggak rumah dulu?" tanya Vian yang heran kenapa Julian lebih memilih untuk membeli mobil dari pada membeli rumah.


"Kalau rumah gue rasa belum perlu banget. Gue nggak mau ribet dengan pindah pindah. Jadi menurut gue lebih baik mobil dulu saja" ujar Julian lagi. Padahal sebenarnya alasan Julian bukanlah itu.


"Tapi Julian. Ngapain loe harus ngontrak terus kalau loe mampu untuk beli rumah" kata Vian lagi. Vian berusaha menggoyahkan niat Julian.


Vian sangat ingin tau pola pikir Julian. Sehingga dia sangat sering bertanya kepada Julian. Menurut Vian, Julian adalah orang yang simpel dia tidak neko neko. Padahal kalau dari segi apapun, Julian termasuk orang yang sangat pintar, tetapi dia tidak pernah ingin memperlihatkan ke orang orang kepintarannya itu. Julian hanyalah seperti yang dilihat oleh orang orang. Padahal Vian sangat yakin di baliak Julian sekarang ada Julian yang lebih wow lagi yang akan membuat orang terkejut saat tau bagaimana dirinya sebenarnya. Tapi sayangnya Vian sampa sekarang tidak bisa membuktikan hal itu.

__ADS_1


"Vian, setiap orang berbeda kebutuhannya. Kalau gue dengan Bryan sekarang yang kami butuhkan adalah mobil untuk transportasi kami sehari hari. Sedangkan kalau rumah kami ada walaupun ngontrak dan kecil" kata Julian menjelaskan kepada Vian kenapa dirinya lebih memilih membeli mobil dari pada rumah.


"Lagian dari segi keuangan, lebih untung kami membeli mobil. Loe bayangin aja berapa sehari untuk tranportasi kami. Ini aja berkurang karena loe rajin jemput gue. Coba kalau gue naik taksi online pulang balik, berapa biayanya." kata Julian menjelaskan dari segi keuangan.


Vian mendengar apa yang dikatakan oleh Julian hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia sangat paham apa yang dikatakan oleh Julian itu.


"Bener juga yang loe bilang kebutuhan setiap orang pasti berbeda beda. Ada yang butuh rumah dan ada yang butuh mobil. Semuanya tergantung kepada kita mau yang mana didahulukan" ujar Vian mengomentari apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Nah di situ pointnya. Kita tidak bisa mengatakan yang kita butuhkan adalah A sedangkan keinginan kita B. Pikirkan dulu apakah kita akan memenuhi keinginan kita atau memenuhi kebutuhan kita" kata Julian lagi.


"Sekarang gue tanya ke elo. Loe lebih ingin memenuhi kebutuhan atau keinginan?" tanya Vian kepada Julian.


"Kalau loe tanya gue, maka jawaban dari gue sudah pasti, gue akan memenuhi kebutuhan gue terlebih dahulu sesudah itu baru keinginan gue" jawab Julian


"Ya ya ya ya, gue ngerti sekarang" kata Vian.


"intinya saat kebutuhan sudah terpenuhi maka keinginan juga akan disesuaikan" kata Vian yang mengambil pembelajaran dari apa yang dikatakan Julian kepada dirinya.


"Gue lanjut kerja dulu. Kerjaan gue tinggal dikit lagi" kata Vian yang langsung mengarahkan kepalanya ke komputer yang ada di depan dirinya.


Tepat pukul empat sore semua pekerjaan Vian akhirnya selesai juga.


"Kita berangkat sekarang atau nanti saat jam pulang?" tanya Vian kepada Julian.


Vian akan mengikuti apa yang dikatakan oleh Julia kepada dirinya. Kalau mereka harus berangkat sekarang maka Vian akan setuju saja, tapi kalau setelah jam pulang Vian juga akan setuju saja.


"Sekarang aja. Ngapain nunggu jam pulang. Sekarang aja bisa kok ya." jawab Julian yang sudah tidak sabar lagi untuk berangkat ke mall.


"Oke kita berangkat sekarang" jawab Vian dengan semangat yang menggebu gebu untuk berangkat ke mall.


Julian dan Vian membereskan semua barang barang mereka yang ada di meja kerja masing masing. Mereka sudah sangat terbiasa merapika meja sebelum mereka pulang, sikap seperti inilah yang selalu dipuji oleh karyawan lainnya. Mereka akan datang saat meja kerja mereka rapi dan mereka akan pulang dan tetap akan merapikan meja kerja mereka kembali.

__ADS_1


"Sekali sekali cabut mah tidak masalah. Asal jangan tiap hari saja" ujar Julian saat mereka sudah berada di parkiran perusahaan.


"Ready buk?" ujar Vian bertanya kepada Julian.


"Ready buk. Mari kita belanja belanja dan minimal cuci mata" kata Julian dengan semangatnya


Kedua wanita cantik itu kemudian naik ke atas motor milik Vian. Terkadang ada keinginan Vian untuk membawa mobilnya ke perusahaan, tetapi yang membuat Vian sering tidak melakukan itu adalah Vian tidak tau harus menjawab apa saat Julian bertanya tentang perkara mobilnya itu.


Sepanjang perjalanan Julian dan Vian tidak henti hentinya mengobrol. Mereka membahas berbagai hal.


"Jadi Bryan pulang kapan Julian?" tanya Vian saat mereka sudah berada di atas motor.


"Katanya ke gue ini ya, tapi ini baru katanya, lusa pulang" ujar Julian menjawab pertanyaan dari Vian.


"Bentar banget. Harusnya seminggu" ujar Vian sambil tersenyum.


"Hahaha haha haha. Dua hari tu aja, dia udah susah mau pergi. Apalagi seminggu. Yang ada gue lagi diajaknya untuk pergi kerja" kata Julian yang tau bagaimana susahnya saat Bryan mau berangkat kemaren.


"Hah haha haha. Bener juga ya. Dia kan bucin banget ke loe" kata Vian lagi.


"Tulah, ntah kenapa tu orang bisa bucin banget. Gue juga heran" jawab Julian.


"bisa jadi karena dia sudah menemukan tulang rusuknya yang hilang" jawab Vian sambil tersenyum.


"untung aja ya tu tulang rusuk nggak dilarikan guguk. kalau dilarikan bisa bisa nggak punya tulang rusuk lagi dia" jawab Julian berusaha menahan senyumannya di sepanjang jalan menuju mall.


Saat itulah saat mereka berdua berkendara menuju mall, Julian melihat seseorang yang sudah sangat lama tida dilihatnya.


"rindu"ujar Julilian pelan


" yah baru juga semalam udah rindu. apalagi seminggu" kata Vian saat mendengar kata rindu yang diucapkan oleh Julian sebentar ini.

__ADS_1


"haha haha haha" Julian tertawa garing. Tetapi dia tetap melihat ke arah tadi juga. Vian bisa melihat apa yang dilakukan oleh Julian dari kaca spion mobil


"siapa yang dilihat Nona muda ya? sepertinya nona muda sangat mengenal orang itu" kata Vian dalam hatinya.


__ADS_2