
"Vian bisa menemani aku di rumah kok. Emang kamu ada tugas lembur hari ini?' bunyi pesan chat dari Julian kepada Bryan.
Bryan sudah sangat lama tidak kerja lembur. Ntah kenapa pada hari ini Bryan kerja lembur, ada suatu rasa yang mengganjal di hati Julian. Padahal selama ini, kalau Bryan kerja lembur bagi Julian tidak ada masalah sama sekali. Sekarang ntah kenapa, Julian saja tidak bisa menjelaskan perasaannya itu untuk saat ini.
'Iya sayang. Permasalahannya cukup berat sekali. Aku sepertinya akan kerja keras dalam beberapa hari ke depan' balas Bryan menerangkan sedikit apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan.
Bryan yang membaca pesan chat dari Julian mulai merasakan sedikit ketenangan. Dia sudah tidak perlu mencemaskan Julian lagi. Dia bisa berkonsentrasi untuk mendiskusikan permasalahan perusahaan yang di Francais.
Berbanding terbalik dengan Bryan yang tenang saat membaca pesan chat dari Julian. Julian yang membaca pesan itu menjadi tidak tenang dengan keadaan Bryan. Julian merupakan seorang wanita yang selalu memiliki pemikiran jauh ke depan. Sampai sampai terkadang pemikiran Julian yang datang adalah pemikiran yang negatif. Pada akhirnya akan berdampak buruk kepada dirinya sendiri.
Julian menekan tombol telpon di layar ponselnya. Sebenarnya Julian ingin video call. Tetapi dia mengurungkan niatnya kembali karena tidak ingin pembicaraan antara dirinya dan Bryan akan di dengar oleh kawan kawan Bryan di perusahaan. Padahal kalau Julian tau siapa Bryan sebenarnya maka apapun yang dibicarakan oleh Bryan dan Julian tidak akan terdengar oleh siapapun. Bryan sekarang sedang sendirian di ruang kerjanya.
"Julian nelpon? Ada apa ini?" Bryan menjadi paranoid sendiri. Bryan takut disaat dirinya sedang memiliki masalah berat di perusahaan, Julian juga mengalami masalah di perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Hallo sayang" sapa Bryan saat mengangkat panggilan telpon dari Julian.
"Kamu kenapa sayang?" ujar Julian langsung saja ke inti masalah saat Bryan mengangkat panggilan telpon dari dirinya.
"Maksudnya? " Bryan balik bertanya kepada Julian tanpa menjawab pertanyaan dari Julian.
"Bryan jangan kebiasaan pertanyaan di jawab dengan pertanyaan. Aku ingin kamu jawab jujur Bryan. Ada apa?" tanya Julian dengan emosi kepada Bryan.
Padahal sebelumnya niat Julian untuk nelpon Bryan bukan buat marah, tetapi buat bertanya kenapa Bryan pulang larut malam. Tapi ntah kenapa tiba tiba saja nada bicara Julian menjadi lebih tinggi dari pada biasanya.
"Julian, kalau kamu mau marah marah tidak jelas seperti itu. Lebih baik kamu matikan saja ponsel kamu" balas Bryan tidak kalah tingginya nada suaranya kepada Julian.
__ADS_1
Bryan benar benar sedang kalut sekarang, tambah lagi dengan Julian menelpon dengan nada tinggi yang semakin membuat Bryan menjadi sangat kesal
Julian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan sebentar ini kepada dirinya. Tidak hanya dengan mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan saja yang membuat Julian menjadi sakit, bada tinggI Bryan sebentar ini juga membuat dia sedih, Bryan selama ini tidak pernah meninggikan suaranya kepada Julian. Bryan selalu bersikap lembut kepada Julian walaupun dalam keadaan sedang marah atau sedang emosi.
"Oh Oke kalau itu mau kamu. Aku tidak akan menelpon kamu lagi. Kamu mau pulang silahkan, tidak pulangpun tidak menjadi masalah" balas Julian yang terpancing emosinya.
Vian menatap ke arah Julian. Drama kelurga melalui sambungan telpon sedang terjadi. Vian baru melihat kejadian ini terjadi kali ini. Dalam bayangan Vian, Julian dan Bryan tidak pernah saling meninggikan nada suara, baru sekali ini Vian mendengarnya.
Bryan yang selesai mengatakan apa yang dirasakannya langsung mematikan ponselnya. Apalagi saat mendengar Julian menjawab perkataannya dengan penuh kemarahan.
"Terserah mau marah mau ngapain. Gue pusing, gue mau sendirian" kata Bryan sambil melihat ponselnya yang sudah mati.
Dia sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun. Dia hanya ingin fokus memikirkan perusahaannya sendiri yang sedang ditimpa masalah.
"Vian, loe boleh kok untuk tidak jadi ke rumah gue" kata Julian sambil melirik ke arah Vian yang duduk di sebelahnya.
Julian sedang emosi tambah lagi Tuan mudanya juga sedang emosi. Bisa bisa nanti Julian akan tidur sendirian di rumah dan Tuan mudanya tidak pulang. Vian tidak ingin sesuatu terjadi
"Loe yakin mau nemanin gue?" tanya Julian lagi memastikan keinginan dan tekad Vian untuk menemani dirinya di rumah.
"Sangat yakin" jawab Vian sambil tersenyum penuh keyakinan bahwa apa yang diputuska oleh dirinya sudah benar dan tidak ada yang perlu diragukan.
"Oke. Kita pantai bentar ya. Gue mau cuci mata sama nyegerin otak bentar" ajak Julian yang sekarang sedang memiliki pemikiran yang lumayan kalut. Sehingga dia butuh hiburan untuk menyegarkan otaknya.
"Siap. Kemanapun kata loe gue ikut" jawab Vian dengan pasti akan menemani kemanapun Nyonya muda itu membawa dirinya. Bagi Vian sekarang prioritas yang akan dijaga nya adalah Julian, tidak ada yang lain.
__ADS_1
Vian memberikan senyuman penuh ketenangan kepada Julian. Vian merasakan apa yang bergejolak di hati Julian saat ini. Sebenarnya Vian ingin bertanya, tetapi dia takut melewati batasannya. Sehingga mau tidak mau suka tidak suka, Vian tidak bisa bertanya kepada Julian tentang apa yang sedang dihadapinya saat ini. Vian akan menunggu Julian untuk menceritakan sendiri apa yang sedang terjadi antara Julian dengan Bryan.
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena Julian dan Bryan ribut melalui sambungan telepon. Ada beberapa pekerjaan lain yang deadline nya harus sekarang juga diselesaikan, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, Julian harus menyelesaikan pekerjaannya dalam keadaan apapun.
Julian berusaha kembali fokus dengan pekerjaannya. Tetapi kata kata Bryan tadi terngiang ngiang di telinganya. Dia tidak menyangka kalau Bryan akan tega berkata seperti itu kepada dirinya. Dalam bayangannya selama ini Bryan tidak akan pernah tega berkata seperti itu kepada Julian.
Ting, sebuah pesan email masuk ke dalam email Vian. Vian melihat siapa yang mengirim pesan.
"Tuan muda? Tumben via email, biasanya pesan chat" komentar Vian saat melihat siapa yang mengirim pesan melalui email kepada dirinya. Pesan email biasa dipakai oleh Bryan saat ada pembicaraan rahasia yang tidak bisa dilakukan melalui pesan chat. Apalagi alamat email adalah alamat email yang tidak semua orang mengetahui.
'Bagaimana dengan Nyonya muda?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Bryan.
'Sedang emosi Tuan Muda' jawab Vian.
Vian menjawab dengan sangat yakin apa yang sedang terjadi kepada Julian saat ini. Vian tidak menutup nutupi keadaan Julian sebenarnya
'Maksud kamu bagaimana?' balik Bryan bertanya.
'Pada intinya nyonya muda sedang emosi dan tidak bisa di bawa ngobrol berdua. Jadi, saya hanya akan membiarkan terlebih dahulu nyonya muda sampai tenang' balas Vian mencoba memberikan pengertian kepada Bryan.
'Baiklah. Saya titip nyonya muda' bunyi pesan chat terakhir di kirim oleh Bryan.
'Tua muda, tadi nyonya muda ngajak saya untuk pergi ke pantai. Kata Nyonya muda, nyonya muda mau menenangkan pikiran' Vian terpaksa harus memberitahukan kepada Bryan kemana mereka akan pergi.
Vian tau kalau alat penyadap masih terpasang di ponsel Julian. Makanya Vian memilih untuk mengatakan kepada Bryan bahwasanya Julian mengajak dirinya untuk pergi ke pantai menenangkan pikiran.
__ADS_1
'Jaga nyonya muda' kata Bryan memberikan perintah kepada Vian.
Setelah menanyakan bagaimana keadaan Julian kepada Vian. Bryan sudah mulai sedikit tenang, walaupun rasa bersalah itu masih ada. Tetapi Bryan tidak mungkin menjelaskan semua kejadian yang ada kepada Julian. Dia hanya bisa mencari alasan yang paling masuk akal yang akan diberikan kepada Julian nantinya.