Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #69


__ADS_3

Bryan melihat perubahan hati Julian saat berbicara dengan Kevin. Saat dengan Kevin, Julian memberikan respon yang baik. Sedangkan dengan dirinya, Julian tidak memberikan respon sebaik itu. Benar benar sebuah dilema yang harus dilalui oleh Bryan akan perubahan sikap seorang Julian.


'Kamu jahat sama aku sayang. Dengan Kevin kamu bisa ngomong baik baik. Dengan aku kamu sewot' kata Bryan dalam hati dan pikirannya.


Mereka berempat terlibat obrolan sebentar setelah selesai menikmati makan malam yang dimasak oleh Julian. Semua perlengkapan makan malam tadi sudah dicuci oleh Vian. Begitu juga dengan meja makan, tadi Kevin membantu Julian merapikan nya.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya. Udah malem banget ini" kata Vian yang sudah sangat lelah dan ingin beristirahat di atas kasur yang empuk yang berada di rumahnya.


"Saya juga pamit kalau begitu. Sudah malam dan mau istirahat. Sehari ini luar biasa capeknya" kali ini Kevin yang pamit untuk pulang ke rumah. Kevin juga sangat lelah, bahkan lebih lelah dari Vian. Semua itu terjadi karena permasalahan perusahaan milik Bryan yang berada di negara Francais.


"Nggak nginep sini aja?" tanya Julian yang sebenarnya adalah basa basi. Budaya yang selalu di pakai oleh orang orang dari belahan bumi sebelah timur.


Padahal kalau Vian dan Kevin mengatakan dan setuju mereka menginap di rumah Bryan dan Julian, mereka ntah akan tidur di kamar yang mana. Permasalahannya kamar yang ada di rumah sederhana Bryan dan Julian memang ada dua, tetapi satu dipakai untuk mashalla dan tempat manaruh pakaian yang akan di setrika.


"Nggak usah Julian. Aku dan Kevin akan pulang saja" kata Vian dengan sangat cepat menjawab permintaan dari Julian


Vian tadi sebelum menjawab permintaan dari Julian, Vian sudah melirik kan matanya ke arah Bryan. Bryan sudah memasang wajah yang mengusir secara halus. Makanya Vian langsung menjawab kalau mereka akan pulang saat itu juga.


"Beneran kalian berdua nggak akan nginap di sini?" tanya Julian yang sangat berharap kedua orang yang sudah mereka anggap sebagai keluarga itu untuk menginap di rumahnya. Jadi dia bisa tidak langsung ribut dengan Bryan guma membahas penolakan Julian saat di peluk tadi.


"Beneran Julian. Gue dan Kevin pulang aja. Kapan kapan kami menginap kalau rumah loe udah besar dan ada tempat untuk kami bisa tidur" kata Vian masih tetap menolak keinginan dari Julian dengan mengatakan alasan yang sangat kuat dan logis serta masuk akal untuk menolak keinginan dari Julia.


"Udahlah sayang, kalau mereka pengen pulang ya biarkan saja mereka pulang. Lagian bener apa yang dikatakan oleh Vian, kalau mereka tidur di sini, dimana meraka akan istirahat" kata Bryan dengan memperkuat apa yang dikatakan oleh Vian kepada Julian.


Julian sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Bryan. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Bryan. Julian tetap melihat ke arah Kevin dan Vian.

__ADS_1


"Ya udah kalau kalian mau pulang, tidak apa apa" kata Julian yang pada akhirnya menyetujui Kevin dan Vian untuk pulang dan tidak menginap di rumah mereka.


Selesai mengatakan hal itu, Julian langsung berbalik dan berjalan menuju kamar. Julian menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Bryan, Kevin dan Vian kaget melihat apa yang dilakukan oleh Julian saat ini.


"Kami pulang dulu tuan muda. Maaf sudah merepotkan" ujar Vian memohon izin kepada Bryan untuk pulang ke rumahnya.


"Oke sip. Kalian berdua hati hati ya. Biar Julian gue yang urus" kata Bryan dengan nada lemah. Bryan melihat ke pintu kamar Julian yang masih tertutup rapat itu.


"Selamat tidur di luar tuan muda" ujar Kevin dengan berbisik di telinga Bryan.


"Dasar loe senang kali lah nengok gue menderita" jawab Bryan sambil memukul kepala Kevin dengan pukulan yang tidak keras.


"Haha haha haha. Obat nyamuk jangan lupa di pasang tuan muda" lanjut Kevin yang masih belum puas menggoda Bryan. Kevin sebenarnya sangat kasihan melihat apa yang terjadi kepada Bryan saat mereka berdua sudah meninggalkan rumah. Tetapi apalah daya Kevin, dia tidak akan mungkin membawa Bryan kabur sekarang. Kalau waktu masih sendiri, Bryan sangat sering kabur dari rl mansion saat kena marah oleh Nyonya besar.


Tapi kalau sekarang Bryan kabur, maka sudah bisa dipastikan Bryan tidak akan dicari cari oleh Julian. Julian akan membiarkan saja Bryan angkat kaki dari rumahnya. Satu yang pasti Julian tidak pernah mengusir Bryan dari rumahnya.


'Ketok, nggak, ketok, nggak, ketok" ujar Bryan sambil menghitung buah bajunya


"Nggak, ketok, nggak, ketok, nggak" ujar Bryan kembali mencoba permainan menghitung baju yang diawali dengan kata nggak.


Bryan kembali menatap ke arah pintu kamar. Pintu kamar itu masih setia tertutup dengan sangat rapatnya. Tidak ada tanda tanda pintu kamar akan terbuka dari dalam, dan memperlihatkan sosok istri cantik Tuan Muda Bryan Witama.


"Huf. Mending gue mandi dulu. Mana tau selesai mandi Julian udah bukain gue pintu" ujar Bryan kembali


"Tapi pakaian gue kan di dalam kamar" lanjut Bryan yang baru sadar kalau pakaiannya ada di dalam kamar semuanya. Julian baru saja selesai menyetrika kemaren malam, sehingga semua baju bersih sudah disusun rapi di dalam lemari pakaian. Kalau pakaian kotor ada di keranjang. Tetapi tidak mungkin Bryan memakai pakaian kotor itu kembali.

__ADS_1


"Huft" Bryan menghembuskan nafasnya dengan sangat berat. Dia sangat kesal dengan apa yang terjadi sekarang, dia menyesal telah bernada tinggi kepada Julian tadi siang saat Julian menelponnya.


Tiba tiba sebuah ide cemerlang didapatkan oleh Bryan, setelah Bryan termenung cukup lama sekali. Senyum sumringah terpancar dari bibir Bryan. Dia pasti akan melakukan semua cara supaya bisa masuk ke dalam kamar.


"Aku akan lakukan ide itu" ujar Bryan dengan suara penuh penekanan dan sekaligus pemberi semangat kepada dirinya sendiri


"Aku mau mandi dulu ya. Jangan tidur dulu" ujar Bryan dengan suara keras dan lantang saat berdiri di depan pintu kamar yang masih tertutup dengan sangat rapat itu.


Julian yang tidak tidur, hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan dari luar pintu kamar.


"Rasain kamu sayang. Makanya jangan bikin masalah" kata Julian dari dalam kamar.


"Aku akan buat perhitungan sama kamu" lanjut Julian lagi.


Bryan melihat kembali ke pintu kamar. Pintu kamar itu masih setia tertutup dengan rapat. Tidak ada tanda tanda Julian mau keluar dari dalam kamar.


"Ini anak bener bener keras kepala" ujar Bryan dengan nada yang dipelankan sekali. Bryan tidak mau Julian mendengar apa yang dikatakannya barusan. Kalau Julian mendengar sudah bisa dipastikan posisi Bryan akan semakin terancam dan bis dipastikan Bryan akan tidur di luar kamar malam ini.


"Aku mau mandi ya" kata Bryan sekali lagi hersorak di depan pintu kamar Julian.


Julian masih diam saja. Dia tidak akan membukakan pintu kamar untuk Bryan. Dia benar benar akan menghukum Bryan sekarang.


Bryan melihat pintu kamar yang masih tertutup rapat. Dia kemudian memilih untuk langsung ke kamar mandi saja. Bryan sudah sangat gerah sekarang. Badannya sudah lengket lengket karena keringat seharian bekerja.


"Seharusnya tadi gue langsung mandi saat pulang. Bukannya ngobrol dengan Kevin." kata Bryan menyesali tindakannya saat pulang tadi.

__ADS_1


Bryan membersihkan tubuhnya dari keringat keringat sehabis bekerja di perusahaan. Sedangkan Julian mengambilkan pakaian ganti untuk Bryan dan menaruhnya di atas sebuah kursi yang sudah di taruh Julian di depan kamar. Selain pakaian ganti, Julian juga menaruh bantal dan selimut di sana.


"Huf akhirnya tidur luar juga" kata Bryan saat melihat selimut dan bantal yang dikeluarkan Julian dari dalam kamar


__ADS_2