Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #111


__ADS_3

"Capek banget" kata Julian sambil duduk di sebuah kursi yang disediakan oleh managemen mall untuk beristirahat pengunjung yang sudah lelah berkeliling.


"Yah kakak baru segitu udah capek. Baru separo mall kakak" jawab Tania mencemooh Julian yang sudah terlihat capek dan mengakui sendiri kalau dirinya memang capek karena berkeliling mall.


"Tania tania, beda dong porsi anak muda dengan aku yang sudah setengah tua ini" kata Julian.


Vian yang sudah datang dari membeli air minum untuk mereka bertiga memberikan kepada kedua bos nya itu. Mereka bertiga kemudian duduk duduk di kursi yang ada di sana. Saat itulah seorang pria tua diikuti oleh tiga orang pengawal berhenti tepat di depan mereka bertiga.


"Tania" panggil Tuan besar Witama yang sudah berdiri di depan mereka bertiga.


Tania yang sedang menyeruput minuman coklat yang dibeli oleh Vian tadi kaget mendengar suara Papinya yang serasa sangat dekat dengan telinganya saat ini.


"Tania" panggil Tuan besar Witama sekali lagi.


"Eh Papi. Ngapain papi ke mall, tumben tumbennya?" jawab tania yang kaget papInya berada di mall milik mereka itu.


"Papi tadi ada urusan dengan general manager mall. Kamu dengan siapa?" tanya Papi yang melihat ada dua orang berada di dekat putrinya.


"Oh kenalin Papi, ini Julian, sedangkan ini Vian" ujar Tania menyebutkan nama kedua temannya itu.


"Julian D Berbeda, Tuan" ujar Julian memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan kepada Tuan Witama.


"Witama" ujar Tuan besar menyebutkan namanya.


"Vian" kali ini Vian memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangan kepada Tuan Witama.


Tuan Witama lama menatap ke arah Julian. Tuan Witama seperti familiar melihat wajah Julian. Tuan Witama berusaha sekuat tenaga dan pikirannya mencoba mencari tau dimana dia pernah melihat Julian sebelumnya. Tapi Tuan Witama benar benar lupa dimana dirinya pernah melihat Julian. Tidak satupun ingatan Tuan Witama merangarah kepada Julian.


Julian yang dilihat dengan sedemikian rupa oleh Tuan Witama, hanya bisa bersikap santai saja. Dia sama sekali tidak peduli dengan cara Tuan Witama menatap dirinya. Dia sudah biasa di tatap seperti itu oleh siapapun yang berjumpa dengan dirinya selama ini


Tania dan Vian yang melihat bagaimana cara Tuan Witama melihat ke arah Julian menjadi bertanya-tanya dalam hati mereka sendiri. Perkataan yang sama muncul di kepala mereka 'Tuan Witama seperti mengenal Julian'


"Kalian bertiga sudah makan malam?" tanya Tuan besar Witama kepada Tania dan juga kedua sahabatnya itu.


"Belum" jawab Tania.

__ADS_1


"Sudah" jawab Julian dan Vian.


Dua jawaban yang berbeda di berikan oleh ketiga wanita itu kepada Tuan besar Witama. Mereka sebenarnya memang belum makan malam, dan memang berencana untuk makan malam. Cuma Julian dan Vian menjawab sudah karena segan denga Tuan Witama. Mereka tidak ingin dikatakan wanita tidak sopan karena tidak bisa berbasa basi dengan orang yang lebih tua.


"Mana yang bener ini?" tanya Tuan besar Witama.


"Tania yang betul Tuan" ujar Vian yang tidak mau berbuat salah kepada keluarga Witama.


"Oke kalau begitu mari kita makan"


Tuan Witama, Julian, Tania, Vian dan tiga orang pengawal pribadi Tuan Witama masuk ke dalam sebuah restoran yang sangat mahal di mall tersebut. Manager restoran yang melihat siapa tamu yang masuk ke dalam restorannya itu langsung menemui Tuan Witama.


"Selamat datang di restoran kami, Tuan besar. Kami sangat sangat tersanjung dengan kedatangan Tuan besar ke restoran sederhana kami ini" ucap manager dengan gaya khas seseorang yang sedang berusaha mengambil hati orang yang sangat penting di mall tersebut.


Tuan besar Witama hanya mengangguk saja menjawab perkataan dari general manager restoran ternama itu. Sedangkan Julian hanya bersikap santai dan tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi di depannya saat ini.


"Mari ikut dengan saya Tuan besar, akan saya antarkan ke ruangan yang sudah disiapkan" lanjut general manager.


General manager berjalan paling depan Tuan besar Witama dan yang lainnya mengikuti general manager dari belakang.


"Itu Papinya Tania?" tanya Julian kepada Vian.


"Hem..... " ujar Julian berkomentar.


"Kenapa?" tanya Vian penasaran dengan tanggapan dari Julian yang sederhana sekali.


"Nggak ada. Ternyata ada juga anak orang kaya yang mau temanan dengan kita berdua" ujar Julian yang nggak tau jawaban apa yang harus diberikannya kepada Vian.


"Ngadi ngadi jawaban loe" ujar Vian.


Mereka semua akhirnya sampai juga di depan ruangan VVIP restoran mewah yang sudah di pesan oleh Tuan besar Witama.


"Silahkan masuk Tuan besar" ujar general manager mempersilahkan Tuan besar Witama untuk masuk ke dalam ruang makan


"Terimakasih" ujar Tuan Witama hanya dengan satu kata saja.

__ADS_1


Tuan Witama, Tania, Julian dan Vian masuk ke dalam ruangan VVIP itu, sedangkan tiga pengawal Tuan Witama makan di luar ruangan VVIP.


"Silahkan duduk" ujar Tuan besar Witama dengan sangat ramah kepada dua orang teman Tania.


"Kalian berdua dimana kenalnya dengan Tania?" tanya Tuan besar Witama.


Julian melihat ke arah Vian. Julian ingin Vian saja yang menjelaskan. Tetapi Vian dengan cepat menggeleng. Dia ingin Julian saja yang menjelaskan kepada Tuan Witama dimana dirinya mengenal Tania.


"Jadi begini Tuan. Sebelumnya yang mengenal Tania adalah saya. Kalau Vian baru tadi kenalan dengan Tania" jawab Julian dengan santainya.


Tuan witama melihat Julian memiliki penguasaan diri yang sangat luar biasa. Dia melihat ke arah Tania. Tania sedikit memberikan kode kepada Tuan Witama melalui tendangan kaki di bawah meja.


"Kami berdua bertemu waktu saya dan suami saya jalan jalan ke kebun teh. Saat itu Tania dengan sahabat sahabatnya. Nah di sana saya berkenalan dengan Tania" lanjut Julian bercerita kepada Tuan besar Witama tentang pertemuannya dengan Tania.


Tuan besar Witama menyimak semua yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Jadi kamu sudah punya suami. Kerja dimana?" tanya Tuan Witama selanjutnya.


"Sebuah perusahaan Tuan. Tapi jujur saya lupa nama perusahaan nya" jawab Julian.


Julian bukan lupa nama perusahaan tempat Bryan bekerja. Tetapi memang dirinya tidak tau dan tidak pernah bertanya kepada Bryan di perusahaan mana Bryan kerja saat ini.


"Oh oke. Nama suami kamu siapa?" tanya lanjut Tuan Witama.


Julian menatap Tuan Witama dengan tatapan kurang suka dengan pertanyaan dan keingintahuan Tuan besar tersebut.


Tuan besar Witama dapat melihat dan sangat tau arti tatapan tersebut. Tania dapat melihat tatapan tidak suka dari Julian yang terang terangan diperlihatkan oleh Julian. Hal yang sama juga dilihat oleh Vian. Julian benar benar tidak menutupi tatapan tidak sukanya kepada Tuan besar Witama atas pertanyaan tentang siapa nama suami Julian.


"Maaf kalau saya sudah bertanya terlalu jauh" ujar Tuan besar witama.


"Maaf Tuan besar, saya tidak suka membicarakan masalah pribadi saya dengan orang yang baru saya kenal. Sekali lagi saya mohon maaf" ujar Julian sambil menangkup kan kedua tangannya di depan dadanya.


Vian kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada Tuan Witama. Vian tidak menyangka kalau Julian akan mengatakan dengan terus terang tanpa basa basi. Sedangkan Tania tersenyum sedikit saat mendengar apa yang dikatakan oleh Julian kepada Tuan witama yang tidak lain adalah mertua Julian sendiri.


'keteguhan dan kemandirian kakak ipar tidak perlu diragukan lagi' ujar Tania dalam hatinya.

__ADS_1


'dia sangat layak menjadi menantu saya' kata Tuan witama dalam hatinya.


Tuan witama sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya. Tuan witama menerima semua itu dengan senang hati. Dia sama sekali tidak marah. Malahan Tuan witama sangat senang karena Julian memiliki pendirian dan sikap yang sangat tegas.


__ADS_2