Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #44


__ADS_3

Vian memarkir motornya di parkiran yang dikhususkan untuk kendaraan roda dua. Julian memberikan helm yang dipakainya kepada Vian. Mereka berdua kemudian merapikan penampilan mereka terlebih dahulu.


"Gimana tampilan gue?" ujar Julian sambil sedikit bergaya di depan Vian.


"Keren" ujar Vian.


Vian mengacungkan ke dua jempolnya kepada Julian. "Loe cantikcantik. Cantik banget. Pantesan Bryan tergila gila ke elo"


"Kalau gue gimana?" tanya Vian balik bertanya.


"Luar biasa cantik. Makanya Kevin suka sama loe" jawab Julian dan juga memberikan dua jempolnya kepada Vian.


"Jangan bikin mood gue ilang deh Julian. Kevin Kevin dan Kevin"


"tu anak nggak berani banget jadi orang" kata Vian


Kedua wanita cantik yang sama sama pintar itu masuk ke dalam perusahaan VJ Grub. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di semua lini bisnis yang ada. Perusahaan yang luar biasa sukses dalam empat tahun ke belakang. Siapa pebisnis yang tidak tahu dengan perusahaan VJ Grub. Semua perusahaan berlomba lomba untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan VJ Grub. Tetapi ada satu perusahaan yang tidak, siapa lagi kalau bukan perusahaan yang dipimpin oleh Bryan Witama.


"Permisi" ujar Julian kepada dua orang resepsionis yang berada di balik meja informasi


"Ya bu, ada yang bisa kami bantu?" ujar resepsionis dengan sangat ramah menjawab salam dari Julian.


"Begini bu, kami mau tes wawancara di perusahaan ini" kata Julian memberitahukan perihal kedatangan mereka ke perusahaan.


"Langsung ke lantai tiga saja Bu. Ibu berdua bisa memakai lift yang sebelah kanan itu" ujar resepsionis memberitahukan kepada kedua pengunjung perusahaan mereka.


"Oh ya bu, silahkan pakai kokarde ini dulu. Kalau tidak, maka ibu tidak bisa menggunakan lift nya" kata resepsionis yang hampir saja lupa memberikan tanda pengenal sebagai alat yang digunakan untuk bisa memakai lift yang ada.


"Terimakasih banyak" ujar Julian.


'Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang orang. Resepsionisnya keren' ujar Julian dalam hatinya.


"Julian, loe merasakan tidak, pelayanan dari resepsionis sangat keren?" kata Vian memuji pelayanan resepsionis perusahaan VJ Grub.


"Ya. Waktu gue magang kuliah S1 nggak nemu gue pelayanan yang kayak gini" jawab Julian yang setuju dengan penilaian dari Vian terhadap pelayanan resepsionis perusahaan VJ Grub.


"Loe magang dimana emangnya?" kata Vian yang penasaran di perusahaan apa Julian magang waktu kuliah pertamanya itu.


"Nanti gue cerita pas kita selesai wawancara" jawab Julian.


"Nggak asik loe" balas Vian.


"Diasikin aja" jawab Julian dengan santai.


Mereka berdua masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan ke ruangan tes wawancara. Julian dan Vian berjalan keluar dari dalam lift menuju ruang tes wawancara.

__ADS_1


"Wow ramenya" ujar Vian saat melihat betapa ramainya orang orang yang ada di kursi tunggu untuk melaksanakan tes wawancara.


"Namanya perusahaan besar ya udah jelaslah ramai pendaftar nya" jawab Julian.


Julian dan Vian diberikan nomor urut untuk tes wawancara. Setelah menerima nomor urut Julian dan Vian duduk di kursi tunggu. Mereka menunggu panggilan untuk diwawancara oleh pihak HRD perusahaan.


"Cantik cantik ya Julian" ujar Vian saat dirinya melihat para pelamar yang berjejer duduk di kursi tunggu.


Tes wawancara sudah di mulai. Beberapa pelamar sudah keluar masuk untuk melaksanakan tes wawancara. Wajah wajah mereka yang keluar dari dalam ruang wawancara ada yang tersenyum dan ada yang sedih.


"Huft gue cemas Julian" ujar Vian yang gaginya sudah sedikit bergetar.


"Alah loe nggak usah bergetar segala. Gue nggak yakin loe bergetar" kata Julian sambil menendang kaki Vian.


"Serius. Loe tengoklah ini. Gue beneran gemetar" kata Vian meyakinkan Julian bahwasanya dia memang gemetaran saat ini.


"Hahaha hahaha. Masak loe gemeteran Vian"


Tawa Julian yang meledak dengan tiba tiba membuat semua orang yang berada di ruang tunggu itu melihat ke arah mereka berdua


"Ais tawa loe jangan seperti itu banget Julian. Semua orang nengok ke kita"


Julian melihat ke semua orang yang ada di sekitar mereka. Semua mata memang memandang ke arah mereka berdua. Tapi Julian dengan tanpa merasa bersalahnya tetap saja acuh dengan keadaan yang ada.


"Acuh ajalah ya" kata Julian dengan santainya.


"Julian" ujar seorang karyawan memanggil nama Julian untuk masuk ke dalam ruang wawancara.


Julian berdiri dari duduknya.


"Semangat. Gue yakin loe bisa" ujar Vian memberikan semangat kepada Julian untuk mengikuti tes wawancara.


"Semangat" jawab Julian sambil mengepalkan kedua tangannya.


Julian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tes wawancara. Julian sudah mempersiapkan dirinya untuk tes hari ini. Tes yang akan menentukan apakah dia akan bekerja di perusahaan itu atau tidak.


Julian melangkah dengan percaya diri masuk ke dalam ruang tes wawancara.


"Silahkan duduk Nona Julian" ujar tim penguji tes wawancara dari tim HRD perusahaan VJ Grub.


Julian duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Silahkan perkenalkan diri anda, kemudian uraikan apa saja kelebihan Anda yang bisa membuat perusahaan ini menjadi maju" ujar salah seorang tim.


Julian mulai memperkenalkan dirinya dengan sangat lugas. Dia juga menjabarkan apa yang akan dilakukannya untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan kedepannya.

__ADS_1


Julian berada di dalam ruangan itu selama lebih kurang satu jam. Berbagai pertanyaan diajukan oleh tim kepada Julian. Julian menjawab semuanya tanpa keraguan sedikitpun.


"Baiklah Nona Julian, terimakasih atas kesediaannya untuk mengikuti wawancara ini. Silahka tunggu hasilnya nanti sore" kata ketua tim wawancara.


Julian berjalan keluar dari dalam ruang tes wawancara. Setelah Julian keluar giliran Vian yang dipanggil untuk melakukan tes wawancara dengan tim HRD yang ada di dalam ruangan tes.


"Sukses Vian" ujar Julian saat mereka selisih jalan berdua.


"Makasi. Loe harus doakan gue" ucap Vian.


"Aman. Semangat Vian" ujar Julian dengan nada yang agak besar dari pada yang tadi.


Vian hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Julian. Sahabat sekaligus Nona muda yang memiliki perangai ter absurd yang pernah ditemuinya.


Vian masuk ke dalam ruang tes wawancara. Dia memulai petualangan berikutnya. Vian berada di dalam ruangan itu selama empat puluh lima menit. Berbeda dengan Julian yang hampir satu jam lamanya berada di dalam ruangan tes.


"Gimana?" tanya Julian.


"Gue rasa oke. Loe gimana?" tanya Vian balik.


"Gue loe tanya? Ya okelah. Loe meragukan kemampuan gue" ujar Julian dengan percaya dirinya .


"Nyesel gue tanya Juli..... An." kata Vian sambil menggetuk kepala Julian dengan map sisa hasil pendaftaran.


Mereka kemudian mengobrol berdua. Rasa lapar yang tadinya datang mendadak menghilang karena keasikan mengobrol satu dengan yang lainnya.


"Loe serius Julian mau kerja di sini?" tanya Vian yang entah kenapa bisa bertanya akan hal itu.


"Serius lah. Kenapa nggak. Kalau gue udah tes wawancara, maka gue serius untuk bekerja di sini" jawab Julian dengan penuh keyakinan.


"Oke. Semoga kita berdua di Terima di sini" kata Vian.


"Kalau seandainya loe di Terima, sedangkan gue nggak, gimana Vian?" tanya Julian.


Julian ingin mendengar sendiri jawaban dari Vian atas pertanyaannya itu.


"Gue nggak akan Terima" jawab Vian dengan pasti.


"Serius?" tanya Julian.


"Ya. Gue akan bekerja dimana loe bekerja" jawab Vian lagi


"Nah kalau pertanyaannya gue balik gimana?" tanya Vian balik bertanya dengan pertanyaan yang sama kepada Julian.


"Gue juga akan mundur. Gue juga akan bekerja dimana loe bekerja" jawab Julian.

__ADS_1


"Haha haha. Lama lama kita berdua bikin usaha sendiri aja lagi. Biar biasa bekerja bersama terus" ujar Vian.


Kedua sahabat itu mulai mengobrol kembali ke sembarangan arah. Mereka bercerita mulai dari pekerjaan sampai gosip para artis. Pembicaraan yang sepertinya tidak akan ada habisnya. Ada saja topik yang akan mereka ceritakan saat sebuah topik sudah selesai.


__ADS_2