
" Maaf Tuan Muda, saya mau tanya sesuatu" kata Kevin dengan nada formal. Kevin memang mau bertanya kepada Bryan tentang sesuatu yang sedikit lebih serius.
"Jangan Tuan Muda Kevin. Loe gue aja pakai. Formal kali" lanjut Bryan menjawab perkataan dari Kevin.
"Ada apa?" lanjut Bryan penasaran dengan gaya formal Kevin tadi.
"Sebelumnya maaf ya Bryan. Ini agak sensitif, tetapi harus gue tanyakan" jawab Kevin memulai apa yang akan dikatakannya dengan meminta maaf terlebih dahulu kepada Bryan.
"Ada apa?" ulang Bryan yang menjadi penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Kevin kepada dirinya. Tidak biasanya Kevin meminta maaf sebelum berbicara, baik itu pembicaraan seputar bisnis ataupun seputar urusan pribadi.
"Loe kelihatan sangat mengantuk sekali. Apa loe semalam udah enak enak dengan Julian, sehingga membuat loe telat tidur?" ujar Kevin bertanya tanpa melihat ke arah Bryan. Jangankan untuk melihat, melirik Bryan pun tidak dilakukan oleh Kevin.
"Apa loe bilang? Enak enak sama Julian?" kata Bryan kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin kepada dirinya.
"Ya, apa lagi yang bikin loe terlihat kecapekan kayak gini" balas Kevin dengan sangat yakin kalau Bryan memang siap enak enak dengan Kevin sehingga membuat Bryan menjadi sangat mengantuk sekali.
"Yang ada tu, gue ngerjain tugas akhir Julian" ucap Bryan sambil menggusar rambut hitamnya itu.
"Hah? Loe nyelesaiin tugas akhir Julian?" kaya Kevin mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya.
"Ya" Bryan mengangguk.
"Haha haha haha. Kayaknya udah ada yang mulai bucin ini" Kevin tertawa bahagia saat tau apa yang telah dilakukan oleh Bryan tadi malam.
"Bucin? Belum kali. Tapi kalau mulai ke arah sana iya, gue juga nggak tau" jawab Bryan.
Kevin mengangguk angguk mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Kevin sudah punya kesimpulan sendiri dari apa yang dikatakan oleh Bryan.
"Eh ngomong ngomong kemeja loe baru banget kayaknya" ucap kevin saat melihat kemeja yang dipakai oleh Bryan.
"Hadiah" jawab Bryan dengan nada bangga.
"Dari Julian?" tanya Kevin mencoba menebak dengan pasti siapa yang sudah memberikan kemeja itu kepada Bryan.
"Wuis, keren. Dalam rangka apa?" Kevin semakin kepo dengan kemeja pemberian Julian kepada Bryan. Kemejan yang terlihat sangat bagus di pakai oleh Bryan. Walaupun sebenarnya Kevin tau berapa harga dari kemeja itu.
"Gue bantu dia nyelesaikan tugas akhirnya, na tugas akhir itu selesai dan bisa di sidang terbuka dalam minggu besok, makanya dia memberikan hadiah kemeja ini ke gue sebagai tanda terimakasih" Bryan menjelaskan serinci rincinya kepada Kevin.
"Wuis mantap, keren" puji Kevin dengan sangat tulus bagaimana Julian bisa memberikan hadiah kemeja kepada Bryan dengan menyisihkan uang hasil kerja part time nya di swalayan.
"Hampir gue lupa. Loe harus kosongkan jadwal gue dalam minggu depan." perintah Bryan kepada Kevin.
"Hari apa?" tanya Kevin.
"Nggak mungkin gue ngosongin jadwal loe full seminggu." lanjut Kevin yang sudah bisa membayangkan betapa padatnya jadwal Bryan dalam minggu besok.
"Harinya gue pastikan dulu ke Julian nanti. Loe harus pastikan kosong. Gue nggak mau masih ada satu meeting atau apapun itu. Paham kevin?" Bryan dalam mode boss berbicara kepada Kevin.
Kevin mengangguk. "Masalah gampang" jawab Kevin dengan memberikan jempol kepada Bryan.
Tak berapa lama mereka berdua sampai juga di perusahaan utama Winata Grub. Perusahaan yang bergerak di semua lini bisnis, mulai dari makanan sampai dengan properti dan tidak ketinggalan otomotif. Perusahaan Witama Grub termasuk ke dalam sepuluh perusahaan ternama di negara Indomasia.
.....................................................
"Julian sini" panggil Vian yang ternyata sudah datang terlebih dahulu di bandingkan Julian. Padahal biasanya Julian lah yang pertama datang dibandingkan Vian.
__ADS_1
"Tumben loe telat?" ucap Vian saat Julian sudah duduk di sebelahnya
"Tadi gue di agar sahabat Bryan ke kampus. Makanya bisa agak santai dikit datangnya" jawab Julian sambil tersenyum. Senyum yang tidak pernah lepas dari bibir Julian saat berinteraksi dengan Vian.
"Oh sahabat Bryan" ucap Vian mengulang kembali kalimat yang diucapkan oleh Julian kepada dirinya.
"Ya, namanya Kevin" jawab Julian lagi mengatakan siapa nama sahabat dari Bryan tersebut.
"Orangnya keren, gagah." lanjut Julian
"Tetapi masih gantengan Bryan sih dari pada Kevin" sambar Julian yang nggak mau ada orang yang lebih keren dan ganteng dari pada suaminya sendiri.
"Ye takut kali suaminya kalah saing sama orang lain" ledek Vian yang sebenarnya juga mengakui dibandingkan dengan Kevin dan Felix, Bryan memang yang paling ganteng.
"Jadi berhasil kamu memberikan hadiah kepada Bryan?" tanya Vian kepo dengan cara Julian memberikan hadiah kepada Bryan.
Julian menceritakan kepada Vian bagaimana cara dirinya memberikan hadiah kepada Bryan. Vian menyimak sambil sekali sekali tertawa mendengar bagaimana lucunya keluarga Tuan mudanya itu.
"Jadi langsung dipakainya kemeja itu?" tanya Vian meyakinkan dirinya dari apa yang diucapkan Julian.
"Ya, dan itu sangat pas" nada kebahagiaan tergambar jelas dari cara Julian berkata.
"Wow keren. Kenapa nggak loe foto?"
"Mana ada. Loe kira gue kayak orang orang di luar sana yang hobby berfoto? Setiap moment foto."
"Bener juga ya. Loe kan emang nggak suka foto" kata Vian yang sudah mengerti bagaimana seorang Julian.
Jangankan dengan Bryan suami yang tidak jelas latar belakangnya itu. Dengan Vian saja, Julian tidak mau berfoto. Alasan Julian adalah dia tidak ada sosial media, sehingga tidak tau kemana mau upload fotonya. Alasan yang sebenarnya tidak masuk di akal tetapi terpaksa di terima oleh Vian, karena Julian adalah istri dari Tuan mudanya.
"Loe mau nemenin gue?" tanya Julian kepada sahabatnya itu.
"Ruang dosen lah kemana lagi" jawab Julian.
"Gue janji sama pembimbing jam delapan. Sekarang sudah delapan kurang seperempat. Gue nggak mau dosen gue yang nunggu, jadi lebih baik gue yang nunggu di depan ruang dosen"
"Sip. Mari berangkat" Vian setuju dengan ajakan Julian.
Kedua wanita cantik yang sama sama pintar tetapi saling tidak tau latar belakang itu berjalan bersisian menuju ruang dosen. Vian akan menemani Julian untuk meminta tanda tangan pengesahan tugas akhirnya.
"Bagaimana Julian, sudah siap?" tanya dosen pembimbing Julian saat dosen itu melihat Julian yang sudah menunggu di ruang tunggu.
"Sudah Pak" jawab Julian dengan pasti.
"Ke ruangan saya saja Julian. Bawa Vian sekalian" kata dosen pembimbing.
Julian dan Vian berjalan mengikuti dosen pembimbing itu memasuki ruang kerjanya. Ternyata di atas meja sudah banyak kumpulan skripsi dan juga disertasi milik mahasiswa S1 dan magister.
"Jangan kaget. Itu sudah saya baca tetapi belum di ambil sama yang punya. Mahasiswa sekarang banyak yang nggak segigih Julian. Mungkin mereka dari keluarga kaya, jadi pewaris bukan perintis" ujar dosen pembimbing Julian saat dirinya melihat Julian dan Vian menatap tumpukan skripsi dan disertasi yang diatasnya sudah ada coretan coretan yang lumayan banyak.
"Mana tugas akhir kamu kemaren Julian, yang saya koreksi dan yang sudah kamu perbaiki" ujar dosen pembimbing Julian yang terkenal baik kalau mahasiswa bimbingannya mau mengikuti saran dari dirinya. Tetapi akan berubah garang, kalau mahasiswa itu merasa lebih pintar dari dia.
Julian mengeluarkan dua bundel tugas akhir. Julian membuka halaman koreksian dari pembimbing dan juga membuka halaman yang sudah diperbaiki nya.
Dosen pembimbing membaca tugas akhir Julian. Julian dan Vian menunggu di depan dosen pembimbing.
__ADS_1
"Oke Julian. Silahkan daftar untuk sidang terbuka. Saya rekomendasikan hari rabu" ujar Dosen pembimbing Julian sambil memberikan tanda tangannya di atas cover tugas akhir itu.
"Siap Pak, saya akan langsung daftar." kata Julian dengan sangat bersemangat.
"Terimakasih banyak bapak." lanjut Julian sambil bersalaman dengan dosen pembimbingnya.
Julian dan Vian kemudian menemui dua orang dosen pembimbing yang lainnya. Mereka juga membubuhka tanda tangan di cover tugas akhir Julian.
"Wow Julian, loe keren. Sekarang mari kita pergi ke bagian administrasi untuk mendaftar sidang terbuka kamu" kali ini yang sangat bersemangat sekali adalah Vian.
Kedua sahabat itu berjalan menuju bagian administrasi. Julian akan mendaftar untuk sidang terbuka yang jadwalnya hanya sisa satu hari lagi.
Julian melakukan beberapa langkah pendaftaran, untung saja Julian masih bisa untuk sidang terbuka hari rabu. Jadi, permintaan ketua dosen pembimbing Julian bisa terkabul.
"Kita balik ke kampus dulu Vian. Gue mau ngasih jadwal sama pembimbing" kata Julian sambil memperlihatkan bukti pendaftaran sidang terbukanya itu.
"Untuk loe apa yang nggak" jawab Vian.
Mereka berdua kembali jalan ke kampus.
Vian dengan setia mengikuti Julian.
Sedangkan Felix yang sudah mendapatkan apa saja kegiatan Julian hari ini, hanya menunggu dan melihat Julian dari tempat biasa saja.
"Akhirnya selesai juga. Gimana kalau kita makan siang dulu Vian?" tanya Julian yang sudah kelaperan dan kelelahan sehabis melakukan kegiatannya yang harus bolak balik kampus dan bagian administrasi
"Sip. Gue setuju. Kafe depan saja ya" kata Vian memberikan usul dimana mereka akan makan siang bersama.
"Oke. Kali ini gue yang traktir" ujar Julian dengan semangat.
"Gue saja" sambar Vian.
"Gue aja. Gue tadi pagi di kasih uang sama Bryan. Jadi, cukuplah untuk traktir elo makan dan minum" kata Julian menjelaskan dari mana dirinya bisa mendapatkan uang dan mentraktir Vian.
"Sip" Via setuju dengan Julian.
Mereka berdua kemudian makan siang di kafe depan kampus.
"Loe mau ke swalayan?" tanya Vian.
"Emang loe nggak masuk hari ini?" tanya Julian balik kepada sahabatnya itu.
"Masuk sih." jawab Vian.
"Terus, napa loe nanyak kayak gitu ke gue?" ujar Julian.
"Mana tau loe mau persiapan untuk sidang terbuka, jadi loe memutuskan untuk izin sampai rabu" kata Vian lagi.
"Haha haha haha. Nggak lah. Lagian uang bikin tugas akhir itu kan gue. Jadi, gue yakin gue tau isinya" kata Julian menjelaskan kenapa dirinya masih tetap masuk.
"Palingan gue izin nggak masuk rabu aja" lanjut Julian.
"Tapi Julian" kata Vian.
"Tenang gue bisa belajar sehabis dari kerja. Loe percayakan saja sama gue" kata Julian lagi.
__ADS_1
Setelah mereka berdua selesai makan. Julian dan Vian melanjutkan kegiatan mereka dengan kerja paruh waktu di swalayan depan taman kota.
sedangkan Bryan, sudah kembali bergelut dengan dokumen dokumen perusahaan dan beberapa meeting penting yang akan dilakukannya nanti selepas makan siang.